Monday, September 21, 2009

Krakatau: simbol kegelisahan untuk menemukan kembali jati diri bangsa Indonesia


Sengaja, saya pilih judul seperti di atas dengan memberikan tone yang lebih kuat terhadap penemuan kembali jati diri bangsa. Semua orang Indonesia sudah mahfum, paham bahwa bangsa kita diwarnai dengan sejarah panjang kejayaan, peradaban, dan wibawa sebagai bangsa yang besar dan adil/makmur. Sejak jaman prasejarah yang ditandai dengan adanya temuan-temuan benda-benda prasejarah di berbagai kawasan hingga jaman keemasan kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Semuanya menggambarkan ketinggian peradaban dan kemajuan serta sistem nilai sosial yang kuat bangsa Indonesia.

Namun, pasca masuknya penjajah bangsa barat/kulit putih ke tanah nusantara pada abad ke XVI/XVII hingga bangsa Indonesia berhasil mendapatkan kemerdekaannya pada tahun 1945 dan melanjutkannya hingga kini 64 tahun kemudian, negara kita seolah kehilangan jati dirinya yang kuat dan terombang-ambing diantara kemajuan negara-negara tetangga yang dahulu kita anggap kecil. Bangsa ini terlihat gamang, tidak mampu jejak berdiri di tanahnya sendiri, kehilangan pegangan akibat gempuran berbagai masalah internal dan upaya-upaya pihak lain yang ingin mengambil keuntungan dari kondisi linglung bangsa ini.

Indonesia, negara nusantara, yang sangat besar. Besar potensi sumber daya alamnya, besar potensi ekonominya, besar masyarakatnya merupakan mangsa yang empuk bagi pihak-pihak lain yang ingin mendapatkan keuntungan. Tidakkah kita menyadari bahwa kita seolah kehilangan jati diri, siapa kita, mau kemana kita, sistem nilai apa yang sedang kita pegang. Tidakkah kita menyadari bahwa kita seolah bergerak mekanis tanpa makna bekerja, bertarung dengan hidup hanya untuk urusan makan-minum, televisi, bertahan hidup untuk menunggu sampai gaji pada bulan berikutnya. Begitu siklus ini berulang, tanpa kita sedikit terjaga bahwa there is something wrong with this? Bagaimana potensi ekonomi yang sangat besar, budaya yang sangat kaya dan beragam, serta warisan nilai luhur yang turun menurun sudah begitu jauh kita abaikan karena kita terjebak atau sengaja dijebak untuk sibuk berpikir dengan urusan yang sangat dasar yaitu makan dan minum serta dininabobokan dengan segala jargon-jargon budaya entertainmen/refreshing/relaks. Dan akhirnya pihak lainnya lah yang mendapatkan keuntungan dari ketidaksadaran kita terhadap jati diri dan potensi bangsa kita.

Beberapa waktu yang lalu, di sela-sela rutinitas, ada kesempatan untuk melakukan beach camp ke Krakatau. Sebuah gunung berapi yang sangat fenomenal yang pada abad 19 pernah mengguncang dunia dengan letusannya. Hingga kini, masih tetap menjadi daya tarik tersendiri bagi para pecinta alam dan para petualang. Terletak di sekitar selat Sunda, Krakatau dan Anak Krakatau menawarkan keelokannya. Gelegarnya di tengah malam yang gelap, kala langit hanya diterangi sang bintang, seolah-seolah seperti lidah api sang naga yang menjulur menampakkan kegelisahannya. Anak Krakatau meledak, menggelegar, ditengah keheningan malam yang sepi, yang rutin, ingin menunjukkan eksistensinya. Seolah memberikan inspirasi bagi mereka yang mau memperhatikan. Krakatau menyuruh segera bangkit, bangun cepat, jangan terlelap dalam hampanya rutinitas hidup, dalam sepinya pikiran dan hati, dalam dinginnya kesendirian di antara berjuta hiruk pikuk urusan dunia. Tunjukkan eksistensimu, temukan jati dirimu, bangun harga dirimu, bangun wibawamu, pergilah ke puncak-puncak peradaban dan kemajuan. Mulai dari dirimu, panaskan hatimu, bawa pikiranmu, gelisahlah, teruslah gelisah, jangan diam terpekur saja. Mulai sekarang, dari kamu, kamu seorang, menggelegarlah di tengah keheningan malam. Menyalalah di tengah kegelapan awan. Berteriaklah di tengah deburan ombak. Buatlah dunia menoleh akan kehadiranmu, menyadari bahwa kita ada bangsa Indonesia yang besar, yang berwibawa, yang mempunyai kekuatan untuk eksis di antara kerumunan alam semesta.

1 comment:

  1. Alam Indonesia sangat indah, berhampar dari kepulauan dan lautan. Terima kasih telah menampilkan foto yang indah.

    ReplyDelete