JAKARTA - Bank Indonesia (BI) akhirnya memutuskan menyelamatkan Bank Indover yang dibekukan di Belanda karena kesulitan likuiditas. BI berencana menyuntikkan dana Rp 7 triliun atau EUR 546 juta di salah satu anak usahanya itu. Dana tersebut bakal digunakan untuk membeli semua kewajiban pihak ketiga Indover yang nyaris kolaps akibat dampak krisis global.
Hal itu merupakan hasil rapat tertutup antara BI dan Komisi XI DPR tadi malam. Hadir dalam rapat itu Gubernur BI Boediono, Deputi Gubernur Muliaman D. Hadad, dan Deputi Gubernur Siti Fadjrijah. Dari pemerintah, hadir Menkeu sekaligus Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati.
Sebelumnya DPR juga menggelar rapat dengan jajaran komisaris dan dewan direksi Indover. Mereka adalah Komut Indover Subarjo Joyosumarto serta dewan direksi Peter van der Voort van Zyp, Chairi Hakim, dan Goegoen Roekawan. Perwakilan BI di Belanda Arta Bisman juga hadir. Namun, rapat tadi malam belum menemukan kesepakatan apa pun.
Wakil Ketua Komisi XI Endin J. Soefihara mengatakan, DPR belum bisa mengambil keputusan. Menurut dia, ada UU yang melarang BI melakukan penyertaan modal. Namun, penyertaan modal bisa dilakukan asal mendapat lampu hijau dari parlemen karena kondisinya urgen. "Tapi, masih akan kita lihat dulu karena infonya belum lengkap. DPR harus banyak tahu dulu," ujarnya tadi malam (22/10).
Dia menambahkan, angka yang diajukan bank sentral juga belum final. "Itu masih hitungan sementara, hanya kewajiban. (Angkanya) bisa lebih besar atau kecil," tuturnya
BI semestinya tidak bisa menyuntikkan dana. Sebab, UU 3/2004 tentang BI menyebutkan bahwa bank sentral mesti melepas anak usahanya. Anak usaha BI lainnya adalah PT BPUI (Bahana Pembinaan Usaha Indonesia). Namun, dalam dokumen rapat dari BI sebelumnya disebutkan bahwa suntikan dana ke Indover tetap diiringi rencana bisnis yang matang yang bermuara pada divestasi Indover.
Ditanya soal penyuntikan dana, Boediono masih enggan berkomentar. "Belum ada keputusan," kata guru besar FE UGM itu singkat. Sri Mulyani juga tidak memberikan statemen apa pun.
Anggota Komisi XI Dradjad Wibowo mengatakan, penyuntikan dana BI ke Indover mirip bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI). Memang, kata legislator PAN itu, nilainya jauh lebih kecil daripada suntikan BLBI yang bernilai ratusan triliun. "Namun, konsekuensi hukumnya sama. Presiden harus berani bertanggung jawab," ujarnya.
Karena konsekuensi hukum itulah, mestinya keputusan soal jadi-tidaknya suntikan dana dari BI dicermati terlebih dahulu. Apalagi, belum ada kejelasan bagaimana sebenarnya kondisi keuangan bank yang sudah berkali-kali hampir diakuisisi bank lokal tapi tak pernah terwujud itu.
"DPR belum tahu pasti soal aset dan kewajiban yang ada. Jika dilikuidasi, kerugian finansial BI cukup besar. Karena itu, sebaiknya presiden saja yang menulis surat kepada DPR, meminta Indover diselamatkan dengan alasan yang jelas," katanya.
Tanpa pertanggungjawaban DPR, sulit bagi parlemen untuk mengambil keputusan merestui rencana penyertaan dana dari BI. "Waktu BI menyimpan dana nggak bilang ke DPR, tapi begitu ada masalah langsung datang ke kita," kritik Dradjad. Dalam dokumen rapat, BI menyebut dana cadangan mereka kini cukup kuat sehingga tidak terpengaruh jika menyuntik EUR 546 juta.
Sementara itu, manajemen Indover kemarin mengumumkan rencana mencari pinjaman jangka pendek dari pasar uang Eropa dan Arab. "Sumber di Eropa ada, Arab ada, tapi saya nggak ingat detailnya," ujar Direktur Indover Belanda Nana Supriana.
Sebenarnya, Indover memiliki kinerja cukup baik sebelum dibekukan otoritas bank di Negeri Bunga Tulip itu. Manajemen Indover beralasan, turbulensi finansial global membuat bank tersebut kesulitan likuiditas.
Pada Agustus 2008, Indover tercatat membukukan laba EUR 2 juta dengan rasio kecukupan modal (CAR) 18,43 persen. Pendapatan bunga bersih (net interest income) meningkat 44,3 persen, dan aset juga mendaki 2 persen per bulan.
Namun, krisis finansial global membuat bank peserta transaksi repo mulai mengurangi fasilitas ke Indover. Itu karena nilai surat berharga yang dijaminkan merosot. Mayoritas pemain pasar uang di Eropa juga menahan likuiditasnya. Semua itu membuat kondisi likuiditas di pasar keuangan kian seret.
Ambruknya Lehman Brothers, Merrill Lynch, AIG, Fannie Mae, Freddie Mac, dan sejumlah lembaga finansial di pasar global membuat Indover makin kelimpungan. Bank-bank peserta repo pun enggan memperpanjang likuiditasnya. Selain itu, pasar uang overnight mulai ditutup dan penjualan surat berharga tidak menjadi pilihan bijak karena harganya sudah ambles.
Kemudian pada 19 September, Indover berkirim surat ke BI untuk meminta agar otoritas moneter itu membuka money market agar brankas mereka kembali dibasahi likuiditas. Namun, BI menolak surat permohonan anak usahanya itu dengan alasan bank sentral tidak bisa melakukan transaksi pasar uang dengan anak usahanya.
Pada 6 Oktober, likuiditas Indover sangat parah dengan posisi yang tidak dapat ditangani mencapai USD 92 juta. Indover lalu meminta BI berkirim surat ke Bank Sentral Belanda tentang kebutuhan bantuan darurat. Namun, BI tidak memberikan surat yang dimaksud ke otoritas bank di Belanda.
Alhasil, Indover dinyatakan gagal bayar (default) atas kewajiban USD 92 juta. Pada 7 Oktober, Pengadilan Belanda memutuskan membekukan kegiatan operasional Indover. Dana bank pelat merah juga banyak nyangkut di Indover.
Dana BRI, Bank Mandiri, dan BNI, lewat pinjaman antarbank masih tersangkut USD 145 juta. Terakhir, Bank Lippo mengatakan dananya nyangkut USD 5 juta. Selain itu, sejumlah bank nasional masih punya dana yang tertanam di Indover. (sof/eri/yun/oki)
Kamis, 23 Oktober 2008
Jawapos.co.id
Showing posts with label Klipping financial market. Show all posts
Showing posts with label Klipping financial market. Show all posts
Wednesday, October 22, 2008
Saturday, October 4, 2008
Kisah Krisis Finansial AS (Oktober 2008)
Washington - Krisis finansial AS 'diakhiri' dengan keluarnya UU Penyelamatan Ekonomi Darurat melalui bailout senilai US$ 700 miliar. Bailout yang menyerupai Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) di era 1997 itu diharapkan bisa menyelamatkan ekonomi AS dari jurang resesi.
Namun perekonomian AS diperkirakan tidak akan segera pulih, setelah UU tersebut ditandatangani. Perlu beberapa saat sebelum ekonomi AS bisa pulih seperti sediakala. Tapi setidaknya, pasar finansial diharapkan bisa stabil setelah adanya UU ini.
"(UU) Ini akan kita terapkan sebisa mungkin, namun tidak dapat berfungsi secara sempurna dalam satu malam. Perlu waktu beberapa saat untuk mendesain program yang efektif untuk mencapai tujuan dan tidak membuang-buang dolar milik pembayar pajak," ujar presiden George Walker Bush seperti dikutip dari AFP, Sabtu (4/10/2008).
Rencana tersebut memang tidak serta merta mendapat sambutan positif. Saham-saham dan dolar AS justru bergerak melemah. Pada perdagangan Jumat (3/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 156,51 poin (1,49%) ke level 10.326,34. Nasdaq juga melemah 29,33 poin (1,48%) ke level 1.947,39 dan S&P 500 turun 14,85 poin (1,33%) ke level 1.099,43.
Berikut kronologi krisis finansial AS, seperti dikutip detikFinance dari AFP:
16 Maret:
Bank investasi, Bear Stearns diobral kepada JP Morgan Chase hanya US$ 236 juta. Akuisisi itu dimotori oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve).
7 September:
Depkeu AS mengambil alih 2 perusahaan pembiayaan rumah terbesar AS: Fannie Mae dan Freddie Mac, sekaligus memberikan jaminan atas utang masing-masing institusi sebesar US4 100 miliar.
15 September:
Bank investasi raksasa Wall Street, Lehman Brothers mendaftarkan perlindungan kebangkrutan, setelah gagal mendapatkan investor, termasuk pemerintah AS yang tak mau memberikan bailout.
Di hari yang sama, Merrill Lynch mengumumkan kesepakatan untuk diakuisisi oleh Bank of America dengan nilai transaksi US$ 50 miliar.
Lembaga pemeringkat menurunkan peringkat utang American International Group (AIG). Saham perusahaan asuransi ini juga merosot hingga 60,8%.
Bank Sentral AS menyuntikkan US$ 70 miliar ke pasar.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot hingga 504 poin atau 4,42%. Ini adalah kemerosotan terbesar sejak September 2001. Bursa-bursa Eropa pun ikut bertumbangan.
16 September:
Pemerintah AS akhirnya menyelamatkan AIG melalui suntikan modal hingga US$ 85 miliar, dengan imbalan 79,9% saham perusahaan asuransi raksasa itu. The Fed kembali menyuntik pasar hingga US4 50 miliar.
17 September:
Saham-saham kembali berjatuhan karena ketidakpastian ekonomi. Indeks Dow Jones merosot hingga 449 poin (4,06%). Bapapem AS juga mengeluarkan larangan untuk sejumlah transaksi short-selling.
18 September:
The Fed dan Bank Sentral global menyuntikkan US$ 300 miliar ke psar kredit. Saham-saham kembali menguat setelah diumumkannya rencana bailout.
Menkeu AS Henry Paulson dan Gubernur The Fed Ben Bernanke memulai pembicaraan untuk paket penyelamatan ekonomi melalui pembelian aset-aset beracun dari lembaga keuangan. Indeks Dow Jones sempat menguat hingga 410 poin.
19 September:
Pemerintah AS meminta kongres untuk segera menyetujui rencana penyelamatan US$ 700 miliar, yang merupakan rencana penyelamatan ala 'BLBI' yang terbesar dalam sejarah.
Fed kembali memompakan US$ 20 miliar ke pasar kredit. Saham-saham global kembali menguat.
21 September:
The Fed mengumumkan Goldman Sachs dan Morgan Stanley ---2 bank investasi yang masih tersisa di Wall Street --- akhirnya menanggalkan status bank investasi dan menjadi perusahaan holding bank.
24 September:
Presiden Bush secara nasional memberikan pidato yang menyatakan bahwa perekonomian AS berada dalam bahaya jika kongres tidak memberikan persetujuan atas rencana bailout tersebut. Bush juga mengundang 2 capres: Barrack Obama dan John McCain untuk ikut pertemuan di White House membahas krisis tersebut.
25 September:
Kongres mengumumkan kesepakatan fundamental atas prinsip-prinsip dari rencana penyelamatan tersebut, meski akhirnya pembicaraan mengalami deadlock.
26 September:
Washington Mutual (WAMU), bank terbesar di AS kolaps. JPMorgan Chase selanjutnya membeli sebagian aset WAMU senilai US$ 1,9 miliar.
29 September:
DPR AS menolak rencana bailout melalui voting 228-205, dengan Republik paling banyak menolak rencana tersebut. Indeks Dow Jones pun merosot hingga 778 poin, atau terbesar dalam sejarah.
1 Oktober:
Senat menyetujui paket penyelamatan ekonomi darurat, yang termasuk didalamnya adalah pengurangan pajak dan kenaikan penjaminan untuk simpanan bank dari US$ 100.000 menjadi US4 250.000.
3 Oktober:
DPR AS menyetujui UU Penyelamatan Ekonomi melalui bailout dalam voting 263-171. Presiden Bush selanjutnya menandatangani UU tersebut, sementara Menkeu Henry Paulson diminta segera bergerak cepat membeli aset-aset beracun dari sektor finansial.
(Sabtu, 04/10/2008 10:39 WIB, Nurul Qomariyah - detikFinance)
Namun perekonomian AS diperkirakan tidak akan segera pulih, setelah UU tersebut ditandatangani. Perlu beberapa saat sebelum ekonomi AS bisa pulih seperti sediakala. Tapi setidaknya, pasar finansial diharapkan bisa stabil setelah adanya UU ini.
"(UU) Ini akan kita terapkan sebisa mungkin, namun tidak dapat berfungsi secara sempurna dalam satu malam. Perlu waktu beberapa saat untuk mendesain program yang efektif untuk mencapai tujuan dan tidak membuang-buang dolar milik pembayar pajak," ujar presiden George Walker Bush seperti dikutip dari AFP, Sabtu (4/10/2008).
Rencana tersebut memang tidak serta merta mendapat sambutan positif. Saham-saham dan dolar AS justru bergerak melemah. Pada perdagangan Jumat (3/10/2008), indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) ditutup merosot 156,51 poin (1,49%) ke level 10.326,34. Nasdaq juga melemah 29,33 poin (1,48%) ke level 1.947,39 dan S&P 500 turun 14,85 poin (1,33%) ke level 1.099,43.
Berikut kronologi krisis finansial AS, seperti dikutip detikFinance dari AFP:
16 Maret:
Bank investasi, Bear Stearns diobral kepada JP Morgan Chase hanya US$ 236 juta. Akuisisi itu dimotori oleh Bank Sentral AS (Federal Reserve).
7 September:
Depkeu AS mengambil alih 2 perusahaan pembiayaan rumah terbesar AS: Fannie Mae dan Freddie Mac, sekaligus memberikan jaminan atas utang masing-masing institusi sebesar US4 100 miliar.
15 September:
Bank investasi raksasa Wall Street, Lehman Brothers mendaftarkan perlindungan kebangkrutan, setelah gagal mendapatkan investor, termasuk pemerintah AS yang tak mau memberikan bailout.
Di hari yang sama, Merrill Lynch mengumumkan kesepakatan untuk diakuisisi oleh Bank of America dengan nilai transaksi US$ 50 miliar.
Lembaga pemeringkat menurunkan peringkat utang American International Group (AIG). Saham perusahaan asuransi ini juga merosot hingga 60,8%.
Bank Sentral AS menyuntikkan US$ 70 miliar ke pasar.
Indeks Dow Jones Industrial Average merosot hingga 504 poin atau 4,42%. Ini adalah kemerosotan terbesar sejak September 2001. Bursa-bursa Eropa pun ikut bertumbangan.
16 September:
Pemerintah AS akhirnya menyelamatkan AIG melalui suntikan modal hingga US$ 85 miliar, dengan imbalan 79,9% saham perusahaan asuransi raksasa itu. The Fed kembali menyuntik pasar hingga US4 50 miliar.
17 September:
Saham-saham kembali berjatuhan karena ketidakpastian ekonomi. Indeks Dow Jones merosot hingga 449 poin (4,06%). Bapapem AS juga mengeluarkan larangan untuk sejumlah transaksi short-selling.
18 September:
The Fed dan Bank Sentral global menyuntikkan US$ 300 miliar ke psar kredit. Saham-saham kembali menguat setelah diumumkannya rencana bailout.
Menkeu AS Henry Paulson dan Gubernur The Fed Ben Bernanke memulai pembicaraan untuk paket penyelamatan ekonomi melalui pembelian aset-aset beracun dari lembaga keuangan. Indeks Dow Jones sempat menguat hingga 410 poin.
19 September:
Pemerintah AS meminta kongres untuk segera menyetujui rencana penyelamatan US$ 700 miliar, yang merupakan rencana penyelamatan ala 'BLBI' yang terbesar dalam sejarah.
Fed kembali memompakan US$ 20 miliar ke pasar kredit. Saham-saham global kembali menguat.
21 September:
The Fed mengumumkan Goldman Sachs dan Morgan Stanley ---2 bank investasi yang masih tersisa di Wall Street --- akhirnya menanggalkan status bank investasi dan menjadi perusahaan holding bank.
24 September:
Presiden Bush secara nasional memberikan pidato yang menyatakan bahwa perekonomian AS berada dalam bahaya jika kongres tidak memberikan persetujuan atas rencana bailout tersebut. Bush juga mengundang 2 capres: Barrack Obama dan John McCain untuk ikut pertemuan di White House membahas krisis tersebut.
25 September:
Kongres mengumumkan kesepakatan fundamental atas prinsip-prinsip dari rencana penyelamatan tersebut, meski akhirnya pembicaraan mengalami deadlock.
26 September:
Washington Mutual (WAMU), bank terbesar di AS kolaps. JPMorgan Chase selanjutnya membeli sebagian aset WAMU senilai US$ 1,9 miliar.
29 September:
DPR AS menolak rencana bailout melalui voting 228-205, dengan Republik paling banyak menolak rencana tersebut. Indeks Dow Jones pun merosot hingga 778 poin, atau terbesar dalam sejarah.
1 Oktober:
Senat menyetujui paket penyelamatan ekonomi darurat, yang termasuk didalamnya adalah pengurangan pajak dan kenaikan penjaminan untuk simpanan bank dari US$ 100.000 menjadi US4 250.000.
3 Oktober:
DPR AS menyetujui UU Penyelamatan Ekonomi melalui bailout dalam voting 263-171. Presiden Bush selanjutnya menandatangani UU tersebut, sementara Menkeu Henry Paulson diminta segera bergerak cepat membeli aset-aset beracun dari sektor finansial.
(Sabtu, 04/10/2008 10:39 WIB, Nurul Qomariyah - detikFinance)
Tuesday, September 2, 2008
Data Inflasi Tahan Kejatuhan IHSG
01/09/2008 16:31
Asteria
(inilah.com/Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) awal pekan ini tidak mampu berkelit dari hantaman berbagai sentimen negatif. Namun, keluarnya data inflasi Agustus yang lebih rendah dari Juli mampu menahan kejatuhan indeks lebih dalam.
IHSG pada penutupan perdagangan Senin (1/9) turun tipis 1,323 poin (0,06%) menjadi 2.164,620. Indeks LQ-45 turun 0,299 poin (0,07%) menjadi 449,362 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 2,186 poin (0,61%) menjadi 353,909.
Analis BNI Norico Gaman mengatakan, IHSG pada awal perdagangan terpantau bergerak flat cederung melemah tipis 0,03% pada level 2.165. Merosotnya indeks saham berlanjut hingga pada sesi siang berada di level 2.141.
Namun, pelemahan ini akhirnya reda setelah keluarnya data inflasi Agustus. “Setelah pengumuman data inflasi siang tadi, indeks saham berangsur-angsur membaik,” papar Norico.
Inflasi Agustus 2008 tercatat 0,51%, lebih rendah dibandingkan inflasi Juli sebesar 1,37%. Sedangkan laju inflasi tahun kalender tercatat 9,4% dan inflasi year on year (YoY) sebesar 11,85%. Level tersebut di luar dugaan banyak pihak yang memperkirakan tingkat inflasi Agustus mengalami kenaikan hingga menembus level 12%.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi terjadi karena adanya kenaikan indeks barang dan jasa di semua kelompok, seperti sektor makanan yang paling tinggi sekitar 0,9%, makanan jadi, minuman, tembakau 0,56%, dan sektor perumahan, air, listrik, dan gas bahan bakar sekitar 0,53%.
Harga yang mengalami penurunan adalah kelompok sandang 0,53%, sektor sektor transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,01% karena tidak ada lagi kenaikan tarif angkutan.
Norico mengatakan, meskipun angka inflasi terlihat lebih rendah dari Juli, ada faktor yang belum dihitung dalam komponen inflasi, yaitu kenaikan harga gas elpiji. Bila diakumulasi hingga akhir September, Norico mengkhawatirkan terjadinya lonjakan inflasi.
Pasalnya selain kenaikan harga elpiji, kenaikan harga barang menjelang lebaran juga akan membebani inflasi. “Saya lihat inflasi September berpotensi lebih besar dari Agustus atau jika dibandingkan dari Juli, bisa sama atau bahkan lebih tinggi,” papar Norico.
Saham sektor perkebunan naik pesat akibat ekspektasi melonjaknya harga miyak kelapa sawit (CPO) menyusul masuknya bulan Ramadhan dan Lebaran yang akan meningkatkan permintaan produk CPO dan turunannya. Hal ini mendongkrak saham berbasis CPO seperti AALI, LSIP dan UNSP.
Lebih lanjut ia mengatakan, naiknya harga minyak mentah dunia tidak diiikuti saham sektor pertambangan seperti yang biasa terjadi. Menurut Norico, pelaku pasar dalam negeri bertindak anomali. Kenaikan harga minyak dilihat investor belum cukup meyakinkan, padahal sebenarnya bisa terus merambat naik hingga akhir tahun. Alhasil, saham-saham tambang seperti BYAN, BUMI dan MEDC anjlok.
Selain itu, naiknya harga minyak juga tidak berkorelasi signifikan dengan harga komoditas lain, seperti batubara dan sektor logam yang justru menunjukkan pelemahan. Hal ini kemudian mendapat respon negatif dari pasar modal. Pasalnya, jatuhnya harga komoditas, termasuk logam akan berpengaruh pada potensi ekspor Indonesia dan pelambatan ekonomi semester dua.
Perdagangan saham hari ini mencatat transaksi 44.027 kali, dengan volume 1,617 miliar unit saham, senilai Rp 2,407 triliun. Sebanyak 72 saham naik, 102 saham turun dan 64 saham stagnan.
Saham-saham yang turun harganya antara lain, PT Bayan Resources (BYAN) turun Rp 350 ke posisi Rp 5.450, PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 200 menjadi Rp 5.300, PT Telkom (TLKM) turun Rp 150 menjadi Rp 7.850, dan PT Timah (TINS) turun Rp 75 menjadi Rp 2.500.
Sementara saham PT Indofood Sukses Makmur (INDF) turun Rp 50 menjadi 2.200, PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 25 menjadi Rp 2.800, dan PT Medco (MEDC) turun 5 menjadi Rp 4875,
Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, PT United Tractors (UNTR) naik Rp 400 ke posisi Rp 10.750, PT Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 250 ke posisi Rp 18.200, PT Astra International (ASII) naik Rp 200 ke posisi Rp 21.000, serta saham PT Indosat Tbk (ISAT) naik Rp 200 ke posisi Rp 6.350.
Demikian pula saham PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik 100 menjadi Rp 14.600, PT London Sumatra (LSIP) naik 100 menjadi Rp 5.850, PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) naik Rp 80 menjadi Rp 1.140, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 100 menjadi Rp 5.950 dan PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 75 menjadi Rp 3.250.
Bursa regional sore ini juga terpantau anjlok. Indeks Shanghai China turun 72,23 poin (3,01%) pada level 2325.14. Demikian pula indeks Hangseng Hong Kong turun 1,5% pada level 20.939,04.
Sementara indeks kospi Korea turun 4,06% pada level 1.414,43, level terendah sejak Maret 2007. Indeks Nikkei Jepang turun 238,69 poin (1,8%) pada level 12.834,18 sedangkan Topix ditutup turun 24,07 poin atau 1,9% pada level 1.230.64. [E1]
Asteria
(inilah.com/Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) awal pekan ini tidak mampu berkelit dari hantaman berbagai sentimen negatif. Namun, keluarnya data inflasi Agustus yang lebih rendah dari Juli mampu menahan kejatuhan indeks lebih dalam.
IHSG pada penutupan perdagangan Senin (1/9) turun tipis 1,323 poin (0,06%) menjadi 2.164,620. Indeks LQ-45 turun 0,299 poin (0,07%) menjadi 449,362 dan Jakarta Islamic Index (JII) turun 2,186 poin (0,61%) menjadi 353,909.
Analis BNI Norico Gaman mengatakan, IHSG pada awal perdagangan terpantau bergerak flat cederung melemah tipis 0,03% pada level 2.165. Merosotnya indeks saham berlanjut hingga pada sesi siang berada di level 2.141.
Namun, pelemahan ini akhirnya reda setelah keluarnya data inflasi Agustus. “Setelah pengumuman data inflasi siang tadi, indeks saham berangsur-angsur membaik,” papar Norico.
Inflasi Agustus 2008 tercatat 0,51%, lebih rendah dibandingkan inflasi Juli sebesar 1,37%. Sedangkan laju inflasi tahun kalender tercatat 9,4% dan inflasi year on year (YoY) sebesar 11,85%. Level tersebut di luar dugaan banyak pihak yang memperkirakan tingkat inflasi Agustus mengalami kenaikan hingga menembus level 12%.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi terjadi karena adanya kenaikan indeks barang dan jasa di semua kelompok, seperti sektor makanan yang paling tinggi sekitar 0,9%, makanan jadi, minuman, tembakau 0,56%, dan sektor perumahan, air, listrik, dan gas bahan bakar sekitar 0,53%.
Harga yang mengalami penurunan adalah kelompok sandang 0,53%, sektor sektor transportasi, komunikasi dan jasa keuangan 0,01% karena tidak ada lagi kenaikan tarif angkutan.
Norico mengatakan, meskipun angka inflasi terlihat lebih rendah dari Juli, ada faktor yang belum dihitung dalam komponen inflasi, yaitu kenaikan harga gas elpiji. Bila diakumulasi hingga akhir September, Norico mengkhawatirkan terjadinya lonjakan inflasi.
Pasalnya selain kenaikan harga elpiji, kenaikan harga barang menjelang lebaran juga akan membebani inflasi. “Saya lihat inflasi September berpotensi lebih besar dari Agustus atau jika dibandingkan dari Juli, bisa sama atau bahkan lebih tinggi,” papar Norico.
Saham sektor perkebunan naik pesat akibat ekspektasi melonjaknya harga miyak kelapa sawit (CPO) menyusul masuknya bulan Ramadhan dan Lebaran yang akan meningkatkan permintaan produk CPO dan turunannya. Hal ini mendongkrak saham berbasis CPO seperti AALI, LSIP dan UNSP.
Lebih lanjut ia mengatakan, naiknya harga minyak mentah dunia tidak diiikuti saham sektor pertambangan seperti yang biasa terjadi. Menurut Norico, pelaku pasar dalam negeri bertindak anomali. Kenaikan harga minyak dilihat investor belum cukup meyakinkan, padahal sebenarnya bisa terus merambat naik hingga akhir tahun. Alhasil, saham-saham tambang seperti BYAN, BUMI dan MEDC anjlok.
Selain itu, naiknya harga minyak juga tidak berkorelasi signifikan dengan harga komoditas lain, seperti batubara dan sektor logam yang justru menunjukkan pelemahan. Hal ini kemudian mendapat respon negatif dari pasar modal. Pasalnya, jatuhnya harga komoditas, termasuk logam akan berpengaruh pada potensi ekspor Indonesia dan pelambatan ekonomi semester dua.
Perdagangan saham hari ini mencatat transaksi 44.027 kali, dengan volume 1,617 miliar unit saham, senilai Rp 2,407 triliun. Sebanyak 72 saham naik, 102 saham turun dan 64 saham stagnan.
Saham-saham yang turun harganya antara lain, PT Bayan Resources (BYAN) turun Rp 350 ke posisi Rp 5.450, PT Bumi Resources (BUMI) turun Rp 200 menjadi Rp 5.300, PT Telkom (TLKM) turun Rp 150 menjadi Rp 7.850, dan PT Timah (TINS) turun Rp 75 menjadi Rp 2.500.
Sementara saham PT Indofood Sukses Makmur (INDF) turun Rp 50 menjadi 2.200, PT Bank Mandiri (BMRI) turun Rp 25 menjadi Rp 2.800, dan PT Medco (MEDC) turun 5 menjadi Rp 4875,
Sedangkan saham-saham yang naik harganya antara lain, PT United Tractors (UNTR) naik Rp 400 ke posisi Rp 10.750, PT Astra Agro Lestari (AALI) naik Rp 250 ke posisi Rp 18.200, PT Astra International (ASII) naik Rp 200 ke posisi Rp 21.000, serta saham PT Indosat Tbk (ISAT) naik Rp 200 ke posisi Rp 6.350.
Demikian pula saham PT Tambang Batubara Bukit Asam (PTBA) naik 100 menjadi Rp 14.600, PT London Sumatra (LSIP) naik 100 menjadi Rp 5.850, PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) naik Rp 80 menjadi Rp 1.140, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) naik Rp 100 menjadi Rp 5.950 dan PT Bank Central Asia (BBCA) naik Rp 75 menjadi Rp 3.250.
Bursa regional sore ini juga terpantau anjlok. Indeks Shanghai China turun 72,23 poin (3,01%) pada level 2325.14. Demikian pula indeks Hangseng Hong Kong turun 1,5% pada level 20.939,04.
Sementara indeks kospi Korea turun 4,06% pada level 1.414,43, level terendah sejak Maret 2007. Indeks Nikkei Jepang turun 238,69 poin (1,8%) pada level 12.834,18 sedangkan Topix ditutup turun 24,07 poin atau 1,9% pada level 1.230.64. [E1]
BI Rate Bisa Dipatok Stabil
01/09/2008 21:05
INILAH.COM, Jakarta - Pelaku pasar optimistis laju inflasi Agustus yang terkendali memberi peluang bagi Bank Indonesia menahan laju suku bunga acuan (BI Rate).
"Bunga acauan bisa ditahan. Kecuali, jika BI lebih ingin memastikan kecukupan likuiditas di pasar akibat tingginya pertumbuhan kredit dan turunnya rasio dana pihak ketiga di perbankan," kata Kepala Riset Recapital Securities, Poltak Hotradero, Senin (1/9), di Jakarta.
Menurut dia, tingkat inflasi Agustus itu bagus dan terkendali, sehingga dalam rapat dewan gubernur BI mendatang kemungkinan akan ada split decision (keputusan yang tidak mutlak) antara menaikkan atau menahan tingkat suku bunga acuan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada Agustus sebesar 0,51%, sementara inflasi Januari-Agustus mencapai 9,40%, dan inflasi year on year 11,85%.
Saat ini, BI rate bertengger di level 9% dan target BI rate pada akhir tahun adalah 9,5%.
Namun, katanya, laju pertumbuhan kredit hingga akhir Agustus hampir 35% dan diikuti oleh penurunan rasio dana pihak ketiga (DPK) bisa saja membuat BI mengambil kebijakan lainnya.
"Pilihannya antara menaikkan BI rate atau menaikkan GWM (Giro Wajib Minimum-red) untuk menarik likuiditas lagi ke perbankan," pungkasnya.[L5]
INILAH.COM, Jakarta - Pelaku pasar optimistis laju inflasi Agustus yang terkendali memberi peluang bagi Bank Indonesia menahan laju suku bunga acuan (BI Rate).
"Bunga acauan bisa ditahan. Kecuali, jika BI lebih ingin memastikan kecukupan likuiditas di pasar akibat tingginya pertumbuhan kredit dan turunnya rasio dana pihak ketiga di perbankan," kata Kepala Riset Recapital Securities, Poltak Hotradero, Senin (1/9), di Jakarta.
Menurut dia, tingkat inflasi Agustus itu bagus dan terkendali, sehingga dalam rapat dewan gubernur BI mendatang kemungkinan akan ada split decision (keputusan yang tidak mutlak) antara menaikkan atau menahan tingkat suku bunga acuan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi pada Agustus sebesar 0,51%, sementara inflasi Januari-Agustus mencapai 9,40%, dan inflasi year on year 11,85%.
Saat ini, BI rate bertengger di level 9% dan target BI rate pada akhir tahun adalah 9,5%.
Namun, katanya, laju pertumbuhan kredit hingga akhir Agustus hampir 35% dan diikuti oleh penurunan rasio dana pihak ketiga (DPK) bisa saja membuat BI mengambil kebijakan lainnya.
"Pilihannya antara menaikkan BI rate atau menaikkan GWM (Giro Wajib Minimum-red) untuk menarik likuiditas lagi ke perbankan," pungkasnya.[L5]
BI harus Tahan Suku Bunga
02/09/2008 11:26
INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah berharap Bank Indonesia bisa mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level sekarang yakni 9%. Pasalnya, BI masih harus mengawal tren pelunakan laju inflasi ke depan.
"Pelunakan gejolak inflasi masih perlu dipastikan kecenderungannya mendatang sehingga belum perlu disikapi dengan kebijakan suku bunga," tandas Direktur Perencanaan Makro Bappenas, Bambang Prijambodo, Selasa (2/9), di Jakarta.
Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (1/9), mengumumkan inflasi Agustus sebesar 0,51% dengan inflasi year on year sebesar 11,85%. Berdasarkan fakta itu, BI tidak perlu menindaklanjuti dengan merevisi BI Rate yang kini dipanteng di 9%.
Sementara itu, Head Research Recapital Resources Poltak Hotradero, mengatakan BI masih memiliki kesempatan untuk menaikkan BI Rate pada Oktober mendatang. Apalagi, inflasi di bulan September yang diperkirakan bakal melambung tinggi karena pelaksanaan puasa dan menjelang lebaran. "Apalagi BI berencana menambah uang beredar atau M1 pada bulan ini," katanya.
Sedangkan inflasi Oktober diperkirakan bakal rendah mengingat tekanan inflasi pasca lebaran akan relatif lebih jinak mengingat kegiatan ekonomi yang masih minim.
Meski demikian, Tingginya pertumbuhan kredit perbankan hingga hampir 35% pada pertengahan Agustus lalu akan membuat BI berpikir keras tentang kebijakan suku bunga mereka.
"Kalau tidak menaikkan BI rate, ya terpaksa menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM)," jelasnya.[L5]
INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah berharap Bank Indonesia bisa mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level sekarang yakni 9%. Pasalnya, BI masih harus mengawal tren pelunakan laju inflasi ke depan.
"Pelunakan gejolak inflasi masih perlu dipastikan kecenderungannya mendatang sehingga belum perlu disikapi dengan kebijakan suku bunga," tandas Direktur Perencanaan Makro Bappenas, Bambang Prijambodo, Selasa (2/9), di Jakarta.
Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (1/9), mengumumkan inflasi Agustus sebesar 0,51% dengan inflasi year on year sebesar 11,85%. Berdasarkan fakta itu, BI tidak perlu menindaklanjuti dengan merevisi BI Rate yang kini dipanteng di 9%.
Sementara itu, Head Research Recapital Resources Poltak Hotradero, mengatakan BI masih memiliki kesempatan untuk menaikkan BI Rate pada Oktober mendatang. Apalagi, inflasi di bulan September yang diperkirakan bakal melambung tinggi karena pelaksanaan puasa dan menjelang lebaran. "Apalagi BI berencana menambah uang beredar atau M1 pada bulan ini," katanya.
Sedangkan inflasi Oktober diperkirakan bakal rendah mengingat tekanan inflasi pasca lebaran akan relatif lebih jinak mengingat kegiatan ekonomi yang masih minim.
Meski demikian, Tingginya pertumbuhan kredit perbankan hingga hampir 35% pada pertengahan Agustus lalu akan membuat BI berpikir keras tentang kebijakan suku bunga mereka.
"Kalau tidak menaikkan BI rate, ya terpaksa menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM)," jelasnya.[L5]
Pasar Menunggu Nasib BI Rate
Oleh: Asteria dan Ahmad Munjin (02/09/08)
INILAH.COM, Jakarta – Meski data inflasi Agustus lebih rendah dari bulan sebelumnya, ada kemungkinan melonjak lagi memasuki musim lebaran. Pasar pun menanti kebijakan Bank Indonesia (BI) tentang suku bunga BI rate.
Ekonom Senior Bank Negara Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto mengatakan, melihat posisi inflasi saat ini, sebaiknya BI tidak menaikan BI rate. Dengan bertahannya BI rate di level 9% pada bulan ini, tutur Ryan, akan menahan nafsu bank-bank menaikkan suku bunga. Alhasil, hal ini akan menjadi sentimen yang bagus bagi sektor riil di tengah ketatnya likuiditas perbankan. Yang pasti BI akan bekerja kerja keras kendalikan inflasi. “Kendati demikian, BI bakal menangggung biaya moneter yang mahal hingga akhir tahun,” ujar Ryan kepada INILAH.COM, Selasa (2/9).
Lebih lanjut Ryan mengatakan, BI rate mungkin baru akan naik bulan depan, terkait inflasi September yang diperkirakan naik lagi menyusul tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi menyambut puasa dan Lebaran. “Jadi, BI rate mungkin baru akan naik 25 basis poin menjadi 9,25% bulan depan (Oktober 2008),” ujarnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin mengumumkan bahwa inflasi Agustus tercatat 0,51%, sehingga inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) mencapai 9,4% dan inflasi year on year 11,85%.
Tingkat inflasi Agustus yang hanya 0,51% ini cukup mengejutkan bagi Ryan. Pasalnya, dampak gonjang-ganjing kelangkaan gas elpiji ternyata tidak signifikan mendorong inflasi. Di balik semua itu, inflasi yang rendah merupakan bukti efektivitas BI dalam mengawal inflasi.
BI, lanjutnya, mengawal inflasi melalui kebijakan moneter yang cenderung ketat dengan cara menaikkan BI rate secara konsisten. “Terbukti, saat ini sebagian besar bank mengalami likuiditas ketat karena sebagian dananya tertanam di instrument Sertifikat Bank Indonesia (SBI),” katanya.
Sementara analis Suryanto Chang memprediksi BI rate akan naik 25 basis poin bulan ini. Menurutnya, meski inflasi Agustus lebih rendah dari sebelumnya, tingkat inflasi masih berada dalam kisaran tinggi. “BI rate akan naik sekitar 25 basis poin,” tandasnya.
Suryanto menjelaskan, BI menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi. Selain itu, juga untuk menarik dana masyarakat karena kredit yang dikucurkan semakin besar. Untuk itu, harus ada penempatan dana lagi ke perbankan. “Deposito berbunga tinggi cukup menolong, karena BI bisa menarik likuiditas berlebih,” paparnya.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia Tony John mengungkapkan hal berbeda. Menurutnya, tingkat inflasi Agustus cukup mampu meredam kekhawatiran pasar yang berekspektasi lebih tinggi dibanding Juli.
Di sisi lain, BI masih berpeluang besar menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin mengingat suku bunga hingga akhir tahun diperkirakan mencapai 9,5%. Namun, pasar tidak terlalu khawatir dengan rencana kenaikan BI rate. “Meskipun BI rate naik, hal ini tidak akan meresahkan investor karena kenaikan suku bunga tidak untuk meng-counter. tingginya inflasi,” jelasnya.
Pengamat ekonomi Farial Anwar mengatakan, meski inflasi bisa menembus lebih dari 12% hingga akhir tahun, tingkat suku bunga Bank Indonesia sebaiknya tidak melebihi level 10%. Karena akan berpengaruh signifikan pada kondisi ekonomi makro. Kenaikan BI rate hingga melebihi 10% akan signifikan bagi perbankan dan kemudian berlanjut ke sektor riil. "Keputusan BI menaikkan BI rate ke 9% kemarin bertujuan untuk memberi peringatan pada pasar bahwa ekonomi sudah mulai tidak stabil," papar Farial.
Farial menjelaskan, tingkat suku bunga BI bisa saja lebih rendah dari tingkat inflasi dalam kondisi tertentu. Ia pun memberi contoh AS, dimana tingkat inflasinya sudah mencapai 5%, tapi suku bunganya masih di level 2%. “Jadi tidak ada masalah suku bunga lebih rendah dari inflasi," jelas Farial.
Sementara pengamat ekonomi Tony A Prasetyantono mengatakan, dari sisi moneter BI akan kembali menaikan suku bunga acuan menjadi 9,75% pada akhir tahun. "BI akan tetap menaikan suku bunganya untuk menekan inflasi. Pada akhir tahun, BI rate tak lebih dari 10%, dan ini berarti sekitar 9,75%," katanya.
Tony pun mengatakan, bahwa inflasi 2008 bisa menembus angka 12% karena empat bulan ke depan, sebanyak dua bulan di antaranya termasuk yang biasanya terjadi inflasi musiman yaitu Lebaran dan tahun baru. Belum lagi dampak kenaikan harga gas yang masih terus berlanjut.
"Untuk menahan laju inflasi di bawah 12% rasanya sulit. Efek multiplier dari kenaikan harga elpiji masih terasa untuk bulan depan. Apalagi September bertepatan dengan bulan puasa, dimana konsumsi akan meningkat," katanya.
Sementara untuk mengerem tingkat inflasi agar tidak berlebihan, menurut dia, pemerintah harus mempersiapkan diri untuk mengamankan pasokan dan memperbaiki distribusi barang terutama pada September dan Desember. "Terutama untuk Ramadhan dan Lebaran ini," timpal Tony. [E1]
INILAH.COM, Jakarta – Meski data inflasi Agustus lebih rendah dari bulan sebelumnya, ada kemungkinan melonjak lagi memasuki musim lebaran. Pasar pun menanti kebijakan Bank Indonesia (BI) tentang suku bunga BI rate.
Ekonom Senior Bank Negara Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto mengatakan, melihat posisi inflasi saat ini, sebaiknya BI tidak menaikan BI rate. Dengan bertahannya BI rate di level 9% pada bulan ini, tutur Ryan, akan menahan nafsu bank-bank menaikkan suku bunga. Alhasil, hal ini akan menjadi sentimen yang bagus bagi sektor riil di tengah ketatnya likuiditas perbankan. Yang pasti BI akan bekerja kerja keras kendalikan inflasi. “Kendati demikian, BI bakal menangggung biaya moneter yang mahal hingga akhir tahun,” ujar Ryan kepada INILAH.COM, Selasa (2/9).
Lebih lanjut Ryan mengatakan, BI rate mungkin baru akan naik bulan depan, terkait inflasi September yang diperkirakan naik lagi menyusul tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi menyambut puasa dan Lebaran. “Jadi, BI rate mungkin baru akan naik 25 basis poin menjadi 9,25% bulan depan (Oktober 2008),” ujarnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) kemarin mengumumkan bahwa inflasi Agustus tercatat 0,51%, sehingga inflasi tahun kalender (Januari-Agustus) mencapai 9,4% dan inflasi year on year 11,85%.
Tingkat inflasi Agustus yang hanya 0,51% ini cukup mengejutkan bagi Ryan. Pasalnya, dampak gonjang-ganjing kelangkaan gas elpiji ternyata tidak signifikan mendorong inflasi. Di balik semua itu, inflasi yang rendah merupakan bukti efektivitas BI dalam mengawal inflasi.
BI, lanjutnya, mengawal inflasi melalui kebijakan moneter yang cenderung ketat dengan cara menaikkan BI rate secara konsisten. “Terbukti, saat ini sebagian besar bank mengalami likuiditas ketat karena sebagian dananya tertanam di instrument Sertifikat Bank Indonesia (SBI),” katanya.
Sementara analis Suryanto Chang memprediksi BI rate akan naik 25 basis poin bulan ini. Menurutnya, meski inflasi Agustus lebih rendah dari sebelumnya, tingkat inflasi masih berada dalam kisaran tinggi. “BI rate akan naik sekitar 25 basis poin,” tandasnya.
Suryanto menjelaskan, BI menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi. Selain itu, juga untuk menarik dana masyarakat karena kredit yang dikucurkan semakin besar. Untuk itu, harus ada penempatan dana lagi ke perbankan. “Deposito berbunga tinggi cukup menolong, karena BI bisa menarik likuiditas berlebih,” paparnya.
Analis Samuel Sekuritas Indonesia Tony John mengungkapkan hal berbeda. Menurutnya, tingkat inflasi Agustus cukup mampu meredam kekhawatiran pasar yang berekspektasi lebih tinggi dibanding Juli.
Di sisi lain, BI masih berpeluang besar menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin mengingat suku bunga hingga akhir tahun diperkirakan mencapai 9,5%. Namun, pasar tidak terlalu khawatir dengan rencana kenaikan BI rate. “Meskipun BI rate naik, hal ini tidak akan meresahkan investor karena kenaikan suku bunga tidak untuk meng-counter. tingginya inflasi,” jelasnya.
Pengamat ekonomi Farial Anwar mengatakan, meski inflasi bisa menembus lebih dari 12% hingga akhir tahun, tingkat suku bunga Bank Indonesia sebaiknya tidak melebihi level 10%. Karena akan berpengaruh signifikan pada kondisi ekonomi makro. Kenaikan BI rate hingga melebihi 10% akan signifikan bagi perbankan dan kemudian berlanjut ke sektor riil. "Keputusan BI menaikkan BI rate ke 9% kemarin bertujuan untuk memberi peringatan pada pasar bahwa ekonomi sudah mulai tidak stabil," papar Farial.
Farial menjelaskan, tingkat suku bunga BI bisa saja lebih rendah dari tingkat inflasi dalam kondisi tertentu. Ia pun memberi contoh AS, dimana tingkat inflasinya sudah mencapai 5%, tapi suku bunganya masih di level 2%. “Jadi tidak ada masalah suku bunga lebih rendah dari inflasi," jelas Farial.
Sementara pengamat ekonomi Tony A Prasetyantono mengatakan, dari sisi moneter BI akan kembali menaikan suku bunga acuan menjadi 9,75% pada akhir tahun. "BI akan tetap menaikan suku bunganya untuk menekan inflasi. Pada akhir tahun, BI rate tak lebih dari 10%, dan ini berarti sekitar 9,75%," katanya.
Tony pun mengatakan, bahwa inflasi 2008 bisa menembus angka 12% karena empat bulan ke depan, sebanyak dua bulan di antaranya termasuk yang biasanya terjadi inflasi musiman yaitu Lebaran dan tahun baru. Belum lagi dampak kenaikan harga gas yang masih terus berlanjut.
"Untuk menahan laju inflasi di bawah 12% rasanya sulit. Efek multiplier dari kenaikan harga elpiji masih terasa untuk bulan depan. Apalagi September bertepatan dengan bulan puasa, dimana konsumsi akan meningkat," katanya.
Sementara untuk mengerem tingkat inflasi agar tidak berlebihan, menurut dia, pemerintah harus mempersiapkan diri untuk mengamankan pasokan dan memperbaiki distribusi barang terutama pada September dan Desember. "Terutama untuk Ramadhan dan Lebaran ini," timpal Tony. [E1]
Tuesday, August 19, 2008
Indeks Saham Kembali Melemah
[Jawa Pos, Rabu, 20 Agustus 2008 ]
JAKARTA - Gejolak pasar finansial masih sangat mengkhawatirkan. Pada perdagangan kemarin (19/8), lantai bursa kembali melemah. Bahkan, menyentuh level terendah sejak perdagangan awal tahun ini.
Kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) berada dalam teritori merah, melemah 2,05 persen (42,65 poin). Indeks ditutup pada level 2.042,49. Nilai transaksinya di bawah rata-rata harian yaitu Rp 2,9 triliun. Padahal, rerata transaksi harian di bursa sepanjang 2008 menyentuh angka Rp 5,29 triliun.
Kepala Riset Kresna Sekuritas Adrian Rusmana mengatakan, anjloknya harga sejumlah komoditas menjadi faktor yang cukup signifikan dalam memelorotkan indeks. "Kondisi bursa global juga masih belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan," ujar Adrian kemarin (19/8). Terbukti, saham sejumlah emiten berbasis komoditas mengalami koreksi dan menjadi top losser.
Melorotnya saham-saham komoditas, sambung dia, secara psikologis berpengaruh ke saham-saham lain. Sehingga, nyaris semua sektor mengalami penurunan. "Fenomena itu disebabkan kontribusi saham-saham di sektor komoditas terhadap pergerakan indeks masih sangat besar, melebihi sektor-sektor lainnya," terangnya.
Dia menilai, investor lebih memilih melakukan aksi jual. Namun, bukan hanya saham di sektor komoditas yang tertekan aksi jual. "Saham-saham di perbankan, bahkan industri makanan dasar, juga tertekan oleh aksi jual," tuturnya.
Dalam jangka pendek, kata dia, indeks akan lebih banyak bergerak sideways. "Saham-saham di sektor infrastruktur akan menjadi pilihan. Investor akan melepas saham-saham di sektor komoditas," katanya.
Namun, peluang rebound bukannya tidak ada, meski sangat terbatas. "Dalam beberapa waktu, indeks akan bergerak mendatar, bahkan cenderung terus menurun.
"Secara terpisah, pengamat pasar modal Ikhsan Binarto mengatakan, indeks melemah tajam masih dipicu oleh saham perkebunan dan pertambangan. "Melemahnya harga minyak menjadi katalis penurunan indeks karena ekspektasi harga komoditas bakal turun," katanya.
Hal tersebut, sambung dia, membuat saham-saham di kedua sektor tersebut tertekan aksi jual. "Ekspektasi penurunan harga komoditas memicu panic selling dua sektor tersebut," terangnya.
Di tengah tekanan hebat, jelas dia, indeks berpeluang mengalami teknikal rebound ?dengan arah pergerakan hingga 2.080. "Historikal indeks mencoba menembus level lebih tinggi dengan level 1.863 sebagai bottom line-nya," terangnya.(eri/fan)
JAKARTA - Gejolak pasar finansial masih sangat mengkhawatirkan. Pada perdagangan kemarin (19/8), lantai bursa kembali melemah. Bahkan, menyentuh level terendah sejak perdagangan awal tahun ini.
Kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) berada dalam teritori merah, melemah 2,05 persen (42,65 poin). Indeks ditutup pada level 2.042,49. Nilai transaksinya di bawah rata-rata harian yaitu Rp 2,9 triliun. Padahal, rerata transaksi harian di bursa sepanjang 2008 menyentuh angka Rp 5,29 triliun.
Kepala Riset Kresna Sekuritas Adrian Rusmana mengatakan, anjloknya harga sejumlah komoditas menjadi faktor yang cukup signifikan dalam memelorotkan indeks. "Kondisi bursa global juga masih belum menunjukkan tanda-tanda kebangkitan," ujar Adrian kemarin (19/8). Terbukti, saham sejumlah emiten berbasis komoditas mengalami koreksi dan menjadi top losser.
Melorotnya saham-saham komoditas, sambung dia, secara psikologis berpengaruh ke saham-saham lain. Sehingga, nyaris semua sektor mengalami penurunan. "Fenomena itu disebabkan kontribusi saham-saham di sektor komoditas terhadap pergerakan indeks masih sangat besar, melebihi sektor-sektor lainnya," terangnya.
Dia menilai, investor lebih memilih melakukan aksi jual. Namun, bukan hanya saham di sektor komoditas yang tertekan aksi jual. "Saham-saham di perbankan, bahkan industri makanan dasar, juga tertekan oleh aksi jual," tuturnya.
Dalam jangka pendek, kata dia, indeks akan lebih banyak bergerak sideways. "Saham-saham di sektor infrastruktur akan menjadi pilihan. Investor akan melepas saham-saham di sektor komoditas," katanya.
Namun, peluang rebound bukannya tidak ada, meski sangat terbatas. "Dalam beberapa waktu, indeks akan bergerak mendatar, bahkan cenderung terus menurun.
"Secara terpisah, pengamat pasar modal Ikhsan Binarto mengatakan, indeks melemah tajam masih dipicu oleh saham perkebunan dan pertambangan. "Melemahnya harga minyak menjadi katalis penurunan indeks karena ekspektasi harga komoditas bakal turun," katanya.
Hal tersebut, sambung dia, membuat saham-saham di kedua sektor tersebut tertekan aksi jual. "Ekspektasi penurunan harga komoditas memicu panic selling dua sektor tersebut," terangnya.
Di tengah tekanan hebat, jelas dia, indeks berpeluang mengalami teknikal rebound ?dengan arah pergerakan hingga 2.080. "Historikal indeks mencoba menembus level lebih tinggi dengan level 1.863 sebagai bottom line-nya," terangnya.(eri/fan)
ORI Bantu Perencanaan Keuangan Keluarga
Dadan Kuswaraharja - detikFinance
Jakarta - Pemerintah tengah gencar lagi menjual salah satu obligasi andalannya Obligasi Ritel Indonesia (ORI). ORI ini akan membantu perencanaan keuangan keluarga.
ORI005 yang akan diterbitkan pemerintah 2 pekan lagi pada 3 Agustus 2008 misalnya. Dengan pembayaran kupon yang diaksanakan tepat di tengah bulan yakni tanggal 15 setiap bulannya akan memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengatur arus kas mereka melalui investasi di ORI dengan lebih baik.
Menurut Direktur Surat Berharga Negara Bhimantara Widyajala, Rabu (20/8/2008) masyarakat yang sudah bekerja di pertengahan bulan biasanya membutuhkan uang, setelah gaji yang diterima di awal atau akhir bulan sudah mulai menipis. "Dengan demikian ORI dapat membantu perencanaan keuangan para investor agar lebih baik lagi, apalagi tenor untuk ORI005 yang 5 tahun dapat memberikan pembelajaran dan pengalaman baru bagi investor individu untuk berinvestasi dalam jangka waktu yang lebih panjang dari jangka waktu ORI seri-seri terdahulu," paparnya. Sedangkan dari sisi Pemerintah pembayaran kupon ORI mulai dari seri ORI005 dan seri-seri selanjutnya setiap tanggal 15 akan memberikan kemudahan dari sisi administrasi karena tanggal pembayarannya sama dengan tanggal pembayaran kupon obligasi dengan bunga tetap. "Hanya kalau ORI kupon dibayar tiap bulan kalau obligasi negara dengan bunga tetap dibayar setiap 6 bulan sekali," ujarnyaMasa penawaran ORI005 dimulai pada tanggal 19 Agustus hingga 29 Agustus 2008. ORI akan diterbitkan pada 3 September 2008 dan kupon pertama akan dibayar langsung pada 15 September dengan nilai kupon pertama yang dihitung berdasarkan hari bunga sejak tanggal penerbitan. Selanjutnya, kupon kedua dan seterusnya dibayar penuh setiap bulan berdasarkan bunga 11,45% per tahun.(ddn/ir)
Rabu, 20/08/2008 10:18 WIB
Jakarta - Pemerintah tengah gencar lagi menjual salah satu obligasi andalannya Obligasi Ritel Indonesia (ORI). ORI ini akan membantu perencanaan keuangan keluarga.
ORI005 yang akan diterbitkan pemerintah 2 pekan lagi pada 3 Agustus 2008 misalnya. Dengan pembayaran kupon yang diaksanakan tepat di tengah bulan yakni tanggal 15 setiap bulannya akan memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengatur arus kas mereka melalui investasi di ORI dengan lebih baik.
Menurut Direktur Surat Berharga Negara Bhimantara Widyajala, Rabu (20/8/2008) masyarakat yang sudah bekerja di pertengahan bulan biasanya membutuhkan uang, setelah gaji yang diterima di awal atau akhir bulan sudah mulai menipis. "Dengan demikian ORI dapat membantu perencanaan keuangan para investor agar lebih baik lagi, apalagi tenor untuk ORI005 yang 5 tahun dapat memberikan pembelajaran dan pengalaman baru bagi investor individu untuk berinvestasi dalam jangka waktu yang lebih panjang dari jangka waktu ORI seri-seri terdahulu," paparnya. Sedangkan dari sisi Pemerintah pembayaran kupon ORI mulai dari seri ORI005 dan seri-seri selanjutnya setiap tanggal 15 akan memberikan kemudahan dari sisi administrasi karena tanggal pembayarannya sama dengan tanggal pembayaran kupon obligasi dengan bunga tetap. "Hanya kalau ORI kupon dibayar tiap bulan kalau obligasi negara dengan bunga tetap dibayar setiap 6 bulan sekali," ujarnyaMasa penawaran ORI005 dimulai pada tanggal 19 Agustus hingga 29 Agustus 2008. ORI akan diterbitkan pada 3 September 2008 dan kupon pertama akan dibayar langsung pada 15 September dengan nilai kupon pertama yang dihitung berdasarkan hari bunga sejak tanggal penerbitan. Selanjutnya, kupon kedua dan seterusnya dibayar penuh setiap bulan berdasarkan bunga 11,45% per tahun.(ddn/ir)
Rabu, 20/08/2008 10:18 WIB
BRI kucurkan kredit Rp1 triliun ke Dipasena
Penulis : Bisnis Indonesia
Tanggal :
Tuesday, 8/19/2008
Keyword :
JAKARTA: PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk mengucurkan fasilitas kredit sebesar Rp1 triliun kepada perusahaan tambak PT Dipasena sebagai bentuk pembiayaan modal kerja dan investasi jangka menengah.
Direktur Bisnis Umum BRI Sudaryanto Sudargo mengatakan fasilitas kredit bilateral tersebut ditandatangani bulan lalu dan saat ini sudah mulai proses pencairan dana.
"Itu kan sudah ditandatangani bulan lalu, sehingga saat ini sudah mulai pencairan tahap pertama. Namun, saya lupa berapa nilai pencairan tahap pertama itu," ujarnya kepada Bisnis di Jakarta, pekan lalu.
Menurut dia, fasilitas kredit berjangka menengah tersebut secara tidak langsung diperuntukkan bagi petani plasma tambak karena sebagian besar digunakan untuk modal kerja.
Dia menjelaskan kredit tersebut sebagian besar akan digunakan untuk revitalisasi tambak milik petani plasma. Namun, Sudaryanto belum bisa memastikan berapa luas lahan petani tambak yang direvitalisasi. "Ada ribuan hektar."
Tahun lalu, PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima) telah membeli aktiva tetap milik Grup Dipasena senilai Rp1,7 triliun. Aset itu berasal dari PT Dipasena Citra Darmaja, PT Wachyuni Mandira, PT Birulaut Khatulistiwa, PT Bestari Indoprima, PT Triwindu Grahamanunggal, dan PT Mesuji Pratama Lines.
Pembelian saham 100% itu melalui konsorsium Neptune, CP Prima terlibat di dalamnya, dengan nilai jual Rp688,12 miliar, sedangkan Dipasena adalah perusahaan tambak warisan dari obligor BLBI Sjamsul Nursalim.
Dipasena diserahkan kepada BPPN sebagai penyelesaian kewajiban pemegang saham (PKPS) yang mencapai Rp28 triliun dan perusahaan itu sendiri ditetapkan senilai Rp19,9 triliun.
Perusahaan kakap
Dalam kesempatan itu, Sudaryanto menyampaikan pihaknya juga tengah memproses permintaan kredit dari sejumlah perusahaan perkebunan dan sektor lainnya, di antaranya dari perusahaan perkebunan kelapa sawit, seperti PT Matahari Kahuripan Indonesia (Makin Group).
Namun, dia mengklaim belum mengetahui secara pasti nilai kredit Makin Group."Ada beberapa perkebunan masih dalam proses. Belum ditandatangani dan kebanyakan perusahaan menengah, seperti Makin Group," paparnya.
Beberapa waktu lalu, Sudaryanto mengungkapkan sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit tengah mengincar kredit inti plasma BRI. Bank pelat merah itu menyediakan plafon kredit sebesar Rp3 triliun untuk sektor tersebut.
Sejumlah perusahaan papan atas yang tengah mengincar kredit BRI di antaranya Sinarmas Group, Bakrie Plantation, dan Sampoerna Agro.
Realisasi kredit sejumlah perusahaan kakap itu, menurut Sudaryanto, belum menunjukkan perkembangan baru. "Mereka itu rata-rata baru menjajaki. Jadi, belum ada progresnya. Namun, kami memang tetap membatasi untuk kredit korporasi ini."
Bank yang identik dengan kredit usaha kecil itu pada semester pertama tahun ini membukukan kredit korporasi sebesar Rp24,46 triliun atau sekitar 17,99% dari total kredit Rp135,9 triliun. Pertumbuhan kredit korporasi sejak 2004-2008, merupakan yang tertinggi kedua setelah kelas medium, yakni 35,4%.
Paruh pertama tahun ini, margin bunga bersih BRI? turun menjadi 10,42% dari periode sebelumnya 11,11%. Namun, bank pelat merah itu membukukan peningkatan laba 19,5% menjadi Rp2,82 triliun. (11) (redaksi@bisnis.co.id)
Tanggal :
Tuesday, 8/19/2008
Keyword :
JAKARTA: PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) Tbk mengucurkan fasilitas kredit sebesar Rp1 triliun kepada perusahaan tambak PT Dipasena sebagai bentuk pembiayaan modal kerja dan investasi jangka menengah.
Direktur Bisnis Umum BRI Sudaryanto Sudargo mengatakan fasilitas kredit bilateral tersebut ditandatangani bulan lalu dan saat ini sudah mulai proses pencairan dana.
"Itu kan sudah ditandatangani bulan lalu, sehingga saat ini sudah mulai pencairan tahap pertama. Namun, saya lupa berapa nilai pencairan tahap pertama itu," ujarnya kepada Bisnis di Jakarta, pekan lalu.
Menurut dia, fasilitas kredit berjangka menengah tersebut secara tidak langsung diperuntukkan bagi petani plasma tambak karena sebagian besar digunakan untuk modal kerja.
Dia menjelaskan kredit tersebut sebagian besar akan digunakan untuk revitalisasi tambak milik petani plasma. Namun, Sudaryanto belum bisa memastikan berapa luas lahan petani tambak yang direvitalisasi. "Ada ribuan hektar."
Tahun lalu, PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima) telah membeli aktiva tetap milik Grup Dipasena senilai Rp1,7 triliun. Aset itu berasal dari PT Dipasena Citra Darmaja, PT Wachyuni Mandira, PT Birulaut Khatulistiwa, PT Bestari Indoprima, PT Triwindu Grahamanunggal, dan PT Mesuji Pratama Lines.
Pembelian saham 100% itu melalui konsorsium Neptune, CP Prima terlibat di dalamnya, dengan nilai jual Rp688,12 miliar, sedangkan Dipasena adalah perusahaan tambak warisan dari obligor BLBI Sjamsul Nursalim.
Dipasena diserahkan kepada BPPN sebagai penyelesaian kewajiban pemegang saham (PKPS) yang mencapai Rp28 triliun dan perusahaan itu sendiri ditetapkan senilai Rp19,9 triliun.
Perusahaan kakap
Dalam kesempatan itu, Sudaryanto menyampaikan pihaknya juga tengah memproses permintaan kredit dari sejumlah perusahaan perkebunan dan sektor lainnya, di antaranya dari perusahaan perkebunan kelapa sawit, seperti PT Matahari Kahuripan Indonesia (Makin Group).
Namun, dia mengklaim belum mengetahui secara pasti nilai kredit Makin Group."Ada beberapa perkebunan masih dalam proses. Belum ditandatangani dan kebanyakan perusahaan menengah, seperti Makin Group," paparnya.
Beberapa waktu lalu, Sudaryanto mengungkapkan sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit tengah mengincar kredit inti plasma BRI. Bank pelat merah itu menyediakan plafon kredit sebesar Rp3 triliun untuk sektor tersebut.
Sejumlah perusahaan papan atas yang tengah mengincar kredit BRI di antaranya Sinarmas Group, Bakrie Plantation, dan Sampoerna Agro.
Realisasi kredit sejumlah perusahaan kakap itu, menurut Sudaryanto, belum menunjukkan perkembangan baru. "Mereka itu rata-rata baru menjajaki. Jadi, belum ada progresnya. Namun, kami memang tetap membatasi untuk kredit korporasi ini."
Bank yang identik dengan kredit usaha kecil itu pada semester pertama tahun ini membukukan kredit korporasi sebesar Rp24,46 triliun atau sekitar 17,99% dari total kredit Rp135,9 triliun. Pertumbuhan kredit korporasi sejak 2004-2008, merupakan yang tertinggi kedua setelah kelas medium, yakni 35,4%.
Paruh pertama tahun ini, margin bunga bersih BRI? turun menjadi 10,42% dari periode sebelumnya 11,11%. Namun, bank pelat merah itu membukukan peningkatan laba 19,5% menjadi Rp2,82 triliun. (11) (redaksi@bisnis.co.id)
Bank CIMB Niaga finalisasi kredit pembangkit listrik
Penulis : Bisnis Indonesia Tanggal : Tuesday, 8/19/2008 Keyword :
JAKARTA: PT Bank CIMB Niaga Tbk akan memfinalisasi kucuran kredit sindikasi pembangunan pembangkit listrik Jababeka senilai US$106 juta yang ditargetkan rampung akhir bulan ini.
Corporate & Business Banking Director Bank Niaga Catherine Hadiman mengatakan delapan bank yang terlibat sindikasi telah menyepakati pemberian kredit itu yang siap dikucurkan beberapa pekan ke depan.
"Proyek pembangkit listrik Jababeka ini merupakan salah satu sektor yang menjadi fokus garapan bisnis perseroan sekaligus menjadi pimpinan sindikasi dengan dana yang akan dikucurkan senilai US$25 juta atau sekitar Rp232,5 miliar," katanya kepada Bisnis, pekan lalu.
Catherine menjelaskan ekspansi kredit perseroan difokuskan pada sektor pembangkit listrik, perkebunan kelapa sawit, dan kredit pembelian kapal perusahaan dalam negeri.
Tahun ini perseroan membidik pembiayaan tiga proyek besar di dalam negeri yaitu di sektor agribisnis, infrastruktur, dan pembangkit listrik. Selain itu, Bank CIMB Niaga itu juga tengah negosiasi kredit sektor manufaktur.
"Kami tengah bernegosiasi dengan konsorsium pembangunan jalan tol untuk menjadi lead arranger dalam sindikasi pembiayaan Rp2 triliun dan mengincar pembiayaan korporasi di bidang perkebunan dan perkapalan."
Catherine menambahkan proses negosiasi konsorsium jalan tol yang berlokasi di wilayah Jawa akan melibatkan kontraktor swasta dan perusahaan BUMN. Namun, dia tidak menyebutkan proyek jalan tol mana yang sedang diincar itu.
"Ini kan masih proses sehingga belum bisa disebutkan proyeknya secara gamblang dan perusahaan apa saja yang bergabung dalam konsorsium itu sampai semuanya sudah pasti," ujarnya.
Selain mengincar proyek jalan tol, Bank CIMB Niaga juga tengah bernegosiasi dalam pembiayaan proyek di sektor penunjang batu bara.?? Bank itu juga masuk dalam pembiayaan sektor telekomunikasi meski nilainya relatif kecil dibandingkan dengan target portofolio kredit telekomunikasi pada tahun ini senilai Rp700 miliar-Rp800 miliar. (17)
JAKARTA: PT Bank CIMB Niaga Tbk akan memfinalisasi kucuran kredit sindikasi pembangunan pembangkit listrik Jababeka senilai US$106 juta yang ditargetkan rampung akhir bulan ini.
Corporate & Business Banking Director Bank Niaga Catherine Hadiman mengatakan delapan bank yang terlibat sindikasi telah menyepakati pemberian kredit itu yang siap dikucurkan beberapa pekan ke depan.
"Proyek pembangkit listrik Jababeka ini merupakan salah satu sektor yang menjadi fokus garapan bisnis perseroan sekaligus menjadi pimpinan sindikasi dengan dana yang akan dikucurkan senilai US$25 juta atau sekitar Rp232,5 miliar," katanya kepada Bisnis, pekan lalu.
Catherine menjelaskan ekspansi kredit perseroan difokuskan pada sektor pembangkit listrik, perkebunan kelapa sawit, dan kredit pembelian kapal perusahaan dalam negeri.
Tahun ini perseroan membidik pembiayaan tiga proyek besar di dalam negeri yaitu di sektor agribisnis, infrastruktur, dan pembangkit listrik. Selain itu, Bank CIMB Niaga itu juga tengah negosiasi kredit sektor manufaktur.
"Kami tengah bernegosiasi dengan konsorsium pembangunan jalan tol untuk menjadi lead arranger dalam sindikasi pembiayaan Rp2 triliun dan mengincar pembiayaan korporasi di bidang perkebunan dan perkapalan."
Catherine menambahkan proses negosiasi konsorsium jalan tol yang berlokasi di wilayah Jawa akan melibatkan kontraktor swasta dan perusahaan BUMN. Namun, dia tidak menyebutkan proyek jalan tol mana yang sedang diincar itu.
"Ini kan masih proses sehingga belum bisa disebutkan proyeknya secara gamblang dan perusahaan apa saja yang bergabung dalam konsorsium itu sampai semuanya sudah pasti," ujarnya.
Selain mengincar proyek jalan tol, Bank CIMB Niaga juga tengah bernegosiasi dalam pembiayaan proyek di sektor penunjang batu bara.?? Bank itu juga masuk dalam pembiayaan sektor telekomunikasi meski nilainya relatif kecil dibandingkan dengan target portofolio kredit telekomunikasi pada tahun ini senilai Rp700 miliar-Rp800 miliar. (17)
Bank BNI ikut sindikasi kredit manufaktur senilai US$35 juta
JAKARTA: PT Bank Negara Indonesia (BNI) Tbk bergabung dalam sindikasi kredit perusahaan manufaktur senilai US$35 juta atau Rp322 miliar dengan kurs Rp9.200 per dolar AS. Bank Mega Tbk dan Bangkok Bank juga terlibat dalam rencana itu.
Wakil General Manager Institutional Banking Bob Ananta menyampaikan sindikasi kredit tersebut masih dalam tahap finalisasi dan diharapkan bulan depan sudah bisa ditandatangani perjanjiannya. BNI akan menjadi lead arranger dalam sindikasi itu
"Kami masih dalam negosiasi dengan perusahaan fiber tersebut. Mudah-mudahan bulan depan sudah bisa disepakati. Itu [September] paling lama," ujarnya kepada Bisnis di Jakarta, pekan lalu.
Dia menyampaikan rencana kredit sindikasi sebesar US$35 juta itu akan digunakan perusahaan terkait untuk pembiayaan investasi. Namun, Bob belum mau menyebutkan nama perusahaan fiber tersebut. "Belumlah, itu nanti saja. Yang jelas perusahaan swasta."
Jangka waktu kredit tersebut, sambungnya, direncanakan berlangsung dalam jangka menengah, yakni lima tahun. Sejauh ini, ungkapnya, baru Bank Mega dan Bangkok Bank yang menyatakan bergabung dalam sindikasi tersebut.
Dalam kesempatan itu, Bob menyampaikan saat ini pihaknya masih menyusun rencana untuk melakukan sin- dikasi beberapa proyek. Namun, Bob masih enggan menyampaikan sejumlah proyek tersebut karena masih dalam taraf penjajakan.
Bank pelat merah itu sepanjang paruh pertama 2008 termasuk agresif dalam mengga- lang sindikasi kredit mulai dari sektor infrastruktur, telekomunikasi, hingga power plant.
Bulan lalu, BNI bersama BRI dan Bank Jabar Banten, co lead arranger konsorsium bank pembangunan daerah, terlibat dalam sindikasi kredit modal kerja kepada PT Telkom Tbk senilai Rp2,5 triliun. Sebelumnya,? Telkomsel juga meraih pinjaman dari BNI dan BCA senilai Rp3 triliun.
BNI juga menjadi coordinating arranger proyek pembangunan PLTU batu bara Labuan 2 x 315 MW milik PLN sebesar Rp2,8 triliun. Bank BUMN itu, pada awal Agustus juga memberikan kredit bilateral kepada PT Krakatau Steel sebesar Rp1,46 triliun terdiri dari US$75 juta dan Rp750 miliar.
Kinerja kredit BNI pada semester pertama tahun ini tumbuh sebesar 26,6% menjadi Rp99,02 triliun lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang masih Rp78,24 triliun. Namun, ekspansi kredit yang cukup besar itu tak cukup efektif mendongkrak laba perseroan.
Laba bersih BNI justru anjlok 56,9% menjadi hanya Rp439 miliar akibat tingginya beban pencadangan. BNI kini menanggung beban penyisihan pencadangan aktiva sebesar Rp2,15 triliun lebih dari dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu yang masih Rp998 miliar. (11)
Penulis : Bisnis Indonesia
Tanggal :
Tuesday, 8/19/2008
Wakil General Manager Institutional Banking Bob Ananta menyampaikan sindikasi kredit tersebut masih dalam tahap finalisasi dan diharapkan bulan depan sudah bisa ditandatangani perjanjiannya. BNI akan menjadi lead arranger dalam sindikasi itu
"Kami masih dalam negosiasi dengan perusahaan fiber tersebut. Mudah-mudahan bulan depan sudah bisa disepakati. Itu [September] paling lama," ujarnya kepada Bisnis di Jakarta, pekan lalu.
Dia menyampaikan rencana kredit sindikasi sebesar US$35 juta itu akan digunakan perusahaan terkait untuk pembiayaan investasi. Namun, Bob belum mau menyebutkan nama perusahaan fiber tersebut. "Belumlah, itu nanti saja. Yang jelas perusahaan swasta."
Jangka waktu kredit tersebut, sambungnya, direncanakan berlangsung dalam jangka menengah, yakni lima tahun. Sejauh ini, ungkapnya, baru Bank Mega dan Bangkok Bank yang menyatakan bergabung dalam sindikasi tersebut.
Dalam kesempatan itu, Bob menyampaikan saat ini pihaknya masih menyusun rencana untuk melakukan sin- dikasi beberapa proyek. Namun, Bob masih enggan menyampaikan sejumlah proyek tersebut karena masih dalam taraf penjajakan.
Bank pelat merah itu sepanjang paruh pertama 2008 termasuk agresif dalam mengga- lang sindikasi kredit mulai dari sektor infrastruktur, telekomunikasi, hingga power plant.
Bulan lalu, BNI bersama BRI dan Bank Jabar Banten, co lead arranger konsorsium bank pembangunan daerah, terlibat dalam sindikasi kredit modal kerja kepada PT Telkom Tbk senilai Rp2,5 triliun. Sebelumnya,? Telkomsel juga meraih pinjaman dari BNI dan BCA senilai Rp3 triliun.
BNI juga menjadi coordinating arranger proyek pembangunan PLTU batu bara Labuan 2 x 315 MW milik PLN sebesar Rp2,8 triliun. Bank BUMN itu, pada awal Agustus juga memberikan kredit bilateral kepada PT Krakatau Steel sebesar Rp1,46 triliun terdiri dari US$75 juta dan Rp750 miliar.
Kinerja kredit BNI pada semester pertama tahun ini tumbuh sebesar 26,6% menjadi Rp99,02 triliun lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang masih Rp78,24 triliun. Namun, ekspansi kredit yang cukup besar itu tak cukup efektif mendongkrak laba perseroan.
Laba bersih BNI justru anjlok 56,9% menjadi hanya Rp439 miliar akibat tingginya beban pencadangan. BNI kini menanggung beban penyisihan pencadangan aktiva sebesar Rp2,15 triliun lebih dari dua kali lipat dari periode yang sama tahun lalu yang masih Rp998 miliar. (11)
Penulis : Bisnis Indonesia
Tanggal :
Tuesday, 8/19/2008
Asuransi tak disiplin, PMK 74/2007 diperketat
Penulis : Hanna Prabandari Tanggal : Tuesday, 8/19/2008 Keyword :
JAKARTA: Biro Perasuransian Bapepam dan Lembaga Keuangan berniat memperketat penerapan PMK No. 74/2007 dan aturan lainnya dengan mempersiapkan penegakan aturan dan merumuskan corrective action pencabutan sanksi.
Pengetatan itu dilakukan karena dalam satu tahun pelaksanaan aturan itu perusahaan asuransi dinilai belum sepenuhnya konsisten.?
Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata mengatakan masih banyak perusahaan asuransi yang belum memahami dan menerapkan inti aturan itu terutama dalam penggunaan data untuk penetapan premi.
"Perusahaan asuransi sendiri yang belum konsisten mematuhi PMK No. 74/2007. Saya melihat banyak yang mencoba konsisten dan menerapkan itu secara baik tetapi juga masih ada yang belum memahami dan menerapkan betul inti dari PMK itu," katanya di Jakarta akhir pekan lalu.
Isa menjelaskan beberapa perusahaan melakukan hal yang tidak rasional dengan menggunakan data yang sangat minim untuk penetapan premi. Perusahaan tersebut telah diminta untuk mengombinasikan data mereka dengan data industri.
Dia menjanjikan Biro Perasuransian akan segera memberikan data industri terbaru yang mudah diakses oleh pelaku bisnis tersebut a.l. dapat diakses dari website resmi Bapepam-LK.
"Namun, kami masih pikirkan keamanannya agar data itu tidak diubah karena kalau kami dan industri tidak menyadarinya sehingga menggunakan data itu maka menjadi tidak valid," katanya.?
Biro Perasuransian juga memikirkan masukan untuk menetapkan standar berapa besar data perusahaan yang rasional untuk penetapan premi. Isa mengatakan standar itu sudah dibicarakan dengan Persatuan Aktuaris Indonesia dan akademisi untuk membantu penyusunan pedoman.
PMK No. 74/2007 tentang Penyelenggaraan Asuransi Pada Lini Usaha Kendaraan Bermotor terbit pada 29 Juni 2007, tetapi pengurus Asosiasi Asuransi Umum Indonesia meminta kepada regulator agar pelaksanaan aturan secara sempurna bisa dilakukan pada 1 September.
Pertimbangan yang diajukan asosiasi itu di antaranya masih ada transaksi dan komitmen bisnis yang telah diadakan sebelum naskah PMK No. 74/2007 diterima.
PMK tersebut dinilai masih jadi 'obat terbaik' untuk menegakkan disiplin berusaha pelaku pertanggungan asuransi kendaraan bermotor asalkan diterapkan secara benar.
"Kami masih akan menegakkan aturan ini. Kami terus melihat dan mengevaluasi perusahaan demi perusahaan.? Kami harus sempurnakan terus dan sepertinya metodenya dengan terus memberikan pedoman-pedoman," kata Isa.
Transparansi premi
Terkait dengan penegakan bisnis asuransi kendaraan bermotor, beberapa waktu lalu Bapepam-LK menerbitkan pedoman transparansi premi.
Pedoman itu akhirnya dibuat lebih luas untuk menegakkan bisnis pertanggungan lainnya yang dikaitkan dengan Pasal 19 ayat 2 PP No.73/ 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian yang telah dua kali diubah, terakhir kali dengan PP No. 39/2008.
Namun, masih ditemukan pelanggaran terhadap pedoman yang paling lambat diterapkan 20 Juli 2007.? Isa mengatakan pihaknya memperoleh salinan polis yang tidak mencantumkan premi dari salah satu unit di Bapepam-LK, tetapi tidak bersedia menyebutkan produk dan nama perusahaan yang menerbitkan polis itu.
"Paling tidak ada empat atau lima perusahaan, saya tidak akan tanya lagi langsung berikan sanksi saja. Dalam hal ini saya tidak mau main-main," tegasnya.
Isa mengakui sanksi yang dikenakan baru peringatan dan itu bisa segera dicabut jika perusahaan melakukan aksi tertentu.
Untuk membuktikan Biro Perasuransian serius menindak perusahaan yang melanggar aturan, sedang disusun corrective action. Hal itu bertujuan menetapkan aksi apa saja yang mampu mencabut sanksi peringatan yang dikenakan .
"Misalnya sanksi bisa dicabut bila kepala kantor cabang yang melanggar dipanggil dan diberi sanksi. Ini untuk membuktikan jika mereka serius memperbaiki diri," katanya.
Isa menjelaskan pemberlakuan Pedoman Transparansi Premi bertujuan menjaga reputasi industri jasa keuangan tersebut. Dia menambahkan industri asuransi harus mampu menunjukkan kepada masyarakat soal biaya yang wajar, rasional dan transparan kepada tertanggung.
Dalam penyusunan pedoman itu Biro Perasuransian Bapepam-LK melibatkan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia dan Asosiasi Broker Asuransi dan Reasuransi Indonesia.
Industri asuransi sendiri, termasuk multifinance, mengklaim tidak keberatan dan siap menerapkan pedoman transparansi premi? itu. (hanna.prabandari@bisnis.co.id)
Oleh Hanna PrabandariBisnis Indonesia
JAKARTA: Biro Perasuransian Bapepam dan Lembaga Keuangan berniat memperketat penerapan PMK No. 74/2007 dan aturan lainnya dengan mempersiapkan penegakan aturan dan merumuskan corrective action pencabutan sanksi.
Pengetatan itu dilakukan karena dalam satu tahun pelaksanaan aturan itu perusahaan asuransi dinilai belum sepenuhnya konsisten.?
Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata mengatakan masih banyak perusahaan asuransi yang belum memahami dan menerapkan inti aturan itu terutama dalam penggunaan data untuk penetapan premi.
"Perusahaan asuransi sendiri yang belum konsisten mematuhi PMK No. 74/2007. Saya melihat banyak yang mencoba konsisten dan menerapkan itu secara baik tetapi juga masih ada yang belum memahami dan menerapkan betul inti dari PMK itu," katanya di Jakarta akhir pekan lalu.
Isa menjelaskan beberapa perusahaan melakukan hal yang tidak rasional dengan menggunakan data yang sangat minim untuk penetapan premi. Perusahaan tersebut telah diminta untuk mengombinasikan data mereka dengan data industri.
Dia menjanjikan Biro Perasuransian akan segera memberikan data industri terbaru yang mudah diakses oleh pelaku bisnis tersebut a.l. dapat diakses dari website resmi Bapepam-LK.
"Namun, kami masih pikirkan keamanannya agar data itu tidak diubah karena kalau kami dan industri tidak menyadarinya sehingga menggunakan data itu maka menjadi tidak valid," katanya.?
Biro Perasuransian juga memikirkan masukan untuk menetapkan standar berapa besar data perusahaan yang rasional untuk penetapan premi. Isa mengatakan standar itu sudah dibicarakan dengan Persatuan Aktuaris Indonesia dan akademisi untuk membantu penyusunan pedoman.
PMK No. 74/2007 tentang Penyelenggaraan Asuransi Pada Lini Usaha Kendaraan Bermotor terbit pada 29 Juni 2007, tetapi pengurus Asosiasi Asuransi Umum Indonesia meminta kepada regulator agar pelaksanaan aturan secara sempurna bisa dilakukan pada 1 September.
Pertimbangan yang diajukan asosiasi itu di antaranya masih ada transaksi dan komitmen bisnis yang telah diadakan sebelum naskah PMK No. 74/2007 diterima.
PMK tersebut dinilai masih jadi 'obat terbaik' untuk menegakkan disiplin berusaha pelaku pertanggungan asuransi kendaraan bermotor asalkan diterapkan secara benar.
"Kami masih akan menegakkan aturan ini. Kami terus melihat dan mengevaluasi perusahaan demi perusahaan.? Kami harus sempurnakan terus dan sepertinya metodenya dengan terus memberikan pedoman-pedoman," kata Isa.
Transparansi premi
Terkait dengan penegakan bisnis asuransi kendaraan bermotor, beberapa waktu lalu Bapepam-LK menerbitkan pedoman transparansi premi.
Pedoman itu akhirnya dibuat lebih luas untuk menegakkan bisnis pertanggungan lainnya yang dikaitkan dengan Pasal 19 ayat 2 PP No.73/ 1992 tentang Penyelenggaraan Usaha Perasuransian yang telah dua kali diubah, terakhir kali dengan PP No. 39/2008.
Namun, masih ditemukan pelanggaran terhadap pedoman yang paling lambat diterapkan 20 Juli 2007.? Isa mengatakan pihaknya memperoleh salinan polis yang tidak mencantumkan premi dari salah satu unit di Bapepam-LK, tetapi tidak bersedia menyebutkan produk dan nama perusahaan yang menerbitkan polis itu.
"Paling tidak ada empat atau lima perusahaan, saya tidak akan tanya lagi langsung berikan sanksi saja. Dalam hal ini saya tidak mau main-main," tegasnya.
Isa mengakui sanksi yang dikenakan baru peringatan dan itu bisa segera dicabut jika perusahaan melakukan aksi tertentu.
Untuk membuktikan Biro Perasuransian serius menindak perusahaan yang melanggar aturan, sedang disusun corrective action. Hal itu bertujuan menetapkan aksi apa saja yang mampu mencabut sanksi peringatan yang dikenakan .
"Misalnya sanksi bisa dicabut bila kepala kantor cabang yang melanggar dipanggil dan diberi sanksi. Ini untuk membuktikan jika mereka serius memperbaiki diri," katanya.
Isa menjelaskan pemberlakuan Pedoman Transparansi Premi bertujuan menjaga reputasi industri jasa keuangan tersebut. Dia menambahkan industri asuransi harus mampu menunjukkan kepada masyarakat soal biaya yang wajar, rasional dan transparan kepada tertanggung.
Dalam penyusunan pedoman itu Biro Perasuransian Bapepam-LK melibatkan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia dan Asosiasi Broker Asuransi dan Reasuransi Indonesia.
Industri asuransi sendiri, termasuk multifinance, mengklaim tidak keberatan dan siap menerapkan pedoman transparansi premi? itu. (hanna.prabandari@bisnis.co.id)
Oleh Hanna PrabandariBisnis Indonesia
IHSG BEI Jatuh ke Level TerendahJakarta
(ANTARA News) - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa, ditutup turun 42,650 poin (2,05 persen) ke level 2.042,498, posisi terendah sejak 21 Mei 2007.
Mengekor IHSG, indeks LQ45 juga ditutup terkoreksi 9,014 poin (2,11 persen) ke level 419,159.
"Pelaku pasar panik terhadap penurunan harga minyak dan kondisi ekonomi global," kata Analis Riset PT Valbury Asia Securities Krisna Dwi Setiawan.
Menurut Krisna, turunnya harga minyak kembali memukul saham-saham berbasis komoditas dan menjadi pemicu utama melemahnya indeks BEI.
Harga minyak dunia di perdagangan Asia, Selasa, turun lagi tertekan kekhawatiran bahwa melemahnya permintaan minyak AS akan meluas ke Eropa dan Jepang, sehingga minyak mentah light sweet untuk pengiriman September turun 48 sen menjadi 112,39 dolar AS per barrel.
Selain itu, lanjutnya, kekhawatiran tentang pelemahan ekonomi dunia juga memicu kepanikan pelaku pasar saham, hal ini ditandai melemahnya hampir semua bursa regional.
Sebagian besar bursa di kawasan Asia ditutup melemah, seperti Bursa Hongkong dengan indeks Hang Seng ditutup turun 446,30 poin atau 2,13 persen ke posisi 20.484,36 dan bursa Singapura dengan indeks Straits Times terkoreksi 48,59 poin atau 1,75 persen ke level 2.728,38.
Pergerakan saham pada Selasa ini lebih didominasi saham yang turun sebanyak 174 dibanding yang naik 25 dan 42 tidak berubah harganya.
Melemahnya beberapa saham unggulan, terutama saham berbasis komoditas, seperti Tambang Batubara Bukit Asam anjlok Rp350 ke posisi Rp12.400, Bumi Resources turun Rp100 ke posisi Rp4.950, Astra Agro Lestari melemah Rp650 ke level Rp15.950, London Sumatera anjlok Rp500 menjadi Rp5.400, Tambang Timah turun Rp75 ke harga Rp2.225, Adaro Energy meurun Rp40 ke harga Rp1.490, Bayan Resources terjun Rp450 ke Rp4.850 dan Aneka Tambang melemah Rp80 ke posisi Rp1.800.Volume perdagangan mencapai 1,244 miliar saham dengan nilai Rp2,300 triliun dari 34.166 kali transaksi.(*)
COPYRIGHT © 2008
19/08/08
Mengekor IHSG, indeks LQ45 juga ditutup terkoreksi 9,014 poin (2,11 persen) ke level 419,159.
"Pelaku pasar panik terhadap penurunan harga minyak dan kondisi ekonomi global," kata Analis Riset PT Valbury Asia Securities Krisna Dwi Setiawan.
Menurut Krisna, turunnya harga minyak kembali memukul saham-saham berbasis komoditas dan menjadi pemicu utama melemahnya indeks BEI.
Harga minyak dunia di perdagangan Asia, Selasa, turun lagi tertekan kekhawatiran bahwa melemahnya permintaan minyak AS akan meluas ke Eropa dan Jepang, sehingga minyak mentah light sweet untuk pengiriman September turun 48 sen menjadi 112,39 dolar AS per barrel.
Selain itu, lanjutnya, kekhawatiran tentang pelemahan ekonomi dunia juga memicu kepanikan pelaku pasar saham, hal ini ditandai melemahnya hampir semua bursa regional.
Sebagian besar bursa di kawasan Asia ditutup melemah, seperti Bursa Hongkong dengan indeks Hang Seng ditutup turun 446,30 poin atau 2,13 persen ke posisi 20.484,36 dan bursa Singapura dengan indeks Straits Times terkoreksi 48,59 poin atau 1,75 persen ke level 2.728,38.
Pergerakan saham pada Selasa ini lebih didominasi saham yang turun sebanyak 174 dibanding yang naik 25 dan 42 tidak berubah harganya.
Melemahnya beberapa saham unggulan, terutama saham berbasis komoditas, seperti Tambang Batubara Bukit Asam anjlok Rp350 ke posisi Rp12.400, Bumi Resources turun Rp100 ke posisi Rp4.950, Astra Agro Lestari melemah Rp650 ke level Rp15.950, London Sumatera anjlok Rp500 menjadi Rp5.400, Tambang Timah turun Rp75 ke harga Rp2.225, Adaro Energy meurun Rp40 ke harga Rp1.490, Bayan Resources terjun Rp450 ke Rp4.850 dan Aneka Tambang melemah Rp80 ke posisi Rp1.800.Volume perdagangan mencapai 1,244 miliar saham dengan nilai Rp2,300 triliun dari 34.166 kali transaksi.(*)
COPYRIGHT © 2008
19/08/08
Kondisi Perbankan 2009 Cerah
INILAH.COM, Jakarta - Kondisi perbankan Indonesia pada 2009 diperkirakan masih tetap stabil. Hal tersebut melihat kondisi makro ekonomi yang masih bisa dikendalikan.
"Sampai sekarang sejumlah indikator perbankan seperti NPL, CAR, LDR dalam posisi stabil. Maka secara umum perbankan kita nampaknya masih bagus," tegas Gubernur Bank Indonesia, Boediono, usai jumpa pers di Gedung Depkeu, Jakarta, Jumat (15/8).
Boediono beralasan, perbankan masih stabil, karena tidak terlalu terpengaruh oleh gejolak sektor keuangan. Ia menambahkan mereka punya ekses karena CAR-nya relatif tinggi.
"Secara umum total industri perbankan masih tinggi, jadi masih ada ruang dimana kalau ada shock masih bisa tertahan," tambahnya.[L5]
15/08/2008 18:38
"Sampai sekarang sejumlah indikator perbankan seperti NPL, CAR, LDR dalam posisi stabil. Maka secara umum perbankan kita nampaknya masih bagus," tegas Gubernur Bank Indonesia, Boediono, usai jumpa pers di Gedung Depkeu, Jakarta, Jumat (15/8).
Boediono beralasan, perbankan masih stabil, karena tidak terlalu terpengaruh oleh gejolak sektor keuangan. Ia menambahkan mereka punya ekses karena CAR-nya relatif tinggi.
"Secara umum total industri perbankan masih tinggi, jadi masih ada ruang dimana kalau ada shock masih bisa tertahan," tambahnya.[L5]
15/08/2008 18:38
Obligasi 2009 Prospektif
INILAH.COM, Jakarta – Pasar obligasi 2009 diprediksi masih prospektif. Dua hal jadi pemicu. Pertama, menariknya imbal hasil sehingga mendongkrak minat investor. Kedua, tingginya kebutuhan pemerintah untuk membayar utang.
Pengamat ekonomi Aviliani dari Indxef mengungkapkan, penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) masih jadi andalan pemerintah untuk mengurangi utang dalam negeri.
Hal ini dikatakan Aviliani menanggapi pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang RAPBN 2009. SBY menyampaikan bahwa pemerintah mentargetkan rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2009 akan turun jadi 30% dari 36% pada 2008.
"Saya pikir penurunan rasio utang itu realistis. Sebab, jika penurunan rasio utang luar negeri justru diikuti kenaikan jumlah utang dalam negeri, itu membahayakan APBN," kata Aviliani kepada INILAH.COM.
Menurut Aviliani, penurunan rasio utang luar negeri bisa mengurangi risiko pelemahan nilai tukar yang berpotensi menghancurkan perekonomian nasional. Ketergantungan pada utang luar negeri terbukti telah menghancurkan ekonomi pada 1998.
"Ketika itu, utang luar negeri jatuh tempo, sementara nilai ekspor Indonesia tidak bisa mengkover nilai pembayaran sehingga nilai tukar rupiah melemah dan ekonomi negara kita jebol," jelas Aviliani.
Di hadapan DPR-RI, Jumat (15/8), SBY mengatakan bahwa dalam RAPBN 2009 ada defisit anggaran Rp 99,6 triliun (1,9% PDB). Defisit itu akan dibiayai dari sumber-sumber pembiayaan dalam negeri Rp 110,7 triliun dan pembiayaan luar negeri neto minus Rp 11,1 triliun.
Itu, artinya, pembayaran cicilan pokok utang luar negeri yang dilakukan pemerintah lebih besar dari jumlah utang luar negeri baru. Hal itu sesuai tujuan mengurangi porsi utang luar negeri dalam pembiayaan defisit.
Tahun ini, pembayaran utang luar negeri mencapai Rp 70 triliun dengan tambahan utang baru hanya Rp 30 triliun. Jadi, outflow utang luar negeri mencapai Rp 40 triliun.
Sumber pembiayaan anggaran dari dalam negeri terutama dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), termasuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Ini dilakukan untuk menegaskan komitmen pengembangan surat berharga berdasarkan prinsip syariah di Indonesia dan menciptakan alternatif surat berharga negara yang lebih variatif.
SUN yang diterbitkan itu akan dijual ke market. Nantinya bisa dibeli para investor dalam negeri dan luar negeri. Adapun hutang dalam negeri yang berbentuk obligasi bisa dibeli masyarakat umum mengingat nominalnya ada yang berbentuk ritel Rp2 juta.
Dirjen Pengelolaan Utang Negara Depkeu Rahmat Waluyanto juga optimistis penerbitan SUN pada 2009 diminati banyak investor. Prospek pasar obligasi tahun depan diperkirakan lebih baik dari tahun ini karena banyak adjustment pada 2008.
"Permintaan saat ini sangat tinggi dibandingkan tahun lalu. Tahun depan mungkin lebih baik karena instrumen yang diterbitkan lebih beragam. Selain yield lebih bagus, dari sisi market pun lebih bullish," ungkap Rahmat, Minggu (17/8).
Membaiknya pasar obligasi ditunjang variasi instrumen baru, yakni Surat Berharga Negara Syariah (sukuk) dan jenis lainnya. Juga karena total net penerbitan SUNlebih kecil dibandingkan tahun ini.
"Apalagi dengan adjustment yang dilakukan pemerintah AS. Kni hasilnya mulai kelihatan dan sudah banyak financial institution yang menghapusbukukan utang," jelas Rahmat.
Kendati demikian, Rahmat mengaku pihaknya mengaku belum menentukan target indikatif bagi dua jenis SBN, yaitu Surat Berharga Negara Syariah (SBSN) dan SUN. Total penerbitan keduanya Rp112 triliun. Depkeu juga belum menentukan alokasi penggunaan SBN bagi penambal defisit RAPBN 2009.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu mengakui pembengkakan defisit hingga 1,9% pada RAPBN 2009 menambah beban surat berharga negara (SBN). Pasalnya, pemerintah masih akan mengandalkan pinjaman dalam negeri untuk menambal kekurangan selisih belanja dan pendapatan negara.
Pemerintah pusat juga berencana membagi beban itu kepada pemerintah daerah melalui DAU. Soal kepastiannya, Depkeu akan berkonsultasi lebih dahulu dengan DPR. [I3]
18/08/2008 16:01
Pengamat ekonomi Aviliani dari Indxef mengungkapkan, penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) masih jadi andalan pemerintah untuk mengurangi utang dalam negeri.
Hal ini dikatakan Aviliani menanggapi pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang RAPBN 2009. SBY menyampaikan bahwa pemerintah mentargetkan rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2009 akan turun jadi 30% dari 36% pada 2008.
"Saya pikir penurunan rasio utang itu realistis. Sebab, jika penurunan rasio utang luar negeri justru diikuti kenaikan jumlah utang dalam negeri, itu membahayakan APBN," kata Aviliani kepada INILAH.COM.
Menurut Aviliani, penurunan rasio utang luar negeri bisa mengurangi risiko pelemahan nilai tukar yang berpotensi menghancurkan perekonomian nasional. Ketergantungan pada utang luar negeri terbukti telah menghancurkan ekonomi pada 1998.
"Ketika itu, utang luar negeri jatuh tempo, sementara nilai ekspor Indonesia tidak bisa mengkover nilai pembayaran sehingga nilai tukar rupiah melemah dan ekonomi negara kita jebol," jelas Aviliani.
Di hadapan DPR-RI, Jumat (15/8), SBY mengatakan bahwa dalam RAPBN 2009 ada defisit anggaran Rp 99,6 triliun (1,9% PDB). Defisit itu akan dibiayai dari sumber-sumber pembiayaan dalam negeri Rp 110,7 triliun dan pembiayaan luar negeri neto minus Rp 11,1 triliun.
Itu, artinya, pembayaran cicilan pokok utang luar negeri yang dilakukan pemerintah lebih besar dari jumlah utang luar negeri baru. Hal itu sesuai tujuan mengurangi porsi utang luar negeri dalam pembiayaan defisit.
Tahun ini, pembayaran utang luar negeri mencapai Rp 70 triliun dengan tambahan utang baru hanya Rp 30 triliun. Jadi, outflow utang luar negeri mencapai Rp 40 triliun.
Sumber pembiayaan anggaran dari dalam negeri terutama dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), termasuk Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Ini dilakukan untuk menegaskan komitmen pengembangan surat berharga berdasarkan prinsip syariah di Indonesia dan menciptakan alternatif surat berharga negara yang lebih variatif.
SUN yang diterbitkan itu akan dijual ke market. Nantinya bisa dibeli para investor dalam negeri dan luar negeri. Adapun hutang dalam negeri yang berbentuk obligasi bisa dibeli masyarakat umum mengingat nominalnya ada yang berbentuk ritel Rp2 juta.
Dirjen Pengelolaan Utang Negara Depkeu Rahmat Waluyanto juga optimistis penerbitan SUN pada 2009 diminati banyak investor. Prospek pasar obligasi tahun depan diperkirakan lebih baik dari tahun ini karena banyak adjustment pada 2008.
"Permintaan saat ini sangat tinggi dibandingkan tahun lalu. Tahun depan mungkin lebih baik karena instrumen yang diterbitkan lebih beragam. Selain yield lebih bagus, dari sisi market pun lebih bullish," ungkap Rahmat, Minggu (17/8).
Membaiknya pasar obligasi ditunjang variasi instrumen baru, yakni Surat Berharga Negara Syariah (sukuk) dan jenis lainnya. Juga karena total net penerbitan SUNlebih kecil dibandingkan tahun ini.
"Apalagi dengan adjustment yang dilakukan pemerintah AS. Kni hasilnya mulai kelihatan dan sudah banyak financial institution yang menghapusbukukan utang," jelas Rahmat.
Kendati demikian, Rahmat mengaku pihaknya mengaku belum menentukan target indikatif bagi dua jenis SBN, yaitu Surat Berharga Negara Syariah (SBSN) dan SUN. Total penerbitan keduanya Rp112 triliun. Depkeu juga belum menentukan alokasi penggunaan SBN bagi penambal defisit RAPBN 2009.
Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu mengakui pembengkakan defisit hingga 1,9% pada RAPBN 2009 menambah beban surat berharga negara (SBN). Pasalnya, pemerintah masih akan mengandalkan pinjaman dalam negeri untuk menambal kekurangan selisih belanja dan pendapatan negara.
Pemerintah pusat juga berencana membagi beban itu kepada pemerintah daerah melalui DAU. Soal kepastiannya, Depkeu akan berkonsultasi lebih dahulu dengan DPR. [I3]
18/08/2008 16:01
Friday, August 15, 2008
Rencana Kenaikan Gaji PNS Jadi Sentimen Positif Pasar Saham
Jakarta (ANTARA News) - Rencana kenaikan gaji pegawai negeri (PNS) yang akan dicanangkan dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2008, secara tidak langsung menjadi pendorong perdagangan saham di Indonesia.
"Dengan akan dinaikkannya gaji pegawai negeri, maka tingkat konsumsi masyarakat akan naik, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi. Itu akan mendorong sektor riil dan konsumsi terus bergerak, sehinggga akan memperbaiki kinerja perusahaan dan akan berimbas pada harga sahamnya," kata pelaku pasar saham dari PT Valbury Asia Securities, Krisna Dwi Setiawan, kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurut Krisna, kenaikan gaji PNS ini akan meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga akan memicu naiknya pendapatan perusahaan.
Selain dari rencana kenaikan gaji PNS, lanjutnya, pasar saham juga mendapat sentimen positif dari komitmen pemerintah yang akan terus meningkatkan pembangunan infrastruktur yang bisa memicu bergeraknya sektor riil.
Naiknya anggaran untuk infrastruktur dari Rp21,9 triliun pada 2005 menjadi Rp 58 triliun pada 2008 atau naik 165 persen, telah berimbas pada membaiknya kinerja emiten yang bergerak pada sektor infrastruktur."Emiten seperti Wijaya Karya, Jasa Marga, dan beberapa emiten infrastruktur lainnya saat ini sudah memiliki kinerja bagus. Komitmen pemerintah atas kelanjutan pembangunan infrastruktur ini akan semakin memperbaiki kinerja sektor ini," katanya.
Krisna juga mengungkapkan bahwa pembangunan infrastruktur pemerintah telah memberikan dampak yang sangat luas terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam pidato tahunannya menyatakan sektor riil telah menyumbang pertumbuhan ke berbagai sektor ekonomi, seperti program revitalisasi pertanian yang telah berhasil mendorong sektor pertanian mengalami pertumbuhan tinggi dan ketahanan pangan.
Menurut Presiden, keberhasilan sektor pertanian dan industri, tentunya tidak terlepas dari percepatan penyediaan infrastruktur dan pembangunan infrastruktur, mempunyai peran yang penting dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, serta diyakini sebagai pemicu pembangunan suatu kawasan. Untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, pemerintah menempuh beberapa jalur utama. (*)
15/08/08 12:49
"Dengan akan dinaikkannya gaji pegawai negeri, maka tingkat konsumsi masyarakat akan naik, sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi. Itu akan mendorong sektor riil dan konsumsi terus bergerak, sehinggga akan memperbaiki kinerja perusahaan dan akan berimbas pada harga sahamnya," kata pelaku pasar saham dari PT Valbury Asia Securities, Krisna Dwi Setiawan, kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.
Menurut Krisna, kenaikan gaji PNS ini akan meningkatkan daya beli masyarakat, sehingga akan memicu naiknya pendapatan perusahaan.
Selain dari rencana kenaikan gaji PNS, lanjutnya, pasar saham juga mendapat sentimen positif dari komitmen pemerintah yang akan terus meningkatkan pembangunan infrastruktur yang bisa memicu bergeraknya sektor riil.
Naiknya anggaran untuk infrastruktur dari Rp21,9 triliun pada 2005 menjadi Rp 58 triliun pada 2008 atau naik 165 persen, telah berimbas pada membaiknya kinerja emiten yang bergerak pada sektor infrastruktur."Emiten seperti Wijaya Karya, Jasa Marga, dan beberapa emiten infrastruktur lainnya saat ini sudah memiliki kinerja bagus. Komitmen pemerintah atas kelanjutan pembangunan infrastruktur ini akan semakin memperbaiki kinerja sektor ini," katanya.
Krisna juga mengungkapkan bahwa pembangunan infrastruktur pemerintah telah memberikan dampak yang sangat luas terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dalam pidato tahunannya menyatakan sektor riil telah menyumbang pertumbuhan ke berbagai sektor ekonomi, seperti program revitalisasi pertanian yang telah berhasil mendorong sektor pertanian mengalami pertumbuhan tinggi dan ketahanan pangan.
Menurut Presiden, keberhasilan sektor pertanian dan industri, tentunya tidak terlepas dari percepatan penyediaan infrastruktur dan pembangunan infrastruktur, mempunyai peran yang penting dalam memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, serta diyakini sebagai pemicu pembangunan suatu kawasan. Untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, pemerintah menempuh beberapa jalur utama. (*)
15/08/08 12:49
IHSG BEI Melemah, Pidato Presiden Gagal Dorong Kelanjutan Rally
Jakarta (ANTARA News) - Pidato Kenegaraan Presiden di DPR tak bisa mendorong kelanjutan kenaikan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI), dimana Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat pagi ditutup turun 1,09 persen.
IHSG turun 22,900 poin menjadi 2.083,742 dan indeks LQ45 terkoreksi 5,131 poin atau 1,18 persen ke posisi 428,635.
Besarnya makro ekonomi yang diungkapkan dalam pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, seperti pertumbuhan ekonomi yang di atas enam persen tidak mampu menjadi pendorong indeks BEI.
Indeks BEI justru dipengaruhi oleh turunnya harga minyak dunia yang di bawah 114 dolar AS per barel dan membuat saham-saham berbasis komoditas kembali mengalami koreksi.
Penurunan indeks dipimpin oleh melemahnya beberapa saham unggulan, seperti saham Bumi Resources terkoreksi Rp350 ke harga Rp5.050, Astra Agro Lestari yang turun Rp850 menjadi Rp16.850, London Sumatera melemah Rp500 ke harga Rp5.950, Tambang Timah tergerus Rp100 ke Rp2.300, Inco terkikis Rp225 menjadi Rp3.800, Bakrie Plantations menurun Rp60 ke posisi Rp1.080 dan Tambang Batubara Bukit Asam tertekan Rp750 ke Rp12.900.
Analisa dari PT Trimegah Securities, dalam ulasan pasarnya, mengungkapkan, volatilitas pergerakan harga harga komoditas pada Jumat pagi cukup tinggi karena tertekannya harga minyak.
Selain itu, indikasi pelaku pasar melepas sahamnya menjelang libur panjang hari kemerdekaan RI ke-63 juga menjadi indikasi pelemahan indeks BEI pada Jumat ini.
Kondisi inilah yang membuat perdagangan saham di BEI didominasi yang turun sebanyak 101 jenis dibanding yang naik hanya 32 dan 48 stagnan. Volume perdagangan mencapai 892,298 juta saham dengan nilai Rp996,827 miliar dari 20.164 kali transaksi. (*)
15/08/08 13:45
IHSG turun 22,900 poin menjadi 2.083,742 dan indeks LQ45 terkoreksi 5,131 poin atau 1,18 persen ke posisi 428,635.
Besarnya makro ekonomi yang diungkapkan dalam pidato kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, seperti pertumbuhan ekonomi yang di atas enam persen tidak mampu menjadi pendorong indeks BEI.
Indeks BEI justru dipengaruhi oleh turunnya harga minyak dunia yang di bawah 114 dolar AS per barel dan membuat saham-saham berbasis komoditas kembali mengalami koreksi.
Penurunan indeks dipimpin oleh melemahnya beberapa saham unggulan, seperti saham Bumi Resources terkoreksi Rp350 ke harga Rp5.050, Astra Agro Lestari yang turun Rp850 menjadi Rp16.850, London Sumatera melemah Rp500 ke harga Rp5.950, Tambang Timah tergerus Rp100 ke Rp2.300, Inco terkikis Rp225 menjadi Rp3.800, Bakrie Plantations menurun Rp60 ke posisi Rp1.080 dan Tambang Batubara Bukit Asam tertekan Rp750 ke Rp12.900.
Analisa dari PT Trimegah Securities, dalam ulasan pasarnya, mengungkapkan, volatilitas pergerakan harga harga komoditas pada Jumat pagi cukup tinggi karena tertekannya harga minyak.
Selain itu, indikasi pelaku pasar melepas sahamnya menjelang libur panjang hari kemerdekaan RI ke-63 juga menjadi indikasi pelemahan indeks BEI pada Jumat ini.
Kondisi inilah yang membuat perdagangan saham di BEI didominasi yang turun sebanyak 101 jenis dibanding yang naik hanya 32 dan 48 stagnan. Volume perdagangan mencapai 892,298 juta saham dengan nilai Rp996,827 miliar dari 20.164 kali transaksi. (*)
15/08/08 13:45
Monday, July 7, 2008
Harga minyak dunia USD147/barel
INILAH.COM, New York - Harga minyak sepertinya akan terus meningkat dan pada perdagangan Kamis (3/7) di New York sempat mendekati rekor baru US$ 146 sebelum akhirnya turun lagi.
Harga minyak tertahan, tak melanjutkan peningkatannya setelah diketahui nilai tukar dolar AS menguat terhadap euro.
Harga minyak mentah jenis light, sweet untuk pengiriman Agustus naik 80 sen menjadi US$ 144,37 di New York Mercantile Exchange.
Pada sesi awal perdagangan, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi baru, US$ 145,85 per barel, melampaui rekor sehari sebelumnya, US$ 143,57.
Harga minyak itu kemudian tertahan setelah Bank Sentral Eropa (ECB) menyatakan tak akan menaikkan tingkat suku bunga lebih tinggi lagi.
Keputusan itu, yang diperkirakan naik 0,25%, dimaksudkan untuk meredam laju inflasi di zona euro, mendorong dolar menguat terhadap euro.
Melemahnya dolar dinilai sebagai pemicu kenaikan harga minyak belakangan ini. banyak investor membeli minyak sebagai pelindung terhadap inflasi ketika dolar melemah, dan melemahnya dolar membuat harga minyak tak terlalu mahal bagi investor asing.
Sementara ketika dolar menguat, para investor tak punya banyak insentif untuk membeli komoditas.
Jadi kondisi terakhir ini tak biasa setelah harga minyak menguat padahal euro justru melemah terhadap dolar sebesar 2 sen. Itu artinya ini adalah ulah dari para pemodal yang menggelontorkan banyak uang ke pasar komoditas ini untuk mendapatkan kompensasi.
Selain itu, lonjakan harga minyak ini juga disebabkan oleh situasi di Timur Tengah, yang dikhawatirkan tak mampu memenuhi kebutuhan minyak dunia, terutama setelah terjadi ketegangan antara Israel dan Iran.
Sementara itu, di London, harga minyak mentah jenis Brent naik ke rekor terbaru US$ 146,69 per barel sebelum akhirnya turun menjadi US$ 145,24.[L2/4Jul08]
Harga minyak tertahan, tak melanjutkan peningkatannya setelah diketahui nilai tukar dolar AS menguat terhadap euro.
Harga minyak mentah jenis light, sweet untuk pengiriman Agustus naik 80 sen menjadi US$ 144,37 di New York Mercantile Exchange.
Pada sesi awal perdagangan, harga minyak sempat menyentuh level tertinggi baru, US$ 145,85 per barel, melampaui rekor sehari sebelumnya, US$ 143,57.
Harga minyak itu kemudian tertahan setelah Bank Sentral Eropa (ECB) menyatakan tak akan menaikkan tingkat suku bunga lebih tinggi lagi.
Keputusan itu, yang diperkirakan naik 0,25%, dimaksudkan untuk meredam laju inflasi di zona euro, mendorong dolar menguat terhadap euro.
Melemahnya dolar dinilai sebagai pemicu kenaikan harga minyak belakangan ini. banyak investor membeli minyak sebagai pelindung terhadap inflasi ketika dolar melemah, dan melemahnya dolar membuat harga minyak tak terlalu mahal bagi investor asing.
Sementara ketika dolar menguat, para investor tak punya banyak insentif untuk membeli komoditas.
Jadi kondisi terakhir ini tak biasa setelah harga minyak menguat padahal euro justru melemah terhadap dolar sebesar 2 sen. Itu artinya ini adalah ulah dari para pemodal yang menggelontorkan banyak uang ke pasar komoditas ini untuk mendapatkan kompensasi.
Selain itu, lonjakan harga minyak ini juga disebabkan oleh situasi di Timur Tengah, yang dikhawatirkan tak mampu memenuhi kebutuhan minyak dunia, terutama setelah terjadi ketegangan antara Israel dan Iran.
Sementara itu, di London, harga minyak mentah jenis Brent naik ke rekor terbaru US$ 146,69 per barel sebelum akhirnya turun menjadi US$ 145,24.[L2/4Jul08]
Subscribe to:
Posts (Atom)