Diterima di perguruan tinggi negeri, terutama yang favorit, merupakan impian setiap siswa/siswi. Namun tidak semua siswa dapat diterima dikarenakan seleksinya yang ketat dan besarnya peminat terhadap perguruan tinggi negeri favorit. Sehingga dapat lolos seleksi dan masuk kuliah di universitas negeri merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang siswa. Selain karena kualitasnya yang dijamin bermutu juga biaya kuliahnya relatif murah dibandingkan dengan jalur khusus ataupun perguruan tinggi swasta.
Namun demikian, meskipun biaya kuliahnya relatif murah, tidak semua mahasiswa yang sudah diterima tersebut mampu membayar kuliah dengan mudah. Dengan kata lain, ada kendala biaya, yang terutama disebabkan faktor orang tua yang kurang mampu. Bagi mereka, para mahasiswa yang kurang mampu itu, biaya kuliah yang relatif murah karena sudah disubsidi oleh negara, masih terasa mahal.
Tapi bagi mahasiswa yang ulet dan mandiri, biaya semestinya bukan hambatan untuk meneruskan kuliah dan menyelesaikannya dengan baik dan dalam waktu yang telah ditentukan. Banyak cara bagi mahasiswa yang cerdas dan kreatif sumber-sumber income untuk menopang masa-masa kuliah mereka. Beberapa potensi income yang dapat dimanfaatkan oleh para mahasiswa kreatif antara lain:
Pertama adalah beasiswa. Umumnya di kampus negeri, beasiswa yang disediakan untuk para mahasiswa cukup banyak, baik dari pemerintah maupun dari perusahaan/lembaga lainnya. Beasiswa tersebut bervariasi, mulai dari beasiswa mahasiswa berprestasi hingga beasiswa untuk mahasiswa yang kurang mampu. Jadi bagi yang IPK-nya pas-pasan jangan khawatir, masih ada peluang beasiswa untuk mereka. Tapi informasi mengenai beasiswa ini harus dicari secara aktif, tidak boleh pasif. Harus sering-sering bertanya ke kantor rektorat terutama ke PR III (kemahasiswaan), baca pengumuman, ngobrol dengan teman, serta buka-buka internet.
Kedua adalah menjadi asisten dosen. Aktivitas ini selain memberikan pride, kebanggaan tersendiri, juga bisa memberikan income yang lumayan. Dari asisten dosennya sih ga terlalu, tapi dari dikenal dan diajak proyek dosen itu yang lumayan. Dosen-dosen biasanya lebih suka melibatkan mahasiswa-mahasiswa yang sudah dikenal dan mempunyai kualifikasi seperti para asisten dosen. Selain itu, ilmu yang diperoleh ketika menjadi asisten dosen dan terlibat dalam proyek-proyek para dosen tersebut nanti akan menjadi pengalaman yang berharga pasca lulus kuliah.
Ketiga adalah memberikan les privat bagi siswa sekolah. Kebanyakan mahasiswa universitas negeri menyambi kuliah dengan memberikan les privat. Side job ini lumayan membantu menambah uang saku dan membayar kos. Sebagai ilustrasi pada tahun 2009, mengajar siswa SMA per sesi kurang lebih 1,5 jam, seorang guru privat dengan kualifikasi mahasiswa dihargai sebesar Rp100 ribu. Jika seminggu dua kali, dari seorang murid SMA, maka sebulan akan diperoleh pemasukan sebesar Rp800 ribu. Tapi sepertinya jarang seorang guru les memiliki satu orang murid saja, biasanya sampai 4-8, bisa dibayangkan pendapatannya minimal sebesar Rp3,2 juta. Tentu saja alokasi waktu untuk mengajar lebih banyak siswa juga akan semakin besar. Yang penting jangan sampai mengganggu proses perkuliahan.
Keempat adalah melakukan wirausaha. Orang bilang masa-masa kuliah adalah masa-masa untuk belajar salah dan berani mencoba. Banyak cerita-cerita sukses dari wirausaha yang dibangun sejak jaman kuliah. Seperti usaha mahasiswa Unpad yang sukses dengan jualan pulsa hingga mempunyai berpuluh-puluh counter voucher dan pulsa elektrik. Ada mahasiswa yang sukses dengan usaha bimbingan belajarnya sehingga mempunyai tempat kursus sendiri di kawasan bisnis. Ada juga yang sukses dengan usaha sablon dan percetakan. Juga ada yang sukses dengan usaha software house, warnet/wartel. Ada juga usaha busana, punya cafe, dan lain-lain. Bahkan mereka mendapatkan kebebasan keuangan dengan bisnis yang digelutinya sejak masa kuliah tersebut, tanpa harus pusing melamar pekerjaan pasca kuliah.
Demikian, banyak sekali potensi income tambahan bagi mahasiswa kreatif dan ulet. Di atas hanyalah beberapa tips saja. Apakah anda punya sumber income tambahan lainnya?
Showing posts with label Konsultasi keuangan pribadi. Show all posts
Showing posts with label Konsultasi keuangan pribadi. Show all posts
Wednesday, September 23, 2009
Friday, October 17, 2008
Asuransi atau tabungan pendidikan??
Dear Mom n Dad,..
Bingung banget rasanya buat nentuin mana yg lebih baik antara Asuransi Pendidikan atau Tabungan Pendidikan dari banyak choice yg ditawarkan.. Apalagi kalo lihat mahalnya biaya sekolah sekarang, apalagi nanti ya? Anakku Raya Bagaskara 3th, udah dr begitu lahir ikut asuransi pendidikannya Jiwasraya sampe skrg, tp pas adiknya lahir rasanya pengen cari yg lebih baik dr kakaknya, malah belum kesampaian sampai akhirnya Dewa Satria, adiknya Raya berumur 15bulan. Abis takut salah pilih, soalnya waktu milih Asuransi Jiwasraya kayaknya kok asal comot aja, pdhl kalo diitung2 lg..kok mahal bngt preminya n kayaknya kurang sebandinga aja dg hasil akhirnya nanti. Pengennya preminya 100-200rb an perbulan, tp nanti hasil akhirnya gede..mungkin gak ya?? Pengennya di Bank Pemerintah yg gak usah khawatir likuidasi tp panennya segede bank-bank ato asuransi swasta.. Mungkin Moms n Dads ada yg bisa sharing.. terimakasih banyak buat infonya..
Salam,
Amy, Bundanya Raya n Dewa.
Respon
Sebenarnya ini juga merupakan pertanyaan yg sama yg pernah timbul di pikiran saya waktu itu. Lalu sejak saya menggunakan jasa Financial Planning, pola pikir saya berubah. Jika berbicara angka saja karena numbers dont lie. Kriteria memilih asuransi itu yg penting sesuai dengan kebutuhan kita, bukan hanya asal punya asuransi. kita harus tahu fitur n benefit yg ditawarkan. Beli HP aja kita cari tahu kan fiturnya apa saja, bisa kamera gak dll. Sebagai contoh jika mau beli asuransi jiwa, yg penting UP-nya harus sesuai dgn yg dibutuhkan. Misal biaya hidup/bulan Rp 5 juta. Jika sang suami berusia 35 tahun, maka perlu dicover sampai 20 thn (sampai usia 55thn saat pensiun). Berarti jumlah UP yg harus dicover asuransi = 5 jt x 12 bln x 20 thn = 1.2 Milyar. Artinya UP asuransi jiwa yg dimiliki harus min. 1,2 Milyar. Coba cek lagi polisnya apakah sudah sesuai atau belum.
Begitu juga kalau kita bicara asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan. Dari pengalaman yg ada, biasanya nilai tunai yg akan cair pada saat anak kita mau sekolah tidak akan cukup karena baik asuransi maupun tabungan pendidikan tidak menghitung secara spesifik kebutuhan biaya pendidikan pada saat dibutuhkan (inflasi 15-20% per tahunnya).
Sebagai ilustrasi, terlampir biaya pendidikan sbb :
Playgroup (Biaya saat ini : Rp 2.250.000. Biaya 3 tahun lagi Rp 3.888.000)
TK (biaya saat ini Rp 4.500.000, Biaya 4 tahun lagi Rp 9.331.200)
SD (Biaya saat ini Rp 12.000.000, Biaya 6 thn lagi Rp 35.831.808)
SMP (biaya saat ini Rp 15.750.000, biaya 12 thn lagi Rp 140.428.582)
SMA (biaya saat ini Rp 15.750.000, biaya 15 thn lagi RP 242 jt)
S1 (biaya saat ini Rp 80 jt, biaya 18 thn lagi Rp 990 jt)
Coba dilihat lagi polis asuransi pendidikannya apakah sudah bisa mengcover biaya pendidikan yg sesungguhnya pada saat anak kita sekolah. Ini realita yg harus dihadapi.
Dengan reksadana, kita bisa membuat perencanaan keuangan lebih terarah, dan biaya per bulannya tidak mahal serta sudah disesuaikan dengan tujuan finansial kita.
Dengan asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan juga bukannya tidak ada resiko, ada resikonya yaitu resiko kekuranganbiaya/nombok pada saat anak sekolah nanti.
Semoga bisa menjadi masukan.
Albert
==================================================================================
Bingung banget rasanya buat nentuin mana yg lebih baik antara Asuransi Pendidikan atau Tabungan Pendidikan dari banyak choice yg ditawarkan.. Apalagi kalo lihat mahalnya biaya sekolah sekarang, apalagi nanti ya? Anakku Raya Bagaskara 3th, udah dr begitu lahir ikut asuransi pendidikannya Jiwasraya sampe skrg, tp pas adiknya lahir rasanya pengen cari yg lebih baik dr kakaknya, malah belum kesampaian sampai akhirnya Dewa Satria, adiknya Raya berumur 15bulan. Abis takut salah pilih, soalnya waktu milih Asuransi Jiwasraya kayaknya kok asal comot aja, pdhl kalo diitung2 lg..kok mahal bngt preminya n kayaknya kurang sebandinga aja dg hasil akhirnya nanti. Pengennya preminya 100-200rb an perbulan, tp nanti hasil akhirnya gede..mungkin gak ya?? Pengennya di Bank Pemerintah yg gak usah khawatir likuidasi tp panennya segede bank-bank ato asuransi swasta.. Mungkin Moms n Dads ada yg bisa sharing.. terimakasih banyak buat infonya..
Salam,
Amy, Bundanya Raya n Dewa.
Respon
Sebenarnya ini juga merupakan pertanyaan yg sama yg pernah timbul di pikiran saya waktu itu. Lalu sejak saya menggunakan jasa Financial Planning, pola pikir saya berubah. Jika berbicara angka saja karena numbers dont lie. Kriteria memilih asuransi itu yg penting sesuai dengan kebutuhan kita, bukan hanya asal punya asuransi. kita harus tahu fitur n benefit yg ditawarkan. Beli HP aja kita cari tahu kan fiturnya apa saja, bisa kamera gak dll. Sebagai contoh jika mau beli asuransi jiwa, yg penting UP-nya harus sesuai dgn yg dibutuhkan. Misal biaya hidup/bulan Rp 5 juta. Jika sang suami berusia 35 tahun, maka perlu dicover sampai 20 thn (sampai usia 55thn saat pensiun). Berarti jumlah UP yg harus dicover asuransi = 5 jt x 12 bln x 20 thn = 1.2 Milyar. Artinya UP asuransi jiwa yg dimiliki harus min. 1,2 Milyar. Coba cek lagi polisnya apakah sudah sesuai atau belum.
Begitu juga kalau kita bicara asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan. Dari pengalaman yg ada, biasanya nilai tunai yg akan cair pada saat anak kita mau sekolah tidak akan cukup karena baik asuransi maupun tabungan pendidikan tidak menghitung secara spesifik kebutuhan biaya pendidikan pada saat dibutuhkan (inflasi 15-20% per tahunnya).
Sebagai ilustrasi, terlampir biaya pendidikan sbb :
Playgroup (Biaya saat ini : Rp 2.250.000. Biaya 3 tahun lagi Rp 3.888.000)
TK (biaya saat ini Rp 4.500.000, Biaya 4 tahun lagi Rp 9.331.200)
SD (Biaya saat ini Rp 12.000.000, Biaya 6 thn lagi Rp 35.831.808)
SMP (biaya saat ini Rp 15.750.000, biaya 12 thn lagi Rp 140.428.582)
SMA (biaya saat ini Rp 15.750.000, biaya 15 thn lagi RP 242 jt)
S1 (biaya saat ini Rp 80 jt, biaya 18 thn lagi Rp 990 jt)
Coba dilihat lagi polis asuransi pendidikannya apakah sudah bisa mengcover biaya pendidikan yg sesungguhnya pada saat anak kita sekolah. Ini realita yg harus dihadapi.
Dengan reksadana, kita bisa membuat perencanaan keuangan lebih terarah, dan biaya per bulannya tidak mahal serta sudah disesuaikan dengan tujuan finansial kita.
Dengan asuransi pendidikan atau tabungan pendidikan juga bukannya tidak ada resiko, ada resikonya yaitu resiko kekuranganbiaya/nombok pada saat anak sekolah nanti.
Semoga bisa menjadi masukan.
Albert
==================================================================================
PILIH TABUNGAN PENDIDIKAN ATAU ASURANSI PENDIDIKAN
Dikutip dari CBN CyberSHOPPING
Dear Mbak Mike dari Safir Senduk & Rekan,
Saya sebenarnya belum menikah, tapi saya ingin sekali mempersiapkan sebuah tabungan atau asuransi, misalnya untuk pendidikan, insya Allah untuk anak saya kelak, walaupun saya belum punya. Tapi saya bingung, sebaiknya saya pilih mana yah? Tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan? Tolong Mbak Mike memberi saya penjelasan baik dan buruk serta kekurangan dan kelebihannya. Terima aksih sebelumnya, Mbak.
Elsa
Jawaban:
Halo Elsa,
Asuransi Pendidikan adalah kontrak antara perusahaan asuransi dan Anda sebagai orangtua yang menyebutkan bahwa Anda setuju untuk membayar sejumlah premi asuransi secara berkala kepada pihak perusahaan asuransi, untuk kemudian Anda akan mendapatkan jumlah dana pendidikan tertentu dari perusahaan asuransi, pada saat anak Anda memasuki usia sekolah sesuai dengan jenjang pendidikannya.
Jumlah dana pendidikan adalah sejumlah prosentase tertentu dari Uang Pertanggungan (UP), misalnya untuk membayar uang pangkal masuk SD diberikan 20% dari UP, tetapi untuk uang pangkal masuk perguruan tinggi diberikan 50% dari UP. Apabila terjadi resiko kematian pada Anda yang menyebabkan setoran premi asuransi terhenti, sementara si anak belum mendapatkan dana pendidikannya secara utuh, maka pihak perusahaan asuransi menjamin dana pendidikan akan tetap diberikan sesuai dengan jenjang pendidikannya juga. Dengan mengambil asuransi pendidikan, berarti Anda menabung sekaligus mengambil asuransi jiwa secara bersamaan.
Sedangkan Tabungan Pendidikan adalah kontrak antara bank dengan Anda sebagai orangtua, dimana Anda setuju bank mendebet sejumlah dana secara rutin dari rekening Anda untuk disetorkan ke dalam rekening tabungan pendidikan anak. Dana hasil dari investasi setoran rutin tabungan tersebut baru bisa diambil pada saat si anak memasuki usia sekolah sesuai dengan jenjang pendidikannya. Besarnya jumlah dana yang diambil sudah ditentukan sejak awal, sesuai dengan perkiraan biaya uang pangkal masuk sekolah. Namun, untuk mengantisipasi resiko terhentinya setoran rutin tabungan akibat kematian Anda, maka tabungan pendidikan ini juga biasanya ditambahkan manfaat proteksi, yaitu berupa asuransi jiwa. Dimana jika terjadi kematian pada Anda, maka setoran rutin tabungan Anda tetap diteruskan oleh pihak perusahaan asuransi, sehingga dana pendidikan anak Anda tetap terjamin keberadaannya, dan diberikan sesuai dengan tahapan pendidikan Anak.
Dengan demikian dapat terlihat perbedaan mendasar dari keduanya, namun dari sisi Anda tetap memiliki sistem yang sama, yaitu melakukan investasi secara rutin dan sekaligus memproteksinya terhadap resiko kematian dengan asuransi jiwa. Namun menurut saya, tabungan dan asuransi pendidikan kurang tepat diambil oleh seseorang yang belum memiliki tanggungan anak. Alasannya adalah sebagai berikut:
Tabungan pendidikan dan asuransi pendidikan sama-sama mengandung unsur asuransi jiwa. Dan asuransi jiwa sebaiknya hanya dibeli oleh seseorang yang menanggung biaya hidup orang lain dari penghasilannya. Sehingga tujuan pembelian asuransi jiwa sebenarnya adalah untuk proteksi penghasilan. Jika penghasilan seseorang terhenti karena meninggal dunia, maka tanggungan yang ditinggalkan tidak terlalu menderita secara finansial, dimana perusahaan asuransi jiwa akan membayar sejumlah Uang Pertanggungan (UP) kepada mereka.
Diharapkan dengan UP tersebut bisa membantu tanggungan yang ditinggalkan untuk men-support biaya hidupnya sementara. Nah, jika Anda belum mempunyai tanggungan, berarti belum perlu membeli asuransi jiwa bukan? Saat ini Anda belum memiliki tanggungan anak, atau orang lain yang ingin Anda persiapkan dana pendidikannya. Berarti tidak ada orang lain yang biaya pendidikannya tergantung dari penghasilan Anda. Karena itu Anda belum perlu membeli tabungan atau asuransi pendidikan.
Tabungan dan asuransi pendidikan, sama-sama hanya bisa diambil sesuai dengan tahapan pendidikan anak masuk sekolah, misalnya jika usia anak 1 tahun saat ini maka tahun 2009 dia akan masuk SD saat berusia 6 tahun, dan seterusnya. Karena Anda belum memiliki anak karena anak Anda belum lahir, maka sulit menentukan jenjang pendidikannya. Karena itu tabungan dan asuransi pendidikan sebaiknya diambil jika sudah memiliki anak atau anak Anda sudah lahir.
Saran saya, fokuskan diri Anda untuk terus menabung dan berinvestasi. Sisihkan dari penghasilan Anda saat ini secara rutin untuk persiapan kebutuhan di masa depan. Anda bisa mulai dengan 10% saja minimal dari penghasilan untuk ditabung, lebih besar lebih baik. Tujuan menabung ini nanti bisa digunakan untuk apa saja, misalnya untuk membeli rumah, membeli mobil, persiapan pensiun, modal membuka usaha, bahkan mempersiapkan pendidikan anak kelak. Namun, pisahkanlah antara berinvestasi dengan berasuransi. Prinsipnya, selama Anda belum memiliki tanggungan, maka Anda belum memerlukan asuransi jiwa.
Salam,
Mike Rini
Perencana Keuangan
(perencanakeuangan.com)
Dear Mbak Mike dari Safir Senduk & Rekan,
Saya sebenarnya belum menikah, tapi saya ingin sekali mempersiapkan sebuah tabungan atau asuransi, misalnya untuk pendidikan, insya Allah untuk anak saya kelak, walaupun saya belum punya. Tapi saya bingung, sebaiknya saya pilih mana yah? Tabungan pendidikan atau asuransi pendidikan? Tolong Mbak Mike memberi saya penjelasan baik dan buruk serta kekurangan dan kelebihannya. Terima aksih sebelumnya, Mbak.
Elsa
Jawaban:
Halo Elsa,
Asuransi Pendidikan adalah kontrak antara perusahaan asuransi dan Anda sebagai orangtua yang menyebutkan bahwa Anda setuju untuk membayar sejumlah premi asuransi secara berkala kepada pihak perusahaan asuransi, untuk kemudian Anda akan mendapatkan jumlah dana pendidikan tertentu dari perusahaan asuransi, pada saat anak Anda memasuki usia sekolah sesuai dengan jenjang pendidikannya.
Jumlah dana pendidikan adalah sejumlah prosentase tertentu dari Uang Pertanggungan (UP), misalnya untuk membayar uang pangkal masuk SD diberikan 20% dari UP, tetapi untuk uang pangkal masuk perguruan tinggi diberikan 50% dari UP. Apabila terjadi resiko kematian pada Anda yang menyebabkan setoran premi asuransi terhenti, sementara si anak belum mendapatkan dana pendidikannya secara utuh, maka pihak perusahaan asuransi menjamin dana pendidikan akan tetap diberikan sesuai dengan jenjang pendidikannya juga. Dengan mengambil asuransi pendidikan, berarti Anda menabung sekaligus mengambil asuransi jiwa secara bersamaan.
Sedangkan Tabungan Pendidikan adalah kontrak antara bank dengan Anda sebagai orangtua, dimana Anda setuju bank mendebet sejumlah dana secara rutin dari rekening Anda untuk disetorkan ke dalam rekening tabungan pendidikan anak. Dana hasil dari investasi setoran rutin tabungan tersebut baru bisa diambil pada saat si anak memasuki usia sekolah sesuai dengan jenjang pendidikannya. Besarnya jumlah dana yang diambil sudah ditentukan sejak awal, sesuai dengan perkiraan biaya uang pangkal masuk sekolah. Namun, untuk mengantisipasi resiko terhentinya setoran rutin tabungan akibat kematian Anda, maka tabungan pendidikan ini juga biasanya ditambahkan manfaat proteksi, yaitu berupa asuransi jiwa. Dimana jika terjadi kematian pada Anda, maka setoran rutin tabungan Anda tetap diteruskan oleh pihak perusahaan asuransi, sehingga dana pendidikan anak Anda tetap terjamin keberadaannya, dan diberikan sesuai dengan tahapan pendidikan Anak.
Dengan demikian dapat terlihat perbedaan mendasar dari keduanya, namun dari sisi Anda tetap memiliki sistem yang sama, yaitu melakukan investasi secara rutin dan sekaligus memproteksinya terhadap resiko kematian dengan asuransi jiwa. Namun menurut saya, tabungan dan asuransi pendidikan kurang tepat diambil oleh seseorang yang belum memiliki tanggungan anak. Alasannya adalah sebagai berikut:
Tabungan pendidikan dan asuransi pendidikan sama-sama mengandung unsur asuransi jiwa. Dan asuransi jiwa sebaiknya hanya dibeli oleh seseorang yang menanggung biaya hidup orang lain dari penghasilannya. Sehingga tujuan pembelian asuransi jiwa sebenarnya adalah untuk proteksi penghasilan. Jika penghasilan seseorang terhenti karena meninggal dunia, maka tanggungan yang ditinggalkan tidak terlalu menderita secara finansial, dimana perusahaan asuransi jiwa akan membayar sejumlah Uang Pertanggungan (UP) kepada mereka.
Diharapkan dengan UP tersebut bisa membantu tanggungan yang ditinggalkan untuk men-support biaya hidupnya sementara. Nah, jika Anda belum mempunyai tanggungan, berarti belum perlu membeli asuransi jiwa bukan? Saat ini Anda belum memiliki tanggungan anak, atau orang lain yang ingin Anda persiapkan dana pendidikannya. Berarti tidak ada orang lain yang biaya pendidikannya tergantung dari penghasilan Anda. Karena itu Anda belum perlu membeli tabungan atau asuransi pendidikan.
Tabungan dan asuransi pendidikan, sama-sama hanya bisa diambil sesuai dengan tahapan pendidikan anak masuk sekolah, misalnya jika usia anak 1 tahun saat ini maka tahun 2009 dia akan masuk SD saat berusia 6 tahun, dan seterusnya. Karena Anda belum memiliki anak karena anak Anda belum lahir, maka sulit menentukan jenjang pendidikannya. Karena itu tabungan dan asuransi pendidikan sebaiknya diambil jika sudah memiliki anak atau anak Anda sudah lahir.
Saran saya, fokuskan diri Anda untuk terus menabung dan berinvestasi. Sisihkan dari penghasilan Anda saat ini secara rutin untuk persiapan kebutuhan di masa depan. Anda bisa mulai dengan 10% saja minimal dari penghasilan untuk ditabung, lebih besar lebih baik. Tujuan menabung ini nanti bisa digunakan untuk apa saja, misalnya untuk membeli rumah, membeli mobil, persiapan pensiun, modal membuka usaha, bahkan mempersiapkan pendidikan anak kelak. Namun, pisahkanlah antara berinvestasi dengan berasuransi. Prinsipnya, selama Anda belum memiliki tanggungan, maka Anda belum memerlukan asuransi jiwa.
Salam,
Mike Rini
Perencana Keuangan
(perencanakeuangan.com)
CAR Tawarkan Kemudahan Merancang Program Pendidikan Anak
PERAN pendidikan ke depan semakin penting. Namun tingginya biaya sering kali menjadi kendala, terutama bagi orang tua yang ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak.
Pada 1990-an, orang tua paling-paling hanya perlu menyiapkan dana sekitar Rp1 juta untuk memasukkan anak ke sebuah perguruan tinggi. Sekarang, mereka harus menyediakan dana mulai dari Rp40 juta sampai Rp60 juta untuk membayar uang pangkal.
Jumlah tersebut baru untuk satu orang anak. Bayangkan bila setiap keluarga punya lebih dari satu anak. Dana pendidikan yang harus disiapkan tentu akan lebih besar lagi.
Berlatar belakang pentingnya menyiapkan pendidikan yang terbaik bagi anak itulah, perusahaan asuransi seperti PT Asuransi Jiwa Central Asia Raya (CAR) ramai-ramai meluncurkan berbagai produk asuransi pendidikan, baik yang konvensional maupun syariah.
"Asuransi pendidikan penting karena kita punya anak yang perlu disekolahkan. Sekolah itu jangka panjang. Masalahnya, apakah kita sebagai orang tua tetap hidup sampai dia tamat. Lantas, bagaimana kalau kita hidup, tetapi tidak bisa menabung? Karena itu, menjadi peserta asuransi pendidikan bisa menjadi alternatif," ujar Kepala Divisi Individu PT Asuransi Jiwa Central Asia Raya Faustinus Wirasadi kepada Media Indonesia di Jakarta, pekan lalu.
Saat ini, CAR menyediakan dua produk asuransi pendidikan, yaitu Asuransi Beasiswa Ananda dan Fathanah. Asuransi Beasiswa Ananda adalah produk asuransi pendidikan yang mengusung konsep konvensional. Fathanah merupakan produk asuransi pendidikan berkonsep syariah. Beda asuransi syariah dan konvensional terletak pada pengelolaan dana untuk pertanggungan risiko.
"Asuransi pendidikan syariah mengusung konsep antiriba. Asuransi pendidikan konvensional memakai sistem bunga. Kalau konvensional, nasabah dikenai premi dan diberi bunga. Di syariah, tabungan dikelola dan nasabah diberi imbal hasil berupa hasil investasi," papar Faustinus.
Bisa begitu karena asuransi pendidikan konvensional memungkinkan nasabah memindahkan risiko kepada perusahaan asuransi. Sementara itu, asuransi pendidikan syariah tidak mengenal istilah pemindahan risiko. Jadi, nasabah tidak diberi bunga yang besarnya tetap, tetapi diberi hasil investasi yang nilainya berubah-ubah bergantung pada besarnya keuntungan yang diperoleh.
Sebagai contoh, simulasi pembayaran premi untuk asuransi beasiswa pendidikan Ananda. Biaya pendidikan Rp300 juta untuk 22 tahun ke depan. Dengan uang pertanggungan sebesar Rp100.000.000, pembayaran premi per tahun akan mencapai Rp26.497.000 dan premi dibayar dalam waktu lima tahun.
Asuransi beasiswa pendidikan Fathanah dengan dana kebajikan asuransi pokok Rp100.000.000 dan pembayaran iuran peserta Rp28.000.000 per tahun memungkinkan nasabah mendapatkan dana beasiswa sekitar Rp362.983.202 dalam waktu 22 tahun ke depan.
Asumsi waktu pertanggungan selama 22 tahun itu mengacu pada jenjang pendidikan yang dibutuhkan anak sejak ia duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) sampai sarjana S-2.
Melalui berbagai produk asuransi pendidikan ini, orang tua dapat merancang pendidikan program pendidikan anak untuk waktu 22 tahun ke depan.
Melihat besarnya manfaat yang bisa diperoleh, animo masyarakat terhadap asuransi beasiswa pendidikan ini terus meningkat. Pertumbuhan jumlah nasabah CAR, misalnya, berkisar dari 15%-20% per tahun. Pertumbuhan jumlah premi mencapai 30%-40% per tahun.(Noy/S-1)
(mediaindonesia.com)
Pada 1990-an, orang tua paling-paling hanya perlu menyiapkan dana sekitar Rp1 juta untuk memasukkan anak ke sebuah perguruan tinggi. Sekarang, mereka harus menyediakan dana mulai dari Rp40 juta sampai Rp60 juta untuk membayar uang pangkal.
Jumlah tersebut baru untuk satu orang anak. Bayangkan bila setiap keluarga punya lebih dari satu anak. Dana pendidikan yang harus disiapkan tentu akan lebih besar lagi.
Berlatar belakang pentingnya menyiapkan pendidikan yang terbaik bagi anak itulah, perusahaan asuransi seperti PT Asuransi Jiwa Central Asia Raya (CAR) ramai-ramai meluncurkan berbagai produk asuransi pendidikan, baik yang konvensional maupun syariah.
"Asuransi pendidikan penting karena kita punya anak yang perlu disekolahkan. Sekolah itu jangka panjang. Masalahnya, apakah kita sebagai orang tua tetap hidup sampai dia tamat. Lantas, bagaimana kalau kita hidup, tetapi tidak bisa menabung? Karena itu, menjadi peserta asuransi pendidikan bisa menjadi alternatif," ujar Kepala Divisi Individu PT Asuransi Jiwa Central Asia Raya Faustinus Wirasadi kepada Media Indonesia di Jakarta, pekan lalu.
Saat ini, CAR menyediakan dua produk asuransi pendidikan, yaitu Asuransi Beasiswa Ananda dan Fathanah. Asuransi Beasiswa Ananda adalah produk asuransi pendidikan yang mengusung konsep konvensional. Fathanah merupakan produk asuransi pendidikan berkonsep syariah. Beda asuransi syariah dan konvensional terletak pada pengelolaan dana untuk pertanggungan risiko.
"Asuransi pendidikan syariah mengusung konsep antiriba. Asuransi pendidikan konvensional memakai sistem bunga. Kalau konvensional, nasabah dikenai premi dan diberi bunga. Di syariah, tabungan dikelola dan nasabah diberi imbal hasil berupa hasil investasi," papar Faustinus.
Bisa begitu karena asuransi pendidikan konvensional memungkinkan nasabah memindahkan risiko kepada perusahaan asuransi. Sementara itu, asuransi pendidikan syariah tidak mengenal istilah pemindahan risiko. Jadi, nasabah tidak diberi bunga yang besarnya tetap, tetapi diberi hasil investasi yang nilainya berubah-ubah bergantung pada besarnya keuntungan yang diperoleh.
Sebagai contoh, simulasi pembayaran premi untuk asuransi beasiswa pendidikan Ananda. Biaya pendidikan Rp300 juta untuk 22 tahun ke depan. Dengan uang pertanggungan sebesar Rp100.000.000, pembayaran premi per tahun akan mencapai Rp26.497.000 dan premi dibayar dalam waktu lima tahun.
Asuransi beasiswa pendidikan Fathanah dengan dana kebajikan asuransi pokok Rp100.000.000 dan pembayaran iuran peserta Rp28.000.000 per tahun memungkinkan nasabah mendapatkan dana beasiswa sekitar Rp362.983.202 dalam waktu 22 tahun ke depan.
Asumsi waktu pertanggungan selama 22 tahun itu mengacu pada jenjang pendidikan yang dibutuhkan anak sejak ia duduk di bangku taman kanak-kanak (TK) sampai sarjana S-2.
Melalui berbagai produk asuransi pendidikan ini, orang tua dapat merancang pendidikan program pendidikan anak untuk waktu 22 tahun ke depan.
Melihat besarnya manfaat yang bisa diperoleh, animo masyarakat terhadap asuransi beasiswa pendidikan ini terus meningkat. Pertumbuhan jumlah nasabah CAR, misalnya, berkisar dari 15%-20% per tahun. Pertumbuhan jumlah premi mencapai 30%-40% per tahun.(Noy/S-1)
(mediaindonesia.com)
Mengapa Perlu Asuransi?
EUREKA
(Edukasi dan Ulasan Perencanaan Keuangan)
Pengasuh: Tim Indonesia School of Life (In-School)
http://www.in-school.org/
Andrias Harefa, Roy Sembel, M Ichsan, Heru Wibawa, Parpudi Lubis
Masyarakat modern semakin menyadari pentingnya asuransi karena masa depan yang tidak pasti. Semua hal yang mengandung risiko, diserahkan kepada pihak asuransi.
da seorang bapak dengan dua anak yang masih kecil, dan istrinya sama sekali tidak bekerja. Tahun lalu, si bapak sakit keras sampai harus dirawat inap selama tiga minggu di RS. Untung saja, perusahaan mengganti hampir 80 persen dari total biaya rawat inap, dokter, dan obat-obatan.
Jika kita cermati cerita di atas, betapa kita jadi tahu hidup ini penuh dengan risiko. Coba, apa jadinya bila si bapak tidak tertolong nyawanya? Bagaimana dengan nasib anak-anak yang ditinggalkannya?
Sejak kejadian tersebut baru disadari, betapa lemahnya kondisi keuangan keluarga jika si Bapak sakit atau bahkan meninggal. Si Bapak lalu memutuskan untuk mengambil asuransi jiwa, sebagai proteksi bila hal-hal di atas, meski tak diharapkan, terjadi lagi dalam hidupnya.
Tindakan bapak di atas untuk mengambil asuransi, tepat sekali. Sebab, asuransi menjadi sangat penting bila kita punya kewajiban keuangan tertentu, di mana ada pihak yang "dirugikan" bila kita meninggal. Misalnya, orang tua yang mempunyai anak. Tapi bila tak ada yang harus diproteksi, asuransi menjadi sangat tak penting. Misalnya, pria atau wanita lajang yang tidak punya utang yang harus dibayar di kemudian hari, ia tak harus mengambil asuransi karena tak punya keharusan memproteksi apa pun.
Sedangkan pada kasus si bapak di atas, sebagai satu-satunya sumber penghasilan keluarga saat ini, keuangan keluarga tadi sangat bertumpu kepada Ayah. Oleh karena itu jika terjadi risiko kematian pada si bapak, atau bila dia mengalami sakit atau cacat secara permanen sehingga tidak bisa bekerja lagi, otomatis keluarga si bapak akan kehilangan sumber penghasilan untuk membiayai kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Asuransi juga menjadi penting bila menyangkut pendidikan anak. Pasalnya, biaya pendidikan tentulah akan terus meningkat, padahal saat ini saja sudah terasa mahal. Belum lagi masa depan kondisi ekonomi dan keuangan yang serba-tak pasti. Sementara nilai aset yang kita miliki suatu saat pasti berkurang atau malah hilang. Apalagi, kondisi kesehatan orang tua di masa depan yang mengandung banyak risiko dapat mengancam pendapatan keluarga.
Nah, apa jadinya dengan anak kita nanti jika kita tak memulainya sejak sekarang untuk menyiapkan dana pendidikannya?.
Sesuai Kebutuhan
Asuransi pada kenyataannya kini tidak lagi dipandang sebagai barang mewah yang hanya bisa dinikmati kaum berduit saja. Ia sudah merupakan kebutuhan, dianggap penting oleh setiap kalangan.
Setiap orang yang mengikuti asuransi, umumnya memberi alasan yang realistis bahwa mengikuti asuransi berarti memperoleh jaminan keamanan atas risiko, baik untuk saat ini maupun jaminan atas beban kehidupan di masa mendatang.
Selain pertimbangan manfaat di masa yang akan datang, di sisi lain, banyak orang mengikuti asuransi karena asuransi kini tidak lagi terbatas pada bentuk-bentuk penjaminan dan pembayaran konvensional. Tidak hanya berkaitan dengan proteksi, kini berbagai tipe asuransi menawarkan pula "unit link" (semacam dwiguna) yang memberikan kesempatan nasabah untuk berinvestasi dalam berbagai produk investasi agar jumlahnya berkembang.
Lagipula, produk asuransi sekarang banyak yang disesuaikan dengan keiinginan klien (custom made) yang memungkinkan tertanggung membayar premi sesuai dengan kemampuan keuangan masing-masing tertanggung. Dengan perkataan lain, ia tidak lagi kaku, namun mengikuti sedapat mungkin pada kondisi dan kemauan nasabah. Bahkan, sebagian asuransi khususnya asuransi asing, kini sudah berani "menantang" konsumen dengan objek pertanggungan, model pembayaran, tenggang waktu, maupun jumlah manfaat sesuai yang dikehendaki konsumen. Apa pun model yang dikehendaki, sepanjang prospektif bagi perusahaan asuransi maka akan disanggupi. Pendek kata, kini saatnya nasabah asuransi dimanjakan dengan berbagai kemudahan demi kepuasan nasabah.
Yang jelas, banyak orang mengikuti program asuransi dengan alasan tersedianya jaminan masa depan. Situasi di Indonesia yang serba-tidak pasti dan masih dililit krisis justru mendorong orang untuk mengambil asuransi untuk memproteksi diri dan keluarga.
Mengenal Aneka Asuransi Jiwa
Risiko kematian bisa terjadi kapan saja tanpa terduga. Bila yang meninggal tidak memiliki tanggungan apa pun, tentu hal itu tak terlalu jadi masalah. Repotnya kalau yang meninggal itu masih punya tanggungan anak-anak atau anggota keluarga lain. Bagaimana jadinya nasib mereka? Dari mana mereka bisa makan dan membayar uang sekolah?
Nah, asuransi jiwa memberi proteksi terhadap nilai ekonomis seseorang. Bila ada asuransi jiwa, orang yang Anda tinggalkan akan mendapatkan sejumlah uang pertanggungan yang bisa dia pakai untuk membiayai hidupnya. Jadi, ada pihak ketiga yang akan "menjaga" orang yang Anda cintai setelah Anda tidak lagi bisa menjaga mereka. Asuransi jiwa dapat dibagi menjadi dua kategori umum:
Asuransi Sementara
Asuransi ini dikenal dengan istilah term life atau asuransi berjangka. Asuransi ini paling tepat untuk perlindungan waktu sementara, dengan jangka waktu terbatas, biasanya antara 1-20 tahun. Jadi Anda dapat menentukan waktu yang dibutuhkan untuk perlindungan selama kurun waktu yang terbatas itu (sementara).
Produk ini paling murah dibanding dengan jenis produk lainnya, dan biasanya ditawarkan kepada mereka yang berusia di bawah 40 tahun. Asuransi ini tidak memiliki nilai tunai. Artinya, jika Anda meningal dunia pada tenggang waktu yang ditentukan, keluarga Anda akan menerima uang pertanggungan secara utuh. Namun, jika sampai habis masa berlakunya Anda belum meninggal dunia, premi yang telah Anda bayarkan tidak akan Anda terima kembali sepeser pun. Jadi, bila Anda tidak meninggal dunia pada masa pertangungan yang dibatasi waktunya, uang Anda" hilang".
Asuransi Permanen
Daripada membeli asuransi berjangka pendek—20 tahun tetap pendek bila dibandingkan dengan ekspektasi hidup Anda—akan sangat ekonomis bila Anda membeli proteksi atau polis asuransi yang bertahan selama Anda hidup.
Sebagai contoh, bila alasan satu-satunya Anda membeli asuransi untuk memproteksi dana pendidikan anak Anda yang saat ini berusia 12 tahun, term insurance dengan jangka waktu 10 tahun sudah memadai. Karena begitu 10 tahun berlalu, anak Anda sudah selesai sekolah dan asuransi tersebut tidak dibutuhkan lagi.
Akan tetapi bagaimana bila Anda ingin memberikan proteksi secara finansial kepada pasangan Anda, kapan pun Anda meninggal? Maka asuransi berjangka tidaklah memadai, karena masa berlakunya bisa habis sedangkan Anda masih hidup.
Asuransi ini dirancang untuk melindungi (keluarga) Anda selama-lamanya sampai Anda meninggal dunia, berapa pun usia Anda nantinya. Asuransi ini memiliki nilai tunai yang biasanya bahkan dapat Anda pinjam dengan suku bunga sedikit lebih besar dari nilai yang berlaku saat pembelian. Jika Anda memutuskan kontrak, pada waktu tertentu Anda akan mendapatkan nilai tunai yang tersedia (biasanya di atas dua tahun). Kegunaan asuransi ini dapat dipakai sebagai perlindungan seumur hidup sehingga uang yang Anda belikan asuransi ini tetap mempunyai nilai yang dapat dipergunakan sebagai warisan.
Dengan kata lain, uang atau premi yang Anda bayarkan tidak akan "hilang" seperti dalam term insurance. Karena "keunggulan" ini, umumnya premi yang harus Anda bayarkan jumlahnya akan lebih besar ketimbang premi term insurance. Nilai tunai yang tersedia sangat bergantung kepada kinerja perusahaan asuransi, biaya-biaya perusahaan tersebut, dan tingkat mortalitasnya.
Ada tiga kategori asuransi permanen, yaitu Whole Life, Universal Life, Variabel Life atau di Indonesia dikenal dengan istilah unit link.
Asuransi Dwiguna
Asuransi Dwiguna memberikan pembayaran atau tahapan pada saat pemegang polis masih hidup. Selanjutnya, jika masa kontrak telah habis, pemegang polis masih mendapat sejumlah nilai pertanggungan yang telah ditetapkan. Masalahnya, Asuransi ini menjadi lebih mahal karena manfaat-manfaat yang diberikan berlangsung selama pemegang polis hidup. Contohnya adalah asuransi pendidikan yang banyak dijual di Indonesia. Jika Anda membeli asuransi pendidikan, Anak Anda akan mendapatkan pembayaran bertahap (manfaat hidup) saat memasuki SD, SMP, sampai perguruan tinggi. Besar pembayaran itu ditentukan oleh perusahaan asuransi berdasarkan proposal serta besarnya uang pertanggungan yang telah disepakati bersama.
Asuransi dwiguna bisa menjadi pilihan bila Anda membutuhkan, selain proteksi bagi keluarga juga perkembangan dana investasi yang ada dalam nilai tunai asuransi tersebut. Masalahnya, di Indonesia asuransi jenis ini memberikan tingkat suku bunga yang relatif lebih rendah dibandingkan suku bunga yang berlaku di pasar finansial. Akibatnya, produk ini masih dirasa kurang menarik.
Demikianlah beberapa hal berkaitan dengan proteksi asuransi yang perlu dipertimbangkan agar kehidupan keuangan keluarga berjalan aman terhindar dari beratnya beban risiko kehidupan. Selamat berasuransi!
(sinarharapan.co.id)
(Edukasi dan Ulasan Perencanaan Keuangan)
Pengasuh: Tim Indonesia School of Life (In-School)
http://www.in-school.org/
Andrias Harefa, Roy Sembel, M Ichsan, Heru Wibawa, Parpudi Lubis
Masyarakat modern semakin menyadari pentingnya asuransi karena masa depan yang tidak pasti. Semua hal yang mengandung risiko, diserahkan kepada pihak asuransi.
da seorang bapak dengan dua anak yang masih kecil, dan istrinya sama sekali tidak bekerja. Tahun lalu, si bapak sakit keras sampai harus dirawat inap selama tiga minggu di RS. Untung saja, perusahaan mengganti hampir 80 persen dari total biaya rawat inap, dokter, dan obat-obatan.
Jika kita cermati cerita di atas, betapa kita jadi tahu hidup ini penuh dengan risiko. Coba, apa jadinya bila si bapak tidak tertolong nyawanya? Bagaimana dengan nasib anak-anak yang ditinggalkannya?
Sejak kejadian tersebut baru disadari, betapa lemahnya kondisi keuangan keluarga jika si Bapak sakit atau bahkan meninggal. Si Bapak lalu memutuskan untuk mengambil asuransi jiwa, sebagai proteksi bila hal-hal di atas, meski tak diharapkan, terjadi lagi dalam hidupnya.
Tindakan bapak di atas untuk mengambil asuransi, tepat sekali. Sebab, asuransi menjadi sangat penting bila kita punya kewajiban keuangan tertentu, di mana ada pihak yang "dirugikan" bila kita meninggal. Misalnya, orang tua yang mempunyai anak. Tapi bila tak ada yang harus diproteksi, asuransi menjadi sangat tak penting. Misalnya, pria atau wanita lajang yang tidak punya utang yang harus dibayar di kemudian hari, ia tak harus mengambil asuransi karena tak punya keharusan memproteksi apa pun.
Sedangkan pada kasus si bapak di atas, sebagai satu-satunya sumber penghasilan keluarga saat ini, keuangan keluarga tadi sangat bertumpu kepada Ayah. Oleh karena itu jika terjadi risiko kematian pada si bapak, atau bila dia mengalami sakit atau cacat secara permanen sehingga tidak bisa bekerja lagi, otomatis keluarga si bapak akan kehilangan sumber penghasilan untuk membiayai kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Asuransi juga menjadi penting bila menyangkut pendidikan anak. Pasalnya, biaya pendidikan tentulah akan terus meningkat, padahal saat ini saja sudah terasa mahal. Belum lagi masa depan kondisi ekonomi dan keuangan yang serba-tak pasti. Sementara nilai aset yang kita miliki suatu saat pasti berkurang atau malah hilang. Apalagi, kondisi kesehatan orang tua di masa depan yang mengandung banyak risiko dapat mengancam pendapatan keluarga.
Nah, apa jadinya dengan anak kita nanti jika kita tak memulainya sejak sekarang untuk menyiapkan dana pendidikannya?.
Sesuai Kebutuhan
Asuransi pada kenyataannya kini tidak lagi dipandang sebagai barang mewah yang hanya bisa dinikmati kaum berduit saja. Ia sudah merupakan kebutuhan, dianggap penting oleh setiap kalangan.
Setiap orang yang mengikuti asuransi, umumnya memberi alasan yang realistis bahwa mengikuti asuransi berarti memperoleh jaminan keamanan atas risiko, baik untuk saat ini maupun jaminan atas beban kehidupan di masa mendatang.
Selain pertimbangan manfaat di masa yang akan datang, di sisi lain, banyak orang mengikuti asuransi karena asuransi kini tidak lagi terbatas pada bentuk-bentuk penjaminan dan pembayaran konvensional. Tidak hanya berkaitan dengan proteksi, kini berbagai tipe asuransi menawarkan pula "unit link" (semacam dwiguna) yang memberikan kesempatan nasabah untuk berinvestasi dalam berbagai produk investasi agar jumlahnya berkembang.
Lagipula, produk asuransi sekarang banyak yang disesuaikan dengan keiinginan klien (custom made) yang memungkinkan tertanggung membayar premi sesuai dengan kemampuan keuangan masing-masing tertanggung. Dengan perkataan lain, ia tidak lagi kaku, namun mengikuti sedapat mungkin pada kondisi dan kemauan nasabah. Bahkan, sebagian asuransi khususnya asuransi asing, kini sudah berani "menantang" konsumen dengan objek pertanggungan, model pembayaran, tenggang waktu, maupun jumlah manfaat sesuai yang dikehendaki konsumen. Apa pun model yang dikehendaki, sepanjang prospektif bagi perusahaan asuransi maka akan disanggupi. Pendek kata, kini saatnya nasabah asuransi dimanjakan dengan berbagai kemudahan demi kepuasan nasabah.
Yang jelas, banyak orang mengikuti program asuransi dengan alasan tersedianya jaminan masa depan. Situasi di Indonesia yang serba-tidak pasti dan masih dililit krisis justru mendorong orang untuk mengambil asuransi untuk memproteksi diri dan keluarga.
Mengenal Aneka Asuransi Jiwa
Risiko kematian bisa terjadi kapan saja tanpa terduga. Bila yang meninggal tidak memiliki tanggungan apa pun, tentu hal itu tak terlalu jadi masalah. Repotnya kalau yang meninggal itu masih punya tanggungan anak-anak atau anggota keluarga lain. Bagaimana jadinya nasib mereka? Dari mana mereka bisa makan dan membayar uang sekolah?
Nah, asuransi jiwa memberi proteksi terhadap nilai ekonomis seseorang. Bila ada asuransi jiwa, orang yang Anda tinggalkan akan mendapatkan sejumlah uang pertanggungan yang bisa dia pakai untuk membiayai hidupnya. Jadi, ada pihak ketiga yang akan "menjaga" orang yang Anda cintai setelah Anda tidak lagi bisa menjaga mereka. Asuransi jiwa dapat dibagi menjadi dua kategori umum:
Asuransi Sementara
Asuransi ini dikenal dengan istilah term life atau asuransi berjangka. Asuransi ini paling tepat untuk perlindungan waktu sementara, dengan jangka waktu terbatas, biasanya antara 1-20 tahun. Jadi Anda dapat menentukan waktu yang dibutuhkan untuk perlindungan selama kurun waktu yang terbatas itu (sementara).
Produk ini paling murah dibanding dengan jenis produk lainnya, dan biasanya ditawarkan kepada mereka yang berusia di bawah 40 tahun. Asuransi ini tidak memiliki nilai tunai. Artinya, jika Anda meningal dunia pada tenggang waktu yang ditentukan, keluarga Anda akan menerima uang pertanggungan secara utuh. Namun, jika sampai habis masa berlakunya Anda belum meninggal dunia, premi yang telah Anda bayarkan tidak akan Anda terima kembali sepeser pun. Jadi, bila Anda tidak meninggal dunia pada masa pertangungan yang dibatasi waktunya, uang Anda" hilang".
Asuransi Permanen
Daripada membeli asuransi berjangka pendek—20 tahun tetap pendek bila dibandingkan dengan ekspektasi hidup Anda—akan sangat ekonomis bila Anda membeli proteksi atau polis asuransi yang bertahan selama Anda hidup.
Sebagai contoh, bila alasan satu-satunya Anda membeli asuransi untuk memproteksi dana pendidikan anak Anda yang saat ini berusia 12 tahun, term insurance dengan jangka waktu 10 tahun sudah memadai. Karena begitu 10 tahun berlalu, anak Anda sudah selesai sekolah dan asuransi tersebut tidak dibutuhkan lagi.
Akan tetapi bagaimana bila Anda ingin memberikan proteksi secara finansial kepada pasangan Anda, kapan pun Anda meninggal? Maka asuransi berjangka tidaklah memadai, karena masa berlakunya bisa habis sedangkan Anda masih hidup.
Asuransi ini dirancang untuk melindungi (keluarga) Anda selama-lamanya sampai Anda meninggal dunia, berapa pun usia Anda nantinya. Asuransi ini memiliki nilai tunai yang biasanya bahkan dapat Anda pinjam dengan suku bunga sedikit lebih besar dari nilai yang berlaku saat pembelian. Jika Anda memutuskan kontrak, pada waktu tertentu Anda akan mendapatkan nilai tunai yang tersedia (biasanya di atas dua tahun). Kegunaan asuransi ini dapat dipakai sebagai perlindungan seumur hidup sehingga uang yang Anda belikan asuransi ini tetap mempunyai nilai yang dapat dipergunakan sebagai warisan.
Dengan kata lain, uang atau premi yang Anda bayarkan tidak akan "hilang" seperti dalam term insurance. Karena "keunggulan" ini, umumnya premi yang harus Anda bayarkan jumlahnya akan lebih besar ketimbang premi term insurance. Nilai tunai yang tersedia sangat bergantung kepada kinerja perusahaan asuransi, biaya-biaya perusahaan tersebut, dan tingkat mortalitasnya.
Ada tiga kategori asuransi permanen, yaitu Whole Life, Universal Life, Variabel Life atau di Indonesia dikenal dengan istilah unit link.
Asuransi Dwiguna
Asuransi Dwiguna memberikan pembayaran atau tahapan pada saat pemegang polis masih hidup. Selanjutnya, jika masa kontrak telah habis, pemegang polis masih mendapat sejumlah nilai pertanggungan yang telah ditetapkan. Masalahnya, Asuransi ini menjadi lebih mahal karena manfaat-manfaat yang diberikan berlangsung selama pemegang polis hidup. Contohnya adalah asuransi pendidikan yang banyak dijual di Indonesia. Jika Anda membeli asuransi pendidikan, Anak Anda akan mendapatkan pembayaran bertahap (manfaat hidup) saat memasuki SD, SMP, sampai perguruan tinggi. Besar pembayaran itu ditentukan oleh perusahaan asuransi berdasarkan proposal serta besarnya uang pertanggungan yang telah disepakati bersama.
Asuransi dwiguna bisa menjadi pilihan bila Anda membutuhkan, selain proteksi bagi keluarga juga perkembangan dana investasi yang ada dalam nilai tunai asuransi tersebut. Masalahnya, di Indonesia asuransi jenis ini memberikan tingkat suku bunga yang relatif lebih rendah dibandingkan suku bunga yang berlaku di pasar finansial. Akibatnya, produk ini masih dirasa kurang menarik.
Demikianlah beberapa hal berkaitan dengan proteksi asuransi yang perlu dipertimbangkan agar kehidupan keuangan keluarga berjalan aman terhindar dari beratnya beban risiko kehidupan. Selamat berasuransi!
(sinarharapan.co.id)
ASURANSI APA PERLU?
Dikutip dari Ummi
Pak Gozali yang dirahmati Allah.
Akhir-akhir ini saya sering mendapat brosur-brosur mengenai berbagai macam asuransi dengan menjanjikan segala keuntungan yang menggiurkan bila kita mengikuti. Marketing mereka sering menelpon menanyakan saya untuk menjadi anggotanya. Karena yang saya tahu untuk mengklaim asuransi memerlukan prosedur yang cukup rumit dan sulit maka saya suka menolaknya. Tetapi ketika kawan saya yang menawarkan dan menjelaskan saya mulai tertarik. Yang ingin saya tanyakan asuransi yang bagaimana yang baik? Untuk hal-hal apa saja yang sangat perlu diasuransikan karena saya ditawarkan bermacam-macam asuransi seperti asuransi kesehatan, pendidikan anak sampai kendaraan bermotor? Dan prosedur apa yang harus diperhatikan?
Terima kasih sebelumnya atas jawabannya
Iwan, Jakarta
Jawaban:
Pada dasarnya, asuransi adalah sebuah produk keuangan yang memiliki fungsi untuk memberikan perlindungan keuangan atas resiko/musibah yang mungkin terjadi. Ada dua hal yang harus kita garis bawahi disini, yaitu perlidungan keuangan dan resiko. Yang dimaksud dengan perlindungan keuangan yaitu asuransi memberikan santunan atau ganti rugi jika terjadi resiko. Yang dimaksud dengan resiko/musibah yaitu kejadian yang ditanggung oleh asuransi seperti kematian, kecelakaan, cacat, kebakaran, dll.
Jadi, untuk menjawab apakah kita perlu asuransi atau tidak, dan asuransi apa saja yang diperlukan, harus kita lihat resiko apa yang mungkin terjadi dan seberapa besar akibatnya secara keuangan. Misalnya, Anda seorang kepala keluarga yang menafkahi anak dan istri. Jika Anda meninggal dunia, maka anak istri Anda akan kehilangan nafkah. Ini artinya Anda memerlukan asuransi jiwa sehingga jika terjadi musibah, maka pihak asuransi akan memberikan santunan pada anak istri untuk menggantikan sementara nafkah tersebut. Namun jika Anda masih bujangan dan tidak memiliki tanggungan atau hutang, maka tidak ada akibat keuangan yang besar jika Anda meninggal dunia, ini artinya Anda tidak memerlukan asuransi jiwa.
Asuransi jiwa ini memiliki banyak sekali varian untuk menarik minat konsumen. Yang paling sederhana yaitu asuransi jiwa jenis term life dimana dana Anda akan hangus jika tidak terjadi musibah. Sebetulnya asuransi seperti inilah yang paling menguntungkan untuk nasabah, karena preminya murah dan tidak harus khawatir kalau perusahaan asuransinya bangkrut di masa depan. Namun sayangnya banyak nasabah yang tidak tertarik karena uangnya hangus jika tidak ada klaim.
Ada juga asuransi jiwa plus investasi yang bentuknya juga bermacam-macam seperti asuransi pendidikan, asuransi pensiun, dan sebagainya. Intinya sama saja, asuransi plus investasi. Bedanya hanyalah tujuan penggunaan dana investasinya, apakah hasil investasinya itu untuk biaya pendidikan anak-anak, atau untuk masa pensiun nanti.
Sama juga prinsipnya dengan asuransi kerugian misalnya asuransi rumah dan kendaraan. Jika Anda kendaraan yang Anda miliki mengalami kerusakan karena kecelakaan atau hilang dicuri, apakah hal tersebut akan berpengaruh terhadap keuangan Anda. Kalau ya, maka Anda perlu asuransi kendaraan. Begitu juga sebaliknya kalau Anda merasa itu tidak penting atau tidak bermasalah untuk menggunakan uang pribadi untuk kerusakan kendaraan, maka Anda tidak perlu asuransi kendaraan.
Asuransi seperti payung yang bisa melindungi Anda di waktu hujan. Ia hanya digunakan untuk berjaga-jaga saja. Jika hujan ia akan terpakai, jika tidak hujan ia tidak terpakai. Namun terpakai ataupun tidak, Anda tetap harus beli payung tersebut. Maka sebelum memutuskan apakah akan membeli payung atau tidak, pertimbangkan apakah hari akan hujan atau sepertinya cerah-cerah saja. Apakah bermasalah jika kehujanan, atau tidak mengapa sedikit basah. Sama dengan asuransi, pertimbangkan dulu seberapa besar kemungkinan resiko itu terjadi. Dan apakah akan bermasalah kalau terjadi resiko, artinya bisakah resiko itu ditanggung sendiri saja, atau harus didukung dengan asuransi.
Asuransi apa yang baik? Yaitu asuransi yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Jika Anda merasa sulit menabung rutin, pilih saja asuransi pendidikan yang bisa memaksa Anda untuk menyisihkan dana untuk masa depan anak-anak. Namun jika Anda sudah punya rencana dana pendidikan sendiri, asuransi jiwa term life akan lebih baik untuk Anda. Untuk asuransi kesehatan, coba pelajari di peraturan perusahaan tempat Anda kerja, kalau sudah cukup memadai, maka asuransi ini tidak diperlukan lagi. Selain itu, sebagai seorang Muslim, pilihlah asuransi syariah. Karena asuransi syariah bebas dari unsur riba dan judi yang kental sekali pada asuransi konvensional.
Beberapa hal yang harus Anda perhatikan juga ketika membeli asuransi.
Untuk asuransi jiwa, pastikan nama pihak tertanggung adalah Anda sendiri sebagai pencari nafkah, bukan atas nama istri. Masukan nama istri dan anak-anak sebagai pihak penerima manfaat.
Simpan polis asuransi di tempat yang aman dan diketahui juga oleh ahli waris Anda. Khusus untuk polis asuransi rumah, jangan disimpan di dalam rumah.
Ketiga, minta petugas asuransi untuk menjelaskan kepada Anda dan ahli waris bagaimana prosedur klaim asuransi jika terjadi musibah.
Pastikan Anda selalu membayar preminya tepat waktu dan simpan tanda bukti pembayaran karena akan dibutuhkan pada saat klaim. Jangan tergantung pada petugas penagih premi, jika mereka tidak datang, langsung bayarkan ke kantornya.
Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan
Pak Gozali yang dirahmati Allah.
Akhir-akhir ini saya sering mendapat brosur-brosur mengenai berbagai macam asuransi dengan menjanjikan segala keuntungan yang menggiurkan bila kita mengikuti. Marketing mereka sering menelpon menanyakan saya untuk menjadi anggotanya. Karena yang saya tahu untuk mengklaim asuransi memerlukan prosedur yang cukup rumit dan sulit maka saya suka menolaknya. Tetapi ketika kawan saya yang menawarkan dan menjelaskan saya mulai tertarik. Yang ingin saya tanyakan asuransi yang bagaimana yang baik? Untuk hal-hal apa saja yang sangat perlu diasuransikan karena saya ditawarkan bermacam-macam asuransi seperti asuransi kesehatan, pendidikan anak sampai kendaraan bermotor? Dan prosedur apa yang harus diperhatikan?
Terima kasih sebelumnya atas jawabannya
Iwan, Jakarta
Jawaban:
Pada dasarnya, asuransi adalah sebuah produk keuangan yang memiliki fungsi untuk memberikan perlindungan keuangan atas resiko/musibah yang mungkin terjadi. Ada dua hal yang harus kita garis bawahi disini, yaitu perlidungan keuangan dan resiko. Yang dimaksud dengan perlindungan keuangan yaitu asuransi memberikan santunan atau ganti rugi jika terjadi resiko. Yang dimaksud dengan resiko/musibah yaitu kejadian yang ditanggung oleh asuransi seperti kematian, kecelakaan, cacat, kebakaran, dll.
Jadi, untuk menjawab apakah kita perlu asuransi atau tidak, dan asuransi apa saja yang diperlukan, harus kita lihat resiko apa yang mungkin terjadi dan seberapa besar akibatnya secara keuangan. Misalnya, Anda seorang kepala keluarga yang menafkahi anak dan istri. Jika Anda meninggal dunia, maka anak istri Anda akan kehilangan nafkah. Ini artinya Anda memerlukan asuransi jiwa sehingga jika terjadi musibah, maka pihak asuransi akan memberikan santunan pada anak istri untuk menggantikan sementara nafkah tersebut. Namun jika Anda masih bujangan dan tidak memiliki tanggungan atau hutang, maka tidak ada akibat keuangan yang besar jika Anda meninggal dunia, ini artinya Anda tidak memerlukan asuransi jiwa.
Asuransi jiwa ini memiliki banyak sekali varian untuk menarik minat konsumen. Yang paling sederhana yaitu asuransi jiwa jenis term life dimana dana Anda akan hangus jika tidak terjadi musibah. Sebetulnya asuransi seperti inilah yang paling menguntungkan untuk nasabah, karena preminya murah dan tidak harus khawatir kalau perusahaan asuransinya bangkrut di masa depan. Namun sayangnya banyak nasabah yang tidak tertarik karena uangnya hangus jika tidak ada klaim.
Ada juga asuransi jiwa plus investasi yang bentuknya juga bermacam-macam seperti asuransi pendidikan, asuransi pensiun, dan sebagainya. Intinya sama saja, asuransi plus investasi. Bedanya hanyalah tujuan penggunaan dana investasinya, apakah hasil investasinya itu untuk biaya pendidikan anak-anak, atau untuk masa pensiun nanti.
Sama juga prinsipnya dengan asuransi kerugian misalnya asuransi rumah dan kendaraan. Jika Anda kendaraan yang Anda miliki mengalami kerusakan karena kecelakaan atau hilang dicuri, apakah hal tersebut akan berpengaruh terhadap keuangan Anda. Kalau ya, maka Anda perlu asuransi kendaraan. Begitu juga sebaliknya kalau Anda merasa itu tidak penting atau tidak bermasalah untuk menggunakan uang pribadi untuk kerusakan kendaraan, maka Anda tidak perlu asuransi kendaraan.
Asuransi seperti payung yang bisa melindungi Anda di waktu hujan. Ia hanya digunakan untuk berjaga-jaga saja. Jika hujan ia akan terpakai, jika tidak hujan ia tidak terpakai. Namun terpakai ataupun tidak, Anda tetap harus beli payung tersebut. Maka sebelum memutuskan apakah akan membeli payung atau tidak, pertimbangkan apakah hari akan hujan atau sepertinya cerah-cerah saja. Apakah bermasalah jika kehujanan, atau tidak mengapa sedikit basah. Sama dengan asuransi, pertimbangkan dulu seberapa besar kemungkinan resiko itu terjadi. Dan apakah akan bermasalah kalau terjadi resiko, artinya bisakah resiko itu ditanggung sendiri saja, atau harus didukung dengan asuransi.
Asuransi apa yang baik? Yaitu asuransi yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Jika Anda merasa sulit menabung rutin, pilih saja asuransi pendidikan yang bisa memaksa Anda untuk menyisihkan dana untuk masa depan anak-anak. Namun jika Anda sudah punya rencana dana pendidikan sendiri, asuransi jiwa term life akan lebih baik untuk Anda. Untuk asuransi kesehatan, coba pelajari di peraturan perusahaan tempat Anda kerja, kalau sudah cukup memadai, maka asuransi ini tidak diperlukan lagi. Selain itu, sebagai seorang Muslim, pilihlah asuransi syariah. Karena asuransi syariah bebas dari unsur riba dan judi yang kental sekali pada asuransi konvensional.
Beberapa hal yang harus Anda perhatikan juga ketika membeli asuransi.
Untuk asuransi jiwa, pastikan nama pihak tertanggung adalah Anda sendiri sebagai pencari nafkah, bukan atas nama istri. Masukan nama istri dan anak-anak sebagai pihak penerima manfaat.
Simpan polis asuransi di tempat yang aman dan diketahui juga oleh ahli waris Anda. Khusus untuk polis asuransi rumah, jangan disimpan di dalam rumah.
Ketiga, minta petugas asuransi untuk menjelaskan kepada Anda dan ahli waris bagaimana prosedur klaim asuransi jika terjadi musibah.
Pastikan Anda selalu membayar preminya tepat waktu dan simpan tanda bukti pembayaran karena akan dibutuhkan pada saat klaim. Jangan tergantung pada petugas penagih premi, jika mereka tidak datang, langsung bayarkan ke kantornya.
Salam,
Ahmad Gozali
Perencana Keuangan
Asuransi Pendidikan: Sedia Payung Sebelum Hujan
Rabu, 24 September 2008 | 11:36 WIB
Dulu, peribahasa “Gantungkan cita-citamu setinggi langit” menyemangati Anda untuk belajar. Kini, ungkapan “Persiapkan dana pendidikan anak sedini mungkin!” yang akan memacu Anda menyisihkan penghasilan demi pendidikan si buah hati.
Memang, untuk bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, perlu dana tak sedikit. Apalagi pendidikan saat ini boleh dibilang “barang mewah” atau sesuatu yang berbiaya tinggi. Untuk menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi dibutuhkan dana puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Karena itu, sebaiknya Anda merencanakannya jauh-jauh hari. Banyak pakar keuangan menganjurkan dana pendidikan disiapkan sedini mungkin atau sejak si kecil dalam kandungan. Salah satu cara merencanakan dana pendidikan adalah lewat program asuransi pendidikan. Produk ini memberikan jaminan tertanggulanginya dana pendidikan anak. Artinya, saat anak masuk sekolah, Anda sebagai orang tua tak perlu khawatir karena dananya sudah tersedia.
Caranya mudah saja. Anda tinggal menghubungi pihak asuransi yang Anda percaya untuk mengelola dana pendidikan tersebut. Lalu, berdasarkan rencana Anda, pihak asuransi akan menghitung berapa dana yang diperlukan untuk masing-masing jenjang pendidikan. Dari situ, bisa disimpulkan berapa besar premi yang harus dibayarkan setiap bulan. Pihak asuransi juga akan membantu menghitung berapa dana yang terkumpul dengan premi yang sudah ditentukan.
Sebagai contoh: Anda ingin mengikutkan anak yang masih dalam kandungan dalam asuransi pendidikan hingga anak mencapai perguruan tinggi. Jika saat ini pendapatan Anda sekitar Rp 2-2,5 juta per bulan, asumsikan 10 %-nya untuk biaya asuransi pendidikan anak, yaitu sebesar Rp 200-250 ribu per bulan. Atau sekitar Rp 2,4-3 juta per tahun.
Namun, jika Anda baru mengikuti asuransi pendidikan ketika anak sudah duduk di TK atau SD, maka premi yang harus dibayar otomatis lebih tinggi dibandingkan asuransi yang direncanakan sejak anak usia 0 tahun. Pasalnya, usia anak dengan batas maksimal 12 tahun dan usia orang tua menjadi faktor penentu besarnya premi.
Jadi, semakin dini anak ikut asuransi, preminya akan lebih murah. Jika pembayaran premi dianggap memberatkan, pihak asuransi dapat mengubah cara pembayaran yaitu lewat cicilan setiap bulan, triwulan (3 bulanan) atau semester (6 bulanan).
Manfaat Asuransi
Memang masih banyak orang alergi mendengar kata asuransi. Pasalnya, uang yang sudah diasuransikan tak bisa dicairkan sewaktu-waktu layaknya tabungan. Anda harus menunggu sampai jatuh tempo atau sesuai jadwal sekolah anak. Namun, jika Anda ingin disiplin menyimpan uang untuk pendidikan anak tanpa takut diutak-atik, asuransilah jawabannya.
Manfaat lain yang bisa didapat adalah jika Anda sebagai orang tua meninggal dunia selama masa pembayaran premi, maka polis menjadi bebas premi. Tak ada lagi kewajiban melakukan pembayaran dan dana pendidikan tetap diberikan sesuai jadwal. Dengan begitu, pendidikan anak tetap terjamin sampai jangka waktu yang Anda tentukan. Sebaliknya, jika selama polis berjalan anak (tertanggung) meninggal dunia, dana pendidikan tetap diberikan sesuai jadwal dan bisa digunakan untuk keperluan lain.
Namun, saat ini sudah ada asuransi pendidikan yang dananya bisa diambil sewaktu-waktu tanpa dikenakan penalti. Biasanya dana ini dikelola oleh lembaga asuransi atau perbankan syariah. Selain itu, ada pula asuransi pendidikan plus. Jadi, selain dana disimpan untuk pendidikan, sebagian juga disisihkan untuk asuransi kesehatan anak. Jika sewaktu-waktu anak sakit, Anda tinggal ajukan klaim dan pihak asuransi akan menanggung biaya perawatannya. Nah, Anda siap merencanakan pendidikan buah hati sekarang?
Erma Dwi Kusumastuti
(Kompas.com)
Dulu, peribahasa “Gantungkan cita-citamu setinggi langit” menyemangati Anda untuk belajar. Kini, ungkapan “Persiapkan dana pendidikan anak sedini mungkin!” yang akan memacu Anda menyisihkan penghasilan demi pendidikan si buah hati.
Memang, untuk bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, perlu dana tak sedikit. Apalagi pendidikan saat ini boleh dibilang “barang mewah” atau sesuatu yang berbiaya tinggi. Untuk menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi dibutuhkan dana puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Karena itu, sebaiknya Anda merencanakannya jauh-jauh hari. Banyak pakar keuangan menganjurkan dana pendidikan disiapkan sedini mungkin atau sejak si kecil dalam kandungan. Salah satu cara merencanakan dana pendidikan adalah lewat program asuransi pendidikan. Produk ini memberikan jaminan tertanggulanginya dana pendidikan anak. Artinya, saat anak masuk sekolah, Anda sebagai orang tua tak perlu khawatir karena dananya sudah tersedia.
Caranya mudah saja. Anda tinggal menghubungi pihak asuransi yang Anda percaya untuk mengelola dana pendidikan tersebut. Lalu, berdasarkan rencana Anda, pihak asuransi akan menghitung berapa dana yang diperlukan untuk masing-masing jenjang pendidikan. Dari situ, bisa disimpulkan berapa besar premi yang harus dibayarkan setiap bulan. Pihak asuransi juga akan membantu menghitung berapa dana yang terkumpul dengan premi yang sudah ditentukan.
Sebagai contoh: Anda ingin mengikutkan anak yang masih dalam kandungan dalam asuransi pendidikan hingga anak mencapai perguruan tinggi. Jika saat ini pendapatan Anda sekitar Rp 2-2,5 juta per bulan, asumsikan 10 %-nya untuk biaya asuransi pendidikan anak, yaitu sebesar Rp 200-250 ribu per bulan. Atau sekitar Rp 2,4-3 juta per tahun.
Namun, jika Anda baru mengikuti asuransi pendidikan ketika anak sudah duduk di TK atau SD, maka premi yang harus dibayar otomatis lebih tinggi dibandingkan asuransi yang direncanakan sejak anak usia 0 tahun. Pasalnya, usia anak dengan batas maksimal 12 tahun dan usia orang tua menjadi faktor penentu besarnya premi.
Jadi, semakin dini anak ikut asuransi, preminya akan lebih murah. Jika pembayaran premi dianggap memberatkan, pihak asuransi dapat mengubah cara pembayaran yaitu lewat cicilan setiap bulan, triwulan (3 bulanan) atau semester (6 bulanan).
Manfaat Asuransi
Memang masih banyak orang alergi mendengar kata asuransi. Pasalnya, uang yang sudah diasuransikan tak bisa dicairkan sewaktu-waktu layaknya tabungan. Anda harus menunggu sampai jatuh tempo atau sesuai jadwal sekolah anak. Namun, jika Anda ingin disiplin menyimpan uang untuk pendidikan anak tanpa takut diutak-atik, asuransilah jawabannya.
Manfaat lain yang bisa didapat adalah jika Anda sebagai orang tua meninggal dunia selama masa pembayaran premi, maka polis menjadi bebas premi. Tak ada lagi kewajiban melakukan pembayaran dan dana pendidikan tetap diberikan sesuai jadwal. Dengan begitu, pendidikan anak tetap terjamin sampai jangka waktu yang Anda tentukan. Sebaliknya, jika selama polis berjalan anak (tertanggung) meninggal dunia, dana pendidikan tetap diberikan sesuai jadwal dan bisa digunakan untuk keperluan lain.
Namun, saat ini sudah ada asuransi pendidikan yang dananya bisa diambil sewaktu-waktu tanpa dikenakan penalti. Biasanya dana ini dikelola oleh lembaga asuransi atau perbankan syariah. Selain itu, ada pula asuransi pendidikan plus. Jadi, selain dana disimpan untuk pendidikan, sebagian juga disisihkan untuk asuransi kesehatan anak. Jika sewaktu-waktu anak sakit, Anda tinggal ajukan klaim dan pihak asuransi akan menanggung biaya perawatannya. Nah, Anda siap merencanakan pendidikan buah hati sekarang?
Erma Dwi Kusumastuti
(Kompas.com)
Thursday, October 16, 2008
Kiat Memilih Produk Asuransi secara Bijak
Kamis, 25 Oktober 2007 | By: Adler Haymans Man
Sumber : Harian KOMPAS, 25 Oktober 2007
Risiko yang dijamin perusahaan asuransi dapat dikelompokkan ke dalam asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Belakangan ada nama asuransi sosial, seperti Jamsostek.
Adapun produk asuransi kerugian, seperti asuransi kerugian rumah, mobil, dan kapal, di kenal sebagai asuransi umum. Sedangkan asuransi yang berhubungan denga jiwa manusia dikenal dengan asuransi jiwa yang menawarkan produk tersebut.
Produk risiko yang ditawarkan perusahaan asuransi jiwa dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok besar, yaitu asuransi jiwa permanen (whole life insurance), asuransi jiwa jangka warsa (term life insurance), dan dwi guna (endowment life insurance). Perusahaan asuransi sangat bervariasi menawarkan produk asuransi jiwa dan asuransi kerugian tersebut. Produk asuransi ini dikenal dikenal dengan produk asuransi tradisional.
Dalam lima tahun terakhir, diperkenalkan produk asuransi modern yang dikenal dengan nama unit link (UL).
Di Amerika serikat produk ini dikenal sebagai variabel life insurance. UL sebenarnya produk investasi yang digabungkan dengan asuransi. Oleh karenanya, aturan mengenai surat berharga (sekuritas) dimasukkan dalam regulasinya. Di Amerika Serikat, produk ini tidak begitu sukses, akan tetapi, Australia, Inggris, Kanada, dan Belanda sangat sukses menawarkan produk ini ke masyarakat.
China juga tidak sukses menjual produk UL. Media massa menyoroti penjualan UL karena dipasarkan tidak sesuai ilustrasi yang dilakukan agen penjualnya.
Produk UL ditawarkan perusahaan asuransi walaupun investasinya dikelola manajer investasi (MI). Perusahaan asuransi melakukan aliansi strategi untuk menawarkan produk UL. Perusahaan asuransi mendapatkan premi asuransi sesuai bisnis usahanya, juga mendapat tambahan fee atas pengelolaan investasi dari MI karena sekaligus sebagai agen penjual.
Tidaklah salah apabila kombinasi ini dilakukan. Agen penjual yang sudah maju dapat melakukan penawaran kepada investor dengan menggabungkan investasi pada reksa dana dan asuransi dari perusahaan asuransi. Lima tahun mendatang, kegiatan ini akan muncul di Indonesia sehingga sangat dibutuhkan pengetahuan protofolio investasi dan asuransi serta negosiasi dengan berbagai pihak.
Cara Memilih
Memilih produk asuransi sering menjadi persoalan dan membingungkan. Ada beberapa tahap yang harus dipenuhi keluarga atau seseorang dalam memilih.
Pertama, memahami diri. Sebagai pemegang atau pembeli asuransi, kita harus tahu benar dan jelas kebutuhan kita. Produk asuransi begitu banyak dan bervariasi. Pemilihan yang sesuai kebutuhan harus menjadi prioritas.
Pada tahap awal, asuransi kesehatan sangat dibutuhkan pihak yang mulai mengumpulkan investasi asuransi. Asuransi kesehatan menanggung biaya pengobatan, termasuk kalau harus rawat inap. Selanjutnya, asuransi jiwa menanggung risiko atas ketidakpastian dimasa mendatang.
Asuransi ini memberikan jaminan sejumlah dana untuk keluarga yang ditinggalkan bila pemegang polisnya meninggal dunia. Artinya, kita memindahkan risiko yang dihadapi keluarga di masa mendatang kepada perusahaan asuransi.
Apabila kedua asuransi ini telah dimiliki, selanjutnya kita memerlukan asuransi atas barang yang dimiliki. Misalnya, asuransi rumah bebas dari kebakaran, asuransi mobil atas kehilangan atau kecelakaan bisa dibuat juga termasuk pihak ketiga.
Jika sudah memilikinya, baru dipikirkan asuransi yang sangat spesifik dan ditawarkan kepada publik. Misalnya, asuransi jabatan pekerjaan atau asuransi frofessional indemnity. Asuransi ini dibutuhkan dokter, broker saham, dan MI.
Kedua, mencari asuransi yang diinginkan dan ditawarkan perusahaan asuransi. Perusahaan asuransi banyak menawarkan produknya dan sangat bervariasi antara satu perusahaan dan lainnya. Untuk produk ini, pembeli produk asuransi harus mencermati produk yang ditawarkan tersebut. Bila perlu, pembeli bisa berkonsultasi dengan teman-teman atau ahli asuransi.
Ketika mencermati produk tersebut, pembeli harus memahami bahasa hukum dari brosur produk yang ditawarkan. Premi produk yang sama bisa berbeda untuk masing-masing asuransi.
Ketiga, memperhitungkan kemampuan atas asuransi yang akan dibeli. Bila pembeli ingin hanya asuransi, premi tersebut merupakan sebuah biaya, bukan investasi. Tahun berikutnya pembeli harus membayar premi lagi dan kemungkinan akan ada kenaikan premi dikarenakan adanya inflasi atau biaya yang dikeluarkan perusahaan asuransi. Jangan memaksakan diri kalau tidak mampu untuk asuransi tersebut. Lebih baik menunda dan melaksanaka tahun berikutnya.
Bila pembeli memaksakan diri, pos lain harus dikorbankan supaya dapat membeli produk asuransi. Andai pembeli ingin mempunyai asuransi untuk kerugian dan juga ada investasi, harus dipilih produk seperti UL.
Keempat, mencocokkan produk asuransi dengan kemampuan dana. Ini merupakan proses mengambil keputusan untuk pemilihan produk asuransi yang akan dibeli. Jka produk asuransi yang diinginkan ada beberapa, dan ditawarkan tidak hanya oleh satu perusahaan, itu merupakan informasi yang sangat bagus bagi pembeli karena ada pilihan.
Kelima, membahas isian produk asuransi dari perusahaan asuransi yang sudah terpilih sesuai kemampuan dana. Pembahasan ini sangat penting karena brosur yang diberikan untuk dibaca sering kali diabaikan, dan kita kurang teliti. Semua brosur dan informasi dari agen penjual sebaiknya didiskusikan dengan pihak yang mengerti hukum, supaya pilihan lebih terjamin.
Karena mambutuhkan biaya, pembeli dapat bertanya kepada teman, atau “teman dari teman“ yang memahaminya. Biaya kecil seperti makan siang bolehlah ditanggung untuk menambah luas pengetahuan kita.
Keenam, memilih perusahaan asuransi juga tak kalang penting. Pembeli asuransi harus jelas dan hati-hati supaya tidak salah pilih. Pembeli asuransi harus mengetahui rekam jejak perusahaan. Status kepemilikan perusahaan kadang juga menjadi faktor pemilihan, tetapi bukan faktor utama.
Ada perusahaan asuransi yang masih kecil, tetapi rekam jejaknya sangat dapat dipercaya. Pembeli asuransi bisa bertanya kepada nasabah atau pembeli asuransi dari perusahaan tersebut. Bahkan, bisa bertanya kepada pihak yang sudah pernah dibayarkan asuransinya sesuai perjanjian.
Perusahaan yang besar juga sering kali melakukan ketidakwajaran. Sering kita dengar bahwa perusahaan asuransi sangat getol kala menagih premi, tetapi sangat susah saat pencairan klaim asuransi. Keterlambatan pencairan klaim umumnya karena perusahaan masih melakukan penyilidikan atas suatu kejadian yang menyebabkan timbulnya klaim.
Kepemilikan asing atau lokal juga sering menjadi pilihan. Pemilik asing biasanya lebih berpengalaman dibandingkan dengan lokal. Namun, pembeli bisa menilai sendiri mengenai karakteristik ini. Manajeman yang baik akan selalu memerhatikan nasabahnya. Biasanya perusahaan asuransi melakukan pertemuan dengan nasabahnya untuk berkenalan sehingga produknya banyak dibeli.
Ketujuh, menandatangani perjanjian asuransi. Tahap ini perlu diperhatikan secara saksama apakah isi perjanjian sesuai penawaran dan keinginan kita. Pembeli jangan tergoda dengan kalimat bahwa semua sudah sesuai keinginan Anda. Bila jawabannya merupakan bahan yang baku dari perusahaan, pembeli harus hati-hati dan minta ditunda agar sesuai keinginan pembeli. Apa yang tertulis dalam perjanjian menjadi pegangan masing-masing pihak.
Dalam membeli produk asuransi, pembeli selalu bertemu agen penjual. Jangan tergoda dengan sikap agen yang ingin cepat-cepat pembelian ditutup karena pembeli bisa salah dalam mengambil keputusan.
Pembeli hendaknya tidak memperhatikan secara jelas gelagat sangat berminat terhadap satu produk. Pembeli harus memahami premi asuransi yang dibayarkan, termasuk komisi agen penjual.
Untuk asuransi jiwa dan UL dapat disebutkan bahwa premi yang ditawarkan sampai tahun kelima merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan asuransi. Artinya, pemahaman kondisi ini juga merupakan argumen pembeli untuk melakukan negosiasi atas nilai premi yang dibayar setiap tahunnya atau periode yang ditentukan.
Kehati-hatian sangat diperlukan. Dana pembelian bukan milik orang lain, tetapi milik Anda. Kerugian atau risiko atas kesalahan pembelian asuransi tetap ditanggung pembeli, bukan pihak lain. ( ADLER HAYMANS MANURUNG, praktisi Keuangan)
Kiat Memilih Produk Asuransi secara bijak
1. Memahami diri pemegang atau pembeli asuransi.
Pemegang atau pembeli asuransi harus tahu benar dan jelas mengenai kebutuhan asuransi. Pilih sesuai kebutuhan harus menjadi prioritas.
2. Mencari asuransi yang diinginkan dan ditawarkan perusahaan asuransi
Perusahaan asuransi banyak menawarkan produknya dan sangat bervariasi. Pembeli harus membaca dengan teliti produk asuransi yang ditawarkan tersebut. Bila perlu, pembeli bisa berkonsultasi dengan teman atau ahli asuransi
3. Memperhitungkan kemampuan atas asuransi yang akan dibeli.
Bila pembeli ingin hanya asuransi, premi tersebut merupakan biaya, bukan investasi. Tahun berikutnya pembeli harus membayar premi lagi. Jangan memaksakan diri kalau tidak mampu untuk asuransi tersebut.
4. Mencocokkan produk asuransi dengan kemampuan dana.
Ini merupakan proses mengambil keputusan untuk pemilihan produk asuransi yang akan di beli. Lebih baik bila produk asuransi yang diinginkan ada beberapa, dan ditawarkan oleh beberapa perusahaan, sehingga pembeli memiliki pilihan.
5. Membahas isian produk asuransi dari perusahaan asuransi terpilih sesuai kemampuan dana.
Pembahasan ini penting karena brosur yang diberikan untuk dibaca sering kali diabaikan dan pembeli kurang teliti. Brosur dan informasi agen asuransi sebaiknya didiskusikan dengan pihak yang mengerti hukum supaya pilihan lebih terjamin.
6. Memilih perusahaan asuransi.
Pembeli harus hati-hati agar tidak salah pilih. Pembeli harus mengetahui riwayat perusahaan. Status kepemilikan perusahaan kadang menjadi faktor pemilihan, tetapi bukan faktor utama.
7. Menandatangani Perjanjian asuransi
Tahap ini perlu diperhatikan secara seksama apakah isi perjanjian sesuai dengan keinginan pembeli.
Sumber : Harian KOMPAS, 25 Oktober 2007
Risiko yang dijamin perusahaan asuransi dapat dikelompokkan ke dalam asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Belakangan ada nama asuransi sosial, seperti Jamsostek.
Adapun produk asuransi kerugian, seperti asuransi kerugian rumah, mobil, dan kapal, di kenal sebagai asuransi umum. Sedangkan asuransi yang berhubungan denga jiwa manusia dikenal dengan asuransi jiwa yang menawarkan produk tersebut.
Produk risiko yang ditawarkan perusahaan asuransi jiwa dapat dikelompokkan kedalam tiga kelompok besar, yaitu asuransi jiwa permanen (whole life insurance), asuransi jiwa jangka warsa (term life insurance), dan dwi guna (endowment life insurance). Perusahaan asuransi sangat bervariasi menawarkan produk asuransi jiwa dan asuransi kerugian tersebut. Produk asuransi ini dikenal dikenal dengan produk asuransi tradisional.
Dalam lima tahun terakhir, diperkenalkan produk asuransi modern yang dikenal dengan nama unit link (UL).
Di Amerika serikat produk ini dikenal sebagai variabel life insurance. UL sebenarnya produk investasi yang digabungkan dengan asuransi. Oleh karenanya, aturan mengenai surat berharga (sekuritas) dimasukkan dalam regulasinya. Di Amerika Serikat, produk ini tidak begitu sukses, akan tetapi, Australia, Inggris, Kanada, dan Belanda sangat sukses menawarkan produk ini ke masyarakat.
China juga tidak sukses menjual produk UL. Media massa menyoroti penjualan UL karena dipasarkan tidak sesuai ilustrasi yang dilakukan agen penjualnya.
Produk UL ditawarkan perusahaan asuransi walaupun investasinya dikelola manajer investasi (MI). Perusahaan asuransi melakukan aliansi strategi untuk menawarkan produk UL. Perusahaan asuransi mendapatkan premi asuransi sesuai bisnis usahanya, juga mendapat tambahan fee atas pengelolaan investasi dari MI karena sekaligus sebagai agen penjual.
Tidaklah salah apabila kombinasi ini dilakukan. Agen penjual yang sudah maju dapat melakukan penawaran kepada investor dengan menggabungkan investasi pada reksa dana dan asuransi dari perusahaan asuransi. Lima tahun mendatang, kegiatan ini akan muncul di Indonesia sehingga sangat dibutuhkan pengetahuan protofolio investasi dan asuransi serta negosiasi dengan berbagai pihak.
Cara Memilih
Memilih produk asuransi sering menjadi persoalan dan membingungkan. Ada beberapa tahap yang harus dipenuhi keluarga atau seseorang dalam memilih.
Pertama, memahami diri. Sebagai pemegang atau pembeli asuransi, kita harus tahu benar dan jelas kebutuhan kita. Produk asuransi begitu banyak dan bervariasi. Pemilihan yang sesuai kebutuhan harus menjadi prioritas.
Pada tahap awal, asuransi kesehatan sangat dibutuhkan pihak yang mulai mengumpulkan investasi asuransi. Asuransi kesehatan menanggung biaya pengobatan, termasuk kalau harus rawat inap. Selanjutnya, asuransi jiwa menanggung risiko atas ketidakpastian dimasa mendatang.
Asuransi ini memberikan jaminan sejumlah dana untuk keluarga yang ditinggalkan bila pemegang polisnya meninggal dunia. Artinya, kita memindahkan risiko yang dihadapi keluarga di masa mendatang kepada perusahaan asuransi.
Apabila kedua asuransi ini telah dimiliki, selanjutnya kita memerlukan asuransi atas barang yang dimiliki. Misalnya, asuransi rumah bebas dari kebakaran, asuransi mobil atas kehilangan atau kecelakaan bisa dibuat juga termasuk pihak ketiga.
Jika sudah memilikinya, baru dipikirkan asuransi yang sangat spesifik dan ditawarkan kepada publik. Misalnya, asuransi jabatan pekerjaan atau asuransi frofessional indemnity. Asuransi ini dibutuhkan dokter, broker saham, dan MI.
Kedua, mencari asuransi yang diinginkan dan ditawarkan perusahaan asuransi. Perusahaan asuransi banyak menawarkan produknya dan sangat bervariasi antara satu perusahaan dan lainnya. Untuk produk ini, pembeli produk asuransi harus mencermati produk yang ditawarkan tersebut. Bila perlu, pembeli bisa berkonsultasi dengan teman-teman atau ahli asuransi.
Ketika mencermati produk tersebut, pembeli harus memahami bahasa hukum dari brosur produk yang ditawarkan. Premi produk yang sama bisa berbeda untuk masing-masing asuransi.
Ketiga, memperhitungkan kemampuan atas asuransi yang akan dibeli. Bila pembeli ingin hanya asuransi, premi tersebut merupakan sebuah biaya, bukan investasi. Tahun berikutnya pembeli harus membayar premi lagi dan kemungkinan akan ada kenaikan premi dikarenakan adanya inflasi atau biaya yang dikeluarkan perusahaan asuransi. Jangan memaksakan diri kalau tidak mampu untuk asuransi tersebut. Lebih baik menunda dan melaksanaka tahun berikutnya.
Bila pembeli memaksakan diri, pos lain harus dikorbankan supaya dapat membeli produk asuransi. Andai pembeli ingin mempunyai asuransi untuk kerugian dan juga ada investasi, harus dipilih produk seperti UL.
Keempat, mencocokkan produk asuransi dengan kemampuan dana. Ini merupakan proses mengambil keputusan untuk pemilihan produk asuransi yang akan dibeli. Jka produk asuransi yang diinginkan ada beberapa, dan ditawarkan tidak hanya oleh satu perusahaan, itu merupakan informasi yang sangat bagus bagi pembeli karena ada pilihan.
Kelima, membahas isian produk asuransi dari perusahaan asuransi yang sudah terpilih sesuai kemampuan dana. Pembahasan ini sangat penting karena brosur yang diberikan untuk dibaca sering kali diabaikan, dan kita kurang teliti. Semua brosur dan informasi dari agen penjual sebaiknya didiskusikan dengan pihak yang mengerti hukum, supaya pilihan lebih terjamin.
Karena mambutuhkan biaya, pembeli dapat bertanya kepada teman, atau “teman dari teman“ yang memahaminya. Biaya kecil seperti makan siang bolehlah ditanggung untuk menambah luas pengetahuan kita.
Keenam, memilih perusahaan asuransi juga tak kalang penting. Pembeli asuransi harus jelas dan hati-hati supaya tidak salah pilih. Pembeli asuransi harus mengetahui rekam jejak perusahaan. Status kepemilikan perusahaan kadang juga menjadi faktor pemilihan, tetapi bukan faktor utama.
Ada perusahaan asuransi yang masih kecil, tetapi rekam jejaknya sangat dapat dipercaya. Pembeli asuransi bisa bertanya kepada nasabah atau pembeli asuransi dari perusahaan tersebut. Bahkan, bisa bertanya kepada pihak yang sudah pernah dibayarkan asuransinya sesuai perjanjian.
Perusahaan yang besar juga sering kali melakukan ketidakwajaran. Sering kita dengar bahwa perusahaan asuransi sangat getol kala menagih premi, tetapi sangat susah saat pencairan klaim asuransi. Keterlambatan pencairan klaim umumnya karena perusahaan masih melakukan penyilidikan atas suatu kejadian yang menyebabkan timbulnya klaim.
Kepemilikan asing atau lokal juga sering menjadi pilihan. Pemilik asing biasanya lebih berpengalaman dibandingkan dengan lokal. Namun, pembeli bisa menilai sendiri mengenai karakteristik ini. Manajeman yang baik akan selalu memerhatikan nasabahnya. Biasanya perusahaan asuransi melakukan pertemuan dengan nasabahnya untuk berkenalan sehingga produknya banyak dibeli.
Ketujuh, menandatangani perjanjian asuransi. Tahap ini perlu diperhatikan secara saksama apakah isi perjanjian sesuai penawaran dan keinginan kita. Pembeli jangan tergoda dengan kalimat bahwa semua sudah sesuai keinginan Anda. Bila jawabannya merupakan bahan yang baku dari perusahaan, pembeli harus hati-hati dan minta ditunda agar sesuai keinginan pembeli. Apa yang tertulis dalam perjanjian menjadi pegangan masing-masing pihak.
Dalam membeli produk asuransi, pembeli selalu bertemu agen penjual. Jangan tergoda dengan sikap agen yang ingin cepat-cepat pembelian ditutup karena pembeli bisa salah dalam mengambil keputusan.
Pembeli hendaknya tidak memperhatikan secara jelas gelagat sangat berminat terhadap satu produk. Pembeli harus memahami premi asuransi yang dibayarkan, termasuk komisi agen penjual.
Untuk asuransi jiwa dan UL dapat disebutkan bahwa premi yang ditawarkan sampai tahun kelima merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan asuransi. Artinya, pemahaman kondisi ini juga merupakan argumen pembeli untuk melakukan negosiasi atas nilai premi yang dibayar setiap tahunnya atau periode yang ditentukan.
Kehati-hatian sangat diperlukan. Dana pembelian bukan milik orang lain, tetapi milik Anda. Kerugian atau risiko atas kesalahan pembelian asuransi tetap ditanggung pembeli, bukan pihak lain. ( ADLER HAYMANS MANURUNG, praktisi Keuangan)
Kiat Memilih Produk Asuransi secara bijak
1. Memahami diri pemegang atau pembeli asuransi.
Pemegang atau pembeli asuransi harus tahu benar dan jelas mengenai kebutuhan asuransi. Pilih sesuai kebutuhan harus menjadi prioritas.
2. Mencari asuransi yang diinginkan dan ditawarkan perusahaan asuransi
Perusahaan asuransi banyak menawarkan produknya dan sangat bervariasi. Pembeli harus membaca dengan teliti produk asuransi yang ditawarkan tersebut. Bila perlu, pembeli bisa berkonsultasi dengan teman atau ahli asuransi
3. Memperhitungkan kemampuan atas asuransi yang akan dibeli.
Bila pembeli ingin hanya asuransi, premi tersebut merupakan biaya, bukan investasi. Tahun berikutnya pembeli harus membayar premi lagi. Jangan memaksakan diri kalau tidak mampu untuk asuransi tersebut.
4. Mencocokkan produk asuransi dengan kemampuan dana.
Ini merupakan proses mengambil keputusan untuk pemilihan produk asuransi yang akan di beli. Lebih baik bila produk asuransi yang diinginkan ada beberapa, dan ditawarkan oleh beberapa perusahaan, sehingga pembeli memiliki pilihan.
5. Membahas isian produk asuransi dari perusahaan asuransi terpilih sesuai kemampuan dana.
Pembahasan ini penting karena brosur yang diberikan untuk dibaca sering kali diabaikan dan pembeli kurang teliti. Brosur dan informasi agen asuransi sebaiknya didiskusikan dengan pihak yang mengerti hukum supaya pilihan lebih terjamin.
6. Memilih perusahaan asuransi.
Pembeli harus hati-hati agar tidak salah pilih. Pembeli harus mengetahui riwayat perusahaan. Status kepemilikan perusahaan kadang menjadi faktor pemilihan, tetapi bukan faktor utama.
7. Menandatangani Perjanjian asuransi
Tahap ini perlu diperhatikan secara seksama apakah isi perjanjian sesuai dengan keinginan pembeli.
Bagaimana Cara Membandingkan Produk Asuransi?
Dear Wina,
Gue gak pernah bosan dengerin Financial Clinic di Hard Rock FM. Seru banget dan gue sempet sebel sama lo karena gue kesindir banget dengan cerita-cerita serem lo.
Salah satunya adalah soal asuransi.
Gue banci asuransi. Gue punya 7 produk asuransi kali! Setiap bulan gue bayar hampir Rp 3 juta untuk premi doang. Sementara, emang salah gue juga kali ya, gue gak tau tuh manfaat tiap asuransinya apa...
Jadi gue kesindir banget tuh kalo lo lagi ngomongin asuransi.... bener juga ya, apa sih manfaatnya asuransi yang udah gue beli.
Terus lo selalu bilang harus selektif, harus pilih-pilih, harus dibandingin. Apa yang harus dibandingin? Caranya gimana?
Bales ya Win.. kalo gak sempet tampilin jawabannya deh...
Thanks banget.
Firania@xxx.co.idThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
35 tahun, menikah, 1 anak (umur 3 tahun)
Disclaimer:
Nama, alamat email dan detail email telah dirubah untuk melindungi identitas pengirim email.
Halo Firania,
Salah satu komponen yang sangat penting dalam financial planning adalah : Asuransi. Kenapa? Karena kita tidak bisa mengelak dari resiko dalam hidup. Mulai dari resiko mobil tabrakan, rumah terbakar, sampai kondisi pemberi nafkah keluarga yang tiba-tiba tidak dapat bekerja lagi karena sakit, kecelakaan atau meninggal dunia.
Pertanyaannya apa yang harus diperhatikan dalam membeli asuransi?
Perhatikan :
Uang Pertanggungan = dana yang kita terima apabila terjadi meninggal, kecelakaan karena cacat tetap total dan terkena penyakit kritis.
Premi = biaya yang kita keluarkan untuk memiliki polis asuransi ini
Cara membandingkan bagaimana?
Gampang banget kok... liat offer nya dan tanya sama diri sendiri = TUJUAN LO APA?
Jadi bandingkan : Uang Pertanggungan / Manfaat, Tujuan Finansial dan Premi.
Minta ke agen asuransinya supaya memberikan produk yang nyambung dnegan tujuan finansial kita masing-masing.
Contoh 1 : Produk asuransi A
Tujuan : Menyekolahkan Anak ke Universitas
PRODUK ASURANSI A
Premi/Tahun: 11,651,004
Total Premi Yg Dibayarkan 10 Thn (Rp): 117,400,000
Uang Pertanggungan Jika Meninggal: 200,000,000
Dana Pendidikan Thn Ke-:
6
12
15
18
Yg Diterima (Rp):
10,000,000
15,000,000
20,000,000
40,000,000
Check with yourself! Apa sih artinya Rp200juta uang pertanggungan yang dapat diterima jika pemberi nafkah meninggal dunia pada kehidupan keluarga kita? Jangan keburu senang karena Rp 200 juta itu nilai yang besar kalau gaji kita Rp 1 jutaan, tapi kalau gaji kita Rp 10 jutaan, artinya Rp 200 juta sama dengan 20 bulan gaji kan?
Kalau tujuannya menyekolahkan anak ke universitas, perhatikan dana-dana yang diterima di tahun-tahun masuk sekolah. Berapa sih biaya sekolah yang jadi target kita????? Apakah Rp 10 juta di tahun ke-6 sudah cukup untuk masuk SD? Apakah Rp 40 juta di tahun ke-18 sudah cukup untuk masuk universitas? Jangan lupa ada kenaikan biaya pendidikan sebesar 20% ya.
Terakhir, lihat Preminya, apakah kita mampu membayarkan Rp 11 jutaan per tahun dalam bentuk premi demi menerima manfat uang pertanggungan Rp 200 juta (jika meninggal) dan dana pendidikan tahun ke-6 sebesar Rp 10 juta.
Nah waktu membandingkan produk itu, bandingkan dengan cara di atas. Jadi keliatan mana produk yang UP nya cocok, nyambung dengan tujuan kita dan kita mampu bayarnya alias gak kemahalan.
Bisa liat model term life + beli reksadana, wholelife, endowment sampai unitlink... bandingkan sendiri!!!
Masuk akal kan?
This is a real case.
Dulu, keluarga gue juga beli asuransi yang gak nyambung dengan tujuan finansial kita. Uang Pertanggungan Rp 100 juta (btw ini harga mobil kita waktu itu Rp 98 juta, jadi nilai finansial suami gue beda tipis dengan si mobil culun itu), premi Rp 8 juta / tahun, tahun ke 3 terima Rp 10 juta... masuk universitas terima... Rp50 juta...
Uang Pertanggungan Rp 100 juta itu gak bernilai besar karena saat itu pengeluaran per bulan aja udah 3 -5 jutaan.
Uang sekolah anak gue di tahun ke 3 adalah Rp 15 juta, untuk S1 ke Australia perlu Rp 1M...
Yang paling parah, waktu itu.. gue gak punya Rp 8 juta / tahun untuk bayar preminya, jadi kita beli lewat kartu kredit, dan ngutang ajaaaaaaaaaaaaa.
Sekarang kita ganti asuransinya dengan UP yang setiap 3 tahun diperiksa lagi seiring dengan peningkatan karir & umur suami gue. Gue sendiri belum diasuransikan karena hidup keluarga gue bergantung dari penghasilan suami.
Tapi selain beli asuransi itu, kita portfolio reksadana yang berbeda-beda untuk setiap tujuan finansial, mulai dari dana darurat, dana liburan, dana pendidikan anak, dana pensiun, dana penyakit kritis, dll.
Jadi Ferania... mudah-mudahan polis asuransi yang banyak itu bisa dipilihin mana yang harus ditutup, mana yang harus ditingkatkan, mana yang harus dipertahankan sesuai dengan kebutuhan lo.... jangan takut untuk mengambil keputusan, yang penting Ferania tau konsekwensi dari keputusan yang diambil. Jangan juga semua ditutup sebelum ada pengganti yang lebih baik. Jangan sampai ada periode tidak terasuransikan...
Btw, kejadian produk asuransi yang gak nyambung itu terjadi tahun 2002 waktu anak pertama gue lahir, sampai 2005... gue baru berani tutup asuransinya setelah 3 tahun kehilangan Rp 24 juta, tidak ada nilai tunai. Gak marah sih sama agennya, karena kejadiannya betul-betul akibat gue sendiri yang gak ngerti apa yang gue mau...
As simple as... TUJUAN LO APA????
Finance Should Be Practical!
Ligwina Hananto
Gue gak pernah bosan dengerin Financial Clinic di Hard Rock FM. Seru banget dan gue sempet sebel sama lo karena gue kesindir banget dengan cerita-cerita serem lo.
Salah satunya adalah soal asuransi.
Gue banci asuransi. Gue punya 7 produk asuransi kali! Setiap bulan gue bayar hampir Rp 3 juta untuk premi doang. Sementara, emang salah gue juga kali ya, gue gak tau tuh manfaat tiap asuransinya apa...
Jadi gue kesindir banget tuh kalo lo lagi ngomongin asuransi.... bener juga ya, apa sih manfaatnya asuransi yang udah gue beli.
Terus lo selalu bilang harus selektif, harus pilih-pilih, harus dibandingin. Apa yang harus dibandingin? Caranya gimana?
Bales ya Win.. kalo gak sempet tampilin jawabannya deh...
Thanks banget.
Firania@xxx.co.idThis e-mail address is being protected from spam bots, you need JavaScript enabled to view it
35 tahun, menikah, 1 anak (umur 3 tahun)
Disclaimer:
Nama, alamat email dan detail email telah dirubah untuk melindungi identitas pengirim email.
Halo Firania,
Salah satu komponen yang sangat penting dalam financial planning adalah : Asuransi. Kenapa? Karena kita tidak bisa mengelak dari resiko dalam hidup. Mulai dari resiko mobil tabrakan, rumah terbakar, sampai kondisi pemberi nafkah keluarga yang tiba-tiba tidak dapat bekerja lagi karena sakit, kecelakaan atau meninggal dunia.
Pertanyaannya apa yang harus diperhatikan dalam membeli asuransi?
Perhatikan :
Uang Pertanggungan = dana yang kita terima apabila terjadi meninggal, kecelakaan karena cacat tetap total dan terkena penyakit kritis.
Premi = biaya yang kita keluarkan untuk memiliki polis asuransi ini
Cara membandingkan bagaimana?
Gampang banget kok... liat offer nya dan tanya sama diri sendiri = TUJUAN LO APA?
Jadi bandingkan : Uang Pertanggungan / Manfaat, Tujuan Finansial dan Premi.
Minta ke agen asuransinya supaya memberikan produk yang nyambung dnegan tujuan finansial kita masing-masing.
Contoh 1 : Produk asuransi A
Tujuan : Menyekolahkan Anak ke Universitas
PRODUK ASURANSI A
Premi/Tahun: 11,651,004
Total Premi Yg Dibayarkan 10 Thn (Rp): 117,400,000
Uang Pertanggungan Jika Meninggal: 200,000,000
Dana Pendidikan Thn Ke-:
6
12
15
18
Yg Diterima (Rp):
10,000,000
15,000,000
20,000,000
40,000,000
Check with yourself! Apa sih artinya Rp200juta uang pertanggungan yang dapat diterima jika pemberi nafkah meninggal dunia pada kehidupan keluarga kita? Jangan keburu senang karena Rp 200 juta itu nilai yang besar kalau gaji kita Rp 1 jutaan, tapi kalau gaji kita Rp 10 jutaan, artinya Rp 200 juta sama dengan 20 bulan gaji kan?
Kalau tujuannya menyekolahkan anak ke universitas, perhatikan dana-dana yang diterima di tahun-tahun masuk sekolah. Berapa sih biaya sekolah yang jadi target kita????? Apakah Rp 10 juta di tahun ke-6 sudah cukup untuk masuk SD? Apakah Rp 40 juta di tahun ke-18 sudah cukup untuk masuk universitas? Jangan lupa ada kenaikan biaya pendidikan sebesar 20% ya.
Terakhir, lihat Preminya, apakah kita mampu membayarkan Rp 11 jutaan per tahun dalam bentuk premi demi menerima manfat uang pertanggungan Rp 200 juta (jika meninggal) dan dana pendidikan tahun ke-6 sebesar Rp 10 juta.
Nah waktu membandingkan produk itu, bandingkan dengan cara di atas. Jadi keliatan mana produk yang UP nya cocok, nyambung dengan tujuan kita dan kita mampu bayarnya alias gak kemahalan.
Bisa liat model term life + beli reksadana, wholelife, endowment sampai unitlink... bandingkan sendiri!!!
Masuk akal kan?
This is a real case.
Dulu, keluarga gue juga beli asuransi yang gak nyambung dengan tujuan finansial kita. Uang Pertanggungan Rp 100 juta (btw ini harga mobil kita waktu itu Rp 98 juta, jadi nilai finansial suami gue beda tipis dengan si mobil culun itu), premi Rp 8 juta / tahun, tahun ke 3 terima Rp 10 juta... masuk universitas terima... Rp50 juta...
Uang Pertanggungan Rp 100 juta itu gak bernilai besar karena saat itu pengeluaran per bulan aja udah 3 -5 jutaan.
Uang sekolah anak gue di tahun ke 3 adalah Rp 15 juta, untuk S1 ke Australia perlu Rp 1M...
Yang paling parah, waktu itu.. gue gak punya Rp 8 juta / tahun untuk bayar preminya, jadi kita beli lewat kartu kredit, dan ngutang ajaaaaaaaaaaaaa.
Sekarang kita ganti asuransinya dengan UP yang setiap 3 tahun diperiksa lagi seiring dengan peningkatan karir & umur suami gue. Gue sendiri belum diasuransikan karena hidup keluarga gue bergantung dari penghasilan suami.
Tapi selain beli asuransi itu, kita portfolio reksadana yang berbeda-beda untuk setiap tujuan finansial, mulai dari dana darurat, dana liburan, dana pendidikan anak, dana pensiun, dana penyakit kritis, dll.
Jadi Ferania... mudah-mudahan polis asuransi yang banyak itu bisa dipilihin mana yang harus ditutup, mana yang harus ditingkatkan, mana yang harus dipertahankan sesuai dengan kebutuhan lo.... jangan takut untuk mengambil keputusan, yang penting Ferania tau konsekwensi dari keputusan yang diambil. Jangan juga semua ditutup sebelum ada pengganti yang lebih baik. Jangan sampai ada periode tidak terasuransikan...
Btw, kejadian produk asuransi yang gak nyambung itu terjadi tahun 2002 waktu anak pertama gue lahir, sampai 2005... gue baru berani tutup asuransinya setelah 3 tahun kehilangan Rp 24 juta, tidak ada nilai tunai. Gak marah sih sama agennya, karena kejadiannya betul-betul akibat gue sendiri yang gak ngerti apa yang gue mau...
As simple as... TUJUAN LO APA????
Finance Should Be Practical!
Ligwina Hananto
Tips Membeli Asuransi Jiwa
Oleh Priyadi Iman Nurcahyo
Tulisan saya tentang asuransi unit-link vs reksadana membahas untung rugi reksadana jika dibandingkan dengan asuransi unit-link terutama dari sudut pandang investasi. Setelah menulis itu, saya mendapat beberapa pertanyaan melalui kotak komentar maupun email yang kurang lebih menanyakan, “Jika unit-link seperti yang saya sebutkan, bagaimana seharusnya cara terbaik untuk mengambil asuransi jiwa?”
Asuransi jiwa berfungsi sebagai perlindungan jika tertanggung meninggal dunia. Sebagai contoh, jika saya adalah tertanggung dari sebuah produk asuransi jiwa dan besok meninggal dunia, maka perusahaan asuransi akan memberikan uang pertanggungan kepada orang-orang yang saya tinggalkan.
Tujuan mengambil asuransi jiwa adalah untuk menutupi potensi kehilangan pendapatan. Jika saya sebagai tulang punggung keluarga meninggal dunia, keluarga yang saya tinggalkan akan kehilangan sumber pendapatan. Jika saya mengikuti program asuransi jiwa, maka keluarga yang saya tinggalkan akan mendapatkan uang pertanggungan yang dapat digunakan sebagai pengganti pendapatan yang hilang, paling tidak untuk sementara.
Sebenarnya kaidah memilih produk asuransi jiwa tidak jauh berbeda dengan memilih produk lain:
* Tidak membeli asuransi jiwa jika tidak diperlukan; dan
* Jika membutuhkan asuransi jiwa, membeli asuransi jiwa yang memberikan perlindungan yang mencukupi.
Dari survey singkat saya ke beberapa teman dan anggota keluarga, bisa dibilang tidak ada satupun di antara mereka yang mengambil asuransi jiwa sesuai dengan kaidah di atas. Kebanyakan membeli asuransi jiwa saat tidak dibutuhkan, dan tidak mengambil asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang mencukupi jika dibutuhkan.
Tidak membeli asuransi jiwa jika tidak diperlukan
Faktor-faktor utama membeli asuransi jiwa adalah tanggungan dan kewajiban (misalnya hutang). Jika seseorang tidak memiliki keduanya maka yang bersangkutan tidak membutuhkan asuransi jiwa.
Anak kecil (atau bahkan bayi yang baru lahir) tidak memerlukan perlindungan asuransi jiwa karena belum memiliki tanggungan. Jika si anak meninggal dunia, keluarga akan bersedih, tetapi tidak akan berpengaruh buruk pada kondisi keuangan keluarga. Sebaliknya, keuangan keluarga justru akan membaik karena jumlah tanggungan berkurang. Membelikan si anak asuransi jiwa pada tahap ini hanya akan memberikan uang gratis kepada perusahaan asuransi.
Orang yang sudah memiliki penghasilan pun bisa jadi tidak memerlukan asuransi jiwa jika yang bersangkutan belum memiliki tanggungan dan tidak memiliki kewajiban. Orang tanpa tanggungan dan tidak memiliki kewajiban kepada pihak ketiga tidak memerlukan perlindungan asuransi jiwa karena jika yang bersangkutan meninggal dunia, tidak ada yang merasa kehilangan penghasilan.
Jika orang tersebut di atas mengambil kredit –terutama kredit konsumtif– maka kini yang bersangkutan sudah memiliki kewajiban. Dengan demikian sudah waktunya yang bersangkutan mengambil asuransi jiwa (jika kredit tersebut tidak dilengkapi dengan asuransi kredit). Jika tidak, maka dia berpotensi untuk memberatkan kerabat-kerabatnya jika sesuatu yang buruk menimpanya.
Orang tua yang semua anaknya sudah mandiri dan tidak lagi memiliki kewajiban kepada pihak lain juga tidak memerlukan asuransi jiwa. Jika yang bersangkutan meninggal dunia, anak-anaknya akan berduka, tetapi tidak akan ada yang merasa dirugikan secara finansial. Selain itu, jika orang tua tersebut mengelola dananya dengan benar, maka seharusnya yang bersangkutan sudah memiliki simpanan atau hasil investasi yang nilainya jauh lebih besar daripada uang pertanggungan asuransi jiwa.
Jika orang tua ini sudah memiliki cukup banyak simpanan, dia bisa saja membatalkan asuransi jiwanya sebelum waktunya jika dirasakan nilai pertanggungan asuransi tersebut tidak sebanding dengan jumlah simpanannya. Jika dia meninggal dunia sebelum anak-anaknya mandiri, anak-anaknya tersebut tetap akan mendapatkan warisan dalam bentuk simpanan tersebut.
Jika sudah tidak memiliki tanggungan dan tidak lagi dalam usia produktif, yang dibutuhkan orang berusia lanjut bukanlah asuransi jiwa, melainkan dana cair dalam jumlah besar. Lebih lanjut lagi, dalam kondisi seperti ini dibutuhkan produk yang benar-benar merupakan kebalikan dari asuransi jiwa, yaitu anuitas. Jika asuransi jiwa memberi perlindungan jika tertanggung meninggal terlalu cepat, anuitas berfungsi untuk memberi perlindungan jika tertanggung hidup terlalu lama. Membayar premi asuransi jiwa pada saat ini bisa jadi merupakan ‘bencana finansial’ karena yang dibutuhkan justru produk yang merupakan kebalikan dari asuransi jiwa.
Membeli asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang mencukupi
Kebutuhan jumlah pertanggungan asuransi jiwa untuk setiap orang berbeda-beda, bergantung pada jumlah tanggungan dan kewajiban. Pada dasarnya uang pertanggunan asuransi jiwa haruslah mencukupi untuk membayar lunas hutang-hutang, memenuhi biaya pendidikan anak-anak tertanggung sampai mandiri, serta untuk mempertahankan gaya hidup keluarga yang ditinggalkan, setidaknya untuk beberapa waktu.
Kesalahan sebagian besar konsumen asuransi jiwa adalah mempercayai begitu saja proposal agen asuransi yang biasanya menawarkan produk yang tidak cocok dan nilai pertanggungannya tidak mencukupi. Berdasarkan pengamatan saya, jarang ada orang dengan tingkat perekonomian menengah kota besar yang mengambil asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan di atas Rp 100 juta. Padahal mungkin pendapatan per tahunnya saja lebih daripada itu.
Ada keluarga dengan dua anak dengan hutang KPR bernilai ratusan juta rupiah tetapi mengambil asuransi jiwa yang nilainya hanya Rp 30 juta. Dalam kasus ini, asuransi jiwa tersebut tidak akan cukup menolong jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kepala keluarga. Untuk menebus hutang rumah saja tidak cukup, apalagi untuk biaya pendidikan anak-anak sampai mandiri.
Memilih produk asuransi yang tepat
Seperti yang bisa diduga, produk asuransi yang paling tepat bukanlah unit link atau asuransi lain yang memiliki nilai investasi. Dengan unit link, nasabah mendapatkan perlindungan seumur hidup walaupun tentunya hampir setiap orang tidak membutuhkan perlindungan asuransi jiwa sepanjang hidupnya. Pada unit link, nasabah harus tetap membayar premi asuransi jiwa bahkan pada saat yang bersangkutan sama sekali tidak memerlukannya.
Alasan kedua sama dengan alasan pada tulisan saya yang sebelumnya. Biaya administrasi dan komisi agen pada unit link terlalu besar. Pada tahun-tahun pertama mengikuti unit link, dana nasabah praktis habis hanya untuk membayar komisi agen. Selain itu, terdapat biaya-biaya administrasi lainnya yang tidak kalah besarnya, dan biasanya calon nasabah tidak menyadarinya pada saat pertama kali mengikuti asuransi unit link.
Jadi produk asuransi jiwa mana yang tepat? Produk yang paling tepat adalah asuransi term life. Asuransi term life adalah produk asuransi murni tanpa embel-embel investasi. Jika tertanggung meninggal pada masa tanggungan, maka yang ditinggalkan akan mendapatkan uang pertanggungan. Jika tertanggung masih hidup pada akhir masa pertanggungan, maka uang premi tidak akan kembali.
Ciri-ciri asuransi term life adalah sebagai berikut:
* Tidak ada elemen investasi atau bagi hasil (kecuali barangkali pada asuransi syariah)
* Panjang masa pertanggungan relatif pendek dan tidak seumur hidup. Biasanya dijual dalam satuan 1, 3, 5 atau 10 tahun.
* Pada akhir masa pertanggungan, nasabah memiliki opsi untuk memperpanjang kontrak dengan besar premi bertambah sesuai dengan ketentuan yang tertera pada polis.
* Harga premi relatif murah. Pasaran saat ini untuk umur sekitar 30 tahun dan tidak merokok adalah sekitar Rp 300 ribu/tahun untuk uang pertanggungan Rp 100 juta.
* Hampir tidak pernah ditawarkan agen asuransi karena komisi yang mereka dapatkan jauh lebih kecil daripada jika mereka menjual produk unit link. Nasabah harus memintanya secara spesifik atau bahkan mendatangi sendiri kantor perusahaan asuransi.
Memadukan asuransi jiwa dengan instrumen investasi
Dibandingkan dengan unit link, harga premi asuransi term life jauh lebih murah, bisa sampai 1/5-nya atau lebih jauh lagi. Tetapi bukan berarti kewajiban nasabah berkurang. Asuransi term life tidak memiliki porsi investasi, dan dengan demikian kewajiban berinvestasi kini berada di tangan nasabah, bukan di tangan perusahaan asuransi. Selisih harga yang jauh tersebut harus dimanfaatkan nasabah untuk berinvestasi karena pada suatu saat harga premi term life akan menjadi terlampau mahal. Cara yang paling mudah untuk berinvestasi adalah dengan menggunakan instrumen yang sama yang digunakan oleh asuransi unit-link, yaitu reksadana. Metoda mengelola dana keluarga seperti ini dinamakan Buy term and invest the difference.
Sepintas tidak ada bedanya mengambil unit link atau menggunakan metoda ini, tetapi kalau kita perhatikan secara lebih teliti ada banyak kelebihannya:
* Tidak perlu mengambil asuransi jiwa pada saat tidak diperlukan.
* Tidak perlu membayar biaya komisi agen dan biaya administrasi lainnya yang biasanya terlampau mahal.
* Bisa bebas memilih instrumen investasi di luar dari yang disediakan oleh unit link.
Dengan menggunakan metoda ‘Buy term and invest the difference’, hasil akhir yang diterima nasabah akan menjadi lebih maksimal. Walaupun demikian, dibutuhkan tingkat disiplin yang lebih tinggi dari diri nasabah untuk menyisihkan sebagian penghasilannya ke dalam porsi investasi secara konsisten.
Beberapa kesalahan pengertian yang sering terjadi
“Asuransi term life bukan ide bagus karena dana yang kita setorkan hangus. Sedangkan pada unit link kita bisa mendapatkan kembali dana yang kita bayarkan secara utuh.”
Sebenarnya pada unit link dana tersebut juga hangus, tetapi tidak terlalu terasa oleh nasabah karena ada pendapatan dari porsi investasi. Nasabah merasa dana yang dia setorkan bertambah jumlahnya dan dia tetap mendapatkan manfaat asuransi. Tentunya ini adalah salah kaprah, karena yang bertambah jumlahnya adalah porsi investasinya, sedangkan porsi asuransinya tetap ‘hangus’.
Nasabah yang menganut metoda ‘buy term and invest the difference’ juga bisa merasakan pembayaran premi tidak hangus jika yang bersangkutan melihat setoran premi asuransi dan investasi sebagai suatu kesatuan yang tidak terpisahkan.
“Pada unit link bisa putus membayar premi setelah misalnya 10 tahun pertama, di term life tidak bisa.”
Pertama-tama, term life tidak didesain untuk diambil seumur hidup seperti halnya asuransi unit link. Setelah nasabah memiliki simpanan yang cukup, semua hutang sudah lunas dan tidak ada lagi tanggungan, maka tidak ada lagi gunanya mengambil asuransi jiwa.
Kedua, di unit link disediakan fasilitas putus membayar premi, tetapi premi tetap dibayarkan nasabah dengan mengambil dana yang ada pada porsi investasi, terkadang tanpa sepengetahuan nasabah. Nasabah yang menganut metoda ‘buy term and invest the difference’ juga dapat menikmati ‘fasilitas’ ini, yaitu dengan cara menyisihkan sebagian dari hasil investasi untuk keperluan membayar premi term life. Jika porsi premi asuransi dan investasi dilihat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah, maka terkesan nasabah tidak lagi membayar premi.
“Pada unit link, juga bisa dilakukan penambahan dan pengurangan uang pertanggungan kapan saja.”
Memang bisa, tetapi porsi asuransi jiwa tidak dapat sepenuhnya dieliminasi. Selain itu, jika tertanggung mengambil asuransi sampingan (rider) dengan tingkatan tertentu, bisa jadi tertanggung terpaksa mengambil uang pertanggungan yang tinggi. Beberapa asuransi sampingan (rider) pada unit link mensyaratkan tertanggung untuk mengambil asuransi jiwa dengan uang pertanggungan minimal tertentu.
“Saya membeli unit link atau asuransi whole life dengan tujuan utama untuk berinvestasi, bukan untuk mendapatkan manfaat asuransi jiwa.”
Ini adalah salah kaprah yang sangat meluas. Karena unit link memiliki komponen asuransi jiwa, maka tidak ada alasan untuk membeli unit link dengan tujuan berinvestasi. Dengan cara ini nasabah hanya akan memberi uang dengan gratis kepada perusahaan asuransi jiwa tanpa mendapatkan manfaat yang sepadan.
Unit link terdiri dari dua komponen: asuransi jiwa dan reksadana. Jika tujuannya ingin berinvestasi tanpa membeli asuransi jiwa, maka reksadana adalah jawaban yang tepat. Jika yang diinginkan adalah jaminan hasil investasi, juga tersedia instrumen investasi yang terjamin, misalnya deposito.
“Bagaimana jika saya mengambil asuransi term life, dan kemudian jatuh sakit satu hari sebelum masa berlaku asuransi tersebut habis? Perusahaan asuransi tentunya tidak akan mau memperpanjang polis tersebut.”
Pada asuransi jiwa term life, nasabah memiliki opsi untuk memperpanjang asuransi sesuai dengan harga yang telah ditetapkan sebelumnya. Perpanjangan ini bisa dilakukan tanpa syarat apapun dan tanpa perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan. Jika nasabah menginginkan perpanjangan, perusahaan asuransi tidak memiliki hak untuk menolaknya karena ini sudah termasuk dalam kontrak yang tertera di dalam polis.
Walaupun semua polis asuransi term life yang pernah saya lihat memiliki klausul seperti ini, ada baiknya calon pemegang polis memastikan keberadaan pasal yang sangat penting ini sebelum membelinya.
Tulisan saya tentang asuransi unit-link vs reksadana membahas untung rugi reksadana jika dibandingkan dengan asuransi unit-link terutama dari sudut pandang investasi. Setelah menulis itu, saya mendapat beberapa pertanyaan melalui kotak komentar maupun email yang kurang lebih menanyakan, “Jika unit-link seperti yang saya sebutkan, bagaimana seharusnya cara terbaik untuk mengambil asuransi jiwa?”
Asuransi jiwa berfungsi sebagai perlindungan jika tertanggung meninggal dunia. Sebagai contoh, jika saya adalah tertanggung dari sebuah produk asuransi jiwa dan besok meninggal dunia, maka perusahaan asuransi akan memberikan uang pertanggungan kepada orang-orang yang saya tinggalkan.
Tujuan mengambil asuransi jiwa adalah untuk menutupi potensi kehilangan pendapatan. Jika saya sebagai tulang punggung keluarga meninggal dunia, keluarga yang saya tinggalkan akan kehilangan sumber pendapatan. Jika saya mengikuti program asuransi jiwa, maka keluarga yang saya tinggalkan akan mendapatkan uang pertanggungan yang dapat digunakan sebagai pengganti pendapatan yang hilang, paling tidak untuk sementara.
Sebenarnya kaidah memilih produk asuransi jiwa tidak jauh berbeda dengan memilih produk lain:
* Tidak membeli asuransi jiwa jika tidak diperlukan; dan
* Jika membutuhkan asuransi jiwa, membeli asuransi jiwa yang memberikan perlindungan yang mencukupi.
Dari survey singkat saya ke beberapa teman dan anggota keluarga, bisa dibilang tidak ada satupun di antara mereka yang mengambil asuransi jiwa sesuai dengan kaidah di atas. Kebanyakan membeli asuransi jiwa saat tidak dibutuhkan, dan tidak mengambil asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang mencukupi jika dibutuhkan.
Tidak membeli asuransi jiwa jika tidak diperlukan
Faktor-faktor utama membeli asuransi jiwa adalah tanggungan dan kewajiban (misalnya hutang). Jika seseorang tidak memiliki keduanya maka yang bersangkutan tidak membutuhkan asuransi jiwa.
Anak kecil (atau bahkan bayi yang baru lahir) tidak memerlukan perlindungan asuransi jiwa karena belum memiliki tanggungan. Jika si anak meninggal dunia, keluarga akan bersedih, tetapi tidak akan berpengaruh buruk pada kondisi keuangan keluarga. Sebaliknya, keuangan keluarga justru akan membaik karena jumlah tanggungan berkurang. Membelikan si anak asuransi jiwa pada tahap ini hanya akan memberikan uang gratis kepada perusahaan asuransi.
Orang yang sudah memiliki penghasilan pun bisa jadi tidak memerlukan asuransi jiwa jika yang bersangkutan belum memiliki tanggungan dan tidak memiliki kewajiban. Orang tanpa tanggungan dan tidak memiliki kewajiban kepada pihak ketiga tidak memerlukan perlindungan asuransi jiwa karena jika yang bersangkutan meninggal dunia, tidak ada yang merasa kehilangan penghasilan.
Jika orang tersebut di atas mengambil kredit –terutama kredit konsumtif– maka kini yang bersangkutan sudah memiliki kewajiban. Dengan demikian sudah waktunya yang bersangkutan mengambil asuransi jiwa (jika kredit tersebut tidak dilengkapi dengan asuransi kredit). Jika tidak, maka dia berpotensi untuk memberatkan kerabat-kerabatnya jika sesuatu yang buruk menimpanya.
Orang tua yang semua anaknya sudah mandiri dan tidak lagi memiliki kewajiban kepada pihak lain juga tidak memerlukan asuransi jiwa. Jika yang bersangkutan meninggal dunia, anak-anaknya akan berduka, tetapi tidak akan ada yang merasa dirugikan secara finansial. Selain itu, jika orang tua tersebut mengelola dananya dengan benar, maka seharusnya yang bersangkutan sudah memiliki simpanan atau hasil investasi yang nilainya jauh lebih besar daripada uang pertanggungan asuransi jiwa.
Jika orang tua ini sudah memiliki cukup banyak simpanan, dia bisa saja membatalkan asuransi jiwanya sebelum waktunya jika dirasakan nilai pertanggungan asuransi tersebut tidak sebanding dengan jumlah simpanannya. Jika dia meninggal dunia sebelum anak-anaknya mandiri, anak-anaknya tersebut tetap akan mendapatkan warisan dalam bentuk simpanan tersebut.
Jika sudah tidak memiliki tanggungan dan tidak lagi dalam usia produktif, yang dibutuhkan orang berusia lanjut bukanlah asuransi jiwa, melainkan dana cair dalam jumlah besar. Lebih lanjut lagi, dalam kondisi seperti ini dibutuhkan produk yang benar-benar merupakan kebalikan dari asuransi jiwa, yaitu anuitas. Jika asuransi jiwa memberi perlindungan jika tertanggung meninggal terlalu cepat, anuitas berfungsi untuk memberi perlindungan jika tertanggung hidup terlalu lama. Membayar premi asuransi jiwa pada saat ini bisa jadi merupakan ‘bencana finansial’ karena yang dibutuhkan justru produk yang merupakan kebalikan dari asuransi jiwa.
Membeli asuransi jiwa dengan uang pertanggungan yang mencukupi
Kebutuhan jumlah pertanggungan asuransi jiwa untuk setiap orang berbeda-beda, bergantung pada jumlah tanggungan dan kewajiban. Pada dasarnya uang pertanggunan asuransi jiwa haruslah mencukupi untuk membayar lunas hutang-hutang, memenuhi biaya pendidikan anak-anak tertanggung sampai mandiri, serta untuk mempertahankan gaya hidup keluarga yang ditinggalkan, setidaknya untuk beberapa waktu.
Kesalahan sebagian besar konsumen asuransi jiwa adalah mempercayai begitu saja proposal agen asuransi yang biasanya menawarkan produk yang tidak cocok dan nilai pertanggungannya tidak mencukupi. Berdasarkan pengamatan saya, jarang ada orang dengan tingkat perekonomian menengah kota besar yang mengambil asuransi jiwa dengan nilai pertanggungan di atas Rp 100 juta. Padahal mungkin pendapatan per tahunnya saja lebih daripada itu.
Ada keluarga dengan dua anak dengan hutang KPR bernilai ratusan juta rupiah tetapi mengambil asuransi jiwa yang nilainya hanya Rp 30 juta. Dalam kasus ini, asuransi jiwa tersebut tidak akan cukup menolong jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada kepala keluarga. Untuk menebus hutang rumah saja tidak cukup, apalagi untuk biaya pendidikan anak-anak sampai mandiri.
Memilih produk asuransi yang tepat
Seperti yang bisa diduga, produk asuransi yang paling tepat bukanlah unit link atau asuransi lain yang memiliki nilai investasi. Dengan unit link, nasabah mendapatkan perlindungan seumur hidup walaupun tentunya hampir setiap orang tidak membutuhkan perlindungan asuransi jiwa sepanjang hidupnya. Pada unit link, nasabah harus tetap membayar premi asuransi jiwa bahkan pada saat yang bersangkutan sama sekali tidak memerlukannya.
Alasan kedua sama dengan alasan pada tulisan saya yang sebelumnya. Biaya administrasi dan komisi agen pada unit link terlalu besar. Pada tahun-tahun pertama mengikuti unit link, dana nasabah praktis habis hanya untuk membayar komisi agen. Selain itu, terdapat biaya-biaya administrasi lainnya yang tidak kalah besarnya, dan biasanya calon nasabah tidak menyadarinya pada saat pertama kali mengikuti asuransi unit link.
Jadi produk asuransi jiwa mana yang tepat? Produk yang paling tepat adalah asuransi term life. Asuransi term life adalah produk asuransi murni tanpa embel-embel investasi. Jika tertanggung meninggal pada masa tanggungan, maka yang ditinggalkan akan mendapatkan uang pertanggungan. Jika tertanggung masih hidup pada akhir masa pertanggungan, maka uang premi tidak akan kembali.
Ciri-ciri asuransi term life adalah sebagai berikut:
* Tidak ada elemen investasi atau bagi hasil (kecuali barangkali pada asuransi syariah)
* Panjang masa pertanggungan relatif pendek dan tidak seumur hidup. Biasanya dijual dalam satuan 1, 3, 5 atau 10 tahun.
* Pada akhir masa pertanggungan, nasabah memiliki opsi untuk memperpanjang kontrak dengan besar premi bertambah sesuai dengan ketentuan yang tertera pada polis.
* Harga premi relatif murah. Pasaran saat ini untuk umur sekitar 30 tahun dan tidak merokok adalah sekitar Rp 300 ribu/tahun untuk uang pertanggungan Rp 100 juta.
* Hampir tidak pernah ditawarkan agen asuransi karena komisi yang mereka dapatkan jauh lebih kecil daripada jika mereka menjual produk unit link. Nasabah harus memintanya secara spesifik atau bahkan mendatangi sendiri kantor perusahaan asuransi.
Memadukan asuransi jiwa dengan instrumen investasi
Dibandingkan dengan unit link, harga premi asuransi term life jauh lebih murah, bisa sampai 1/5-nya atau lebih jauh lagi. Tetapi bukan berarti kewajiban nasabah berkurang. Asuransi term life tidak memiliki porsi investasi, dan dengan demikian kewajiban berinvestasi kini berada di tangan nasabah, bukan di tangan perusahaan asuransi. Selisih harga yang jauh tersebut harus dimanfaatkan nasabah untuk berinvestasi karena pada suatu saat harga premi term life akan menjadi terlampau mahal. Cara yang paling mudah untuk berinvestasi adalah dengan menggunakan instrumen yang sama yang digunakan oleh asuransi unit-link, yaitu reksadana. Metoda mengelola dana keluarga seperti ini dinamakan Buy term and invest the difference.
Sepintas tidak ada bedanya mengambil unit link atau menggunakan metoda ini, tetapi kalau kita perhatikan secara lebih teliti ada banyak kelebihannya:
* Tidak perlu mengambil asuransi jiwa pada saat tidak diperlukan.
* Tidak perlu membayar biaya komisi agen dan biaya administrasi lainnya yang biasanya terlampau mahal.
* Bisa bebas memilih instrumen investasi di luar dari yang disediakan oleh unit link.
Dengan menggunakan metoda ‘Buy term and invest the difference’, hasil akhir yang diterima nasabah akan menjadi lebih maksimal. Walaupun demikian, dibutuhkan tingkat disiplin yang lebih tinggi dari diri nasabah untuk menyisihkan sebagian penghasilannya ke dalam porsi investasi secara konsisten.
Beberapa kesalahan pengertian yang sering terjadi
“Asuransi term life bukan ide bagus karena dana yang kita setorkan hangus. Sedangkan pada unit link kita bisa mendapatkan kembali dana yang kita bayarkan secara utuh.”
Sebenarnya pada unit link dana tersebut juga hangus, tetapi tidak terlalu terasa oleh nasabah karena ada pendapatan dari porsi investasi. Nasabah merasa dana yang dia setorkan bertambah jumlahnya dan dia tetap mendapatkan manfaat asuransi. Tentunya ini adalah salah kaprah, karena yang bertambah jumlahnya adalah porsi investasinya, sedangkan porsi asuransinya tetap ‘hangus’.
Nasabah yang menganut metoda ‘buy term and invest the difference’ juga bisa merasakan pembayaran premi tidak hangus jika yang bersangkutan melihat setoran premi asuransi dan investasi sebagai suatu kesatuan yang tidak terpisahkan.
“Pada unit link bisa putus membayar premi setelah misalnya 10 tahun pertama, di term life tidak bisa.”
Pertama-tama, term life tidak didesain untuk diambil seumur hidup seperti halnya asuransi unit link. Setelah nasabah memiliki simpanan yang cukup, semua hutang sudah lunas dan tidak ada lagi tanggungan, maka tidak ada lagi gunanya mengambil asuransi jiwa.
Kedua, di unit link disediakan fasilitas putus membayar premi, tetapi premi tetap dibayarkan nasabah dengan mengambil dana yang ada pada porsi investasi, terkadang tanpa sepengetahuan nasabah. Nasabah yang menganut metoda ‘buy term and invest the difference’ juga dapat menikmati ‘fasilitas’ ini, yaitu dengan cara menyisihkan sebagian dari hasil investasi untuk keperluan membayar premi term life. Jika porsi premi asuransi dan investasi dilihat sebagai satu kesatuan yang tidak terpisah, maka terkesan nasabah tidak lagi membayar premi.
“Pada unit link, juga bisa dilakukan penambahan dan pengurangan uang pertanggungan kapan saja.”
Memang bisa, tetapi porsi asuransi jiwa tidak dapat sepenuhnya dieliminasi. Selain itu, jika tertanggung mengambil asuransi sampingan (rider) dengan tingkatan tertentu, bisa jadi tertanggung terpaksa mengambil uang pertanggungan yang tinggi. Beberapa asuransi sampingan (rider) pada unit link mensyaratkan tertanggung untuk mengambil asuransi jiwa dengan uang pertanggungan minimal tertentu.
“Saya membeli unit link atau asuransi whole life dengan tujuan utama untuk berinvestasi, bukan untuk mendapatkan manfaat asuransi jiwa.”
Ini adalah salah kaprah yang sangat meluas. Karena unit link memiliki komponen asuransi jiwa, maka tidak ada alasan untuk membeli unit link dengan tujuan berinvestasi. Dengan cara ini nasabah hanya akan memberi uang dengan gratis kepada perusahaan asuransi jiwa tanpa mendapatkan manfaat yang sepadan.
Unit link terdiri dari dua komponen: asuransi jiwa dan reksadana. Jika tujuannya ingin berinvestasi tanpa membeli asuransi jiwa, maka reksadana adalah jawaban yang tepat. Jika yang diinginkan adalah jaminan hasil investasi, juga tersedia instrumen investasi yang terjamin, misalnya deposito.
“Bagaimana jika saya mengambil asuransi term life, dan kemudian jatuh sakit satu hari sebelum masa berlaku asuransi tersebut habis? Perusahaan asuransi tentunya tidak akan mau memperpanjang polis tersebut.”
Pada asuransi jiwa term life, nasabah memiliki opsi untuk memperpanjang asuransi sesuai dengan harga yang telah ditetapkan sebelumnya. Perpanjangan ini bisa dilakukan tanpa syarat apapun dan tanpa perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan. Jika nasabah menginginkan perpanjangan, perusahaan asuransi tidak memiliki hak untuk menolaknya karena ini sudah termasuk dalam kontrak yang tertera di dalam polis.
Walaupun semua polis asuransi term life yang pernah saya lihat memiliki klausul seperti ini, ada baiknya calon pemegang polis memastikan keberadaan pasal yang sangat penting ini sebelum membelinya.
Pedoman Membeli Asuransi Jiwa dan Reksadana
oleh: Priyadi Iman Nurcahyo
Setelah membuat tiga tulisan tentang asuransi (1, 2, 3), saya sering mendapatkan banyak pertanyaan tentang bagaimana caranya membeli asuransi jiwa dan reksadana. Sebagai referensi bagi yang bertanya hal serupa di masa yang akan datang, cara-caranya saya tuliskan saja di posting kali ini.
Membeli Asuransi Jiwa
Pertama, tentukan dulu apakah kita memerlukan asuransi jiwa. Jika kita memiliki tanggungan dan/atau hutang yang tidak dilindungi asuransi kredit, maka kita membutuhkan asuransi jiwa. Jika tidak, maka kita tidak membutuhkan asuransi jiwa.
Kedua, hitung berapa besar uang pertanggungan asuransi jiwa yang diperlukan. Untuk tahap yang ini jawabannya bisa berbeda-beda tergantung dari teknik perhitungan yang dilakukan. Tapi untuk mempersingkat waktu kita pakai cara paling sederhana saja:
* Cari tahu besar pengeluaran keluarga per tahun jika seandainya tertanggung meninggal dunia.
* Kalikan dengan 10 untuk mendapatkan besar uang pertanggungan yang diinginkan.
Sebagai contoh pengeluaran per tahun jika seandainya tertanggung meninggal dunia adalah Rp 50 juta/tahun, maka uang pertanggungan yang akan kita beli adalah sebesar Rp 500 juta. Seharusnya jumlah tersebut sudah mencukupi untuk menutupi resiko kehilangan penghasilan dari tertanggung selama 20 tahun dengan asumsi pekembangan investasi bersih sebesar 9%.
Ketiga, saatnya untuk mencari produk yang sesuai. Produk yang kita cari adalah ‘asuransi jiwa term life’. Ciri-cirinya:
* Tidak memiliki unsur investasi.
* Masa perlindungan relatif singkat, biasanya 5 atau 10 tahun, tetapi ada juga yang 1, 2, 3 dan 20 tahun.
* Besar premi relatif kecil, sebagai perbandingan, pria 30 tahun yang tidak merokok akan dikenakan premi asuransi sebesar kurang lebih Rp 300 ribu/tahun untuk setiap Rp 100 juta uang pertanggungan.
Carilah keterangan tentang produk yang kita inginkan di beberapa perusahaan asuransi dengan cara mendatangi langsung perusahaan asuransi yang bersangkutan. Walaupun demikian, biasanya nasabah tidak pernah ditawarkan produk term life, melainkan produk lainnya yang memiliki unsur investasi. Untuk itu tanyakanlah secara spesifik: “Saya ingin mencari informasi produk term life (atau asuransi jiwa berjangka) dengan jangka waktu 5 tahun atau kurang dengan uang pertanggungan Rp sekian. Sebagai informasi umur saya sekian tahun,”
Untuk menghindari salah membeli produk, berikut adalah daftar beberapa produk asuransi jiwa term life dari beberapa perusahaan asuransi di Indonesia:
* Allianz SmartLife
* AXA Mandiri Jiwa Sejahtera
* Bumiputera Mitra Sejati
* Commonwealth Life Danatra Siaga dan Danatra Siaga 1
* Manulife ProActive dan ProActive Plus
* Sun Life Term Life
* Takaful Falah
Keempat, banding-bandingkan beberapa produk asuransi untuk mendapatkan produk yang paling menguntungkan. Tidak seperti unit link atau asuransi lainnya yang mengandung unsur investasi, sama sekali tidak sulit untuk membandingkan beberapa produk term life.
Beberapa kriteria pemilihan yang perlu dipertimbangkan adalah:
* Klausul guaranteed renewability. Klausul ini memastikan nasabah dapat memperpanjang perlindungan setelah kontrak berakhir tanpa syarat sama sekali dengan kenaikan premi seperti yang tertera dalam polis. Dengan klausul ini, perusahaan asuransi tidak berhak untuk memutuskan perlindungan jika misalnya nasabah menderita sakit keras. Hindari produk yang tidak memiliki klausul ini.
* Harga premi, semakin rendah tentunya semakin menguntungkan. Tapi jangan terlalu terpaku pada harga premi pada saat pertama kali anda masuk asuransi. Bandingkan pula harga premi untuk tahun-tahun berikutnya. Prioritaskan evaluasi harga premi pada 10-15 tahun pertama.
* Jangka waktu perlindungan, semakin rendah semakin baik. Ambillah asuransi term life dengan masa pertanggungan 5 tahun atau lebih kecil lagi. Jika memungkinkan ambillah masa pertanggungan 1 tahun, atau yang lebih dikenal dengan YRT/ART (yearly/annual renewable term). Karena adanya klausul guaranteed renewability, tidak menjadi masalah jika nasabah nantinya akan mengambil asuransi jiwa selama 20 tahun misalnya.
* Perlindungan tambahan (rider). Tetapi tidak perlu mengambil manfaat kesehatan karena kemungkinan besar kita akan membutuhkan asuransi kesehatan lebih lama daripada asuransi jiwa. Sebaiknya manfaat kesehatan diambil secara terpisah jika memang diperlukan.
Kelima, setelah menjatuhkan pilihan, kita bisa membeli produk pilihan kita. Perusahaan asuransi akan melakukan proses underwriting yang mungkin melibatkan hal-hal seperti pemeriksaan kesehatan dan sebagainya.
Setelah menerima polis periksalah dengan seksama apakah polis tersebut sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Membeli Reksadana
Pertama, tentukan jenis reksadana yang akan kita beli. Jenis reksadana yang kita beli terutama ditentukan dari berapa lama kita membutuhkan uang yang saat ini kita tanamkan di reksadana. Selera setiap orang berbeda-beda, tetapi untuk pemula saya bisa beri saran sebagai berikut:
* Di bawah satu tahun: reksadana pasar uang
* Antara satu sampai tiga tahun: reksadana pendapatan tetap
* Antara tiga sampai enam tahun: reksadana campuran
* Enam tahun atau lebih: reksadana saham atau reksadana indeks
Kedua, untuk membeli reksadana, cukup datangi penjual reksadana, misalnya ke agen penjual reksadana atau perusahaan manajer investasi.
Agen penjual reksadana yang paling populer akhir-akhir ini mungkin adalah Bank Commonwealth. Pembelian reksadana di Bank Commonwealth bisa dilakukan secara praktis melalui Internet. Bank Commonwealth menjual puluhan produk reksadana dari berbagai manajer investasi. Untuk membuka rekening di Bank Commonwealth, dibutuhkan dana sebesar Rp 2 juta.
Alternatif lain adalah Bank Mandiri. Bank Mandiri juga menjual puluhan reksadana yang dapat dibeli melalui customer service di hampir setiap cabangnya.
Beberapa produk reksadana juga bisa dibeli secara langsung ke manajer investasinya tanpa melalui agen reksadana. Contohnya adalah Manulife, Trimegah, PNM dan Danareksa.
Pertimbangkan produk reksadana yang akan dibeli berdasarkan kriteria sebagai berikut:
* Data perkembangan investasi historis
* Biaya pembelian
* Biaya penjualan
* Biaya jasa pengelolaan investasi
* Biaya minimal setoran pertama
* Biaya minimal setoran selanjutnyas
* Data lain-lainnya yang tertera pada prospektus reksadana yang bersangkutan
Terlalu rumit? Bagi pemula yang ingin berinvestasi untuk jangka panjang atau yang tidak ingin direpotkan dengan urusan investasi, saya pribadi menyarankan reksadana indeks. Reksadana indeks adalah subset dari reksadana saham yang dikelola secara pasif sehingga biaya jasa pengelolaan investasi menjadi minimal. Biasanya, dalam jangka panjang, performa reksadana indeks akan mengalahkan reksadana saham konvensional. Sayangnya reksadana indeks di Indonesia saat ini adalah ’spesies langka’. Satu-satunya produk indeks yang populer saat ini adalah Danareksa Indeks Syariah yang dapat dibeli melalui Bank Commonwealth maupun Sentra Investasi Danareksa.
Ketiga, nasabah bisa mengetahui perkembangan investasinya melalui beberapa cara. Beberapa manajer investasi akan memberikan laporan bulanan sehingga nasabah bisa mengetahui nilai investasinya. Selain itu data perkembangan investasi dari semua reksadana yang terdaftar di Indonesia dapat diketahui melalui beberapa media seperti Koran Tempo, Bisnis Indonesia (dapat pula dilihat di Internet) atau PortalReksadana.com.
Nasabah tidak perlu melihat informasi perkembangan investasinya setiap hari secara religius. Untuk jangka panjang, bagi investor kasual, satu tahun sekali sebenarnya sudah cukup.
Keempat, yang paling penting tentunya adalah menyetorkan dana untuk diinvestasikan ke reksadana. Hal ini tentunya harus dilakukan secara periodik. Beberapa penasihat keuangan memberi saran untuk menginvestasikan 10%-30% dari penghasilan keseluruhan secara rutin setiap bulannya.
Setelah membuat tiga tulisan tentang asuransi (1, 2, 3), saya sering mendapatkan banyak pertanyaan tentang bagaimana caranya membeli asuransi jiwa dan reksadana. Sebagai referensi bagi yang bertanya hal serupa di masa yang akan datang, cara-caranya saya tuliskan saja di posting kali ini.
Membeli Asuransi Jiwa
Pertama, tentukan dulu apakah kita memerlukan asuransi jiwa. Jika kita memiliki tanggungan dan/atau hutang yang tidak dilindungi asuransi kredit, maka kita membutuhkan asuransi jiwa. Jika tidak, maka kita tidak membutuhkan asuransi jiwa.
Kedua, hitung berapa besar uang pertanggungan asuransi jiwa yang diperlukan. Untuk tahap yang ini jawabannya bisa berbeda-beda tergantung dari teknik perhitungan yang dilakukan. Tapi untuk mempersingkat waktu kita pakai cara paling sederhana saja:
* Cari tahu besar pengeluaran keluarga per tahun jika seandainya tertanggung meninggal dunia.
* Kalikan dengan 10 untuk mendapatkan besar uang pertanggungan yang diinginkan.
Sebagai contoh pengeluaran per tahun jika seandainya tertanggung meninggal dunia adalah Rp 50 juta/tahun, maka uang pertanggungan yang akan kita beli adalah sebesar Rp 500 juta. Seharusnya jumlah tersebut sudah mencukupi untuk menutupi resiko kehilangan penghasilan dari tertanggung selama 20 tahun dengan asumsi pekembangan investasi bersih sebesar 9%.
Ketiga, saatnya untuk mencari produk yang sesuai. Produk yang kita cari adalah ‘asuransi jiwa term life’. Ciri-cirinya:
* Tidak memiliki unsur investasi.
* Masa perlindungan relatif singkat, biasanya 5 atau 10 tahun, tetapi ada juga yang 1, 2, 3 dan 20 tahun.
* Besar premi relatif kecil, sebagai perbandingan, pria 30 tahun yang tidak merokok akan dikenakan premi asuransi sebesar kurang lebih Rp 300 ribu/tahun untuk setiap Rp 100 juta uang pertanggungan.
Carilah keterangan tentang produk yang kita inginkan di beberapa perusahaan asuransi dengan cara mendatangi langsung perusahaan asuransi yang bersangkutan. Walaupun demikian, biasanya nasabah tidak pernah ditawarkan produk term life, melainkan produk lainnya yang memiliki unsur investasi. Untuk itu tanyakanlah secara spesifik: “Saya ingin mencari informasi produk term life (atau asuransi jiwa berjangka) dengan jangka waktu 5 tahun atau kurang dengan uang pertanggungan Rp sekian. Sebagai informasi umur saya sekian tahun,”
Untuk menghindari salah membeli produk, berikut adalah daftar beberapa produk asuransi jiwa term life dari beberapa perusahaan asuransi di Indonesia:
* Allianz SmartLife
* AXA Mandiri Jiwa Sejahtera
* Bumiputera Mitra Sejati
* Commonwealth Life Danatra Siaga dan Danatra Siaga 1
* Manulife ProActive dan ProActive Plus
* Sun Life Term Life
* Takaful Falah
Keempat, banding-bandingkan beberapa produk asuransi untuk mendapatkan produk yang paling menguntungkan. Tidak seperti unit link atau asuransi lainnya yang mengandung unsur investasi, sama sekali tidak sulit untuk membandingkan beberapa produk term life.
Beberapa kriteria pemilihan yang perlu dipertimbangkan adalah:
* Klausul guaranteed renewability. Klausul ini memastikan nasabah dapat memperpanjang perlindungan setelah kontrak berakhir tanpa syarat sama sekali dengan kenaikan premi seperti yang tertera dalam polis. Dengan klausul ini, perusahaan asuransi tidak berhak untuk memutuskan perlindungan jika misalnya nasabah menderita sakit keras. Hindari produk yang tidak memiliki klausul ini.
* Harga premi, semakin rendah tentunya semakin menguntungkan. Tapi jangan terlalu terpaku pada harga premi pada saat pertama kali anda masuk asuransi. Bandingkan pula harga premi untuk tahun-tahun berikutnya. Prioritaskan evaluasi harga premi pada 10-15 tahun pertama.
* Jangka waktu perlindungan, semakin rendah semakin baik. Ambillah asuransi term life dengan masa pertanggungan 5 tahun atau lebih kecil lagi. Jika memungkinkan ambillah masa pertanggungan 1 tahun, atau yang lebih dikenal dengan YRT/ART (yearly/annual renewable term). Karena adanya klausul guaranteed renewability, tidak menjadi masalah jika nasabah nantinya akan mengambil asuransi jiwa selama 20 tahun misalnya.
* Perlindungan tambahan (rider). Tetapi tidak perlu mengambil manfaat kesehatan karena kemungkinan besar kita akan membutuhkan asuransi kesehatan lebih lama daripada asuransi jiwa. Sebaiknya manfaat kesehatan diambil secara terpisah jika memang diperlukan.
Kelima, setelah menjatuhkan pilihan, kita bisa membeli produk pilihan kita. Perusahaan asuransi akan melakukan proses underwriting yang mungkin melibatkan hal-hal seperti pemeriksaan kesehatan dan sebagainya.
Setelah menerima polis periksalah dengan seksama apakah polis tersebut sesuai dengan apa yang kita inginkan.
Membeli Reksadana
Pertama, tentukan jenis reksadana yang akan kita beli. Jenis reksadana yang kita beli terutama ditentukan dari berapa lama kita membutuhkan uang yang saat ini kita tanamkan di reksadana. Selera setiap orang berbeda-beda, tetapi untuk pemula saya bisa beri saran sebagai berikut:
* Di bawah satu tahun: reksadana pasar uang
* Antara satu sampai tiga tahun: reksadana pendapatan tetap
* Antara tiga sampai enam tahun: reksadana campuran
* Enam tahun atau lebih: reksadana saham atau reksadana indeks
Kedua, untuk membeli reksadana, cukup datangi penjual reksadana, misalnya ke agen penjual reksadana atau perusahaan manajer investasi.
Agen penjual reksadana yang paling populer akhir-akhir ini mungkin adalah Bank Commonwealth. Pembelian reksadana di Bank Commonwealth bisa dilakukan secara praktis melalui Internet. Bank Commonwealth menjual puluhan produk reksadana dari berbagai manajer investasi. Untuk membuka rekening di Bank Commonwealth, dibutuhkan dana sebesar Rp 2 juta.
Alternatif lain adalah Bank Mandiri. Bank Mandiri juga menjual puluhan reksadana yang dapat dibeli melalui customer service di hampir setiap cabangnya.
Beberapa produk reksadana juga bisa dibeli secara langsung ke manajer investasinya tanpa melalui agen reksadana. Contohnya adalah Manulife, Trimegah, PNM dan Danareksa.
Pertimbangkan produk reksadana yang akan dibeli berdasarkan kriteria sebagai berikut:
* Data perkembangan investasi historis
* Biaya pembelian
* Biaya penjualan
* Biaya jasa pengelolaan investasi
* Biaya minimal setoran pertama
* Biaya minimal setoran selanjutnyas
* Data lain-lainnya yang tertera pada prospektus reksadana yang bersangkutan
Terlalu rumit? Bagi pemula yang ingin berinvestasi untuk jangka panjang atau yang tidak ingin direpotkan dengan urusan investasi, saya pribadi menyarankan reksadana indeks. Reksadana indeks adalah subset dari reksadana saham yang dikelola secara pasif sehingga biaya jasa pengelolaan investasi menjadi minimal. Biasanya, dalam jangka panjang, performa reksadana indeks akan mengalahkan reksadana saham konvensional. Sayangnya reksadana indeks di Indonesia saat ini adalah ’spesies langka’. Satu-satunya produk indeks yang populer saat ini adalah Danareksa Indeks Syariah yang dapat dibeli melalui Bank Commonwealth maupun Sentra Investasi Danareksa.
Ketiga, nasabah bisa mengetahui perkembangan investasinya melalui beberapa cara. Beberapa manajer investasi akan memberikan laporan bulanan sehingga nasabah bisa mengetahui nilai investasinya. Selain itu data perkembangan investasi dari semua reksadana yang terdaftar di Indonesia dapat diketahui melalui beberapa media seperti Koran Tempo, Bisnis Indonesia (dapat pula dilihat di Internet) atau PortalReksadana.com.
Nasabah tidak perlu melihat informasi perkembangan investasinya setiap hari secara religius. Untuk jangka panjang, bagi investor kasual, satu tahun sekali sebenarnya sudah cukup.
Keempat, yang paling penting tentunya adalah menyetorkan dana untuk diinvestasikan ke reksadana. Hal ini tentunya harus dilakukan secara periodik. Beberapa penasihat keuangan memberi saran untuk menginvestasikan 10%-30% dari penghasilan keseluruhan secara rutin setiap bulannya.
Hitung-Hitung Asuransi Unit Link vs. Mengambil Terpisah
18 October 2007
Author Priyadi Iman Nurcahyo
Bulan lalu, Tabloid Kontan Edisi Khusus membahas asuransi unit link. Salah satu artikelnya membahas perbandingan asuransi unit link dengan mengambil reksadana dan asuransi term life secara terpisah. Kontan membuat ilustrasi dengan asumsi-asumsi sebagai berikut:
* Produk asuransi jiwa + kecelakaan, nasabah diilustrasikan meninggal dunia pada tahun keenam.
* Uang pertanggungan asuransi jiwa sebesar 50 juta dan bonus 20 juta.
* Besar setoran premi per tahun Rp 10 juta
* Instrumen investasi pendapatan tetap dengan asumsi keuntungan 14% per tahun.
Menurut perhitungan Kontan, dengan unit link uang pertanggungan yang akan dibayarkan adalah sebesar Rp 105.040.000. Sedangkan jika mengambil terpisah, uang pertanggungan yang akan dibayarkan sebesar Rp 122,1 juta.
Kesalahan Perhitungan Tabloid Kontan
Walaupun demikian ada kesalahan perhitungan yang dilakukan Kontan. Menurut perhitungan saya seharusnya bukan Rp 122,1 juta, tetapi hanya Rp 63,3 juta + Rp 50,4 juta = Rp 113,7 juta. Selain itu asuransi yang digunakan Kontan berjenis whole life, sedangkan seharusnya yang diambil adalah yang berjenis term life. Pada ilustrasi yang dilakukan Kontan tersebut, nasabah membayar premi sebesar Rp 1.6 juta per tahun untuk uang pertanggungan Rp 50 juta. Sebagai perbandingan, besar premi asuransi term life untuk pria umur 30 tahun dengan uang pertanggungan Rp 50 juta hanyalah sebesar sekitar Rp 150 ribu per tahun saja. Selisihnya yang besar tersebut tentu lebih optimal jika disetorkan ke reksadana.
Di luar itu semua, saya tidak setuju dengan benchmark seperti ini karena hanya memperhitungkan satu skenario saja. Masih ada banyak skenario lainnya yang mungkin muncul dalam kehidupan kita. Sebagai contoh ekstrim, saya bisa saja menggunakan uangnya untuk mengambil asuransi term life dengan uang pertanggungan sebesar Rp 1 milyar. Dan dengan skenario meninggal pada tahun ke-6, uang pertanggungan yang diperoleh jelas sangat jauh melebihi dua ilustrasi yang disajikan Tabloid Kontan tersebut, tetapi bukan berarti keputusan tersebut adalah keputusan yang terbaik.
Reaksi Agen Asuransi Unit Link
Sebagai pengamat asuransi dadakan, mau tidak mau saya terlibat pada perang opini. Apalagi artikel saya Asuransi Unit Link vs Reksadana –yang disinyalir mirip dengan artikel di Tabloid Kontan tersebut– kerap kali dijadikan bahan referensi oleh banyak pihak di berbagai forum.
Reaksi agen asuransi unit link pun bisa dengan mudah ditebak, mereka langsung mengeluarkan apa yang mereka anggap sebagai kartu as mereka, yaitu rider payor.
Pada asuransi jiwa ada manfaat yang namanya waiver of premium. Manfaat ini akan membebaskan pembayaran premi sampai batasan-batasan tertentu jika nasabah didiagnosis mengidap penyakit kritis atau tidak mampu lagi melakukan pekerjaannya. Lebih jauh lagi, pada unit link manfaat payor bukan hanya akan membebaskan pembayaran premi asuransi jiwa, tetapi juga akan membebaskan setoran pada porsi investasi.
Jika pada ilustrasi unit link yang dilakukan Kontan tersebut di atas ditambahkan skenario nasabah menderita penyakit kritis dan polis unit link dilengkapi dengan perlindungan penyakit kritis serta payor, maka unit link-lah yang akan keluar sebagai pemenang mutlak.
Menggantikan Manfaat Payor Jika Mengambil Terpisah
Jika nasabah mengambil asuransi dan reksadana terpisah, jelas tidak ada layanan yang sama persis seperti payor pada unit link. Tetapi tidak sulit untuk mengambil manfaat yang setara dengan cara melakukan kompensasi berupa penambahan manfaat pada manfaat dasar dan penyakit kritis yang nilainya setara dengan payor di unit link.
Untuk menghitungnya cukup dengan menggunakan rumus standar ‘nilai saat ini dari sebuah anuitas’ (present value of an annuity). Hal ini bisa dihitung secara manual, menggunakan fungsi PV() pada spreadsheet, atau menggunakan salah satu dari sekian banyak layanan kalkulator finansial yang ada di Internet.
Contoh soal: Pada sebuah polis asuransi unit link terdapat manfaat payor yang akan membayarkan Rp 12 juta setiap tahunnya sampai nasabah berusia 65 tahun jika nasabah didiagnosis menderita penyakit kritis. Sebagai informasi, usia nasabah saat ini adalah 35 tahun dan diasumsikan perkembangan investasi adalah sebesar 8% per tahun. Pertanyaannya, jika seandainya nasabah mengambil asuransi term life dan reksadana secara terpisah, berapa besar uang pertanggungan yang harus ditambahkan ke manfaat dasar dan penyakit kritis guna untuk mendapatkan manfaat yang setara dengan payor tersebut?
Jawaban: Gunakan rumus ‘nilai saat ini dari sebuah anuitas’ dengan parameter-parameter suku bunga sebesar 8%, jumlah periode 65-35=30 dan besar pembayaran periodik Rp 12 juta. Jawabannya adalah Rp 135 juta.
Dari contoh tersebut, setelah mendapatkan uang pertanggungan, nasabah bisa menyetorkan Rp 135 juta secara sekaligus ke sebuah instrumen investasi dengan perkembangan 8%. Kemudian nasabah bisa saja menarik dana sejumlah Rp 12 juta setiap tahunnya dan uang tersebut tidak akan habis sampai nasabah berusia 65 tahun.
Praktis manfaat yang didapatkan nasabah akan sama saja jika seandainya yang bersangkutan mengambil manfaat payor dari sebuah asuransi unit link.
Perbandingan Versi Saya
Dalam rangka memperingati Hari Asuransi 18 Oktober 2007 dan untuk menghilangkan segala keraguan di antara kita semua, maka kali ini saya ikut-ikutan membuat ilustrasi perbandingan dengan parameter-parameter sebagai berikut:
* Budget sebesar Rp 9 juta per tahun
* Perkembangan investasi sebesar 17% per tahun
* Suku bunga deposito berjangka sebesar 6.5% per tahun (untuk keperluan perhitungan manfaat yang setara dengan payor)
* Manfaat kematian sebesar Rp 500 juta
* Manfaat penyakit kritis sebesar Rp 250 juta yang memotong manfaat kematian.
* Unit link menggunakan rider payor sebesar Rp 9 juta/tahun yang akan dibayarkan sampai nasabah berusia 55 tahun setelah nasabah didiagnosis mengidap penyakit kritis.
Perbandingan dilakukan selama 20 tahun. Sepanjang 20 tahun tersebut, asuransi term life dalam ilustrasi saya selalu memberikan manfaat yang paling tidak setara dengan yang diberikan oleh unit link. Perlu diperhatikan pula dalam beberapa kasus di ilustrasi ini, term life memberikan manfaat asuransi yang lebih banyak daripada yang diberikan oleh unit link. Walaupun dengan handicap seperti ini, mengambil reksadana dan asuransi term life secara terpisah ternyata tetap bisa jauh mengungguli unit link secara terus menerus sepanjang periode. Pada akhir periode, reksadana + term life terpisah memberikan nilai tunai 37% lebih banyak daripada yang diberikan oleh unit link.
Perbandingan Nilai Tunai Unit Link vs Terpisah

Perbandingan Manfaat Kematian Unit Link vs Terpisah

Data mentah spreadsheet dalam format OpenDocument dan Microsoft Excel.
Agen asuransi boleh saja terus berkutat dengan argumen “jika mengambil terpisah nasabah tidak akan mendapatkan manfaat payor“. Tetapi kenyataannya manfaat tersebut dapat dengan mudah direplikasikan jika nasabah mengambil terpisah, dan bukan hanya itu, hasil yang didapatkan masabah akan jauh lebih maksimal.
***
Selamat Hari Asuransi 18 Oktober 2007. Semoga Gerakan Sadar Asuransi tidak berhenti semata-mata pada tujuan memaksimalkan keuntungan bagi penjual produk asuransi, tetapi juga memberikan manfaat yang sepadan bagi nasabah asuransi.
Author Priyadi Iman Nurcahyo
Bulan lalu, Tabloid Kontan Edisi Khusus membahas asuransi unit link. Salah satu artikelnya membahas perbandingan asuransi unit link dengan mengambil reksadana dan asuransi term life secara terpisah. Kontan membuat ilustrasi dengan asumsi-asumsi sebagai berikut:
* Produk asuransi jiwa + kecelakaan, nasabah diilustrasikan meninggal dunia pada tahun keenam.
* Uang pertanggungan asuransi jiwa sebesar 50 juta dan bonus 20 juta.
* Besar setoran premi per tahun Rp 10 juta
* Instrumen investasi pendapatan tetap dengan asumsi keuntungan 14% per tahun.
Menurut perhitungan Kontan, dengan unit link uang pertanggungan yang akan dibayarkan adalah sebesar Rp 105.040.000. Sedangkan jika mengambil terpisah, uang pertanggungan yang akan dibayarkan sebesar Rp 122,1 juta.
Kesalahan Perhitungan Tabloid Kontan
Walaupun demikian ada kesalahan perhitungan yang dilakukan Kontan. Menurut perhitungan saya seharusnya bukan Rp 122,1 juta, tetapi hanya Rp 63,3 juta + Rp 50,4 juta = Rp 113,7 juta. Selain itu asuransi yang digunakan Kontan berjenis whole life, sedangkan seharusnya yang diambil adalah yang berjenis term life. Pada ilustrasi yang dilakukan Kontan tersebut, nasabah membayar premi sebesar Rp 1.6 juta per tahun untuk uang pertanggungan Rp 50 juta. Sebagai perbandingan, besar premi asuransi term life untuk pria umur 30 tahun dengan uang pertanggungan Rp 50 juta hanyalah sebesar sekitar Rp 150 ribu per tahun saja. Selisihnya yang besar tersebut tentu lebih optimal jika disetorkan ke reksadana.
Di luar itu semua, saya tidak setuju dengan benchmark seperti ini karena hanya memperhitungkan satu skenario saja. Masih ada banyak skenario lainnya yang mungkin muncul dalam kehidupan kita. Sebagai contoh ekstrim, saya bisa saja menggunakan uangnya untuk mengambil asuransi term life dengan uang pertanggungan sebesar Rp 1 milyar. Dan dengan skenario meninggal pada tahun ke-6, uang pertanggungan yang diperoleh jelas sangat jauh melebihi dua ilustrasi yang disajikan Tabloid Kontan tersebut, tetapi bukan berarti keputusan tersebut adalah keputusan yang terbaik.
Reaksi Agen Asuransi Unit Link
Sebagai pengamat asuransi dadakan, mau tidak mau saya terlibat pada perang opini. Apalagi artikel saya Asuransi Unit Link vs Reksadana –yang disinyalir mirip dengan artikel di Tabloid Kontan tersebut– kerap kali dijadikan bahan referensi oleh banyak pihak di berbagai forum.
Reaksi agen asuransi unit link pun bisa dengan mudah ditebak, mereka langsung mengeluarkan apa yang mereka anggap sebagai kartu as mereka, yaitu rider payor.
Pada asuransi jiwa ada manfaat yang namanya waiver of premium. Manfaat ini akan membebaskan pembayaran premi sampai batasan-batasan tertentu jika nasabah didiagnosis mengidap penyakit kritis atau tidak mampu lagi melakukan pekerjaannya. Lebih jauh lagi, pada unit link manfaat payor bukan hanya akan membebaskan pembayaran premi asuransi jiwa, tetapi juga akan membebaskan setoran pada porsi investasi.
Jika pada ilustrasi unit link yang dilakukan Kontan tersebut di atas ditambahkan skenario nasabah menderita penyakit kritis dan polis unit link dilengkapi dengan perlindungan penyakit kritis serta payor, maka unit link-lah yang akan keluar sebagai pemenang mutlak.
Menggantikan Manfaat Payor Jika Mengambil Terpisah
Jika nasabah mengambil asuransi dan reksadana terpisah, jelas tidak ada layanan yang sama persis seperti payor pada unit link. Tetapi tidak sulit untuk mengambil manfaat yang setara dengan cara melakukan kompensasi berupa penambahan manfaat pada manfaat dasar dan penyakit kritis yang nilainya setara dengan payor di unit link.
Untuk menghitungnya cukup dengan menggunakan rumus standar ‘nilai saat ini dari sebuah anuitas’ (present value of an annuity). Hal ini bisa dihitung secara manual, menggunakan fungsi PV() pada spreadsheet, atau menggunakan salah satu dari sekian banyak layanan kalkulator finansial yang ada di Internet.
Contoh soal: Pada sebuah polis asuransi unit link terdapat manfaat payor yang akan membayarkan Rp 12 juta setiap tahunnya sampai nasabah berusia 65 tahun jika nasabah didiagnosis menderita penyakit kritis. Sebagai informasi, usia nasabah saat ini adalah 35 tahun dan diasumsikan perkembangan investasi adalah sebesar 8% per tahun. Pertanyaannya, jika seandainya nasabah mengambil asuransi term life dan reksadana secara terpisah, berapa besar uang pertanggungan yang harus ditambahkan ke manfaat dasar dan penyakit kritis guna untuk mendapatkan manfaat yang setara dengan payor tersebut?
Jawaban: Gunakan rumus ‘nilai saat ini dari sebuah anuitas’ dengan parameter-parameter suku bunga sebesar 8%, jumlah periode 65-35=30 dan besar pembayaran periodik Rp 12 juta. Jawabannya adalah Rp 135 juta.
Dari contoh tersebut, setelah mendapatkan uang pertanggungan, nasabah bisa menyetorkan Rp 135 juta secara sekaligus ke sebuah instrumen investasi dengan perkembangan 8%. Kemudian nasabah bisa saja menarik dana sejumlah Rp 12 juta setiap tahunnya dan uang tersebut tidak akan habis sampai nasabah berusia 65 tahun.
Praktis manfaat yang didapatkan nasabah akan sama saja jika seandainya yang bersangkutan mengambil manfaat payor dari sebuah asuransi unit link.
Perbandingan Versi Saya
Dalam rangka memperingati Hari Asuransi 18 Oktober 2007 dan untuk menghilangkan segala keraguan di antara kita semua, maka kali ini saya ikut-ikutan membuat ilustrasi perbandingan dengan parameter-parameter sebagai berikut:
* Budget sebesar Rp 9 juta per tahun
* Perkembangan investasi sebesar 17% per tahun
* Suku bunga deposito berjangka sebesar 6.5% per tahun (untuk keperluan perhitungan manfaat yang setara dengan payor)
* Manfaat kematian sebesar Rp 500 juta
* Manfaat penyakit kritis sebesar Rp 250 juta yang memotong manfaat kematian.
* Unit link menggunakan rider payor sebesar Rp 9 juta/tahun yang akan dibayarkan sampai nasabah berusia 55 tahun setelah nasabah didiagnosis mengidap penyakit kritis.
Perbandingan dilakukan selama 20 tahun. Sepanjang 20 tahun tersebut, asuransi term life dalam ilustrasi saya selalu memberikan manfaat yang paling tidak setara dengan yang diberikan oleh unit link. Perlu diperhatikan pula dalam beberapa kasus di ilustrasi ini, term life memberikan manfaat asuransi yang lebih banyak daripada yang diberikan oleh unit link. Walaupun dengan handicap seperti ini, mengambil reksadana dan asuransi term life secara terpisah ternyata tetap bisa jauh mengungguli unit link secara terus menerus sepanjang periode. Pada akhir periode, reksadana + term life terpisah memberikan nilai tunai 37% lebih banyak daripada yang diberikan oleh unit link.
Perbandingan Nilai Tunai Unit Link vs Terpisah

Perbandingan Manfaat Kematian Unit Link vs Terpisah

Data mentah spreadsheet dalam format OpenDocument dan Microsoft Excel.
Agen asuransi boleh saja terus berkutat dengan argumen “jika mengambil terpisah nasabah tidak akan mendapatkan manfaat payor“. Tetapi kenyataannya manfaat tersebut dapat dengan mudah direplikasikan jika nasabah mengambil terpisah, dan bukan hanya itu, hasil yang didapatkan masabah akan jauh lebih maksimal.
***
Selamat Hari Asuransi 18 Oktober 2007. Semoga Gerakan Sadar Asuransi tidak berhenti semata-mata pada tujuan memaksimalkan keuntungan bagi penjual produk asuransi, tetapi juga memberikan manfaat yang sepadan bagi nasabah asuransi.
Asuransi atau Investasi?
EUREKA
(Edukasi dan Ulasan Perencanaan Keuangan)
Pengasuh: Tim Indonesia School of Life (In-School) http://www.in-school.org/
Andrias Harefa, Roy Sembel, M Ichsan,
Heru Wibawa, Parpudi Lubis
Sekarang, banyak produk unit link ditawarkan. Produk ini merupakan produk asuransi plus investasi, atau bisa juga dianggap investasi plus asuransi. Apa keuntungan produk ini dan bagaimana risikonya?
Dulu, orang beranggapan asuransi hanyalah urusan proteksi. Dengan mengambil asuransi, kita mendapatkan rasa aman. Misalnya, rasa aman kalau kita meninggal, anak dan keluarga pasti ada yang menanggung biaya hidupnya; rasa aman kalau kita atau anggota keluarga sakit dan harus diopname, kita tak lagi harus memikirkan biaya obat dan rumah sakitnya; dan sebagainya.
Itulah intinya kita ikut asuransi, membeli rasa aman. Meskipun harus membayar suatu biaya untuk mendapatkan hal itu. Jadi, nilai keuntungannya bukan saja dari segi materi atau jumlah UP yang didapat tapi juga bersifat psikologis.
Sebaliknya, dengan investasi atau menabung, kita menyimpan uang untuk mendapatkan keuntungan dan uangnya bisa ditarik kapan saja bila kita membutuhkan. Sebagai tanda kepemilikan bila kita menabung di bank, penabung diberi buku.
Dewasa ini, buku tabungan bukan lagi sesuatu yang mutlak. Kebanyakan bank memberikan kartu tabungan sebagai bukti kepemilikan, sementara catatan penggunaan tabungan dikirim dalam laporan tersendiri. Selain itu, kartu tabungan juga memiliki bermacam fungsi, mulai dari kartu debet, kartu diskon, bahkan sebagai kartu identitas. Jadi, manfaatnya sangat beragam.
Tabungan Plus Asuransi
Sekarang, manfaat tabungan ditambah lagi dengan menabung sekaligus berasuransi. Jadi, selain bisa menumbuh kembangkan uang Anda, risiko kehidupan Anda juga diproteksi. Pengertian risiko di sini adalah risiko jiwa si penabung. Jadi, kalau penabung meninggal dunia, ahli warisnya akan mendapatkan santunan dari bank tempat menabung.
Namun, dalam perkembangannya, produk tabungan plus asuransi saja dianggap belum cukup, sebab kebanyakan pendapatan bunga dari tabungan tidak terlalu tinggi. Pemilik uang umumnya menginginkan uangnya bertumbuh lebih cepat, tetapi risikonya minimal. Maka, muncullah produk yang disebut unit link.
Unit link merupakan produk asuransi plus investasi atau bisa juga dianggap investasi plus asuransi. Semangat yang terkandung dalam unit link sebenarnya sudah ada dalam produk asuransi dwiguna atau diistilahkan juga dengan endowment. Kendati semangatnya sama, unit link agak berbeda dengan endowment. Dalam unit link, pada dasarnya pemilik uang mengalokasikan uangnya untuk dua hal berbeda, yakni asuransi dan investasi. Dengan kata lain, Unit link itu bukan satu kesatuan produk/unbundling.
Lebih dari itu, pemilik uang menentukan sendiri berapa dana yang ditanamkan untuk investasi dan berapa pula untuk investasi (jiwa)-nya. Selain itu dalam produk unit link perusahaan asuransi tidak lagi menanggung risiko investasi melainkan Anda sebagai pemegang polis yang harus menanggung kerugian bila terjadi.
Dikelola “Fund Manager”
Dalam pengelolaan investasinya, unit link tak jauh beda dari reksa dana. Anda menempatkan uang dalam unit link kemudian oleh fund manager, dana tadi diinvestasikan pada berbagai ragam investasi yang bisa Anda pilih sendiri. Sebab, unit link yang dijual umumnya sudah menyebutkan ke mana saja dana itu akan diinvestasikan. Misalnya, ada yang menanamkannya dalam investasi berpendapatan tetap, seperti deposito, obligasi dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Ada pula yang investasinya "dimainkan" di pasar saham. Selain itu, investasinya bisa dilakukan dalam denominasi rupiah maupun dolar AS. Anda bebas menentukan pilihan sendiri. Pendeknya, Anda akan mendapatkan dua manfaat, yakni manfaat investasi dan manfaat proteksi. Tapi ingat, dalam memilih investasi, sesuaikan dengan toleransi Anda terhadap risiko.
Risiko Investasi dan Kehidupan
Karena ragam bentuk instrumen investasi yang tersedia untuk penempatan investasi dalam produk unit linked, risiko kerugian terhadap investasi harus ditanggung oleh pemegang polis. Sesuaikan tujuan keuangan dan toleransi Anda terhadap risiko dalam menentukan pilihan investasi, sehingga Anda mendapatkan keuntungan yang Anda harapkan secara optimal.
Namun yang jelas, unit link tetap melindungi risiko, yaitu risiko kehilangan jiwa. Artinya, bila sewaktu-waktu pemegang investasi meninggal dunia, ahli warisnya tetap akan mendapatkan manfaat asuransi. Jadi pada dasarnya sama saja dengan produk tabungan plus asuransi. Hanya, dalam unit link ini, pilihan produk investasinya lebih beragam.
Keuntungan lain yang membedakan unit link ini dengan asuransi konvensional adalah umumnya nilai investasi yang sudah terkumpul bisa dicairkan kapan saja, sepanjang dana yang tersisa minimal sekitar Rp 5 juta. Seperti itulah mekanisme yang kerap diberlakukan pada perusahaan pengelolaan unit link.
Di samping keuntungan itu, tentu saja para investor juga dikenai biaya. Pada dasarnya biaya itu meliputi biaya administrasi bulanan, biaya asuransi, biaya penambahan dana-jika Anda ingin memperbesar nilai investasi dan ada pula biaya pengalihan investasi. Biaya pengalihan ini diberlakukan bila Anda ingin memindahkan porto folio atau jenis investasi dari satu jenis ke jenis unit link lainnya. Misalnya, dari yang berjenis equity ke fixed income. Tetapi biaya ini tidak diberlakukan jika pemindahan terjadi pada tahun pertama investasi. Sedangkan bila pengalihan investasi dilakukan pada tahun-tahun berikutnya, investor akan dikenai biaya rata-rata sekitar satu persen dari nilai dana investasi.
Kiat Memilih Produk
Unit link layak dipertimbangkan sebagai suatu alternatif investasi sekaligus mendapatkan asuransi jiwa. Namun tentu saja, sebelum memilih, pelajari dulu masing-masing unit link yang ditawarkan. Berikut, tips memilih unit link.
Pertama, model investasi unit link mirip prinsip investasi reksa dana. Oleh karena itu, keahlian fund manager sangat menentukan apakah investasi Anda di unit link akan berhasil atau tidak. Oleh karena itu, hati-hati memilih fund manager dan perusahaan. Cara memilihnya tidak jauh beda dari memilih bank. Lihat, riwayat perusahaan penerbit unit link bersangkutan, cermati laporan keuangannya, berapa banyak pelanggannya, dan bagaimana pula kualitas pengelola dananya.
Tentu saja, biaya pengelolaan tersebut juga mesti dicermati. Tapi hati-hati, jangan sekadar melihat fee yang rendah sebagai patokan. Perusahaan yang menawarkan biaya pengelolaan rendah, bisa saja tidak berkualitas.
Perusahaan asuransi yang menawarkan produk unit link cukup banyak. Umumnya merupakan perusahaan asing atau campuran. Sementara itu, perusahaan asuransi lokal yang menjajakan unit link tidak lebih dari satu dua perusahaan saja. Yang perlu menjadi perhatian, bukanlah soal asing atau lokal, tetapi sejauh mana jenis unit link yang ditawarkan dan kinerja dari masing-masing perusahaan dan tentu saja kinerja unit link tersebut.
Namun tips terpenting dalam menentukan pilihan produk unit linked adalah dari segi kebutuhan dan prioritas Anda. Jangan membeli karena ikut-ikutan. Bila pertimbangan yang Anda miliki adalah membeli proteksi dan investasi untuk tujuan jangka panjang, pilihan produk unit linked bisa menjadi alternatif.
“Unit Link” vs Polis Tradisonal
Polis asuransi jiwa unit linked dan polis tradisional memiliki persamaan mendasar. Keduanya merupakan polis asuransi jiwa yang memberikan kepada pemegang polis/ahli warisnya manfaat proteksi terhadap dampak finansial negatif dari kematian pemegang polis. Kendati begitu, terdapat perbedaan spesifik antara polis tradisional dengan polis unit linked, yaitu
Risiko investasi
Pada polis asuransi unit linked, nilai unit direfleksikan berdasarkan nilai aset dana investasi dan nilai tersebut berfluktuasi mengikuti kinerja investasi. Dengan begitu, risiko investasi dalam polis ini secara langsung ditanggung oleh pemegang polis.
Transparansi
Dalam polis asuransi jiwa tradisional, pemegang polis tidak mengetahui dengan pasti pengalokasian premi yang dibayarkan. Sebaliknya, polis asuransi jiwa unit linked lebih transparan dalam pengalokasian premi. Pemegang polis akan menerima laporan tahunan yang menjelaskan elemen-elemen di dalam polis, seperti premi, manfaat meninggal, bunga, biaya mortalita, administrasi dan perkembangan nilai tunai.
Hasil investasi
Polis asuransi tradisonal menjamin besarnya uang pertanggungan sedangkan besarnya bonus tidak dijamin. Hasil investasi polis unit linked secara langsung dikaitkan dengan kinerja dari dana yang dikelola. Kinerja ini sangat tergantung pada kepiawaian manajer investasi dan keadaaan pasar.
Peraturan Investasi
Di Indonesia, perusahaan asuransi harus memisahkan dana unit linked dalam neraca keuangan. Ketentuan ini tidak berlaku pada polis asuransi tradisional. Aturan pemisahan ini dibuat karena risiko investasi dana unit linked yang dilakukan oleh pemegang polis ditanggung pemegang polis, sehingga dari sudut pandang perusahaan asuransi, faktor risikonya adalah nol.
Copyright © Sinar Harapan 2008
(Edukasi dan Ulasan Perencanaan Keuangan)
Pengasuh: Tim Indonesia School of Life (In-School) http://www.in-school.org/
Andrias Harefa, Roy Sembel, M Ichsan,
Heru Wibawa, Parpudi Lubis
Sekarang, banyak produk unit link ditawarkan. Produk ini merupakan produk asuransi plus investasi, atau bisa juga dianggap investasi plus asuransi. Apa keuntungan produk ini dan bagaimana risikonya?
Dulu, orang beranggapan asuransi hanyalah urusan proteksi. Dengan mengambil asuransi, kita mendapatkan rasa aman. Misalnya, rasa aman kalau kita meninggal, anak dan keluarga pasti ada yang menanggung biaya hidupnya; rasa aman kalau kita atau anggota keluarga sakit dan harus diopname, kita tak lagi harus memikirkan biaya obat dan rumah sakitnya; dan sebagainya.
Itulah intinya kita ikut asuransi, membeli rasa aman. Meskipun harus membayar suatu biaya untuk mendapatkan hal itu. Jadi, nilai keuntungannya bukan saja dari segi materi atau jumlah UP yang didapat tapi juga bersifat psikologis.
Sebaliknya, dengan investasi atau menabung, kita menyimpan uang untuk mendapatkan keuntungan dan uangnya bisa ditarik kapan saja bila kita membutuhkan. Sebagai tanda kepemilikan bila kita menabung di bank, penabung diberi buku.
Dewasa ini, buku tabungan bukan lagi sesuatu yang mutlak. Kebanyakan bank memberikan kartu tabungan sebagai bukti kepemilikan, sementara catatan penggunaan tabungan dikirim dalam laporan tersendiri. Selain itu, kartu tabungan juga memiliki bermacam fungsi, mulai dari kartu debet, kartu diskon, bahkan sebagai kartu identitas. Jadi, manfaatnya sangat beragam.
Tabungan Plus Asuransi
Sekarang, manfaat tabungan ditambah lagi dengan menabung sekaligus berasuransi. Jadi, selain bisa menumbuh kembangkan uang Anda, risiko kehidupan Anda juga diproteksi. Pengertian risiko di sini adalah risiko jiwa si penabung. Jadi, kalau penabung meninggal dunia, ahli warisnya akan mendapatkan santunan dari bank tempat menabung.
Namun, dalam perkembangannya, produk tabungan plus asuransi saja dianggap belum cukup, sebab kebanyakan pendapatan bunga dari tabungan tidak terlalu tinggi. Pemilik uang umumnya menginginkan uangnya bertumbuh lebih cepat, tetapi risikonya minimal. Maka, muncullah produk yang disebut unit link.
Unit link merupakan produk asuransi plus investasi atau bisa juga dianggap investasi plus asuransi. Semangat yang terkandung dalam unit link sebenarnya sudah ada dalam produk asuransi dwiguna atau diistilahkan juga dengan endowment. Kendati semangatnya sama, unit link agak berbeda dengan endowment. Dalam unit link, pada dasarnya pemilik uang mengalokasikan uangnya untuk dua hal berbeda, yakni asuransi dan investasi. Dengan kata lain, Unit link itu bukan satu kesatuan produk/unbundling.
Lebih dari itu, pemilik uang menentukan sendiri berapa dana yang ditanamkan untuk investasi dan berapa pula untuk investasi (jiwa)-nya. Selain itu dalam produk unit link perusahaan asuransi tidak lagi menanggung risiko investasi melainkan Anda sebagai pemegang polis yang harus menanggung kerugian bila terjadi.
Dikelola “Fund Manager”
Dalam pengelolaan investasinya, unit link tak jauh beda dari reksa dana. Anda menempatkan uang dalam unit link kemudian oleh fund manager, dana tadi diinvestasikan pada berbagai ragam investasi yang bisa Anda pilih sendiri. Sebab, unit link yang dijual umumnya sudah menyebutkan ke mana saja dana itu akan diinvestasikan. Misalnya, ada yang menanamkannya dalam investasi berpendapatan tetap, seperti deposito, obligasi dan Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Ada pula yang investasinya "dimainkan" di pasar saham. Selain itu, investasinya bisa dilakukan dalam denominasi rupiah maupun dolar AS. Anda bebas menentukan pilihan sendiri. Pendeknya, Anda akan mendapatkan dua manfaat, yakni manfaat investasi dan manfaat proteksi. Tapi ingat, dalam memilih investasi, sesuaikan dengan toleransi Anda terhadap risiko.
Risiko Investasi dan Kehidupan
Karena ragam bentuk instrumen investasi yang tersedia untuk penempatan investasi dalam produk unit linked, risiko kerugian terhadap investasi harus ditanggung oleh pemegang polis. Sesuaikan tujuan keuangan dan toleransi Anda terhadap risiko dalam menentukan pilihan investasi, sehingga Anda mendapatkan keuntungan yang Anda harapkan secara optimal.
Namun yang jelas, unit link tetap melindungi risiko, yaitu risiko kehilangan jiwa. Artinya, bila sewaktu-waktu pemegang investasi meninggal dunia, ahli warisnya tetap akan mendapatkan manfaat asuransi. Jadi pada dasarnya sama saja dengan produk tabungan plus asuransi. Hanya, dalam unit link ini, pilihan produk investasinya lebih beragam.
Keuntungan lain yang membedakan unit link ini dengan asuransi konvensional adalah umumnya nilai investasi yang sudah terkumpul bisa dicairkan kapan saja, sepanjang dana yang tersisa minimal sekitar Rp 5 juta. Seperti itulah mekanisme yang kerap diberlakukan pada perusahaan pengelolaan unit link.
Di samping keuntungan itu, tentu saja para investor juga dikenai biaya. Pada dasarnya biaya itu meliputi biaya administrasi bulanan, biaya asuransi, biaya penambahan dana-jika Anda ingin memperbesar nilai investasi dan ada pula biaya pengalihan investasi. Biaya pengalihan ini diberlakukan bila Anda ingin memindahkan porto folio atau jenis investasi dari satu jenis ke jenis unit link lainnya. Misalnya, dari yang berjenis equity ke fixed income. Tetapi biaya ini tidak diberlakukan jika pemindahan terjadi pada tahun pertama investasi. Sedangkan bila pengalihan investasi dilakukan pada tahun-tahun berikutnya, investor akan dikenai biaya rata-rata sekitar satu persen dari nilai dana investasi.
Kiat Memilih Produk
Unit link layak dipertimbangkan sebagai suatu alternatif investasi sekaligus mendapatkan asuransi jiwa. Namun tentu saja, sebelum memilih, pelajari dulu masing-masing unit link yang ditawarkan. Berikut, tips memilih unit link.
Pertama, model investasi unit link mirip prinsip investasi reksa dana. Oleh karena itu, keahlian fund manager sangat menentukan apakah investasi Anda di unit link akan berhasil atau tidak. Oleh karena itu, hati-hati memilih fund manager dan perusahaan. Cara memilihnya tidak jauh beda dari memilih bank. Lihat, riwayat perusahaan penerbit unit link bersangkutan, cermati laporan keuangannya, berapa banyak pelanggannya, dan bagaimana pula kualitas pengelola dananya.
Tentu saja, biaya pengelolaan tersebut juga mesti dicermati. Tapi hati-hati, jangan sekadar melihat fee yang rendah sebagai patokan. Perusahaan yang menawarkan biaya pengelolaan rendah, bisa saja tidak berkualitas.
Perusahaan asuransi yang menawarkan produk unit link cukup banyak. Umumnya merupakan perusahaan asing atau campuran. Sementara itu, perusahaan asuransi lokal yang menjajakan unit link tidak lebih dari satu dua perusahaan saja. Yang perlu menjadi perhatian, bukanlah soal asing atau lokal, tetapi sejauh mana jenis unit link yang ditawarkan dan kinerja dari masing-masing perusahaan dan tentu saja kinerja unit link tersebut.
Namun tips terpenting dalam menentukan pilihan produk unit linked adalah dari segi kebutuhan dan prioritas Anda. Jangan membeli karena ikut-ikutan. Bila pertimbangan yang Anda miliki adalah membeli proteksi dan investasi untuk tujuan jangka panjang, pilihan produk unit linked bisa menjadi alternatif.
“Unit Link” vs Polis Tradisonal
Polis asuransi jiwa unit linked dan polis tradisional memiliki persamaan mendasar. Keduanya merupakan polis asuransi jiwa yang memberikan kepada pemegang polis/ahli warisnya manfaat proteksi terhadap dampak finansial negatif dari kematian pemegang polis. Kendati begitu, terdapat perbedaan spesifik antara polis tradisional dengan polis unit linked, yaitu
Risiko investasi
Pada polis asuransi unit linked, nilai unit direfleksikan berdasarkan nilai aset dana investasi dan nilai tersebut berfluktuasi mengikuti kinerja investasi. Dengan begitu, risiko investasi dalam polis ini secara langsung ditanggung oleh pemegang polis.
Transparansi
Dalam polis asuransi jiwa tradisional, pemegang polis tidak mengetahui dengan pasti pengalokasian premi yang dibayarkan. Sebaliknya, polis asuransi jiwa unit linked lebih transparan dalam pengalokasian premi. Pemegang polis akan menerima laporan tahunan yang menjelaskan elemen-elemen di dalam polis, seperti premi, manfaat meninggal, bunga, biaya mortalita, administrasi dan perkembangan nilai tunai.
Hasil investasi
Polis asuransi tradisonal menjamin besarnya uang pertanggungan sedangkan besarnya bonus tidak dijamin. Hasil investasi polis unit linked secara langsung dikaitkan dengan kinerja dari dana yang dikelola. Kinerja ini sangat tergantung pada kepiawaian manajer investasi dan keadaaan pasar.
Peraturan Investasi
Di Indonesia, perusahaan asuransi harus memisahkan dana unit linked dalam neraca keuangan. Ketentuan ini tidak berlaku pada polis asuransi tradisional. Aturan pemisahan ini dibuat karena risiko investasi dana unit linked yang dilakukan oleh pemegang polis ditanggung pemegang polis, sehingga dari sudut pandang perusahaan asuransi, faktor risikonya adalah nol.
Copyright © Sinar Harapan 2008
Mengenal Asuransi Unit Link
Tanya :
Kami baru saja mendapatkan penawaran asuransi unit link dari sebuah perusahaan asuransi jiwa. Kami belum tahu sepenuhnya asuransi jenis ini. Apa perbedaan dengan asuransi yang biasa?
Teguh Prihadi, Waru
Jawab :
Asuransi unit link dikenal sebagai investment link di negara Malaysia dan Singapura, atau variabel life di Amerika.
Asuransi jenis ini berbeda dengan asuransi yang biasa atau disebut juga asuransi jiwa tradisional. Premi asuransi unit link dipakai untuk membeli unit dana yang bersangkutan. Semakin besar premi yang dibayarkan, semakin banyak unit yang didapat. Kita bisa melihat harga unit (atau unit price) ini setiap harinya di harian ekonomi, misalnya harian Bisnis Indonesia. Katakan kita membayar premi sebesar Rp. 1 juta, sedangkan harga unit sebesar 2000, maka kita mendapatkan 500 unit. Ada beberapa produk unit link yang memotong terlebih dahulu premi yang dibayarkan sebelum dibelikan unit. Misalnya dari premi sebesar Rp. 1 juta tadi, dipotong untuk keperluan administrasi sebesar 40%, maka sisa premi yang dibayarkan menjadi Rp. 600 ribu.
Di Indonesia, perusahaan asuransi jiwa menggunakan dua metode untuk penentuan harga unit. Yang pertama harga unit tunggal, dan kedua harga unit jual dan beli atau biasa disebut sebagai offer price dan bid price. Harga-harga unit ini semuanya bisa dilihat di harian ekonomi tadi.
Ciri khas dari asuransi unit link adalah transparansi. Berapa besar besar biaya administrasi, biaya pertanggungan asuransi atau cost of insurance, biaya investasi dan pergerakan nilai investasi semuanya terlihat jelas. Selain pergerakan nilai investasi yang bisa dilihat di harian ekonomi, lainnya biasanya tercantum dalam polis.
Satu hal lagi, ciri khas dari asuransi ini adalah fleksibilitas. Kita dapat memilih instrumen investasi yang disediakan. Apakah dalam mata uang Rupiah atau mata uang asing lainnya. Apakah memakai instrumen pasar uang, instrumen pendapatan tetap atau instrumen saham. Semuanya bisa dipilih sesuai dengan karakter kita. Kita juga dapat menambah porsi investasi dalam bentuk top up. Jadi selain premi reguler atau premi tunggal yang dibayarkan, kita juga dapat menambah uang untuk keperluan investasi.
Bagaimana dengan pertanggungan asuransinya? Ada dua macam model yang diterapkan dalam menetapkan Uang Pertanggungan asuransinya, yaitu persentase tertentu dari premi, misalnya besar Uang Pertanggungan adalah 150% dari premi yang telah dibayarkan. Model yang kedua adalah penetapan mana yang lebih besar dari nilai Uang Pertanggungan dan nilai unit investasi yang ada. Katakan bahwa Uang Pertanggungan yang ditetapkan di awal sebesar Rp. 100 juta. Dalam perjalanan waktunya nilai unit telah mengalami peningkatan menjadi sebesar Rp. 200 juta, maka besar uang yang dibayarkan saat tertanggung meninggal dunia adalah sebesar Rp. 200 juta. Karena nilai unit yang ada lebih besar daripada Uang Pertanggungan yang ditetapkan di awal.
Kapan kita membayar biaya asuransinya? Pada umumnya biaya asuransi ini dipotong setiap bulannya dan dipotong dari nilai unit yang ada.
Mudah-mudahan penjelasan di atas membantu anda untuk memahami asuransi unit link.
Sumber: Joannes Widjajanto
Kami baru saja mendapatkan penawaran asuransi unit link dari sebuah perusahaan asuransi jiwa. Kami belum tahu sepenuhnya asuransi jenis ini. Apa perbedaan dengan asuransi yang biasa?
Teguh Prihadi, Waru
Jawab :
Asuransi unit link dikenal sebagai investment link di negara Malaysia dan Singapura, atau variabel life di Amerika.
Asuransi jenis ini berbeda dengan asuransi yang biasa atau disebut juga asuransi jiwa tradisional. Premi asuransi unit link dipakai untuk membeli unit dana yang bersangkutan. Semakin besar premi yang dibayarkan, semakin banyak unit yang didapat. Kita bisa melihat harga unit (atau unit price) ini setiap harinya di harian ekonomi, misalnya harian Bisnis Indonesia. Katakan kita membayar premi sebesar Rp. 1 juta, sedangkan harga unit sebesar 2000, maka kita mendapatkan 500 unit. Ada beberapa produk unit link yang memotong terlebih dahulu premi yang dibayarkan sebelum dibelikan unit. Misalnya dari premi sebesar Rp. 1 juta tadi, dipotong untuk keperluan administrasi sebesar 40%, maka sisa premi yang dibayarkan menjadi Rp. 600 ribu.
Di Indonesia, perusahaan asuransi jiwa menggunakan dua metode untuk penentuan harga unit. Yang pertama harga unit tunggal, dan kedua harga unit jual dan beli atau biasa disebut sebagai offer price dan bid price. Harga-harga unit ini semuanya bisa dilihat di harian ekonomi tadi.
Ciri khas dari asuransi unit link adalah transparansi. Berapa besar besar biaya administrasi, biaya pertanggungan asuransi atau cost of insurance, biaya investasi dan pergerakan nilai investasi semuanya terlihat jelas. Selain pergerakan nilai investasi yang bisa dilihat di harian ekonomi, lainnya biasanya tercantum dalam polis.
Satu hal lagi, ciri khas dari asuransi ini adalah fleksibilitas. Kita dapat memilih instrumen investasi yang disediakan. Apakah dalam mata uang Rupiah atau mata uang asing lainnya. Apakah memakai instrumen pasar uang, instrumen pendapatan tetap atau instrumen saham. Semuanya bisa dipilih sesuai dengan karakter kita. Kita juga dapat menambah porsi investasi dalam bentuk top up. Jadi selain premi reguler atau premi tunggal yang dibayarkan, kita juga dapat menambah uang untuk keperluan investasi.
Bagaimana dengan pertanggungan asuransinya? Ada dua macam model yang diterapkan dalam menetapkan Uang Pertanggungan asuransinya, yaitu persentase tertentu dari premi, misalnya besar Uang Pertanggungan adalah 150% dari premi yang telah dibayarkan. Model yang kedua adalah penetapan mana yang lebih besar dari nilai Uang Pertanggungan dan nilai unit investasi yang ada. Katakan bahwa Uang Pertanggungan yang ditetapkan di awal sebesar Rp. 100 juta. Dalam perjalanan waktunya nilai unit telah mengalami peningkatan menjadi sebesar Rp. 200 juta, maka besar uang yang dibayarkan saat tertanggung meninggal dunia adalah sebesar Rp. 200 juta. Karena nilai unit yang ada lebih besar daripada Uang Pertanggungan yang ditetapkan di awal.
Kapan kita membayar biaya asuransinya? Pada umumnya biaya asuransi ini dipotong setiap bulannya dan dipotong dari nilai unit yang ada.
Mudah-mudahan penjelasan di atas membantu anda untuk memahami asuransi unit link.
Sumber: Joannes Widjajanto
Unit Link dan Reksadana
Mohon Pencerahan Unit Link dan Reksadana?
Senin, 25 Agustus 2008
Rekan2 yth, Terus terang ada beberapa pendapat yang menyatakan unit link bukan investasi yang tepat buat kita sebagai seorang investor melainkan reksadana, yang ingin saya tanyakan :
1. Apakah unit link yang saya ikuti(Prudential,axa mandiri, dan AIG Life) merupakan pilihan tepat dan return yang kita dapatkan sesuai ilustrasi yang digambarkan atau paling tidak mendekati?
2. Bagaimana perhitungan reksadana tersebut,cara mendapatkannya dan hasil yang didapatkan jika dibandingkan dengan unit link bagaimana?
Terima rekan2 atas pencerahannya
Andrey
Kupang
Respond
#1. Yusril Kurniawan | Pesan | Rabu, 27 Agustus 2008
Dear Andrey di Kupang,
Investasi memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan. pada dasarnya unit link dan ReksaDana sama-sama memberikan keuntungan. Tapi akan lebih optimal di Reksa Dana karena keuntunmga lebih tinggi tapi dengan resiko juga yang lebih tinggi. hal ini sama halnya dengan unitlink dengan alokasi dana di equity atau saham.
Untuk mengetahu besapa besarnya keuntungan yang dapat diperoleh, bapak Andrey bisa melihat track record paling tidak 3 tahun kebelakang.
Untuk Info, Prudential memberikan return 49,5% tahun 2007, 57,8% tahun 2006, 65% tahun 2005. Semoga bermanfaat. anda bisa lihat juga tulisan saya di http://yusrilfreefa.blogspot.com
Terima Kasih
#2. P.N Jonathan | Pesan | Rabu, 27 Agustus 2008
Mas...apa ngga ada jalan lain selain numpang gratis pasang iklan di MK...bersikaplah proffesional dong jangan amateurs begitu icon_razz
#3. LUSI AMBARWATI | Pesan | Kamis, 11 September 2008
Pak Andrey...
Sebenarnya antara unit Link dan Reksadana hampir sama. Hanya kalo Unit Link adalah jenis asuransi yang ada link dengan kinerja pasar modal. Cara kerjanya hampir sama. Kalaupun ada perbedaan adalah unit link ada proteksi asuransi jiwa dan asuransi tambahan, tapi kalau reksadana adalah investasi saja tanpa proteksi. Mengenai pemilihan instrumen investasi, di unit link tidak sebanyak di reksadana. Biasanya pilihan instrumen investasi di unit link lebih cenderung yang fluktuasinya tidak terlalu tinggi. Kenapa?Karena unit link berhubungan dengan perencanaan keuangan sebuah keluarga, dimana bila terjadi resiko pada tertanggung, maka yang akan dikeluarkan oleh perusahaan asuransi adalah uang pertanggungan asuransi ditambah saldo investasinya. Secara hasil di unit link memang tidak sebesar reksadana, namun dari sisi resiko relatif lebih rendah. Sedangkan di reksadana ya hasil investasi saja yang akan nasabah terima baik terjadi atau tidak terjadi resiko.
Sebagai tambahan informasi bahwa unit link ada 2(dua) macam, yaitu Back End Loading dan Front End Loading. Back End Loading adalah unit link tanpa biaya akuisisi, dana nasabah diinvestasikan 100% sejak tahun pertama, dan biaya dipotong secara bulanan.Front End Loading adalah unit link yang ada biaya akuisisi sejak tahun pertama. Umumnya dikenakan antara 3 sampai 5 tahun.Dari segi hasil, lebih besar dengan Back End Loading, tapi dari segi proteksi lebih baik di Front End Loading.
Untuk investasi murni saya sarankan Bapak ambil di reksadana saja. Tapi kalo Bapak belum ada proteksi asuransi Bapak bisa ambil yang Front End Loading dulu sebagai sarana untuk melindungi nilai ekonomis Bapak. Nah bila ada kelebihan dana Bapak baru ambil program unit link dengan Back End Loading.
Demikian penjelasan saya. Semoga berguna bagi Bapak untuk memilih jenis investasi yang tepat untuk Bapak dan keluarga. Salam hangat... icon_smile
Sumber: www.mediakonsumen.com
Senin, 25 Agustus 2008
Rekan2 yth, Terus terang ada beberapa pendapat yang menyatakan unit link bukan investasi yang tepat buat kita sebagai seorang investor melainkan reksadana, yang ingin saya tanyakan :
1. Apakah unit link yang saya ikuti(Prudential,axa mandiri, dan AIG Life) merupakan pilihan tepat dan return yang kita dapatkan sesuai ilustrasi yang digambarkan atau paling tidak mendekati?
2. Bagaimana perhitungan reksadana tersebut,cara mendapatkannya dan hasil yang didapatkan jika dibandingkan dengan unit link bagaimana?
Terima rekan2 atas pencerahannya
Andrey
Kupang
Respond
#1. Yusril Kurniawan | Pesan | Rabu, 27 Agustus 2008
Dear Andrey di Kupang,
Investasi memiliki tujuan untuk mendapatkan keuntungan. pada dasarnya unit link dan ReksaDana sama-sama memberikan keuntungan. Tapi akan lebih optimal di Reksa Dana karena keuntunmga lebih tinggi tapi dengan resiko juga yang lebih tinggi. hal ini sama halnya dengan unitlink dengan alokasi dana di equity atau saham.
Untuk mengetahu besapa besarnya keuntungan yang dapat diperoleh, bapak Andrey bisa melihat track record paling tidak 3 tahun kebelakang.
Untuk Info, Prudential memberikan return 49,5% tahun 2007, 57,8% tahun 2006, 65% tahun 2005. Semoga bermanfaat. anda bisa lihat juga tulisan saya di http://yusrilfreefa.blogspot.com
Terima Kasih
#2. P.N Jonathan | Pesan | Rabu, 27 Agustus 2008
Mas...apa ngga ada jalan lain selain numpang gratis pasang iklan di MK...bersikaplah proffesional dong jangan amateurs begitu icon_razz
#3. LUSI AMBARWATI | Pesan | Kamis, 11 September 2008
Pak Andrey...
Sebenarnya antara unit Link dan Reksadana hampir sama. Hanya kalo Unit Link adalah jenis asuransi yang ada link dengan kinerja pasar modal. Cara kerjanya hampir sama. Kalaupun ada perbedaan adalah unit link ada proteksi asuransi jiwa dan asuransi tambahan, tapi kalau reksadana adalah investasi saja tanpa proteksi. Mengenai pemilihan instrumen investasi, di unit link tidak sebanyak di reksadana. Biasanya pilihan instrumen investasi di unit link lebih cenderung yang fluktuasinya tidak terlalu tinggi. Kenapa?Karena unit link berhubungan dengan perencanaan keuangan sebuah keluarga, dimana bila terjadi resiko pada tertanggung, maka yang akan dikeluarkan oleh perusahaan asuransi adalah uang pertanggungan asuransi ditambah saldo investasinya. Secara hasil di unit link memang tidak sebesar reksadana, namun dari sisi resiko relatif lebih rendah. Sedangkan di reksadana ya hasil investasi saja yang akan nasabah terima baik terjadi atau tidak terjadi resiko.
Sebagai tambahan informasi bahwa unit link ada 2(dua) macam, yaitu Back End Loading dan Front End Loading. Back End Loading adalah unit link tanpa biaya akuisisi, dana nasabah diinvestasikan 100% sejak tahun pertama, dan biaya dipotong secara bulanan.Front End Loading adalah unit link yang ada biaya akuisisi sejak tahun pertama. Umumnya dikenakan antara 3 sampai 5 tahun.Dari segi hasil, lebih besar dengan Back End Loading, tapi dari segi proteksi lebih baik di Front End Loading.
Untuk investasi murni saya sarankan Bapak ambil di reksadana saja. Tapi kalo Bapak belum ada proteksi asuransi Bapak bisa ambil yang Front End Loading dulu sebagai sarana untuk melindungi nilai ekonomis Bapak. Nah bila ada kelebihan dana Bapak baru ambil program unit link dengan Back End Loading.
Demikian penjelasan saya. Semoga berguna bagi Bapak untuk memilih jenis investasi yang tepat untuk Bapak dan keluarga. Salam hangat... icon_smile
Sumber: www.mediakonsumen.com
Subscribe to:
Posts (Atom)