Wiwik Dwi Atiningsih dikenal sebagai salah seorang pengusaha katering, khususnya bidang kue. Selain menambah penghasilan keluarga, pengetahuan atas makanan membuatnya tetap sehat.
---
SEMUA bermula ketika suami Wiwik bertugas di Jepang pada 1986. Ditinggal pendamping hidup untuk sementara, Wiwik pun memiliki banyak waktu luang. Dia kemudian iseng belajar membuat kue. Ternyata, yang iseng tadi kemudian berubah serius. ''Saya tak berhenti membuat kue di saat kursus saja. Saya juga melatih diri di rumah,'' ucapnya.
Wiwik akhirnya dikenal sebagai tukang kue jempolan. Pesanan mengalir deras. Wiwik juga sering disuruh memberikan kursus membuat kue kepada para istri pejabat di lingkungan PLN, Dolog, hingga Sekwilda. "Sampai sekarang pun saya juga masih sering mengajar kursus," ucapnya.
Pengetahuannya tentang makanan itu tak hanya dituangkan dalam rupa masakan, tapi juga dimanfaatkan untuk menjaga kesehatan. "Untuk tetap sehat, makanan yang disantap harus mempunyai gizi seimbang. Tidak baik hanya makan makanan yang mempunyai satu kandungan. Karena hampir tiap hari bergulat dengan bahan makanan, ya mau tidak mau belajar sedikit-sedikit gizinya,'' tuturnya.
Makan makanan sehat, imbuhnya, merupakan salah satu kunci penting untuk jauh dari penyakit di usia tua. ''Saya berprinsip lebih baik mencegah daripada mengobati. Makanya, saya sangat ketat menjaga makanan,'' tuturnya.
Selain makanan sehat, Wiwik mengatakan bahwa hidup teratur juga menjadi kunci penting kesehatan lain. Wiwik mengatakan tiap hari dirinya harus selalu tidur antara enam hingga delapan jam. ''Cukup istirahat itu kuncinya,'' tegasnya.
Wiwik mengatakan, kebiasaan hidup teratur itu berkat didikan ayahnya. ''Karena ayah dulu seorang tentara, di rumah pun kami ikut-ikutan menjadi disiplin,'' urainya.
Jadwal makan dan tidur, misalnya. Bila sudah disepakati bersama, peraturan harus ditaati. Bila waktunya jam tidur, tak ada tawar-menawar lagi. Awalnya, Wiwik mengaku merasa terkekang dengan kehidupan yang disiplin tersebut. ''Namun, justru manfaatnya betul-betul saya rasakan,'' ucapnya.
Dia dan saudara-saudaranya tak pernah sakit parah dan juga urusan sekolah tak terbengkalai. ''Itu karena kami biasa disiplin makan dan disiplin istirahat,'' tuturnya, kemudian tersenyum.
Selain itu, ada satu resep lagi dari Wiwik untuk tetap sehat dan bahagia yang cukup unik. Yakni, punya banyak teman. Sering bergaul membuat pengetahuannya luas. Hati juga gembira karena terhibur bertemu beragam karakter orang. "Kalau kita di rumah saja, mana mungkin mendapatkan itu semua," ujar Wiwik.
Dengan alasan itulah, sampai sekarang perempuan kelahiran Malang itu masih memiliki setumpuk aktivitas. Dia juga masih tercatat sebagai ketua rukun tetangga (RT) di lingkungannya. "Banyak manfaat yang di dapat dari berbagai teman," tambahnya. (may/ayi)
Minggu, 01 Maret 2009 Jawa Pos
Showing posts with label Simple inspiring people. Show all posts
Showing posts with label Simple inspiring people. Show all posts
Sunday, March 1, 2009
Thursday, October 9, 2008
Empat Rahasia Penjaga Kesehatan Kolonel Laut (Pur) Marinir Wibowo

Pada 10 Oktober besok, Kolonel Laut (Purn) Wibowo Soerjono Hadisapoetro genap berusia 83 tahun. Dikaruniai delapan anak dan dua belas cucu, sampai sekarang pria yang akrab disapa Wibowo itu tak pernah mengeluhkan kesehatannya. Bahkan, sakit yang ringan sekalipun seperti batuk nyaris tak pernah menghinggapi diri.
"Yang saya tahu batuk itu ya dari lihat orang batuk. Saya tidak pernah tahu rasanya karena tak mengalaminya," kata Wibowo saat ditemui di rumahnya di Jalan Opak Selasa sore (8/10).
Tiap tiga bulan sekali, Wibowo selalu menyempatkan diri untuk general checkup. Sampai sekarang, dokter yang menanganinya selalu mengatakan bahwa jantungnya berdetak dengan baik layaknya jantung anak muda. Bagaimana dengan gula darah dan kolesterol? "Tidak ada masalah. Semuanya normal," tegas lelaki asli Ponorogo itu.
Apa rahasianya? Dia mengaku memiliki empat cara untuk menjaga kesehatannya. "Semuanya sangat mudah dilakukan," katanya.
Rahasia pertama adalah air putih. Tiap pagi dan sore hari, Wibowo selalu minum air putih sebanyak satu liter setengah. "Pokoknya langsung dihabiskan," ujarnya. Begitu pula pada sore hari, jumlahnya sama.
Wibowo mengatakan, ada efek samping dari kebiasaan tersebut, yakni sering buang air kecil. Namun, dibandingkan kerepotan bolak-balik ke toilet, manfaat yang dirasakan jauh lebih besar.
"Pencernaan jadi sehat. Darah jadi lebih encer. Penyakit-penyakit berbahaya pun hilang luruh bersama dengan air kencing," kata sekretaris Perhimpunan Ex Heiho cabang Surabaya tersebut.
Rahasia kedua dalam menjaga kesehatan adalah berjalan dengan bertelanjang kaki tiap pagi. Wibowo setiap pagi memutari kompleks rumahnya hingga beberapa kali. Paling tidak, satu jam setengah tiap pagi.
Berjalan tanpa alas kaki, kata Wibowo, mampu merangsang titik-titik di telapak untuk melancarkan pembuluh darah. Pembuluh darah yang lancar akan sangat membantu kinerja jantung.
Yang ketiga, untuk melengkapi aktivitas, sepekan sekali dia menyempatkan diri bersepeda berkeliling kota. Itu biasanya dia lakukan pada pagi hari, saat tidak banyak kendaraan yang melintas di jalan. "Saya biasanya mengayuh sepeda keliling Kota Surabaya. Biasanya, saya mulai dari Taman Surya, muter, lantas kembali lagi ke rumah," tuturnya.
Tiap kali mengayuh sepeda onthel, Wibowo selalu menggunakan sepeda kesayangannya. Dia lantas mengajak untuk memasuki garasi rumahnya. Di sana, ada dua sepeda onthel diparkir bersebelahan. "Ini sepeda merek Ongers, asli Belanda. Saya punya dua. Satu sepeda lelaki, satu sepeda untuk perempuan. Sampai sekarang masih kuat," katanya.
Agak masuk ke dalam garasi, terdapat lemari kaca dengan beberapa piala di dalamnya. Plakat piala itu bertulisan Peserta Tertua Wisata Juang Bersepeda Trofi Walikota 2004 HUT 59 RI 2004. Di sampingnya, juga terdapat piala yang bertulisan Juara Satu Sepeda Favorit HUT RI 59 2004. "Itu piala yang diberikan saat saya ikut acara bersepeda yang diadakan pemkot," jelasnya.
Yang paling penting, lanjut dia, adalah yang keempat. Yaitu, menghindari makanan dan minuman yang membahayakan kesehatan. Misalnya, minuman beralkohol dan rokok. "Saya sering berlayar ke luar negeri. Tapi, saya tak pernah sedikit pun mencicipi minuman-minuman itu. Sama asap rokok saja saya alergi," katanya.
Alhasil, kebiasaan-kebiasaan itu mampu membuat Wibowo mempertahankan kesehatan. Sampai saat ini, dokter yang memeriksanya tak pernah mendapati ada penyakit-penyakit serius. Semua organ tubuh Wibowo masih bekerja sempurna. (aga/ayi)
Kamis, 09 Oktober 2008
JawaPos
Monday, September 15, 2008
Tiga Panduan Jalani Hidup
[Jawa Pos, Selasa, 16 September 2008 ]
Untung Sudarsono adalah sosok yang tidak ngoyo, tidak mudah marah, dan humoris. Teman-teman kerjanya yang berusia lebih muda tidak sungkan saat bergaul dan bersenda gurau dengannya. Untung tidak membeda-bedakan. Menurut dia, semua adalah temannya. Dia terkesan sangat menikmati setiap kejadian dalam hidupnya. "Pokoknya dijalani saja apa yang sudah diberikan Allah," tuturnya.
Tiga hal menjadi panduan dalam menjalani hidup. Yaitu, iman, takwa, dan berusaha. Iman bisa menuntun seseorang agar berada di jalan yang lurus. Tidak dimungkiri, dalam perjalanan hidup, banyak sekali godaan duniawi. "Kalau kita punya iman, pasti akan terhindar," jelasnya.
Ketakwaan tidak hanya diartikan pada hubungan dengan-Nya. Tapi, juga takwa kepada orang tua, keluarga, dan pimpinan. "Tidak lupa, sebagai manusia, kita harus selalu berusaha. Ciri orang hidup itu ya berusaha," tegasnya.
Begitu banyak pengalaman hidup yang sudah dilalui Untung. Itu membuatnya menjadi orang yang selalu bersyukur dan ikhlas. Misalnya, dia harus kehilangan putra pertamanya, Agus Risandi, delapan tahun lalu. "Anak saya meninggal karena sakit demam berdarah dan muntaber," tuturnya.
Agus meninggal saat berusia 17 tahun. Untung tidak menyangka bahwa sakit Agus ternyata sudah parah. Bahkan kala Agus meninggal, dia masih bertugas.
"Saya down sekali, dia kan anak pertama," ucapnya.
Tapi, perasaan itu tidak dirasakannya berlarut-larut hingga mengganggu pekerjaannya. Dia menyadari bahwa itu adalah takdir. "Berarti memang perjalanan hidup anak saya hanya sampai di situ," lanjutnya. (jan/ayi)
Untung Sudarsono adalah sosok yang tidak ngoyo, tidak mudah marah, dan humoris. Teman-teman kerjanya yang berusia lebih muda tidak sungkan saat bergaul dan bersenda gurau dengannya. Untung tidak membeda-bedakan. Menurut dia, semua adalah temannya. Dia terkesan sangat menikmati setiap kejadian dalam hidupnya. "Pokoknya dijalani saja apa yang sudah diberikan Allah," tuturnya.
Tiga hal menjadi panduan dalam menjalani hidup. Yaitu, iman, takwa, dan berusaha. Iman bisa menuntun seseorang agar berada di jalan yang lurus. Tidak dimungkiri, dalam perjalanan hidup, banyak sekali godaan duniawi. "Kalau kita punya iman, pasti akan terhindar," jelasnya.
Ketakwaan tidak hanya diartikan pada hubungan dengan-Nya. Tapi, juga takwa kepada orang tua, keluarga, dan pimpinan. "Tidak lupa, sebagai manusia, kita harus selalu berusaha. Ciri orang hidup itu ya berusaha," tegasnya.
Begitu banyak pengalaman hidup yang sudah dilalui Untung. Itu membuatnya menjadi orang yang selalu bersyukur dan ikhlas. Misalnya, dia harus kehilangan putra pertamanya, Agus Risandi, delapan tahun lalu. "Anak saya meninggal karena sakit demam berdarah dan muntaber," tuturnya.
Agus meninggal saat berusia 17 tahun. Untung tidak menyangka bahwa sakit Agus ternyata sudah parah. Bahkan kala Agus meninggal, dia masih bertugas.
"Saya down sekali, dia kan anak pertama," ucapnya.
Tapi, perasaan itu tidak dirasakannya berlarut-larut hingga mengganggu pekerjaannya. Dia menyadari bahwa itu adalah takdir. "Berarti memang perjalanan hidup anak saya hanya sampai di situ," lanjutnya. (jan/ayi)
Kerja Ikhlas Hilangkan Lelah
[ Jawa Pos, Selasa, 16 September 2008 ]
"Kerja itu harus ikhlas supaya rasa capek yang dirasa hilang." Begitu kata Briptu Untung Sudarsono mengenai profesi yang dilakoninya sebagai polisi. Dengan perasaan ikhlas, tugas berat sekalipun tidak akan menjadi beban. "Kalau kerja ngeresulo (mengeluh, Red) terus, malah gampang stres. Akibatnya, penyakit gampang masuk," tutur dia.
Pemahaman itu yang membuat Untung sangat menikmati pekerjaan. Dia lebih suka bekerja di lapangan ketimbang kantoran. Di lapangan, dia merasa dapat berinteraksi dengan masyarakat. Selain itu, dia bisa menunjukkan pengabdian secara langsung. "Saya juga nggak punya keahlian khusus. Ngetik pakai komputer saja nggak bisa. Jadi, nggak pas di kantoran," imbuhnya.
Meski usia tak lagi muda, Untung tak mau kalah dengan generasi di bawahnya. Malah, dia kerap menjadi contoh bagi rekan-rekannya. Sebab, dia selalu datang tepat waktu saat bertugas.
Demi menjadi polisi, Untung mengambil risiko tidak menyelesaikan SMA. Pada 1970, saat masih duduk di kelas 2 SMA, Untung memutuskan untuk menjadi polisi. Dia mendaftarkan diri di dua tempat. Yaitu, Sekolah Bhayangkara (Sebara) IX di Mojokerto dan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) di Batujajar, Bandung. "Dulu syarat untuk mendaftar hanya butuh ijazah SMP dan surat izin orang tua," jelasnya.
Sebenarnya, dia diterima di dua tempat. Tapi, karena yang lebih dulu mengumumkan Sebara, sekolah itulah yang dia ambil. "Dulu saya berpikir, daripada lulus SMA tidak kerja, mending saya ambil kesempatan menjadi polisi meski harus mengorbankan sekolah," ujar putra seorang petani itu.
Untung lalu menjalani pendidikan di Mojokerto selama enam bulan. Pada 1 Januari 1971, dia diangkat sebagai anggota Kepolisian Negara dan ditugaskan di Madiun hingga 1975. Setelah itu, dia dipindahkan ke Polda Jatim hingga 1985. Pada 1976, Untung ditugaskan ke Timor Timur selama 18 bulan. "Saya jadi sukarelawan untuk menjaga keamanan Timor Timur saat itu," jelasnya.
Pada 1977, Untung balik ke Surabaya dan bertugas di Kota Pahlawan hingga sekarang. Menurut cerita, pada 1999 dia pernah mengajukan pensiun. Dia sudah memiliki ancang-ancang untuk mengisi masa tua. Ternyata, terbit peraturan baru mengenai usia saat pensiun. "Dari 48 jadi 58," katanya.
Karena pangkat barunya sudah telanjur dipakai, akhirnya Untung kembali melanjutkan tugas. ''Malah jadi tambah semangat,'' ucapnya.
Mengingat usianya sekarang, berarti satu tahun lagi dia pensiun. Namun, kali ini dia justru belum memiliki rencana untuk mengisi masa tua. "Nanti saya pikirkan sambil jalan. Yang pasti, satu atau dua bulan pertama setelah pensiun, saya akan orientasi," terang Untung.
Sebenarnya, ada niat untuk membuka usaha sampingan, seperti berdagang. Tetapi, dia kemudian berkata bahwa dirinya merasa tidak punya bakat dagang. "Makanya, lihat-lihat kondisi dulu. Tetapi, untuk satu-dua bulan pertama, saya ingin menikmati masa pensiun," tuturnya. (jan/ayi)
"Kerja itu harus ikhlas supaya rasa capek yang dirasa hilang." Begitu kata Briptu Untung Sudarsono mengenai profesi yang dilakoninya sebagai polisi. Dengan perasaan ikhlas, tugas berat sekalipun tidak akan menjadi beban. "Kalau kerja ngeresulo (mengeluh, Red) terus, malah gampang stres. Akibatnya, penyakit gampang masuk," tutur dia.
Pemahaman itu yang membuat Untung sangat menikmati pekerjaan. Dia lebih suka bekerja di lapangan ketimbang kantoran. Di lapangan, dia merasa dapat berinteraksi dengan masyarakat. Selain itu, dia bisa menunjukkan pengabdian secara langsung. "Saya juga nggak punya keahlian khusus. Ngetik pakai komputer saja nggak bisa. Jadi, nggak pas di kantoran," imbuhnya.
Meski usia tak lagi muda, Untung tak mau kalah dengan generasi di bawahnya. Malah, dia kerap menjadi contoh bagi rekan-rekannya. Sebab, dia selalu datang tepat waktu saat bertugas.
Demi menjadi polisi, Untung mengambil risiko tidak menyelesaikan SMA. Pada 1970, saat masih duduk di kelas 2 SMA, Untung memutuskan untuk menjadi polisi. Dia mendaftarkan diri di dua tempat. Yaitu, Sekolah Bhayangkara (Sebara) IX di Mojokerto dan Pasukan Gerak Tjepat (PGT) di Batujajar, Bandung. "Dulu syarat untuk mendaftar hanya butuh ijazah SMP dan surat izin orang tua," jelasnya.
Sebenarnya, dia diterima di dua tempat. Tapi, karena yang lebih dulu mengumumkan Sebara, sekolah itulah yang dia ambil. "Dulu saya berpikir, daripada lulus SMA tidak kerja, mending saya ambil kesempatan menjadi polisi meski harus mengorbankan sekolah," ujar putra seorang petani itu.
Untung lalu menjalani pendidikan di Mojokerto selama enam bulan. Pada 1 Januari 1971, dia diangkat sebagai anggota Kepolisian Negara dan ditugaskan di Madiun hingga 1975. Setelah itu, dia dipindahkan ke Polda Jatim hingga 1985. Pada 1976, Untung ditugaskan ke Timor Timur selama 18 bulan. "Saya jadi sukarelawan untuk menjaga keamanan Timor Timur saat itu," jelasnya.
Pada 1977, Untung balik ke Surabaya dan bertugas di Kota Pahlawan hingga sekarang. Menurut cerita, pada 1999 dia pernah mengajukan pensiun. Dia sudah memiliki ancang-ancang untuk mengisi masa tua. Ternyata, terbit peraturan baru mengenai usia saat pensiun. "Dari 48 jadi 58," katanya.
Karena pangkat barunya sudah telanjur dipakai, akhirnya Untung kembali melanjutkan tugas. ''Malah jadi tambah semangat,'' ucapnya.
Mengingat usianya sekarang, berarti satu tahun lagi dia pensiun. Namun, kali ini dia justru belum memiliki rencana untuk mengisi masa tua. "Nanti saya pikirkan sambil jalan. Yang pasti, satu atau dua bulan pertama setelah pensiun, saya akan orientasi," terang Untung.
Sebenarnya, ada niat untuk membuka usaha sampingan, seperti berdagang. Tetapi, dia kemudian berkata bahwa dirinya merasa tidak punya bakat dagang. "Makanya, lihat-lihat kondisi dulu. Tetapi, untuk satu-dua bulan pertama, saya ingin menikmati masa pensiun," tuturnya. (jan/ayi)
Hanya Menyerah pada Angin Malam

[ Jawa Pos, Selasa, 16 September 2008 ]
Kuning Telur Ayam, Resep Sehat Briptu Untung Sudarsono
Tidak mudah menjaga badan agar tetap sehat dan bugar. Sebagian orang mungkin merasa repot. Harus teratur olahraga, menjaga pola makan, dan pola hidup sehat. Padahal, rutinitas sehari-hari sudah cukup menyita waktu. Akibatnya, kesehatan terabaikan dan timbul berbagai macam penyakit.
Namun, hal itu tidak berlaku pada Briptu Untung Sudarsono, 57. Di umur yang sudah lebih dari setengah abad, penyakit nyaris tak pernah mau bertamu kepadanya. Padahal, sejak diangkat menjadi anggota kepolisian pada 1971, pria yang akrab disapa Untung itu selalu bertugas di lapangan. Dia biasa bergelut dengan panas, debu, sinar matahari, dan angin malam.
Kondisi fisik Untung selalu prima. Dengan berat badan 70 kg dan tinggi 168 cm, Untung terlihat tegap dan gagah. "Alhamdulillah, saya tidak pernah mengalami sakit yang aneh-aneh," katanya.
Selama 37 tahun bertugas di lapangan, dia hanya pernah sakit flu dan masuk angin. Virus flu yang menyerangnya pun biasanya didapat karena tertular teman atau keluarga. Untuk menyembuhkan, dia tidak pergi ke dokter. "Beli obat flu di warung saja sudah cukup. Setelah minum, nanti sembuh," lanjut pria kelahiran Bangil itu.
Masuk angin biasanya dialami karena kondisi fisiknya terlalu lelah. Maklum, setiap hari Untung harus bertugas di pos-pos lalu lintas di Surabaya. "Tiap kali jaga kan tempatnya beda-beda," tuturnya.
Jika giliran jaga pagi, dia berangkat dari rumahnya di Krian pukul 04.30. Waktu jaga pagi dimulai pukul 05.30 hingga pukul 14.00. "Mending berangkat pagi sekalian biar nggak kena macet," tegasnya.
Jaga siang dimulai pukul 14.00 hingga pukul 22.00. Tapi kalau Sabtu, tugas malam baru berakhir pukul 23.00. Hal itu berlangsung tiap hari. Tidak ada satu hari khusus yang digunakan untuk libur. "Liburnya ya kalau sedang tidak bertugas itu. Satu hari libur 16 jam," tuturnya.
Salah satu penyebab masuk angin yang dialaminya adalah angin malam. Apalagi selama ini, Untung menggunakan sepeda motor untuk alat transportasi. Jika sudah demikian, saat tiba di rumah, dia meminta agar istrinya, Siti Fatiroh, 47, memasak air hangat untuk mandi. "Biasanya, masuk angin itu obatnya kerokan. Tapi, saya justru tidak melakukannya. Takut pori-porinya tambah besar," jelasnya.
Di dalam tas ransel yang menjadi tas kerjanya, selalu tersedia sebotol kecil minyak angin. "Kalau sedang bertugas kena masuk angin, ya ini (minyak angin) obatnya," katanya. "Caranya cukup dengan mencium bau, lalu sedikit dioleskan di bawah hidung dan leher," tambah ayah empat anak itu.
Sehari-hari Untung hanya tidur paling lama dua jam. Profesinya sebagai polisi membuat dia harus pintar memanfaatkan waktu. Jika kelelahan menghampiri saat bertugas, dia bisa memejamkan mata sambil duduk. "Tidur 15 menit sudah bikin saya segar kembali," tuturnya.
Kesehatan yang dimilikinya, menurut Untung, disebabkan sejak dulu dirinya suka berolahraga. Saat masih bersekolah di Bangil, Untung biasa mengayuh sepeda. Dia juga menguasai banyak olahraga. Mulai sepak bola, voli, bulu tangkis, taekwondo, renang, hingga fitness. "Dulu, saat masih di Bangil, saya paling suka berenang di sungai," katanya.
Tapi sudah delapan tahun terakhir, karena faktor usia, dia tidak lagi melakukan bermacam-macam olahraga. "Sekarang paling hanya lari pagi dan aerobik tiap Sabtu di lapangan Polri," lanjutnya.
Jika orang-orang seusianya mulai waswas dengan kolesterol, asam urat, darah tinggi, dan diabetes, tidak demikian Untung. "Saat medical checkup, semuanya normal dan sehat," tuturnya.
Apa rahasianya? "Mungkin karena saya tidak pernah makan yang aneh-aneh. Saya biasa makan tahu, tempe, dan sayur kulupan. Itu favorit saya," ungkap pria yang selalu membiasakan diri minum air putih sebanyak-banyaknya untuk menjaga kesehatan ginjal.
Selain itu, sejak menikah pada 1978, Untung terbiasa mengonsumsi kuning telur ayam kampung mentah. Seminggu sekali dia melakukannya. Biasanya, dia menambahkan parutan kunir dan jahe yang sudah diperas dengan air hangat. Kunir dipercaya olehnya bisa membantu menjaga kesehatan organ dalam, sedangkan jahe memberi rasa hangat. "Tiga butir kuning telur ayam kampung sekali minum," jelasnya. "Saya tidak kasih gula. Sebab, perut saya murus kalau dimasuki sesuatu yang manis," imbuhnya.
Ramuan itu, kata Untung, manjur sekali untuk menjaga stamina. ''Berguna juga untuk keharmonisan keluarga,'' tuturnya lalu tersenyum. (jan/ayi)
Tuesday, September 2, 2008
Demi Ramadan, Rela Miliaran Rupiah Melayang
Wednesday, 03 September 2008
Surabaya-Menjadi sosok yang ikhlas lahir batin dan menanggalkan kepentingan duniawi tidaklah semudah diucap. Ketika miliaran rupiah di depan mata, butuh kekuatan berlipat untuk menolaknya.
Lilieg Noer, sebuah nama yang mencorong di jagat pengrajin Jawa Timur. Wanita berjilbab ini tak hanya dikenal sebagai perajin lampu etnik, tapi juga ketua Asosiasi Perajin Jatim (APJ). Berbagai gelaran atau pameran dibuatnya untuk mempromosikan produk bikinan pengrajin Jatim.
Seperti Ramadan sebelumnya, kesibukan Lilieg di bulan puasa ini tak menyurut. Kesibukan tersebut, menurut Lilieg, tak jarang berwujud godaan duniawi yang 'sengaja' diberikanNya saat Ramadan. Silih berganti datangnya. Baik itu godaan untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, ataupun godaan setan untuk melakukan perbuatan dosa. Lilieg mencoba menepisnya.
“Jika batin tidak siap, bisa dipastikan akan selalu terbawa dan terlena untuk memburu kepentingan duniawi. Makanya dalam menjalankan ibadah puasa dan sunah rasul, saya harus selalu ikhlas lahir dan batin,” kata Lilieg mengungkap isi hatinya.
Diungkapkan Lilieg, godaan yang datang dan dialaminya di bulan suci Ramadan tahun ini, yakni tawaran pameran kerajinan di Tiongkok. Iming-imingnya tak cukup order kerajinan yang membanjir, naluri bisnisnya juga mengendus omzet miliaran rupiah. Ini karena pameran akan dikunjungi para pembeli dari seluruh dunia. Mereka pembeli dari Eropa, Afrika, serta Timur Tengah.
Namun Lilieg memutuskan menolak tawaran itu. “Dengan hati ikhlas lahir batin, saya menolak tawaran tersebut. Menjalankan ibadah dengan khusuk dan mencari pahala sebanyak mungkin lebih utama bagi saya sebagai muslimah,” kata wanita berparas ayu ini memberi alasan.
Tidak sayang kehilangan kesempatan emas? Lanjutnya, “Allah itu Maha Kuasa dan Maha Adil. Dengan banyak berkorban di bulan suci Ramadan, saya yakin akan mendapat ganti yang lebih besar. Ibadah lebih penting dibanding terus mengejar keuntungan duniawi yang sifatnya tidak kekal itu.”
Bagi Lilieg, bulan puasa sewajarnya menjadi ajang perlombaan beribadah. Pahala harus dicari dengan memberi kesenangan serta kegembiraan bagi sesama. Caranya, Lilieg Noer memendekkan jam kerja para karyawan.
Lilieg juga memperpanjang jam istirahat bagi karyawan dari setengah jam menjadi satu jam. Ini sebuah langkah unik. Sementara pengusaha lain, tanpa peduli bulan puasa tetap menggenjot produksi dengan menguras tenaga karyawannya, Lilieg justru memberi kelonggaran.
“Saya sadari karyawan juga butuh waktu lebih panjang untuk mengkhusukkan ibadahnya. Jadi, apa salahnya saya beri waktu mereka lebih banyak untuk beribadah,” ungkap Lilieg Noer yang telah ditinggal pergi suaminya 10 tahun lalu itu.
Sebagai single parents, Lilieg Noer juga selalu memberi pandangan keislaman kepada kedua putranya. Dan bulan suci Ramadan merupakan momen penting Lilieg mengajak dan membimbing mereka lebih khusuk dan ikhlas menjalankan ibadah. Selain itu, lanjut Lilieg, cobaan dan tantangan yang dihadapi oleh generasi muda seperti anaknya sangat besar.
“Mereka harus diberi pandangan bagaimana melihat kehidupan ini sesuai dengan norma agama, untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,” pungkas Lilieg.
Achmad Amru Muiz
Surabaya-Menjadi sosok yang ikhlas lahir batin dan menanggalkan kepentingan duniawi tidaklah semudah diucap. Ketika miliaran rupiah di depan mata, butuh kekuatan berlipat untuk menolaknya.
Lilieg Noer, sebuah nama yang mencorong di jagat pengrajin Jawa Timur. Wanita berjilbab ini tak hanya dikenal sebagai perajin lampu etnik, tapi juga ketua Asosiasi Perajin Jatim (APJ). Berbagai gelaran atau pameran dibuatnya untuk mempromosikan produk bikinan pengrajin Jatim.
Seperti Ramadan sebelumnya, kesibukan Lilieg di bulan puasa ini tak menyurut. Kesibukan tersebut, menurut Lilieg, tak jarang berwujud godaan duniawi yang 'sengaja' diberikanNya saat Ramadan. Silih berganti datangnya. Baik itu godaan untuk mendapatkan keuntungan lebih besar, ataupun godaan setan untuk melakukan perbuatan dosa. Lilieg mencoba menepisnya.
“Jika batin tidak siap, bisa dipastikan akan selalu terbawa dan terlena untuk memburu kepentingan duniawi. Makanya dalam menjalankan ibadah puasa dan sunah rasul, saya harus selalu ikhlas lahir dan batin,” kata Lilieg mengungkap isi hatinya.
Diungkapkan Lilieg, godaan yang datang dan dialaminya di bulan suci Ramadan tahun ini, yakni tawaran pameran kerajinan di Tiongkok. Iming-imingnya tak cukup order kerajinan yang membanjir, naluri bisnisnya juga mengendus omzet miliaran rupiah. Ini karena pameran akan dikunjungi para pembeli dari seluruh dunia. Mereka pembeli dari Eropa, Afrika, serta Timur Tengah.
Namun Lilieg memutuskan menolak tawaran itu. “Dengan hati ikhlas lahir batin, saya menolak tawaran tersebut. Menjalankan ibadah dengan khusuk dan mencari pahala sebanyak mungkin lebih utama bagi saya sebagai muslimah,” kata wanita berparas ayu ini memberi alasan.
Tidak sayang kehilangan kesempatan emas? Lanjutnya, “Allah itu Maha Kuasa dan Maha Adil. Dengan banyak berkorban di bulan suci Ramadan, saya yakin akan mendapat ganti yang lebih besar. Ibadah lebih penting dibanding terus mengejar keuntungan duniawi yang sifatnya tidak kekal itu.”
Bagi Lilieg, bulan puasa sewajarnya menjadi ajang perlombaan beribadah. Pahala harus dicari dengan memberi kesenangan serta kegembiraan bagi sesama. Caranya, Lilieg Noer memendekkan jam kerja para karyawan.
Lilieg juga memperpanjang jam istirahat bagi karyawan dari setengah jam menjadi satu jam. Ini sebuah langkah unik. Sementara pengusaha lain, tanpa peduli bulan puasa tetap menggenjot produksi dengan menguras tenaga karyawannya, Lilieg justru memberi kelonggaran.
“Saya sadari karyawan juga butuh waktu lebih panjang untuk mengkhusukkan ibadahnya. Jadi, apa salahnya saya beri waktu mereka lebih banyak untuk beribadah,” ungkap Lilieg Noer yang telah ditinggal pergi suaminya 10 tahun lalu itu.
Sebagai single parents, Lilieg Noer juga selalu memberi pandangan keislaman kepada kedua putranya. Dan bulan suci Ramadan merupakan momen penting Lilieg mengajak dan membimbing mereka lebih khusuk dan ikhlas menjalankan ibadah. Selain itu, lanjut Lilieg, cobaan dan tantangan yang dihadapi oleh generasi muda seperti anaknya sangat besar.
“Mereka harus diberi pandangan bagaimana melihat kehidupan ini sesuai dengan norma agama, untuk bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,” pungkas Lilieg.
Achmad Amru Muiz
Wednesday, August 20, 2008
Tampil "Gila" Demi Kampung
[Jawa Pos, Kamis, 21 Agustus 2008 ]
PENJURIAN 50 RT kategori wilayah berkembang terus berlanjut. Kemarin (20/8) giliran empat RT di Kecamatan Rungkut yang didatangi tim juri. Empat kampung itu saling memamerkan kelebihan masing-masing. ''Dari keempat peserta, ada satu RT yang sangat menonjol,'' kata Evita Wulandari, salah seorang juri dari Yayasan Unilever Indonesia.
Yang dimaksud adalah RT 7 RW 1 Kelurahan Rungkut Menanggal. Sambutan warga di RT tersebut sangat heboh. Sebanyak 32 kader lingkungan mengenakan seragam merah putih dengan aksesori mahkota dari sampah bekas mi instan. Mereka juga memakai kalung dan rok yang terbuat dari sedotan bekas. Dengan dandanan unik itu, warga bernyanyi keliling kampung.
Sambil meneriakkan yel-yel, mereka membawa peralatan musik dari dapur, seperti wajan, sutil, dan panci. Sebagai pengeras suara, mereka menggunakan tape yang ditaruh di dalam keranjang bayi dan diikat.
Menurut Ketua RT 7 Sutaji, ulah ''gila'' kader lingkungan itu sebenarnya merupakan bukti antusiasme dan kekompakan warga. Mereka sangat bersemangat karena berhasil masuk ke babak 50 besar. ''Sebenarnya, kami tidak menyangka bisa masuk ke 50 besar,'' tutur Sutaji.
Muarofah Sutaji, koordinator kader lingkungan RT 7, menerangkan, warga di kampungnya saling kenal satu sama lain dengan baik. Hal ini yang membuat dirinya dan kader lingkungan tidak malu berbuat gila-gilaan seperti itu. ''Santai aja, mereka juga saudara kita,'' ujarnya.
Muarofah menambahkan, berkat kekompakan warga, kampung yang dulunya berupa rawa-rawa tersebut bisa disulap menjadi kampung yang bersih. ''Kami baru mempersiapkannya April lalu,'' jelas dia.
Melihat antusiasme warga, tim juri kompak menyatakan bahwa sambutan RT 7 RW 1 Rungkut Menanggal termasuk paling heboh. ''Tempat ini kami nobatkan sebagai wilayah dengan penyambutan terheboh,'' tegas Evita.
Selain sambutan yang heboh, warga juga memiliki inovasi lain. Dengan bantuan Ketua RW 5 H Sayi, kampung itu mampu menciptakan komposter berukuran besar di dalam tanah. Komposter tersebut dibuat seperti sumur untuk membuang sampah basah. ''Kami menyebutnya sumokura, singkatan dari sumur takakura,'' kata Sayi.
Tim juri juga mendatangi RT 2 RW 4 Penjaringansari, RT 9 RW 4 Medokan Ayu, dan RT 4 RW 4 Panjang Jiwo. (dan/oni)
PENJURIAN 50 RT kategori wilayah berkembang terus berlanjut. Kemarin (20/8) giliran empat RT di Kecamatan Rungkut yang didatangi tim juri. Empat kampung itu saling memamerkan kelebihan masing-masing. ''Dari keempat peserta, ada satu RT yang sangat menonjol,'' kata Evita Wulandari, salah seorang juri dari Yayasan Unilever Indonesia.
Yang dimaksud adalah RT 7 RW 1 Kelurahan Rungkut Menanggal. Sambutan warga di RT tersebut sangat heboh. Sebanyak 32 kader lingkungan mengenakan seragam merah putih dengan aksesori mahkota dari sampah bekas mi instan. Mereka juga memakai kalung dan rok yang terbuat dari sedotan bekas. Dengan dandanan unik itu, warga bernyanyi keliling kampung.
Sambil meneriakkan yel-yel, mereka membawa peralatan musik dari dapur, seperti wajan, sutil, dan panci. Sebagai pengeras suara, mereka menggunakan tape yang ditaruh di dalam keranjang bayi dan diikat.
Menurut Ketua RT 7 Sutaji, ulah ''gila'' kader lingkungan itu sebenarnya merupakan bukti antusiasme dan kekompakan warga. Mereka sangat bersemangat karena berhasil masuk ke babak 50 besar. ''Sebenarnya, kami tidak menyangka bisa masuk ke 50 besar,'' tutur Sutaji.
Muarofah Sutaji, koordinator kader lingkungan RT 7, menerangkan, warga di kampungnya saling kenal satu sama lain dengan baik. Hal ini yang membuat dirinya dan kader lingkungan tidak malu berbuat gila-gilaan seperti itu. ''Santai aja, mereka juga saudara kita,'' ujarnya.
Muarofah menambahkan, berkat kekompakan warga, kampung yang dulunya berupa rawa-rawa tersebut bisa disulap menjadi kampung yang bersih. ''Kami baru mempersiapkannya April lalu,'' jelas dia.
Melihat antusiasme warga, tim juri kompak menyatakan bahwa sambutan RT 7 RW 1 Rungkut Menanggal termasuk paling heboh. ''Tempat ini kami nobatkan sebagai wilayah dengan penyambutan terheboh,'' tegas Evita.
Selain sambutan yang heboh, warga juga memiliki inovasi lain. Dengan bantuan Ketua RW 5 H Sayi, kampung itu mampu menciptakan komposter berukuran besar di dalam tanah. Komposter tersebut dibuat seperti sumur untuk membuang sampah basah. ''Kami menyebutnya sumokura, singkatan dari sumur takakura,'' kata Sayi.
Tim juri juga mendatangi RT 2 RW 4 Penjaringansari, RT 9 RW 4 Medokan Ayu, dan RT 4 RW 4 Panjang Jiwo. (dan/oni)
Sumur Takakura alias Sumokura Karya Warga Rungkut Menanggal Mampu Kurangi Sampah hingga 90 Persen
[Jawa Pos, Kamis, 21 Agustus 2008 ]
Komposter resapan alias biopori lazimnya terbuat dari pipa paralon. Tapi, warga RT 7 RW 1 Rungkut Menanggal memiliki terobosan baru. Mereka membikin komposter mirip sumur. Namanya sumokura.
HAJI SAYI, 50, ketua RW 1 Rungkut Menanggal, merasa resah. Sebab, banyak warga kampung tidak mampu membeli keranjang takakura. Padahal, semangat mereka untuk berpartisipasi dalam lomba Kampungku Bersih Surabaya Green and Clean sangat tinggi. Warga memang memiliki komposter resapan. Tapi, kapasitasnya tidak cukup untuk menampung sampah basah yang dihasilkan tiap rumah di kampung tersebut. Maklum, komposter resapan itu hanya mampu menampung setengah kilogram sampah.
Selaku ketua RW, Sayi merasa ikut bertanggung jawab menyediakan komposter sampah bagi warganya. Namun, dia tak mampu bila harus membeli keranjang takakura untuk seluruh warganya. Dia lantas mencari solusi. Dia membahas masalah itu bersama Ketua RT 7 Sutaji, 42. Selama kurang lebih dua jam berkeliling kampung, akhirnya mereka mendapatkan ide untuk membuat komposter resapan yang mampu menampung sampah basah rumah tangga dalam jumlah besar.
Mulailah mereka mencari alternatif lain untuk mengganti bahan komposter itu. Akhirnya, mereka sepakat membuat sumur yang digali dengan bor, tapi tidak sampai keluar mata air. Kedalamannya sekitar 3 meter di bawah tanah dan berdiameter 8 dim. Karena bentuk yang besar seperti sumur, warga lantas menamakannya dengan istilah sumur takakura atau disingkat dengan sumokura.
Secara keseluruhan, komposter berbentuk sumur itu tak jauh berbeda dengan komposter resapan yang terbuat dari paralon. Menurut Sayi, meski berbentuk besar dan tak menggunakan buis, komposter tersebut tidak akan mengganggu warga. "Bahkan, kalau menggunakan buis, pengomposan akan berlangsung lama," ujarnya.
Pembuatan sumokura cukup rumit, terutama saat membikin lubang di tanah. Warga harus menggunakan mesin bor. "Kalau digali secara manual, pasti berhari-hari jadinya," tutur Sayi sambil tersenyum.
Hingga kini, RT 7 RW 1 Rungkut Menanggal sudah menanam empat sumokura di kampungnya. Dengan empat sumokura itu, warga mampu mereduksi sampah basah mereka hingga 90 persen dari total yang ada. "Sisanya adalah sampah yang tidak dapat didaur ulang maupun dikomposkan," terangnya.
Selain itu, Sayi menambahkan, dirinya bersama Sutaji mengembangkan biopori dari kaleng bekas cat yang telah ditanam sebanyak 30 buah. "Setiap rumah memiliki satu biopori itu. Sekarang kami kebingungan mencari sampah," imbuh Sayi sambil tersenyum. (oni)
INDRA DANU SAPUTRA, Surabaya
Komposter resapan alias biopori lazimnya terbuat dari pipa paralon. Tapi, warga RT 7 RW 1 Rungkut Menanggal memiliki terobosan baru. Mereka membikin komposter mirip sumur. Namanya sumokura.
HAJI SAYI, 50, ketua RW 1 Rungkut Menanggal, merasa resah. Sebab, banyak warga kampung tidak mampu membeli keranjang takakura. Padahal, semangat mereka untuk berpartisipasi dalam lomba Kampungku Bersih Surabaya Green and Clean sangat tinggi. Warga memang memiliki komposter resapan. Tapi, kapasitasnya tidak cukup untuk menampung sampah basah yang dihasilkan tiap rumah di kampung tersebut. Maklum, komposter resapan itu hanya mampu menampung setengah kilogram sampah.
Selaku ketua RW, Sayi merasa ikut bertanggung jawab menyediakan komposter sampah bagi warganya. Namun, dia tak mampu bila harus membeli keranjang takakura untuk seluruh warganya. Dia lantas mencari solusi. Dia membahas masalah itu bersama Ketua RT 7 Sutaji, 42. Selama kurang lebih dua jam berkeliling kampung, akhirnya mereka mendapatkan ide untuk membuat komposter resapan yang mampu menampung sampah basah rumah tangga dalam jumlah besar.
Mulailah mereka mencari alternatif lain untuk mengganti bahan komposter itu. Akhirnya, mereka sepakat membuat sumur yang digali dengan bor, tapi tidak sampai keluar mata air. Kedalamannya sekitar 3 meter di bawah tanah dan berdiameter 8 dim. Karena bentuk yang besar seperti sumur, warga lantas menamakannya dengan istilah sumur takakura atau disingkat dengan sumokura.
Secara keseluruhan, komposter berbentuk sumur itu tak jauh berbeda dengan komposter resapan yang terbuat dari paralon. Menurut Sayi, meski berbentuk besar dan tak menggunakan buis, komposter tersebut tidak akan mengganggu warga. "Bahkan, kalau menggunakan buis, pengomposan akan berlangsung lama," ujarnya.
Pembuatan sumokura cukup rumit, terutama saat membikin lubang di tanah. Warga harus menggunakan mesin bor. "Kalau digali secara manual, pasti berhari-hari jadinya," tutur Sayi sambil tersenyum.
Hingga kini, RT 7 RW 1 Rungkut Menanggal sudah menanam empat sumokura di kampungnya. Dengan empat sumokura itu, warga mampu mereduksi sampah basah mereka hingga 90 persen dari total yang ada. "Sisanya adalah sampah yang tidak dapat didaur ulang maupun dikomposkan," terangnya.
Selain itu, Sayi menambahkan, dirinya bersama Sutaji mengembangkan biopori dari kaleng bekas cat yang telah ditanam sebanyak 30 buah. "Setiap rumah memiliki satu biopori itu. Sekarang kami kebingungan mencari sampah," imbuh Sayi sambil tersenyum. (oni)
INDRA DANU SAPUTRA, Surabaya
Wednesday, July 23, 2008
Saya latihan kerja mulai tukang sapu (true story)
Saya meniti karir dengan kerja keras. Benar-benar dari bawah. Tidak langsung mengganti ayah saya sebagai pimpinan pabrik yang saat itu dindingnya masih terbuat dari gedek. Saya membantu ayah di kantor mulai dari tukang sapu, mengantarkan barang kepada pelanggan, hingga menagih pembayaran dari rekanan.
Pekerjaan itu saya lakukan mulai dari beratnya menjadi tukang bersih-bersih, menjadi juru tagih dan sebagainya. Jadi, ini merupakan pelajaran berharga bagi diri saya agar tidak lupa kepada bawahan yang kerjanya juga tak kalah berat.
Yang juga perlu diperhatikan dalam mengembangkan bisnis, adalah membangun kepercayaan. Sebab, bagaimanapun juga bisnis adalah lembaga kepercayaan. Tanpa ada kepercayaan atau kita tidak dipercaya, maka tidak akan mungkin kita bisa sukses dalam berbisnis. Dari sisi etika, kepercayaan juga menjadi modal utama dalam urusan yang lain. Tanpa adanya kepercayaan, kredibilitas seseorang akan hilang.
Selain itu, kita juga harus menganggap kepada seseorang yang memiliki kemampuan berbisnis sebagai guru. Soalnya setiap orang yang memiliki keahlian pada suatu bidang, tentu akan lebih tahu dan lebih menguasai bidangnya. Dari situ, kita akan memperoleh ilmu dan keahlian sebanyak-banyaknya. Sehingga, kita akan memiliki kelebihan bernegosiasi dalam dunia bisnis.
Yang tak kalah pentingnya, kita juga harus bisa memanfaatkan peluang yang ada di sekitar kita. Artinya, kita dituntut memiliki kepekaan terhadap peluang bisnis yang bisa meningkatkan omzet bisnis kita. Jadi, peluang itu harus dapat diwujudkan dengan niat dan tindakan yang nyata. Kepekaan memanfaatkan peluang ini merupakan salah satu modal utama dalam mengembangkan bisnis. Dan, untuk bisa memiliki naluri bisnis yang peka itu harus banyak latihan.
Jadi, bila anda ingin sukses dalam berbisnis, tekunilah bidang yang anda miliki. Kemudian asahlah kemampuan yang kita miliki dengan berbagai cara, seperti sekolah atau belajar secara otodidak. Selanjutnya, asahlah kepekaan itu sesuai dengan bidang kemampuan yang anda miliki. Terakhir belajarlah mandiri dan jangan terlalu bergantung pada bantuan orang lain.
Pekerjaan itu saya lakukan mulai dari beratnya menjadi tukang bersih-bersih, menjadi juru tagih dan sebagainya. Jadi, ini merupakan pelajaran berharga bagi diri saya agar tidak lupa kepada bawahan yang kerjanya juga tak kalah berat.
Yang juga perlu diperhatikan dalam mengembangkan bisnis, adalah membangun kepercayaan. Sebab, bagaimanapun juga bisnis adalah lembaga kepercayaan. Tanpa ada kepercayaan atau kita tidak dipercaya, maka tidak akan mungkin kita bisa sukses dalam berbisnis. Dari sisi etika, kepercayaan juga menjadi modal utama dalam urusan yang lain. Tanpa adanya kepercayaan, kredibilitas seseorang akan hilang.
Selain itu, kita juga harus menganggap kepada seseorang yang memiliki kemampuan berbisnis sebagai guru. Soalnya setiap orang yang memiliki keahlian pada suatu bidang, tentu akan lebih tahu dan lebih menguasai bidangnya. Dari situ, kita akan memperoleh ilmu dan keahlian sebanyak-banyaknya. Sehingga, kita akan memiliki kelebihan bernegosiasi dalam dunia bisnis.
Yang tak kalah pentingnya, kita juga harus bisa memanfaatkan peluang yang ada di sekitar kita. Artinya, kita dituntut memiliki kepekaan terhadap peluang bisnis yang bisa meningkatkan omzet bisnis kita. Jadi, peluang itu harus dapat diwujudkan dengan niat dan tindakan yang nyata. Kepekaan memanfaatkan peluang ini merupakan salah satu modal utama dalam mengembangkan bisnis. Dan, untuk bisa memiliki naluri bisnis yang peka itu harus banyak latihan.
Jadi, bila anda ingin sukses dalam berbisnis, tekunilah bidang yang anda miliki. Kemudian asahlah kemampuan yang kita miliki dengan berbagai cara, seperti sekolah atau belajar secara otodidak. Selanjutnya, asahlah kepekaan itu sesuai dengan bidang kemampuan yang anda miliki. Terakhir belajarlah mandiri dan jangan terlalu bergantung pada bantuan orang lain.
Saya latihan kerja mulai tukang sapu (true story)
Saya meniti karir dengan kerja keras. Benar-benar dari bawah. Tidak langsung mengganti ayah saya sebagai pimpinan pabrik yang saat itu dindingnya masih terbuat dari gedek. Saya membantu ayah di kantor mulai dari tukang sapu, mengantarkan barang kepada pelanggan, hingga menagih pembayaran dari rekanan.
Pekerjaan itu saya lakukan mulai dari beratnya menjadi tukang bersih-bersih, menjadi juru tagih dan sebagainya. Jadi, ini merupakan pelajaran berharga bagi diri saya agar tidak lupa kepada bawahan yang kerjanya juga tak kalah berat.
Yang juga perlu diperhatikan dalam mengembangkan bisnis, adalah membangun kepercayaan. Sebab, bagaimanapun juga bisnis adalah lembaga kepercayaan. Tanpa ada kepercayaan atau kita tidak dipercaya, maka tidak akan mungkin kita bisa sukses dalam berbisnis. Dari sisi etika, kepercayaan juga menjadi modal utama dalam urusan yang lain. Tanpa adanya kepercayaan, kredibilitas seseorang akan hilang.
Selain itu, kita juga harus menganggap kepada seseorang yang memiliki kemampuan berbisnis sebagai guru. Soalnya setiap orang yang memiliki keahlian pada suatu bidang, tentu akan lebih tahu dan lebih menguasai bidangnya. Dari situ, kita akan memperoleh ilmu dan keahlian sebanyak-banyaknya. Sehingga, kita akan memiliki kelebihan bernegosiasi dalam dunia bisnis.
Yang tak kalah pentingnya, kita juga harus bisa memanfaatkan peluang yang ada di sekitar kita. Artinya, kita dituntut memiliki kepekaan terhadap peluang bisnis yang bisa meningkatkan omzet bisnis kita. Jadi, peluang itu harus dapat diwujudkan dengan niat dan tindakan yang nyata. Kepekaan memanfaatkan peluang ini merupakan salah satu modal utama dalam mengembangkan bisnis. Dan, untuk bisa memiliki naluri bisnis yang peka itu harus banyak latihan.
Jadi, bila anda ingin sukses dalam berbisnis, tekunilah bidang yang anda miliki. Kemudian asahlah kemampuan yang kita miliki dengan berbagai cara, seperti sekolah atau belajar secara otodidak. Selanjutnya, asahlah kepekaan itu sesuai dengan bidang kemampuan yang anda miliki. Terakhir belajarlah mandiri dan jangan terlalu bergantung pada bantuan orang lain.
Pekerjaan itu saya lakukan mulai dari beratnya menjadi tukang bersih-bersih, menjadi juru tagih dan sebagainya. Jadi, ini merupakan pelajaran berharga bagi diri saya agar tidak lupa kepada bawahan yang kerjanya juga tak kalah berat.
Yang juga perlu diperhatikan dalam mengembangkan bisnis, adalah membangun kepercayaan. Sebab, bagaimanapun juga bisnis adalah lembaga kepercayaan. Tanpa ada kepercayaan atau kita tidak dipercaya, maka tidak akan mungkin kita bisa sukses dalam berbisnis. Dari sisi etika, kepercayaan juga menjadi modal utama dalam urusan yang lain. Tanpa adanya kepercayaan, kredibilitas seseorang akan hilang.
Selain itu, kita juga harus menganggap kepada seseorang yang memiliki kemampuan berbisnis sebagai guru. Soalnya setiap orang yang memiliki keahlian pada suatu bidang, tentu akan lebih tahu dan lebih menguasai bidangnya. Dari situ, kita akan memperoleh ilmu dan keahlian sebanyak-banyaknya. Sehingga, kita akan memiliki kelebihan bernegosiasi dalam dunia bisnis.
Yang tak kalah pentingnya, kita juga harus bisa memanfaatkan peluang yang ada di sekitar kita. Artinya, kita dituntut memiliki kepekaan terhadap peluang bisnis yang bisa meningkatkan omzet bisnis kita. Jadi, peluang itu harus dapat diwujudkan dengan niat dan tindakan yang nyata. Kepekaan memanfaatkan peluang ini merupakan salah satu modal utama dalam mengembangkan bisnis. Dan, untuk bisa memiliki naluri bisnis yang peka itu harus banyak latihan.
Jadi, bila anda ingin sukses dalam berbisnis, tekunilah bidang yang anda miliki. Kemudian asahlah kemampuan yang kita miliki dengan berbagai cara, seperti sekolah atau belajar secara otodidak. Selanjutnya, asahlah kepekaan itu sesuai dengan bidang kemampuan yang anda miliki. Terakhir belajarlah mandiri dan jangan terlalu bergantung pada bantuan orang lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)