Entah sudah berapa kali aku mengucapkan "Waduh, sudah tanggal 11 padahal deadline-nya tanggal 21. Mana draftnya belum jadi lagi." Atau " Wah ga terasa bulan depan sudah mau puasa lagi, padahal kayaknya baru kemarin lebaran..."
Mungkin anda juga mengalami hal yang sama seperti saya rasakan, waktu itu kok cepat sekali berlalu. Kita sepertinya belum ngapa-ngapain, eh sudah berganti minggu, bulan, atau tahun. Kondisi itu seringkali menyebabkan penyesalan yang tiada berguna.
Seringkali juga kita berjanji untuk memperbaikinya dengan berkomitmen untuk menggunakan waktu sebaik mungkin, tapi janji tinggal janji. Sekali (lagi), waktu berjalan dan kita masih belum menghasilkan apa-apa. Kalaupun menghasilkan sesuatu, pasti tidak maksimal dengan alasan kita baru melakukannya in the last minutes. Seandainya sejak awal-awal, pasti hasilnya lebih bagus. But, really???
Pengalaman saya, seringkali berkomitmen membagi load kerja/tugas di awal sehingga tidak terburu-buru di akhir, namun tetap saja ga bisa. Selalu mengerjakannya in the last minutes.
Sudah lebih dari 5 buku dan banyak artikel pendek tentang manajemen waktu yang kubaca, namun kebiasan membagi tugas di awal seringkali gagal. Paling-paling hanya bertahan satu-dua-tiga minggu saja, selanjutnya numpuk di belakang.
Pernah baca juga sih, katanya itu adalah style. Ada orang yang baru keluar ide-ide kreatif dan moodnya kalau dalam keadaan tertekan yaitu ketika sudah menjelang deadline. Semua tenaga dan pikiran kayaknya menjadi fokus dan akselerasinya sangat cepat. Tapi ya itu, seringkali ga teliti. Setelah itu ya menyesal, kenapa ga dulu-dulu dicicil sedikit demi sedikit biar ada waktu check and recheck.
Duhai, ada yang bisa membantu bagaimana caranya supaya lebih konsisten mengikuti roda sang waktu. Tidak seperti roller coster yang kadang waktu itu begitu lambat ketika akan naik ke atas, namun sangat cepat ketika turun ke bawah...
Showing posts with label Komentar dan tulisan bebas. Show all posts
Showing posts with label Komentar dan tulisan bebas. Show all posts
Saturday, July 10, 2010
Saturday, January 2, 2010
Masih ada kesempatan.....
Satu lagi tahun meninggalkan diriku. Satu sisi senang karena diberi kesempatan menggunakan waktu lebih lama, tapi satu sisi sedih karena waktu yang digunakan tersebut tidak optimal. Semestinya lebih banyak hal yang luar biasa yang dapat aku lakukan, dengan waktu segitu itu 24 jam sehari 30 hari sebulan 12 bulan setahun. Dia, mereka, sama juga mendapatkan waktu selama itu. Tidak kurang, pun tidak lebih. Salahku memilih untuk menggunakan waktu untuk kegiatan yang membuaikan, melalaikan, bahkan menjerumuskan yang tidak memberikan manfaat apa-apa yang sesungguhnya bagi diriku. Padahal, sekali lagi waktu yang ada ya segitu-gitu, sama buat semua orang. Ibaratnya masing-masing orang sudah dapat sebuah gelas yang sama persis ukurannya, katakanlah satu liter dan mereka semua mau ga mau harus mengisinya. Tapi disinilah bedanya, yaitu saat mengisinya. Ada yang bijak dan cerdas, mereka mengisi dengan isi yang baik seperti madu, susu, jus, dll yang menyehatkan, memberikan kekuatan, dan memberikan kebahagian. Di lain sisi, ada pula yang mengisinya dengan minuman alkohol, air mentah, bahkan air yang tercemar limbah! Akibatnya mereka mabuk, terbuai, sakit perut, bahkan keracunan.
Tetapi Maha Terpujilah Tuhan Yang Maha Penyayang. Beliau masih memberikan kesempatan kepada kita semua. Sekali lagi, entah setelah berapa kali sekali lagi, memberikan gelas lainnya untuk kita gunakan. Sungguh, benar-benar Yang Maha Pemurah. Beliau tidak pilih-pilih, semua diberi. Baik yang bijak dan cerdas yang mempergunakan gelasnya untuk mengambil yang baik-baik, maupun yang lalai dan tersesat yang mempergunakan gelasnya untuk mengambil sesuatu yang memabukkan, mengandung racun. Beliau masih berkenan memberikan kesempatan sekali lagi. Beliau masih mempercayai kita untuk memanfaatkan gelas yang diberikan-Nya.
Akankah kita masih lalai dan mengabaikan kepercayaan yang diberikan oleh-Nya dengan sangat tulus, tanpa melihat apapun yang sudah kita lakukan. Beliau masih menaruh harapan kepada kita untuk berubah dan mengisi gelas kita dengan minuman-minuman yang sehat dan menguatkan. Bukan untuk Beliau. Beliau sama sekali tidak perlu minuman-minuman yang akan kita isi dalam gelas kita. Beliau adalah yang mempunyai sifat-sifat Maha. Minuman yang akan kita isi dalam gelas kita sendiri adalah untuk bekal perjalanan kita sendiri, baik perjalanan yang panjang di dunia maupun perjalanan yang sangat panjang di akhirat. Jangan sampai kita kehausan, kelelahan tidak bertenaga dikarenakan bekal dalam gelas yang selama ini kita kumpulkan tidak mencukupi atau bahkan justru meracuni kita. Sehingga kita tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan.
Tahun ini, 2010, sudah berjalan tiga hari. Itu berarti gelas yang sudah dipergunakan sekitar 0,8% dan kalau dibulatkan sekitar 1%. Jadi sisanya tinggal 99%! Padahal tahun baru seolah-olah baru terjadi kemarin, tapi gelas kita sudah tidak full lagi, sudah terisi 1%. Tapi minuman apa yang sudah diisikan? Minuman yang menguatkankah atau justru yang meracuni?
Dalam perjalanan kita mengisi gelas-gelas kita, Tuhan YM Pemurah telah membekali petunjuk-petunjuk untuk mencari minuman yang menguatkan itu. Tidak cuma petunjuk namun juga alat pendeteksinya, yaitu badan, akal, dan hati. Gunakan itu semua dengan baik, jangan terlena oleh fatamorgana yang menggoda, naik itu menyesatkan dan membuat diri menjadi lemah karena membelokan perjalanan semakin jauh dari tempat tujuan. Padahal kita semua sedang berjalan dalam gurun yang panas. Jadi semakin seseorang tersesat jauh akibat tergoda oleh fatamorgana dunia, maka dirinya akan semakin lelah, kepanasan, dan akan mungkin mati karena mengejar fatamorgana itu.
Jaga keteguhanmu, tetaplah disiplin menjalani perjalanan panjang menuju ke tempat tujuan tersebut. Tidak ada yang tahu seberapa jauh tempat tujuan tersebut. Tapi jika kita dapat membekali diri dengan minuman yang menguatkan dan menyegarkan maka kita akan ringan dan ikhlas, meskipun berjalan menuju tempat tujuan di tengah gurun panas adalah perjalanan yang sangat berat. Semoga kita semua dapat mempergunakan gelas tahun 2010 yang sudah tersisa 99% ini dengan bijaksana dan selamat sampai ke tempat tujuan.
Jakarta, 3 Januari 2010
Tetapi Maha Terpujilah Tuhan Yang Maha Penyayang. Beliau masih memberikan kesempatan kepada kita semua. Sekali lagi, entah setelah berapa kali sekali lagi, memberikan gelas lainnya untuk kita gunakan. Sungguh, benar-benar Yang Maha Pemurah. Beliau tidak pilih-pilih, semua diberi. Baik yang bijak dan cerdas yang mempergunakan gelasnya untuk mengambil yang baik-baik, maupun yang lalai dan tersesat yang mempergunakan gelasnya untuk mengambil sesuatu yang memabukkan, mengandung racun. Beliau masih berkenan memberikan kesempatan sekali lagi. Beliau masih mempercayai kita untuk memanfaatkan gelas yang diberikan-Nya.
Akankah kita masih lalai dan mengabaikan kepercayaan yang diberikan oleh-Nya dengan sangat tulus, tanpa melihat apapun yang sudah kita lakukan. Beliau masih menaruh harapan kepada kita untuk berubah dan mengisi gelas kita dengan minuman-minuman yang sehat dan menguatkan. Bukan untuk Beliau. Beliau sama sekali tidak perlu minuman-minuman yang akan kita isi dalam gelas kita. Beliau adalah yang mempunyai sifat-sifat Maha. Minuman yang akan kita isi dalam gelas kita sendiri adalah untuk bekal perjalanan kita sendiri, baik perjalanan yang panjang di dunia maupun perjalanan yang sangat panjang di akhirat. Jangan sampai kita kehausan, kelelahan tidak bertenaga dikarenakan bekal dalam gelas yang selama ini kita kumpulkan tidak mencukupi atau bahkan justru meracuni kita. Sehingga kita tidak akan pernah sampai ke tempat tujuan.
Tahun ini, 2010, sudah berjalan tiga hari. Itu berarti gelas yang sudah dipergunakan sekitar 0,8% dan kalau dibulatkan sekitar 1%. Jadi sisanya tinggal 99%! Padahal tahun baru seolah-olah baru terjadi kemarin, tapi gelas kita sudah tidak full lagi, sudah terisi 1%. Tapi minuman apa yang sudah diisikan? Minuman yang menguatkankah atau justru yang meracuni?
Dalam perjalanan kita mengisi gelas-gelas kita, Tuhan YM Pemurah telah membekali petunjuk-petunjuk untuk mencari minuman yang menguatkan itu. Tidak cuma petunjuk namun juga alat pendeteksinya, yaitu badan, akal, dan hati. Gunakan itu semua dengan baik, jangan terlena oleh fatamorgana yang menggoda, naik itu menyesatkan dan membuat diri menjadi lemah karena membelokan perjalanan semakin jauh dari tempat tujuan. Padahal kita semua sedang berjalan dalam gurun yang panas. Jadi semakin seseorang tersesat jauh akibat tergoda oleh fatamorgana dunia, maka dirinya akan semakin lelah, kepanasan, dan akan mungkin mati karena mengejar fatamorgana itu.
Jaga keteguhanmu, tetaplah disiplin menjalani perjalanan panjang menuju ke tempat tujuan tersebut. Tidak ada yang tahu seberapa jauh tempat tujuan tersebut. Tapi jika kita dapat membekali diri dengan minuman yang menguatkan dan menyegarkan maka kita akan ringan dan ikhlas, meskipun berjalan menuju tempat tujuan di tengah gurun panas adalah perjalanan yang sangat berat. Semoga kita semua dapat mempergunakan gelas tahun 2010 yang sudah tersisa 99% ini dengan bijaksana dan selamat sampai ke tempat tujuan.
Jakarta, 3 Januari 2010
Friday, December 18, 2009
Celebrating 1 year bike to work
Hari ini pas 1 tahun menggunakan sepeda ke tempat kerja. Menjelang akhir bulan Desember 2008, kuputuskan untuk membeli sepeda sebagai sarana transpotasi untuk ke tempat kerja. Beramai-ramai dengan anggota keluarga, pergilah kami ke Roxy Mas setelah berkunjung dari museum di Kota. Lihat-lihat, akhirnya jatuhlah pilihanku ke sepeda Polygon tipe City Bike. Model yang kupilih adalah Sierra DX dengan harga sekitar Rp1.900.000, paling mahal di kelasnya.

Senang sekali memulai kebiasaan baru naik sepeda. Pas hari pertama naik sepeda ke tempat kerja, baru sekitar 2 kilometer, kepala agak nggeliyeng dan mata berkunang-kunang berasa mau muntah. Sempat kepikir mau pulang lagi saja, ganti naik motor. Tapi hati dikuatkan meskipun jarak masih sekitar 8 kilo lagi dan menghadang fly over di depan. Menjelang naik fly over, kaki kayak gemeteran menggenjot pedal yang seolah tidak mau bergerak. Rasa tengsin alias malu oleh sahutan pejalan kaki di pinggir fly over, "ayo mas, terus...terus, genjot lagi. he..he..he" Entah itu mau ngasih semangat atau mau ngeledekin, tapi aku merasa gak boleh turun dan menuntun sepeda. Puncak sudah sebentar lagi. Dan tidak perlu banyak waktu, puncak fly over Kuningan berhasil kulalui. Sepedaku meluncur cepat menuju jalan turunan, kurasakan nikmatnya menaklukan fly over di hari pertamaku naik sepeda.
Sampai di tempat kerja, kuletakkan sepedaku di tempat parkir khusus sepeda yang sudah tersedia. Nafasku masih ngos-ngosan, keringat masih mengalir seolah enggan berhenti. Teman-temanku yang sesama naik sepeda memberikan selamat, Welcome to the club. Sementara teman-teman lain yang tidak naik sepeda, ketawa-tawa ketika kuceritakan pengalamanku ketika naik fly over dengan sorakan pejalan kaki, "ayo mas dikit lagi".
Sorenya waktu pulang kerja aku mikir sebaiknya jangan lewat fly over dulu. Cukup dulu hari pertama naik sepeda lewat track itu, cari alternatif lain . Muter agak jauh, tapi berhasil menghindari fly over. Namun sayangnya aku tidak tahu kalau sebenarnya sepanjang jalan pulang itu naik ke atas. Makanya kok nggenjot pedal sepeda ini rasanya berat banget, kerasa banget nafas sampe mengi. Kebetulen aku punya penyakit asthma. Ngik...ngik begitu bunyinya. Selanjutnya beberapa track naik di depan lainnya berhasil dilalui hingga selamat sampai di rumah. Hoa cape sekali, hari pertama naik sepeda.
Gimana besok, masih mau naik sepeda lagi? Well, karena aku punya prinsip kebiasan baru paling tidak harus diulang-ulang selama 30 hari nonstop supaya bisa melekat maka sampai hampir 3 minggu ke depan aku terus naik sepeda tiap hari ke kantor yang jaraknya kurang lebih 10 kilometeran dari rumah. Belum sebulan penuh, akhirnya masuk rumah sakit. he..he..he.. dan opname. Tapi sampai sekarang, setahun sesudahnya aku masih belum tahu, apakah gara-gara sepedaan tiap hari ke kantor atau karena hal lainnya. Karena waktu itu selama 4 hari berturut-turut aku pulang pergi Jkt-Sby-Jkt-Sby tanpa istrirahat karena kakekku kecelakaan hingga akhirnya meninggal.
Setelah setahun berlalu, jalur ke kantor rasanya ringan saja, meskipun ya capek juga kalau terlalu malam pulangnya. Efeknya ke badan banyak sekali. Aku jarang pilek, batuk, atau flu yang dulu hampir tiap bulan atau bahkan 2 minggu sekali pasti mampir. Lainnya paha lebih kenceng dan singset. Lainnya lagi nafas lebih lega, padahal aku punya penyakit asthma. Efek negatif lainnya kulit lebih item. he..he..he. Tapi ini juga karena kontribusi renang siang-siang di Cilandak. But overall, sepedaan ke kantor sangat menyenangkan dan memberikan manfaat yang banyak buat aku. Tidak perlu mahal-mahal ikut gym kayak dulu di Fitness First yang sebulan fee-nya sampai 400 ribu lebih dan harus mengalokasikan waktu paling tidak 1-2 jam, sekarang sekalian berangkat pulang kantor sudah sekaligus olahraga. Mana kalau lagi macet, bisa lebih cepat dibandingkan dengan naik kendaraan. Intinya sepedaan is the best for me.
Btw dengan tipe city bike ini, rasanya pas banget dengan kebutuhanku. Tidak perlu repot-repot bawa tas di punggung karena bisa ditaruh dikeranjang depan. Selain itu, kita juga bisa menaruh jas hujan dan bag cover di keranjang untuk jaga-jaga kalau hari hujan.

Dengan bahan yang sangat ringan, yaitu alloy frame, memudahkan untuk diangkat kalau kita ingin berganti jalur saat macet. Ringan banget. Selain itu, walaupun modelnya city bike istilah kerennya, tampangnya sih mirip sepeda bibi-bibi ke pasar, dilengkapi juga dengan rear hub R-nexus 3, sehingga kita bisa mengganti speed sampai 3 kecepatan. Walaupun sih jarang banget pakai 3 karena beraat banget.
Kelemahan sepeda ini adalah untuk standarnya dia lemah banget jadi sering jatuh. Mungkin karena bodynya yang ringan banget sehingga kepala setirnya sering terbalik. Selain itu karena ada rear hub internal, sepeda ini tidak bisa dipasang standar yang berdiri. Jadi untuk amannya selalu parkirlah dengan menyandarkan sepeda ini di tiang, pohon, atau tembok. Mungkin itu saja. Kalau rear hub, meskipun berat buat aku sih justru keuntungan buat melatih kaki dengan speed yang berat, terutama pas tracking menanjak.
Overall, sepedaan adalah sesuatu yang mengasyikkan, menyehatkan, menghematkan, menambah teman, dan menambah kegembiraan keluarga karena bisa bareng-bareng ke taman naik sepeda. Buat yang takut hitam terutama cewek, bisa pakai sun block atau baju panjang. Tapi jangan takut sepedaan ya. Dan yang terakhir, join dengan Bike to Work!

Senang sekali memulai kebiasaan baru naik sepeda. Pas hari pertama naik sepeda ke tempat kerja, baru sekitar 2 kilometer, kepala agak nggeliyeng dan mata berkunang-kunang berasa mau muntah. Sempat kepikir mau pulang lagi saja, ganti naik motor. Tapi hati dikuatkan meskipun jarak masih sekitar 8 kilo lagi dan menghadang fly over di depan. Menjelang naik fly over, kaki kayak gemeteran menggenjot pedal yang seolah tidak mau bergerak. Rasa tengsin alias malu oleh sahutan pejalan kaki di pinggir fly over, "ayo mas, terus...terus, genjot lagi. he..he..he" Entah itu mau ngasih semangat atau mau ngeledekin, tapi aku merasa gak boleh turun dan menuntun sepeda. Puncak sudah sebentar lagi. Dan tidak perlu banyak waktu, puncak fly over Kuningan berhasil kulalui. Sepedaku meluncur cepat menuju jalan turunan, kurasakan nikmatnya menaklukan fly over di hari pertamaku naik sepeda.
Sampai di tempat kerja, kuletakkan sepedaku di tempat parkir khusus sepeda yang sudah tersedia. Nafasku masih ngos-ngosan, keringat masih mengalir seolah enggan berhenti. Teman-temanku yang sesama naik sepeda memberikan selamat, Welcome to the club. Sementara teman-teman lain yang tidak naik sepeda, ketawa-tawa ketika kuceritakan pengalamanku ketika naik fly over dengan sorakan pejalan kaki, "ayo mas dikit lagi".
Sorenya waktu pulang kerja aku mikir sebaiknya jangan lewat fly over dulu. Cukup dulu hari pertama naik sepeda lewat track itu, cari alternatif lain . Muter agak jauh, tapi berhasil menghindari fly over. Namun sayangnya aku tidak tahu kalau sebenarnya sepanjang jalan pulang itu naik ke atas. Makanya kok nggenjot pedal sepeda ini rasanya berat banget, kerasa banget nafas sampe mengi. Kebetulen aku punya penyakit asthma. Ngik...ngik begitu bunyinya. Selanjutnya beberapa track naik di depan lainnya berhasil dilalui hingga selamat sampai di rumah. Hoa cape sekali, hari pertama naik sepeda.
Gimana besok, masih mau naik sepeda lagi? Well, karena aku punya prinsip kebiasan baru paling tidak harus diulang-ulang selama 30 hari nonstop supaya bisa melekat maka sampai hampir 3 minggu ke depan aku terus naik sepeda tiap hari ke kantor yang jaraknya kurang lebih 10 kilometeran dari rumah. Belum sebulan penuh, akhirnya masuk rumah sakit. he..he..he.. dan opname. Tapi sampai sekarang, setahun sesudahnya aku masih belum tahu, apakah gara-gara sepedaan tiap hari ke kantor atau karena hal lainnya. Karena waktu itu selama 4 hari berturut-turut aku pulang pergi Jkt-Sby-Jkt-Sby tanpa istrirahat karena kakekku kecelakaan hingga akhirnya meninggal.
Setelah setahun berlalu, jalur ke kantor rasanya ringan saja, meskipun ya capek juga kalau terlalu malam pulangnya. Efeknya ke badan banyak sekali. Aku jarang pilek, batuk, atau flu yang dulu hampir tiap bulan atau bahkan 2 minggu sekali pasti mampir. Lainnya paha lebih kenceng dan singset. Lainnya lagi nafas lebih lega, padahal aku punya penyakit asthma. Efek negatif lainnya kulit lebih item. he..he..he. Tapi ini juga karena kontribusi renang siang-siang di Cilandak. But overall, sepedaan ke kantor sangat menyenangkan dan memberikan manfaat yang banyak buat aku. Tidak perlu mahal-mahal ikut gym kayak dulu di Fitness First yang sebulan fee-nya sampai 400 ribu lebih dan harus mengalokasikan waktu paling tidak 1-2 jam, sekarang sekalian berangkat pulang kantor sudah sekaligus olahraga. Mana kalau lagi macet, bisa lebih cepat dibandingkan dengan naik kendaraan. Intinya sepedaan is the best for me.
Btw dengan tipe city bike ini, rasanya pas banget dengan kebutuhanku. Tidak perlu repot-repot bawa tas di punggung karena bisa ditaruh dikeranjang depan. Selain itu, kita juga bisa menaruh jas hujan dan bag cover di keranjang untuk jaga-jaga kalau hari hujan.

Dengan bahan yang sangat ringan, yaitu alloy frame, memudahkan untuk diangkat kalau kita ingin berganti jalur saat macet. Ringan banget. Selain itu, walaupun modelnya city bike istilah kerennya, tampangnya sih mirip sepeda bibi-bibi ke pasar, dilengkapi juga dengan rear hub R-nexus 3, sehingga kita bisa mengganti speed sampai 3 kecepatan. Walaupun sih jarang banget pakai 3 karena beraat banget.
Kelemahan sepeda ini adalah untuk standarnya dia lemah banget jadi sering jatuh. Mungkin karena bodynya yang ringan banget sehingga kepala setirnya sering terbalik. Selain itu karena ada rear hub internal, sepeda ini tidak bisa dipasang standar yang berdiri. Jadi untuk amannya selalu parkirlah dengan menyandarkan sepeda ini di tiang, pohon, atau tembok. Mungkin itu saja. Kalau rear hub, meskipun berat buat aku sih justru keuntungan buat melatih kaki dengan speed yang berat, terutama pas tracking menanjak.
Overall, sepedaan adalah sesuatu yang mengasyikkan, menyehatkan, menghematkan, menambah teman, dan menambah kegembiraan keluarga karena bisa bareng-bareng ke taman naik sepeda. Buat yang takut hitam terutama cewek, bisa pakai sun block atau baju panjang. Tapi jangan takut sepedaan ya. Dan yang terakhir, join dengan Bike to Work!
Monday, September 21, 2009
Ternyata pekerjaan tukang sampah sangat berat....
Hari ketiga pasca lebaran 2009, tukang sampah belum juga datang. Si mbak yang bantu-bantu di rumah juga masih di kampung. Jadi semua pekerjaan rumah dikeroyok berdua dengan istri yang sedang hamil ditambah ekstrakurikuler menjaga anak pertama yang lagi senang-senangnya mengacak-acak rumah. Well, semuanya sih sebenarnya tidak terlalu merepotkan karena hanya melap-lap rumah, menyiram tanaman, bener-benerin peralatan rumah, sementara nyuci masih ditumpuk saja karena ada si ibu yang bantuin nyuci.
Meskipun cuman bertiga (empat sama shello, begitu mommy-nya memanggil), namun limbah rumah tangga kita sepertinya tidak berkurang dibandingkan hari-hari biasa. Apalagi limbahnya sih kakaknya, puppi, yang baunya minta ampun. Sejak kemarin mommy mau membuang sampah rumah ke tempat kos, tapi aku larang, secara dianya lagi hamil. Jadi pagi ini aku saja yang membuangnya ke kos karena tempat kos lebih luas dan tukang sampah yang ngambilnya lebih rajin dibandingkan dengan yang di rumah.
Setelah sarapan pagi, makan mie rebus rasa soto, segera ambil sarung tangan dan buka tempat sampah. Awalnya sih nyantai saja, wong sampah aja, kan bisa cuci tangan setelahnya. No ill feel sih, abis waktu kecil dulu sering ngorek-ngorek sampah buat nyari cacing buat umpan mancing. Jadi no bother at all lah. Tapi itu dulu kali ya. Begitu buka tempat sampah, dan mulai ambil kantung-kantung sampah yang sudah -diplastikin, aku langsung nekkk. Huekk...huekk, gak ketahan baunya. Aku tahan-tahan seperti di No Fear, tapi rasanya sudah sampai ditenggorokan, tahan-tahan jangan keluar. Hek..hek.. byurr, keluar deh sih mie keriting dari perut. Hah...hah...hah..., baunya ampun deh. Tapi tugas masih jauh dari selesai, setelah muntah, aku kembali ambil beberapa kantung plastik kecil yang berisi sampah-sampah sejak hari Sabtu dan memasukkannya ke dalam kantung plastik besar warna hitam. Gak enak kan kelihatan tetangga nenteng-nenteng sampah liwat depan rumah mereka. Setelah jalan ke kos yang jaraknya gak terlalu jauh, buka pintu gerbang dan taruh deh. Lega deh, sudah mindain masalah ke kos. Maaf ya anak-anak kos, bapak kos mu ini nitip sampah..he..he..he.. ke tempat kalian, lagian kan kalian belum pada balik. No offense ya, tempat kos kan lebih luas dan terbuka selain tukang sampahnya lebih rajin, jadi diperkirakana gangguannya akan minimal kok :).
Balik lagi ke rumah, sampah masih ada. Nanggung deh kalo bongkar-bongkar sampah dan naruh di kantong plastik besar. Sekalian saja bawa sama tempat sampah gedhenya sekalian. Segera ambil folding trolly, tarik deh ke kos. Sekarang cuek sama tetangge-tetangge, yang penting rumah bersih dan tidak bau. Segera buang ke kos, cuci-cuci bak sampahnya, dan keringin beres deh, dan balik lagi ke rumah.
Abis gitu, lapar makan kacang ijo, buat gantiin mie yang keluar tadi. Terus nulis thread tentang sampah ini. Pak tukang sampah, anda sungguh berjasa, really, tanpa anda sungguh sengsara nasib kami secara lahir batin. Tapi apa yang kami lakukan, seenaknya saja buang limbah rumah tangga dan tidak memperhatikan cara-cara pembuangan yang baik. Nyampurin antara limbah organik dan anorganik sehingga sulit untuk diurai. Buang tampon bayi (masyarakat biasanya nyebut pampers) seenaknya saja, mentang-mentang punya duit, gak mau susah, main pake semaunya dan buang semaunya. Padahal itu bau lebih parah dibandingkan sampah lainnya. Anda, para tukang sampah benar-benar, orang-orang patriot. Meskipun sering tidak dilihat orang, bahkan menutup hidung, karena bau barang-barang bawaan anda, padahal dari rumah orang-orang tersebut, anda tetap setia melaksanakan pekerjaan anda dengan baik. Anda jarang datang, dinanti-nanti orang bahkan diomelin kok tidak datang-datang, tapi jika anda sering datang, anda juga diomel-omelin bawa-bawa bau yang ga sedap dan ganggu jalan.
Pak tukang sampah, terima kasih atas kesediaan bapak, menolong kami. Kami akan mulai untuk mengurangi sampah kami, mengolahnya, dan memperlakukan dengan baik sehingga kami tidak menambah beban bapak yang sudah begitu berat.
Meskipun cuman bertiga (empat sama shello, begitu mommy-nya memanggil), namun limbah rumah tangga kita sepertinya tidak berkurang dibandingkan hari-hari biasa. Apalagi limbahnya sih kakaknya, puppi, yang baunya minta ampun. Sejak kemarin mommy mau membuang sampah rumah ke tempat kos, tapi aku larang, secara dianya lagi hamil. Jadi pagi ini aku saja yang membuangnya ke kos karena tempat kos lebih luas dan tukang sampah yang ngambilnya lebih rajin dibandingkan dengan yang di rumah.
Setelah sarapan pagi, makan mie rebus rasa soto, segera ambil sarung tangan dan buka tempat sampah. Awalnya sih nyantai saja, wong sampah aja, kan bisa cuci tangan setelahnya. No ill feel sih, abis waktu kecil dulu sering ngorek-ngorek sampah buat nyari cacing buat umpan mancing. Jadi no bother at all lah. Tapi itu dulu kali ya. Begitu buka tempat sampah, dan mulai ambil kantung-kantung sampah yang sudah -diplastikin, aku langsung nekkk. Huekk...huekk, gak ketahan baunya. Aku tahan-tahan seperti di No Fear, tapi rasanya sudah sampai ditenggorokan, tahan-tahan jangan keluar. Hek..hek.. byurr, keluar deh sih mie keriting dari perut. Hah...hah...hah..., baunya ampun deh. Tapi tugas masih jauh dari selesai, setelah muntah, aku kembali ambil beberapa kantung plastik kecil yang berisi sampah-sampah sejak hari Sabtu dan memasukkannya ke dalam kantung plastik besar warna hitam. Gak enak kan kelihatan tetangga nenteng-nenteng sampah liwat depan rumah mereka. Setelah jalan ke kos yang jaraknya gak terlalu jauh, buka pintu gerbang dan taruh deh. Lega deh, sudah mindain masalah ke kos. Maaf ya anak-anak kos, bapak kos mu ini nitip sampah..he..he..he.. ke tempat kalian, lagian kan kalian belum pada balik. No offense ya, tempat kos kan lebih luas dan terbuka selain tukang sampahnya lebih rajin, jadi diperkirakana gangguannya akan minimal kok :).
Balik lagi ke rumah, sampah masih ada. Nanggung deh kalo bongkar-bongkar sampah dan naruh di kantong plastik besar. Sekalian saja bawa sama tempat sampah gedhenya sekalian. Segera ambil folding trolly, tarik deh ke kos. Sekarang cuek sama tetangge-tetangge, yang penting rumah bersih dan tidak bau. Segera buang ke kos, cuci-cuci bak sampahnya, dan keringin beres deh, dan balik lagi ke rumah.
Abis gitu, lapar makan kacang ijo, buat gantiin mie yang keluar tadi. Terus nulis thread tentang sampah ini. Pak tukang sampah, anda sungguh berjasa, really, tanpa anda sungguh sengsara nasib kami secara lahir batin. Tapi apa yang kami lakukan, seenaknya saja buang limbah rumah tangga dan tidak memperhatikan cara-cara pembuangan yang baik. Nyampurin antara limbah organik dan anorganik sehingga sulit untuk diurai. Buang tampon bayi (masyarakat biasanya nyebut pampers) seenaknya saja, mentang-mentang punya duit, gak mau susah, main pake semaunya dan buang semaunya. Padahal itu bau lebih parah dibandingkan sampah lainnya. Anda, para tukang sampah benar-benar, orang-orang patriot. Meskipun sering tidak dilihat orang, bahkan menutup hidung, karena bau barang-barang bawaan anda, padahal dari rumah orang-orang tersebut, anda tetap setia melaksanakan pekerjaan anda dengan baik. Anda jarang datang, dinanti-nanti orang bahkan diomelin kok tidak datang-datang, tapi jika anda sering datang, anda juga diomel-omelin bawa-bawa bau yang ga sedap dan ganggu jalan.
Pak tukang sampah, terima kasih atas kesediaan bapak, menolong kami. Kami akan mulai untuk mengurangi sampah kami, mengolahnya, dan memperlakukan dengan baik sehingga kami tidak menambah beban bapak yang sudah begitu berat.
Wednesday, March 4, 2009
Quo vadis jualan pokjar pusat 2009.01
Sudah lewat tiga hari yang lalu, hiruk pikuk lembaga kemahasiswaan Universitas Terbuka untuk menyambut para mahasiswa dan mahasiswi baru 2009.01. Tidak ada lagi berserakan brosur-brosur yang menjual ide-ide para, kalau boleh disebut, senior yang idealis untuk membantu para mahasiswa/mahasiswi baru untuk meningkatkan kemampuan akademis mereka dengan cara bergabung dengan kelompok senior tersebut. Tidak ada lagi spanduk hingga banner sampai kertas nama sederhana sebagai identitas stan kelompok mahasiswa (seperti milik pokjar pusat) untuk menarik minat mahasiswa/mahasiswi baru untuk sekedar mampir dan bertanya-tanya tentang apa sih sebenarnya yang dijual.
Pokjar pusat sebagai salah satu lembaga kemahasiswaan yang ada di UT yang (saya tidak tahu benar atau tidak) tidak diakui secara de jure oleh UT, juga berusaha untuk menjual idealismenya untuk merekrut mahasiswa/mahasiswi baru dengan harapan eksistensinya dapat tetap ada. Mengapa kita bilang bahwa pokjar pusat sebagai salah satu lembaga kemahasiswaan tidak diakui secara de jure? Alasannya karena pokjar pusat harus berdiri sendiri dalam melaksanakan kegiatannya. Tidak ada pelindung, tidak ada pembimbing, tidak ada sokongan dana, tidak ada pertanggungjawaban kegiatannya, seperti layaknya organisasi kemahasiwaan pada kampus konvensional. Entalah mengapa begitu? Apa mungkin karena sifatnya terbuka? Tidak punya kampus, dosen yang riil, hanya virtual di alamat http://student.ut.ac.id/ dan itupun kalau si mahasiswa mau masuk ke dalam website (baca: laman) tersebut. Kalau tidak, ya benar-benar sendiri. Cuma ketemu sama staf administrasi ketika registrasi semesteran dan penjaga koperasi kalau beli buku baru. Atau mungkin kalau mereka beli buku seken, ya ketemu sama Mas Yahya yang dengan setia memudahkan para mahasiswa/mahasiswi dalam mendapatkan buku-buku yang diperlukan dengan harga yang fair. Daripada harus jauh-jauh ke Pondok Cabe yang juauuuuhhhh dan muacettttt lagi.
Kembali ke pokjar pusat lagi, jadi sebenarnya yang dijual adalah harapan.
Harapannya dapat terjadi hubungan mutualisme (harapannya) antara mahasiswa baru dengan para penggiat lama (kalau mau disebut begitu mengingat para pengurusnya sudah pada desperate karena sulit mengelola, sulit mencapai program-program yang sudah ditetapkan). Bukannya mereka itu tidak komit. Salah, mereka sangat komit, bahkan mau berkorban loh, dengan waktu, tenaga, pikiran, materi, dan perasaan juga! Tapi memang dasarnya sangat sulit mengumpulkan beraneka ragam latar-belakang peminat pokjar pusat yang mulai dari pemuda/pemudi baru lulus, orang kerja, orang yang kerja kuerass, dan para wirausaha, serta lainnya mungkin??? Idealisme mulia untuk maju, profesional, dalam mencapai prestasi akademik yang gemilang seringkali terbentur oleh alasan tersebut. Akibatnya seringkali berulang lagi, dan lagi, kalau mau jujur salah satu tujuan untuk mendorong kemampuan akademis kurang tercapai karena kesulitan belajar akibat anggota kelompoknya yang beraneka ragam jurusan, berupa kemampuannya, dan macam-macam urusannya. Ya udah, capai deh. Tapi lumayanlah, ada satu hal yang sangat positif yang bisa dikatakan tercapai. Apa itu? Kekompakan, silahturahmi, teman refreshing dan bergembira untuk sejenak keluar dari rutinitas dan beban pekerjaan/hidup yang menghimpit dada (terlalu hiperbolik ya :).
Anyway, per hari Minggu tanggal 1 Maret 2009 kemarin, gong untuk melayani mahasiswa/mahasiswi baru yang telah menggantungkan harapannya terhadap pokjar pusat ini sudah ditabuh. Mereka dengan yakin langsung menjadi anggota pokjar ini dan bahkan bersedia membayar iuran, yang pastinya nanti akan digunakan untuk operasional seperti menyewa sekolah di SDN Kenari yang harganya selalu naik, beli peralatan tulis spidol, penghapus, membuat undangan, menelepon anggota, dan lainnya. Jangan pandang nominalnya, tapi pegang kepercayaan mereka, para mahasiswa/mahasiswi baru itu, mereka mengharapkan pokjar pusat dapat do something dalam membantu mereka untuk dapat maju prestasi akademisnya. Bahasa gampangnya dapat IP bagus dan cepat lulus. Itu tok. Kalau bisa dapat kerja yang lebih baik dari yang sekarang. Di sisi lain, juga harapan dari pokjar pusat untuk dapat meneruskan eksistensi sebagai lembaga kemahasiswaan yang [tidak diakui] diminati, terbukti mampu memenuhi janji-janjinya yang obral seperti para caleg pada pemilu 2009.
So, bisakah pokjar pusat memenuhi ekspektasi mereka? Tentu tidak dong. Memang siapa sih pokjar pusat bisa seperti itu. Wong kita sendiri saja masih kedodoran dengan IP sendiri, bahkan tidak lulus-lulus. Jujur nih. Tapi yakin kalau yang ini bisa. Apa itu? Menjadi fasilitator dalam meraih itu semua. Karena pada hakekatnya semuanya berpulang kepada diri masing-masing bukan pihak luar. Pokjar pusat bisa mengajak bersama-sama belajar (mengingat sebagian ada yang sudah pernah menempuh mata kuliah tersebut), pokjar pusat dapat mendatangkan tutor dengan jaringan yang dimilikinya (tentu saja ini perlu biaya karena mau tidak mau sang tutor harus diberi reward atas kesediaannya untuk mengajar), pokjar pusat juga punya praktisi yang dapat berbagi ilmunya, dan pokjar pusat yang paling penting dapat memegang amanah untuk membantu/menepati apa yang sudah dijualnya sehingga para mahasiswa/mahasiswi baru tersebut tertarik bergabung dengan pokjar pusat.
Jadi apa yang sudah dijual oleh pokjar pusat?
1. Menyediakan tutorial 2009.01, terutama dengan fokus bidang ekonomi (jurusan manajemen, akuntansi, dan ekonomis studi pembangunan), yakni:
a. Pengantar Akuntansi 08.00 - 09.30
b. Pengantar Bisnis 09.30 - 11.00
c. Manajemen 11.00 - 12.30
d. Matematika Ekonomi 13.00 - 14.30
e. Statistika Ekonomi I 14.30 - 16.00
Mata kuliah ini sebagai awalan karena mayoritas anggota pokjar pusat dari bidang ekonomi, namun tidak menutup kemungkinan akan dibuka tutorial-turial lainnya. Selain bidang ekonomi, penggiat pokjar saat ini ada yang dari jurusan teknologi pangan, statistika, matematika, administrasi, matematika, dll.
2. Menyediakan studi kelompok seperti komputer, bahasa inggris, ekonomi makro/mikro
Kapan mulainya?
Beragam kegiatan tersebut akan dimulai tanggal 8 Maret 2009, hari Minggu dan bertempat di SDN Kenari Jl. Kramat IV, Kenari, Jakarta Pusat.
Contact person yang dapat dihubungi yaitu 0813-82429714 (Mas Nanang), 0878-83752637, 0855-8885885 (Mas Yahya), 0856-93872493 (Mbak Citra), atau email di pokjarku@gmail.com.
Kalau sudah menyanggupi itu, so pokjar pusat harus mewujudkannya, iya kan. Lagian kan manfaatnya positif. Masalah yang muncul bisa dikompromikan dan dicarikan jalan keluarnya. Buat konsumen kita, para mahasiswa dan mahasiswi baru senang karena pokjar pusat sudah melayani dengan baik. Nanti ketika, kita sudah pensiun, dan ganti para mahasiswa baru tersebut menjadi penerus (setelah mengecap pelayanan pengurus sebelumnya), mereka akan dengan ihklas menjadi pelayan bagi mahasiswa/mahasiswi baru di bawahnya. Sehingga, tanpa disadari regenerasi pokjar pusat akan terbentuk dan semakin solid karena semuanya mendapatkan manfaat positif dengan bergabung dengan pokjar pusat. Jadi, maukah kita semua (penggiat pokjar pusat, pengurus pokjar pusat, anggota baru pokjar pusat) mendapatkan manfaat itu semua? yang mungkin akan merubah masa depan kita menjadi lebih baik? Keputusannya kembali ke diri masing-masing.
Jakarta, 4 Maret 2009
Pokjar pusat sebagai salah satu lembaga kemahasiswaan yang ada di UT yang (saya tidak tahu benar atau tidak) tidak diakui secara de jure oleh UT, juga berusaha untuk menjual idealismenya untuk merekrut mahasiswa/mahasiswi baru dengan harapan eksistensinya dapat tetap ada. Mengapa kita bilang bahwa pokjar pusat sebagai salah satu lembaga kemahasiswaan tidak diakui secara de jure? Alasannya karena pokjar pusat harus berdiri sendiri dalam melaksanakan kegiatannya. Tidak ada pelindung, tidak ada pembimbing, tidak ada sokongan dana, tidak ada pertanggungjawaban kegiatannya, seperti layaknya organisasi kemahasiwaan pada kampus konvensional. Entalah mengapa begitu? Apa mungkin karena sifatnya terbuka? Tidak punya kampus, dosen yang riil, hanya virtual di alamat http://student.ut.ac.id/ dan itupun kalau si mahasiswa mau masuk ke dalam website (baca: laman) tersebut. Kalau tidak, ya benar-benar sendiri. Cuma ketemu sama staf administrasi ketika registrasi semesteran dan penjaga koperasi kalau beli buku baru. Atau mungkin kalau mereka beli buku seken, ya ketemu sama Mas Yahya yang dengan setia memudahkan para mahasiswa/mahasiswi dalam mendapatkan buku-buku yang diperlukan dengan harga yang fair. Daripada harus jauh-jauh ke Pondok Cabe yang juauuuuhhhh dan muacettttt lagi.
Kembali ke pokjar pusat lagi, jadi sebenarnya yang dijual adalah harapan.
Harapannya dapat terjadi hubungan mutualisme (harapannya) antara mahasiswa baru dengan para penggiat lama (kalau mau disebut begitu mengingat para pengurusnya sudah pada desperate karena sulit mengelola, sulit mencapai program-program yang sudah ditetapkan). Bukannya mereka itu tidak komit. Salah, mereka sangat komit, bahkan mau berkorban loh, dengan waktu, tenaga, pikiran, materi, dan perasaan juga! Tapi memang dasarnya sangat sulit mengumpulkan beraneka ragam latar-belakang peminat pokjar pusat yang mulai dari pemuda/pemudi baru lulus, orang kerja, orang yang kerja kuerass, dan para wirausaha, serta lainnya mungkin??? Idealisme mulia untuk maju, profesional, dalam mencapai prestasi akademik yang gemilang seringkali terbentur oleh alasan tersebut. Akibatnya seringkali berulang lagi, dan lagi, kalau mau jujur salah satu tujuan untuk mendorong kemampuan akademis kurang tercapai karena kesulitan belajar akibat anggota kelompoknya yang beraneka ragam jurusan, berupa kemampuannya, dan macam-macam urusannya. Ya udah, capai deh. Tapi lumayanlah, ada satu hal yang sangat positif yang bisa dikatakan tercapai. Apa itu? Kekompakan, silahturahmi, teman refreshing dan bergembira untuk sejenak keluar dari rutinitas dan beban pekerjaan/hidup yang menghimpit dada (terlalu hiperbolik ya :).
Anyway, per hari Minggu tanggal 1 Maret 2009 kemarin, gong untuk melayani mahasiswa/mahasiswi baru yang telah menggantungkan harapannya terhadap pokjar pusat ini sudah ditabuh. Mereka dengan yakin langsung menjadi anggota pokjar ini dan bahkan bersedia membayar iuran, yang pastinya nanti akan digunakan untuk operasional seperti menyewa sekolah di SDN Kenari yang harganya selalu naik, beli peralatan tulis spidol, penghapus, membuat undangan, menelepon anggota, dan lainnya. Jangan pandang nominalnya, tapi pegang kepercayaan mereka, para mahasiswa/mahasiswi baru itu, mereka mengharapkan pokjar pusat dapat do something dalam membantu mereka untuk dapat maju prestasi akademisnya. Bahasa gampangnya dapat IP bagus dan cepat lulus. Itu tok. Kalau bisa dapat kerja yang lebih baik dari yang sekarang. Di sisi lain, juga harapan dari pokjar pusat untuk dapat meneruskan eksistensi sebagai lembaga kemahasiswaan yang [tidak diakui] diminati, terbukti mampu memenuhi janji-janjinya yang obral seperti para caleg pada pemilu 2009.
So, bisakah pokjar pusat memenuhi ekspektasi mereka? Tentu tidak dong. Memang siapa sih pokjar pusat bisa seperti itu. Wong kita sendiri saja masih kedodoran dengan IP sendiri, bahkan tidak lulus-lulus. Jujur nih. Tapi yakin kalau yang ini bisa. Apa itu? Menjadi fasilitator dalam meraih itu semua. Karena pada hakekatnya semuanya berpulang kepada diri masing-masing bukan pihak luar. Pokjar pusat bisa mengajak bersama-sama belajar (mengingat sebagian ada yang sudah pernah menempuh mata kuliah tersebut), pokjar pusat dapat mendatangkan tutor dengan jaringan yang dimilikinya (tentu saja ini perlu biaya karena mau tidak mau sang tutor harus diberi reward atas kesediaannya untuk mengajar), pokjar pusat juga punya praktisi yang dapat berbagi ilmunya, dan pokjar pusat yang paling penting dapat memegang amanah untuk membantu/menepati apa yang sudah dijualnya sehingga para mahasiswa/mahasiswi baru tersebut tertarik bergabung dengan pokjar pusat.
Jadi apa yang sudah dijual oleh pokjar pusat?
1. Menyediakan tutorial 2009.01, terutama dengan fokus bidang ekonomi (jurusan manajemen, akuntansi, dan ekonomis studi pembangunan), yakni:
a. Pengantar Akuntansi 08.00 - 09.30
b. Pengantar Bisnis 09.30 - 11.00
c. Manajemen 11.00 - 12.30
d. Matematika Ekonomi 13.00 - 14.30
e. Statistika Ekonomi I 14.30 - 16.00
Mata kuliah ini sebagai awalan karena mayoritas anggota pokjar pusat dari bidang ekonomi, namun tidak menutup kemungkinan akan dibuka tutorial-turial lainnya. Selain bidang ekonomi, penggiat pokjar saat ini ada yang dari jurusan teknologi pangan, statistika, matematika, administrasi, matematika, dll.
2. Menyediakan studi kelompok seperti komputer, bahasa inggris, ekonomi makro/mikro
Kapan mulainya?
Beragam kegiatan tersebut akan dimulai tanggal 8 Maret 2009, hari Minggu dan bertempat di SDN Kenari Jl. Kramat IV, Kenari, Jakarta Pusat.
Contact person yang dapat dihubungi yaitu 0813-82429714 (Mas Nanang), 0878-83752637, 0855-8885885 (Mas Yahya), 0856-93872493 (Mbak Citra), atau email di pokjarku@gmail.com.
Kalau sudah menyanggupi itu, so pokjar pusat harus mewujudkannya, iya kan. Lagian kan manfaatnya positif. Masalah yang muncul bisa dikompromikan dan dicarikan jalan keluarnya. Buat konsumen kita, para mahasiswa dan mahasiswi baru senang karena pokjar pusat sudah melayani dengan baik. Nanti ketika, kita sudah pensiun, dan ganti para mahasiswa baru tersebut menjadi penerus (setelah mengecap pelayanan pengurus sebelumnya), mereka akan dengan ihklas menjadi pelayan bagi mahasiswa/mahasiswi baru di bawahnya. Sehingga, tanpa disadari regenerasi pokjar pusat akan terbentuk dan semakin solid karena semuanya mendapatkan manfaat positif dengan bergabung dengan pokjar pusat. Jadi, maukah kita semua (penggiat pokjar pusat, pengurus pokjar pusat, anggota baru pokjar pusat) mendapatkan manfaat itu semua? yang mungkin akan merubah masa depan kita menjadi lebih baik? Keputusannya kembali ke diri masing-masing.
Jakarta, 4 Maret 2009
Tuesday, October 28, 2008
Dahlan Iskan : Semua dalam Posisi Memegang Benang
[ Selasa, 28 Oktober 2008 ] jawapos.co.id
Terlalu banyak pertanyaan seperti ini: Di saat Amerika Serikat dilanda krisis yang hebat seperti ini, mengapa dolarnya justru menguat? Mengapa harga emas justru merosot? Bukankah dalam suasana krisis mestinya harga emas naik?
Jawabnya tidak tunggal, tapi yang utama hanya satu: terlalu banyak orang di banyak negara yang membutuhkan dolar AS. Lembaga-lembaga keuangan raksasa yang dulu selalu meminjamkan uang dalam dolar AS, sekarang memerlukan dolar sebanyak yang bisa ditarik. Kalau dulu dolar mengalir dari AS ke seluruh dunia, kini semua dolar harus mengalir balik ke AS untuk menutup lubang menganga yang sangat besar akibat krisis itu.
Masih ada tambahan lagi: di AS banyak perusahaan atau aset yang dijual dengan harga murah. Akibatnya, orang kaya dari seluruh dunia juga banyak yang tergiur untuk membeli aset itu. Tentu mereka membutuhkan dolar AS. Perusahaan (saham) AS yang di luar negeri juga banyak yang dijual. Pembelinya juga perlu dolar. Perusahaan-perusahaan yang punya pinjaman dolar diminta membayar sebelum jatuh tempo. Kalau tidak bisa bayar, perusahaan itu disita untuk dijual. Juga pakai dolar. Apakah bisa menarik kredit sebelum jatuh tempo? Bisa! Baca akad kreditnya. Pasti menyebutkan klausul seperti itu.
Satu-satunya negara yang mata uangnya justru menguat terhadap dolar AS hanyalah Jepang. Ini karena fondasi ekonomi Jepang sangat kukuh. Uang cash-nya amat banyak dan dalam posisi aman. Bank-banknya punya sumber dana yang amat murah dan berjangka panjang. Penabung di Jepang hanya mendapat bunga 0,5% setahun.
Sebagai negara yang maju berkat dibantu AS (setelah kalah perang dunia dulu), semestinya Jepang kini harus membantu AS. Jepang punya kemampuan untuk itu. Cadangan devisanya nyaris USD 1 triliun! (USD 950 miliar). Dana pensiunnya, lebih gila lagi: USD 1,5 triliun. Kekayaan sejumlah orang berduit di sana mencapai USD 15 triliun. Dana deposito di bank mencapai USD 8 triliun.
Para ahli menyebutkan, dengan kemampuan itu Jepang bisa banyak berbuat. Toh, Jepang tidak mau melakukannya. Jepang harus memikirkan keselamatan negaranya dulu. Padahal, Jepang adalah kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia setelah AS. Padahal, Jepang tidak akan bisa seperti sekarang kalau dulu tidak dibantu AS. Undang-undang dasar Jepang saja yang membuatkan McArthur! Toh, dalam keadaan krisis seperti ini keselamatan diri sendiri dulu yang diutamakan.
Maka, jangan harap kalau Indonesia nanti terkena krisis, ada negara lain yang mau membantu. Kini, semua negara menyelamatkan diri masing-masing. Tidak akan ada balas jasa sekalipun. Karena itu, mumpung krisis yang berat belum mengenai kita, Indonesia harus memupuk terus kemampuan keuangannya. Rencana menurunkan harga BBM benar-benar harus dihitung dulu kapan saatnya yang paling tepat.
Sebenarnya krisis yang terjadi di AS menjadi lebih gawat, antara lain, juga karena hilangnya rasa percaya diri. Rasa konfiden itu mudah hilang kalau kita tidak punya cukup uang. Kian besar dana yang dimiliki negara, kian besar konfiden itu. Penyelenggara negara saat ini tidak boleh kehilangan konfiden hanya karena tekanan politik.
Sebenarnya bukan tidak ada keinginan Jepang untuk membantu AS. Seorang tokoh politik di sana, Kotaro Tamura, bahkan sampai jengkel karena inisiatifnya untuk membantu AS tidak mendapat sambutan di dalam negeri. Tamura, seorang invesment banking yang kini menjadi anggota DPR dan mengetuai satu faksi dalam partai pemerintah, berpendapat, mestinya Jepang bisa menggunakan uang cash-nya yang begitu banyak untuk ikut menyembuhkan ekonomi dunia.
"Ini sebenarnya kesempatan besar bagi Jepang," kata Tamura seperti dikutip media seluruh dunia. "Sekarang ini, di AS, semuanya murah. Seharusnya kita menggunakan dana kita untuk membeli semua itu," katanya. Dengan cara itu, kata Tamura, Jepang bisa memberikan sinyal yang baik bagi pulihnya ekonomi dunia. Apalagi, bantuan itu toh bukan pinjaman yang berisiko. Bantuan itu berupa kesediaan membeli aset-aset yang lagi dijual di AS.
Beberapa perusahaan Jepang memang sudah membeli aset tersebut. Mitsubishi membeli sebagian saham Morgan Stanley sebesar USD 9 miliar, membeli Union BanCal di San Fransisco sebesar USD 3,5 miliar, dan membeli Aberdeen Asset Management sebesar USD 190 juta. Tapi, itu dianggap belum ada artinya.
Kalau Jepang bisa membeli sebanyak mungkin aset murah di AS, kata Tamura, dalam 10 tahun mendatang Jepang akan menikmati hasilnya: hasil ekonomi dan hasil politik. Toh seruan Tamura itu tidak ada yang menggubris. Tamura yang baru 45 tahun dan yang dikenal suka berpakaian elegan (jarang politisi Jepang yang berani memakai pakaian yang mahal seperti dia) menjadi sangat ketus.
Bahkan, proposalnya agar Jepang membuat perusahaan negara seperti Temasek di Singapura juga ditolak. Padahal, selama ini dana-dana di Jepang itu hanya menghasilkan bunga yang sangat rendah: 0,5% setahun! Kalau dana itu diakumulasikan ke dalam satu usaha seperti Temasek, hasilnya bisa sampai 18% setahun.
Jepang memang bangsa yang paling hati-hati terhadap sesuatu yang berisiko. Tingkatnya bukan lagi sekadar hati-hati, melainkan sudah "benci pada risiko". "Bahkan, risiko baik sekali pun," ujar Tamura. Mana ada orang yang memilih dapat bunga 0,5% daripada 18%. "Orang Jepang itu tidak tahu apa artinya laba," kata Tamura.
Tapi, itulah memang Jepang. Mereka menilai bunga 0,5% tapi aman lebih baik daripada "bunga 18%" tapi ada risikonya. Kita memang kagum dengan langkah seperti Temasek, tapi kini kita juga perlu bertanya berapa kerugian Temasek akibat krisis ini.
Demikian juga investasi Tiongkok di Blackstone yang mencapai USD 250 miliar dua tahun lalu, kira-kira juga sudah hilang setidaknya separonya. Ini berarti ada uang Rp 1.200 triliun yang tiba-tiba lenyap. Uang yang hilang sekejap itu sudah sama dengan seluruh APBN Indonesia!
Bagaimana dengan sikap Tiongkok? Kita belum pernah mendengar inisiatif Tiongkok untuk menggunakan cadangan devisa terbesarnya di dunia itu untuk ikut menyelamatkan Amerika. Tiongkok pasti ingin menyelamatkan dirinya sendiri dulu. Rakyatnya begitu banyak. Pabriknya yang harus tutup jumlahnya bukan hanya ribuan. Tiongkok pasti akan menggunakan cadangan devisa, pertama-tama untuk dirinya sendiri.
Apalagi Tiongkok pasti tahu bahwa meski terkena krisis, Amerika masihlah negara kaya. Saya sering menyebutkan dengan krisis ini status Amerika hanya turun dari "negara yang kaya raya" menjadi "negara yang kaya sekali". Kapitalisasi pasar modalnya masih lebih besar dibanding Jepang, Korea, Jerman, Tiongkok, Prancis, Inggris, dan Australia dijadikan satu! Kekuatan ekonomi Tiongkok yang sudah kita puji-puji itu baru sebesar ekonomi satu negara bagian California.
Ibarat layang-layang, perusahaan-perusahaan di Indonesia kini masih dalam status terbang. Baru satu-dua yang oleng kehilangan angin. Tapi, semua pemilik perusahaan kini harus terus dalam posisi memegang benang sambil mata tetap terus mengawasi layang-layang masing-masing. Begitu kehilangan angin harus tahu apa yang harus dilakukan: tarik benangnya. Lengah sedikit, layang-layang itu bisa langsung nyungsep ke tanah. Mata tidak boleh berkedip. Jangan sampai, misalnya, ditinggal ke toilet sekalipun. Banyak yang mungkin menganggap ini berlebihan. Tapi, siapa yang beranggapan demikian, layang-layangnyalah yang akan nyungsep lebih dulu.
Terlalu banyak pertanyaan seperti ini: Di saat Amerika Serikat dilanda krisis yang hebat seperti ini, mengapa dolarnya justru menguat? Mengapa harga emas justru merosot? Bukankah dalam suasana krisis mestinya harga emas naik?
Jawabnya tidak tunggal, tapi yang utama hanya satu: terlalu banyak orang di banyak negara yang membutuhkan dolar AS. Lembaga-lembaga keuangan raksasa yang dulu selalu meminjamkan uang dalam dolar AS, sekarang memerlukan dolar sebanyak yang bisa ditarik. Kalau dulu dolar mengalir dari AS ke seluruh dunia, kini semua dolar harus mengalir balik ke AS untuk menutup lubang menganga yang sangat besar akibat krisis itu.
Masih ada tambahan lagi: di AS banyak perusahaan atau aset yang dijual dengan harga murah. Akibatnya, orang kaya dari seluruh dunia juga banyak yang tergiur untuk membeli aset itu. Tentu mereka membutuhkan dolar AS. Perusahaan (saham) AS yang di luar negeri juga banyak yang dijual. Pembelinya juga perlu dolar. Perusahaan-perusahaan yang punya pinjaman dolar diminta membayar sebelum jatuh tempo. Kalau tidak bisa bayar, perusahaan itu disita untuk dijual. Juga pakai dolar. Apakah bisa menarik kredit sebelum jatuh tempo? Bisa! Baca akad kreditnya. Pasti menyebutkan klausul seperti itu.
Satu-satunya negara yang mata uangnya justru menguat terhadap dolar AS hanyalah Jepang. Ini karena fondasi ekonomi Jepang sangat kukuh. Uang cash-nya amat banyak dan dalam posisi aman. Bank-banknya punya sumber dana yang amat murah dan berjangka panjang. Penabung di Jepang hanya mendapat bunga 0,5% setahun.
Sebagai negara yang maju berkat dibantu AS (setelah kalah perang dunia dulu), semestinya Jepang kini harus membantu AS. Jepang punya kemampuan untuk itu. Cadangan devisanya nyaris USD 1 triliun! (USD 950 miliar). Dana pensiunnya, lebih gila lagi: USD 1,5 triliun. Kekayaan sejumlah orang berduit di sana mencapai USD 15 triliun. Dana deposito di bank mencapai USD 8 triliun.
Para ahli menyebutkan, dengan kemampuan itu Jepang bisa banyak berbuat. Toh, Jepang tidak mau melakukannya. Jepang harus memikirkan keselamatan negaranya dulu. Padahal, Jepang adalah kekuatan ekonomi kedua terbesar di dunia setelah AS. Padahal, Jepang tidak akan bisa seperti sekarang kalau dulu tidak dibantu AS. Undang-undang dasar Jepang saja yang membuatkan McArthur! Toh, dalam keadaan krisis seperti ini keselamatan diri sendiri dulu yang diutamakan.
Maka, jangan harap kalau Indonesia nanti terkena krisis, ada negara lain yang mau membantu. Kini, semua negara menyelamatkan diri masing-masing. Tidak akan ada balas jasa sekalipun. Karena itu, mumpung krisis yang berat belum mengenai kita, Indonesia harus memupuk terus kemampuan keuangannya. Rencana menurunkan harga BBM benar-benar harus dihitung dulu kapan saatnya yang paling tepat.
Sebenarnya krisis yang terjadi di AS menjadi lebih gawat, antara lain, juga karena hilangnya rasa percaya diri. Rasa konfiden itu mudah hilang kalau kita tidak punya cukup uang. Kian besar dana yang dimiliki negara, kian besar konfiden itu. Penyelenggara negara saat ini tidak boleh kehilangan konfiden hanya karena tekanan politik.
Sebenarnya bukan tidak ada keinginan Jepang untuk membantu AS. Seorang tokoh politik di sana, Kotaro Tamura, bahkan sampai jengkel karena inisiatifnya untuk membantu AS tidak mendapat sambutan di dalam negeri. Tamura, seorang invesment banking yang kini menjadi anggota DPR dan mengetuai satu faksi dalam partai pemerintah, berpendapat, mestinya Jepang bisa menggunakan uang cash-nya yang begitu banyak untuk ikut menyembuhkan ekonomi dunia.
"Ini sebenarnya kesempatan besar bagi Jepang," kata Tamura seperti dikutip media seluruh dunia. "Sekarang ini, di AS, semuanya murah. Seharusnya kita menggunakan dana kita untuk membeli semua itu," katanya. Dengan cara itu, kata Tamura, Jepang bisa memberikan sinyal yang baik bagi pulihnya ekonomi dunia. Apalagi, bantuan itu toh bukan pinjaman yang berisiko. Bantuan itu berupa kesediaan membeli aset-aset yang lagi dijual di AS.
Beberapa perusahaan Jepang memang sudah membeli aset tersebut. Mitsubishi membeli sebagian saham Morgan Stanley sebesar USD 9 miliar, membeli Union BanCal di San Fransisco sebesar USD 3,5 miliar, dan membeli Aberdeen Asset Management sebesar USD 190 juta. Tapi, itu dianggap belum ada artinya.
Kalau Jepang bisa membeli sebanyak mungkin aset murah di AS, kata Tamura, dalam 10 tahun mendatang Jepang akan menikmati hasilnya: hasil ekonomi dan hasil politik. Toh seruan Tamura itu tidak ada yang menggubris. Tamura yang baru 45 tahun dan yang dikenal suka berpakaian elegan (jarang politisi Jepang yang berani memakai pakaian yang mahal seperti dia) menjadi sangat ketus.
Bahkan, proposalnya agar Jepang membuat perusahaan negara seperti Temasek di Singapura juga ditolak. Padahal, selama ini dana-dana di Jepang itu hanya menghasilkan bunga yang sangat rendah: 0,5% setahun! Kalau dana itu diakumulasikan ke dalam satu usaha seperti Temasek, hasilnya bisa sampai 18% setahun.
Jepang memang bangsa yang paling hati-hati terhadap sesuatu yang berisiko. Tingkatnya bukan lagi sekadar hati-hati, melainkan sudah "benci pada risiko". "Bahkan, risiko baik sekali pun," ujar Tamura. Mana ada orang yang memilih dapat bunga 0,5% daripada 18%. "Orang Jepang itu tidak tahu apa artinya laba," kata Tamura.
Tapi, itulah memang Jepang. Mereka menilai bunga 0,5% tapi aman lebih baik daripada "bunga 18%" tapi ada risikonya. Kita memang kagum dengan langkah seperti Temasek, tapi kini kita juga perlu bertanya berapa kerugian Temasek akibat krisis ini.
Demikian juga investasi Tiongkok di Blackstone yang mencapai USD 250 miliar dua tahun lalu, kira-kira juga sudah hilang setidaknya separonya. Ini berarti ada uang Rp 1.200 triliun yang tiba-tiba lenyap. Uang yang hilang sekejap itu sudah sama dengan seluruh APBN Indonesia!
Bagaimana dengan sikap Tiongkok? Kita belum pernah mendengar inisiatif Tiongkok untuk menggunakan cadangan devisa terbesarnya di dunia itu untuk ikut menyelamatkan Amerika. Tiongkok pasti ingin menyelamatkan dirinya sendiri dulu. Rakyatnya begitu banyak. Pabriknya yang harus tutup jumlahnya bukan hanya ribuan. Tiongkok pasti akan menggunakan cadangan devisa, pertama-tama untuk dirinya sendiri.
Apalagi Tiongkok pasti tahu bahwa meski terkena krisis, Amerika masihlah negara kaya. Saya sering menyebutkan dengan krisis ini status Amerika hanya turun dari "negara yang kaya raya" menjadi "negara yang kaya sekali". Kapitalisasi pasar modalnya masih lebih besar dibanding Jepang, Korea, Jerman, Tiongkok, Prancis, Inggris, dan Australia dijadikan satu! Kekuatan ekonomi Tiongkok yang sudah kita puji-puji itu baru sebesar ekonomi satu negara bagian California.
Ibarat layang-layang, perusahaan-perusahaan di Indonesia kini masih dalam status terbang. Baru satu-dua yang oleng kehilangan angin. Tapi, semua pemilik perusahaan kini harus terus dalam posisi memegang benang sambil mata tetap terus mengawasi layang-layang masing-masing. Begitu kehilangan angin harus tahu apa yang harus dilakukan: tarik benangnya. Lengah sedikit, layang-layang itu bisa langsung nyungsep ke tanah. Mata tidak boleh berkedip. Jangan sampai, misalnya, ditinggal ke toilet sekalipun. Banyak yang mungkin menganggap ini berlebihan. Tapi, siapa yang beranggapan demikian, layang-layangnyalah yang akan nyungsep lebih dulu.
Monday, October 27, 2008
Dahlan Iskan : Kapan Harga BBM Harus Turun (1)
SUDAH pasti harga bahan bakar minyak (BBM) harus turun. Persoalannya tinggal kapan waktu yang terbaik.
Tapi, ada yang lebih mendasar dari itu. Bisakah mementum BBM ini dimanfaatkan ''untuk nyalip di tikungan" dalam krisis global ini. Yakni, untuk meletakkan dasar-dasar yang kukuh dalam penentuan harga BBM yang lebih rasional. Seumur hidup kita belum pernah bisa mengatasi masalah keruwetan BBM. Selalu saja soal BBM jadi isu sensitif multidimensi yang sering membuat instabilitas nasional.
Untuk menata keruwetan BBM, kita belum pernah mendapatkan momentum sebagus dan sehebat sekarang ini. Maka, momentum yang langka ini harus bisa dimanfaatkan secara jitu. Kinilah saatnya kita membuat fondasi yang kukuh di bidang yang amat peka dalam sejarah politik Indonesia. Tapi, kalau momentum ini terlewatkan begitu saja, kesempatan ini akan lewat begitu saja.
Harga BBM sudah terbukti sarat dengan isu politik dan stabilitas. Padahal, sudah terbukti stabilitaslah yang menjadi kunci kemajuan bangsa yang langgeng. Setiap kali ada kenaikan harga BBM, dampak yang terbesar bukan akibat selisih kenaikannya itu sendiri, tapi ekses ketidakstabilannya.
Momentum yang saya maksud itu adalah: inilah untuk yang pertama harga BBM tidak perlu disubsidi. Bisakah momentum ini dipakai untuk menghapuskan sistem subsidi BBM selama-lamanya? Kini saatnya pemerintah melepaskan diri untuk jadi penentu harga BBM. Ini demi kestabilan pemerintah untuk jangka yang panjang. Juga sebagai salah satu rintisan terbentuknya pemerintah yang efektif yang kita cita-citakan bersama. Terutama setelah terbukti kita memerlukan pemerintah yang lebih efektif dari sekarang, meski juga jangan kembali ke sistem Orde Baru. Terlalu banyak energi dan risiko yang dipertaruhkan di bidang BBM ini.
Lalu, siapa yang sebaiknya menentukan harga BBM? Mekanisme pasar bebaskah? Artinya, masyarakat dibiasakan saja membeli BBM seperti membeli lombok. Tiap hari bisa saja harganya tidak sama. Disesuaikan dengan naik turunnya harga BBM di pasar bebas. Toh negara-negara maju juga sudah lama melakukan sistem ini. Kalau tidak mau dengan cara ini, bisa saja harga BBM ditentukan oleh satu komisi independen yang dibentuk DPR. Atau oleh siapa pun yang bisa fair, yang intinya jangan lagi soal BBM mengganggu stabilitas politik nasional. Kinilah saatnya kita membuat sejarah baru di bidang BBM.
Sementara menunggu konsep itu, sebaiknya harga BBM diturunkan sedikit saja dulu. Pertama, menunggu apakah turunnya harga minyak mentah dunia ini sudah stabil. Tidak lagi turun-naik secara drastis. Kedua -dan ini yang lebih penting- tunggu dulu apakah negara kita ini sudah benar-benar akan selamat dari krisis sekarang ini. Setiap negara kini sedang mencari jalan sendiri-sendiri untuk menyelamatkan diri. Indonesia tentu tidak boleh kalah cerdik. Begitu kalah cerdik, kita akan ambruk.
Sekarang ini sudah tiga negara yang ambruk. Mula-mula Islandia, sebuah negara Barat yang belum lama dipuja sebagai negara maju dengan sistem pengelolaan energi panas bumi yang terbaik. Islandia ini bulan lalu seperti pengemis yang keleleran. Minta-minta pinjaman ke berbagai negara maju, tapi tidak ada yang berbelas kasihan. Mengapa?
Sebabnya ya itu tadi: semua negara sekarang ini sedang menyelamatkan diri masing-masing. Sampai-sampai Perdana Menteri Islandia Geir Haarde mengeluh, ''Ternyata dalam keadaan susah, kami ini tidak punya teman baik." Dia menyindir habis-habisan AS, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya sebagai sekutu yang tidak punya solidaritas.
Apa yang kemudian dilakukan Islandia? Pergi ke Rusia! ''Bagaimana lagi?" ujar perdana menteri Islandia. ''Tidak ada jalan lain. Sahabat sendiri tidak membantu." Langkah ini sebenarnya bisa menampar muka negara-negara Barat, tapi toh tidak ada negara yang merasa tertampar. Dalam keadaan seperti ini, harga diri dan solidaritas tidak masuk dalam pertimbangan lagi.
Di Rusia, dia hanya ingin cari pinjaman USD 5 miliar. Setelah berunding bolak-balik, pinjaman tidak bisa cair juga. Gagal. Mengapa? Rusia sendiri harus cari selamat. Sehari sebelum kita menutup pasar modal, Rusia sudah melakukan lebih dulu. Bahkan, ketika kita sudah membuka kembali pasar modal, Rusia masih terus menutup, entah sampai kapan.
Akhirnya, Islandia menyerah ke IMF. Tapi, juga belum dapat jalan keluar yang terbaik.
Lalu, Ukraina. Negara yang semula amat percaya diri bisa sejajar dengan negara Barat ini harus ambruk juga. Ukraina yang begitu pisah dari Rusia langsung bergabung ke persekongkolan negara Barat tidak juga dapat jalan keluar dari sahabat barunya.
Negara ketiga yang menyerah ke IMF adalah Pakistan.
Kita masih belum tahu negara mana lagi yang akan menyusul. Korea Selatan, negara yang paling cepat sembuh setelah krisis moneter tahun 1997, kini sangat parah. Mata uangnya, won, jatuh sampai 30 persen. Keruwetan politiknya, gara-gara di antara 16 menteri kabinet hanya tiga yang Buddha (selebihnya Kristen), juga meningkat.
Satu per satu, negara yang tidak siap akan menyusul seperti Islandia. Kita, alhamdulillah, baru terkena sedikit. Tapi, harga kelapa sawit kita sudah tinggal USD 500 per ton. Harga seperempat dibanding sebulan lalu ini sudah di bawah biaya produksi. Perkebunan besar, yang tahun lalu pesta, kini menangis. Ratusan ribu petani yang punya kebun kecil-kecil (1-2 ha) sudah tidak mau lagi memanen kelapa sawitnya.
Harga kakau turun drastis pula, sedrastis kelapa sawit. Pekan lalu saya ke beberapa provinsi di Indonesia Timur melihat harga kopra juga tinggal sepertiganya. Kita masih belum tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang.
Meski para politisi terlalu sulit untuk bisa ikut merasakan semua ini, yang penting jangan membuat beban tambahan. Karena itu, soal harga BBM jangan dibawa ke politik. BBM memang harus turun, tapi memanfaatkan momentum harga BBM ini bagi perkuatan negara jauh lebih penting.
Saya sangat khawatir gelombang permintaan penurunan harga BBM akan menjadi isu politik yang hanya akan membuat Indonesia menyusul Islandia. Kita tidak ingin jadi pasien IMF sekali lagi. Kita sudah kapok dengan peristiwa sepuluh tahun yang lalu. Konsentrasi mencegah datangnya krisis yang lebih besar jauh lebih penting.
Sekarang ini pemerintah tentu lagi konsentrasi penuh mengurus krisis ini. Tim ekonomi (termasuk Bapepam, BEJ) sudah satu bulan penuh kurang tidur. Saya bisa membayangkan bagaimana Menteri Keuangan Sri Mulyani sampai tidak bisa mengunjungi ibunya yang keadaannya kritis. Bahkan, ketika besoknya sedang memimpin rapat untuk mencari cara menyelamatkan uang para penabung di bank, tiba-tiba dia mendapatkan SMS bahwa ibunya meninggal dunia. Dia menangis karena tidak bisa mendampingi ibunya di saat-saat terakhirnya.
Dalam keadaan berduka seperti itu, rapat juga tidak bisa ditunda. Kalau rapat tidak membuat keputusan, bisa-bisa keesokan harinya bank-bank rontok seperti sepuluh tahun lalu. Dia masih bisa membuat keputusan untuk menjamin semua nasabah bank. Bukan Rp 1 miliar seperti yang diusulkan masyarakat, tapi sampai Rp 2 miliar.
Sampai setelah itu pun, dia masih belum bisa berangkat ke bandara untuk terbang ke Semarang di mana jenazah ibunya sudah menunggunya. Dia masih harus memimpin rapat yang satu lagi untuk menyelamatkan pasar modal. Dia putuskan agar pasar modal dibuka kembali hari Senin dengan taruhan besar. Akibat keputusannya itu begitu kritis: selamat atau hancur. Pilihan begitu sulit. Sampai-sampai dia berpesan kepada pengelola pasar modal agar sebelum membuka transaksi hari Senin itu, mereka lebih dulu mengucapkan tiga kalimat yang bukan dari buku teks ekonomi. Bahkan, kalimat itu harus diucapkan masing-masing tiga kali: Lailahaillallah, Allahu Akbar, dan Bismillah. Barulah dia berangkat ke Semarang. Itu pun harus segera kembali ke Jakarta ''menjaga" keadaan yang gawat.
Tapi, dia tidak mau dipuji. ''Pujilah DPR, khususnya Komisi XI DPR," katanya kepada saya. Dia sangat bangga bahwa kali ini DPR sangat mengerti situasi. ''Semula saya sangat khawatir. Kita ini mestinya lebih rawan daripada negara lain," ujarnya.
Mengapa? ''Pertama, kita ini negara berkembang yang belum kuat seperti negara maju. Kalau negara maju saja rontok, bagaimana kita?" katanya.
''Kedua, kita ini negara demokrasi yang tentu tidak gampang mengambil keputusan," tambahnya. ''Ketiga, sekarang ini sudah dekat pemilu. Tentu bisa-bisa dimanfaatkan untuk isu politik. Gabungan tiga hal itu sudah memenuhi syarat untuk membuat Indonesia hancur. Ternyata masih selamat. Kami bangga dengan sikap Komisi XI DPR," ujarnya.
Tapi, melihat krisis di luar negeri yang terus mewabah seperti wereng, kita belum bisa aman. Yang harus dipikirkan sekarang bukan menurunkan harga BBM, tapi bagaimana menyiapkan skenario terjelek. Yakni menolong orang miskin dalam keadaan sulit nanti. Dana yang sangat besar diperlukan agar bisa mendistribusikan uang ke lapisan paling bawah rakyat kita. Bukan sebulan dua bulan, tapi selama dua tahun.
Yang penting harus transparan. Yang perlu disiapkan bukan saja dana, tapi juga cara penyalurannya. Mumpung masih ada waktu memikirkannya. Yang penting jangan lewat departemen pemerintah. Bisa dalam bentuk bantuan yang bisa langsung sampai ke orang di bawah atau untuk penjaminan kredit usaha mikro dalam jumlah yang besarnya belum pernah terjadi dalam sejarah kita. Menurunkan harga BBM memang perlu, tapi sewajarnya saja. Menyiapkan skenario krisis terburuk harus jadi perhatian utama. (*)
[ Senin, 27 Oktober 2008 ] jawapos.co.id
Tapi, ada yang lebih mendasar dari itu. Bisakah mementum BBM ini dimanfaatkan ''untuk nyalip di tikungan" dalam krisis global ini. Yakni, untuk meletakkan dasar-dasar yang kukuh dalam penentuan harga BBM yang lebih rasional. Seumur hidup kita belum pernah bisa mengatasi masalah keruwetan BBM. Selalu saja soal BBM jadi isu sensitif multidimensi yang sering membuat instabilitas nasional.
Untuk menata keruwetan BBM, kita belum pernah mendapatkan momentum sebagus dan sehebat sekarang ini. Maka, momentum yang langka ini harus bisa dimanfaatkan secara jitu. Kinilah saatnya kita membuat fondasi yang kukuh di bidang yang amat peka dalam sejarah politik Indonesia. Tapi, kalau momentum ini terlewatkan begitu saja, kesempatan ini akan lewat begitu saja.
Harga BBM sudah terbukti sarat dengan isu politik dan stabilitas. Padahal, sudah terbukti stabilitaslah yang menjadi kunci kemajuan bangsa yang langgeng. Setiap kali ada kenaikan harga BBM, dampak yang terbesar bukan akibat selisih kenaikannya itu sendiri, tapi ekses ketidakstabilannya.
Momentum yang saya maksud itu adalah: inilah untuk yang pertama harga BBM tidak perlu disubsidi. Bisakah momentum ini dipakai untuk menghapuskan sistem subsidi BBM selama-lamanya? Kini saatnya pemerintah melepaskan diri untuk jadi penentu harga BBM. Ini demi kestabilan pemerintah untuk jangka yang panjang. Juga sebagai salah satu rintisan terbentuknya pemerintah yang efektif yang kita cita-citakan bersama. Terutama setelah terbukti kita memerlukan pemerintah yang lebih efektif dari sekarang, meski juga jangan kembali ke sistem Orde Baru. Terlalu banyak energi dan risiko yang dipertaruhkan di bidang BBM ini.
Lalu, siapa yang sebaiknya menentukan harga BBM? Mekanisme pasar bebaskah? Artinya, masyarakat dibiasakan saja membeli BBM seperti membeli lombok. Tiap hari bisa saja harganya tidak sama. Disesuaikan dengan naik turunnya harga BBM di pasar bebas. Toh negara-negara maju juga sudah lama melakukan sistem ini. Kalau tidak mau dengan cara ini, bisa saja harga BBM ditentukan oleh satu komisi independen yang dibentuk DPR. Atau oleh siapa pun yang bisa fair, yang intinya jangan lagi soal BBM mengganggu stabilitas politik nasional. Kinilah saatnya kita membuat sejarah baru di bidang BBM.
Sementara menunggu konsep itu, sebaiknya harga BBM diturunkan sedikit saja dulu. Pertama, menunggu apakah turunnya harga minyak mentah dunia ini sudah stabil. Tidak lagi turun-naik secara drastis. Kedua -dan ini yang lebih penting- tunggu dulu apakah negara kita ini sudah benar-benar akan selamat dari krisis sekarang ini. Setiap negara kini sedang mencari jalan sendiri-sendiri untuk menyelamatkan diri. Indonesia tentu tidak boleh kalah cerdik. Begitu kalah cerdik, kita akan ambruk.
Sekarang ini sudah tiga negara yang ambruk. Mula-mula Islandia, sebuah negara Barat yang belum lama dipuja sebagai negara maju dengan sistem pengelolaan energi panas bumi yang terbaik. Islandia ini bulan lalu seperti pengemis yang keleleran. Minta-minta pinjaman ke berbagai negara maju, tapi tidak ada yang berbelas kasihan. Mengapa?
Sebabnya ya itu tadi: semua negara sekarang ini sedang menyelamatkan diri masing-masing. Sampai-sampai Perdana Menteri Islandia Geir Haarde mengeluh, ''Ternyata dalam keadaan susah, kami ini tidak punya teman baik." Dia menyindir habis-habisan AS, Inggris, dan negara-negara Eropa lainnya sebagai sekutu yang tidak punya solidaritas.
Apa yang kemudian dilakukan Islandia? Pergi ke Rusia! ''Bagaimana lagi?" ujar perdana menteri Islandia. ''Tidak ada jalan lain. Sahabat sendiri tidak membantu." Langkah ini sebenarnya bisa menampar muka negara-negara Barat, tapi toh tidak ada negara yang merasa tertampar. Dalam keadaan seperti ini, harga diri dan solidaritas tidak masuk dalam pertimbangan lagi.
Di Rusia, dia hanya ingin cari pinjaman USD 5 miliar. Setelah berunding bolak-balik, pinjaman tidak bisa cair juga. Gagal. Mengapa? Rusia sendiri harus cari selamat. Sehari sebelum kita menutup pasar modal, Rusia sudah melakukan lebih dulu. Bahkan, ketika kita sudah membuka kembali pasar modal, Rusia masih terus menutup, entah sampai kapan.
Akhirnya, Islandia menyerah ke IMF. Tapi, juga belum dapat jalan keluar yang terbaik.
Lalu, Ukraina. Negara yang semula amat percaya diri bisa sejajar dengan negara Barat ini harus ambruk juga. Ukraina yang begitu pisah dari Rusia langsung bergabung ke persekongkolan negara Barat tidak juga dapat jalan keluar dari sahabat barunya.
Negara ketiga yang menyerah ke IMF adalah Pakistan.
Kita masih belum tahu negara mana lagi yang akan menyusul. Korea Selatan, negara yang paling cepat sembuh setelah krisis moneter tahun 1997, kini sangat parah. Mata uangnya, won, jatuh sampai 30 persen. Keruwetan politiknya, gara-gara di antara 16 menteri kabinet hanya tiga yang Buddha (selebihnya Kristen), juga meningkat.
Satu per satu, negara yang tidak siap akan menyusul seperti Islandia. Kita, alhamdulillah, baru terkena sedikit. Tapi, harga kelapa sawit kita sudah tinggal USD 500 per ton. Harga seperempat dibanding sebulan lalu ini sudah di bawah biaya produksi. Perkebunan besar, yang tahun lalu pesta, kini menangis. Ratusan ribu petani yang punya kebun kecil-kecil (1-2 ha) sudah tidak mau lagi memanen kelapa sawitnya.
Harga kakau turun drastis pula, sedrastis kelapa sawit. Pekan lalu saya ke beberapa provinsi di Indonesia Timur melihat harga kopra juga tinggal sepertiganya. Kita masih belum tahu apa yang akan terjadi dalam beberapa bulan mendatang.
Meski para politisi terlalu sulit untuk bisa ikut merasakan semua ini, yang penting jangan membuat beban tambahan. Karena itu, soal harga BBM jangan dibawa ke politik. BBM memang harus turun, tapi memanfaatkan momentum harga BBM ini bagi perkuatan negara jauh lebih penting.
Saya sangat khawatir gelombang permintaan penurunan harga BBM akan menjadi isu politik yang hanya akan membuat Indonesia menyusul Islandia. Kita tidak ingin jadi pasien IMF sekali lagi. Kita sudah kapok dengan peristiwa sepuluh tahun yang lalu. Konsentrasi mencegah datangnya krisis yang lebih besar jauh lebih penting.
Sekarang ini pemerintah tentu lagi konsentrasi penuh mengurus krisis ini. Tim ekonomi (termasuk Bapepam, BEJ) sudah satu bulan penuh kurang tidur. Saya bisa membayangkan bagaimana Menteri Keuangan Sri Mulyani sampai tidak bisa mengunjungi ibunya yang keadaannya kritis. Bahkan, ketika besoknya sedang memimpin rapat untuk mencari cara menyelamatkan uang para penabung di bank, tiba-tiba dia mendapatkan SMS bahwa ibunya meninggal dunia. Dia menangis karena tidak bisa mendampingi ibunya di saat-saat terakhirnya.
Dalam keadaan berduka seperti itu, rapat juga tidak bisa ditunda. Kalau rapat tidak membuat keputusan, bisa-bisa keesokan harinya bank-bank rontok seperti sepuluh tahun lalu. Dia masih bisa membuat keputusan untuk menjamin semua nasabah bank. Bukan Rp 1 miliar seperti yang diusulkan masyarakat, tapi sampai Rp 2 miliar.
Sampai setelah itu pun, dia masih belum bisa berangkat ke bandara untuk terbang ke Semarang di mana jenazah ibunya sudah menunggunya. Dia masih harus memimpin rapat yang satu lagi untuk menyelamatkan pasar modal. Dia putuskan agar pasar modal dibuka kembali hari Senin dengan taruhan besar. Akibat keputusannya itu begitu kritis: selamat atau hancur. Pilihan begitu sulit. Sampai-sampai dia berpesan kepada pengelola pasar modal agar sebelum membuka transaksi hari Senin itu, mereka lebih dulu mengucapkan tiga kalimat yang bukan dari buku teks ekonomi. Bahkan, kalimat itu harus diucapkan masing-masing tiga kali: Lailahaillallah, Allahu Akbar, dan Bismillah. Barulah dia berangkat ke Semarang. Itu pun harus segera kembali ke Jakarta ''menjaga" keadaan yang gawat.
Tapi, dia tidak mau dipuji. ''Pujilah DPR, khususnya Komisi XI DPR," katanya kepada saya. Dia sangat bangga bahwa kali ini DPR sangat mengerti situasi. ''Semula saya sangat khawatir. Kita ini mestinya lebih rawan daripada negara lain," ujarnya.
Mengapa? ''Pertama, kita ini negara berkembang yang belum kuat seperti negara maju. Kalau negara maju saja rontok, bagaimana kita?" katanya.
''Kedua, kita ini negara demokrasi yang tentu tidak gampang mengambil keputusan," tambahnya. ''Ketiga, sekarang ini sudah dekat pemilu. Tentu bisa-bisa dimanfaatkan untuk isu politik. Gabungan tiga hal itu sudah memenuhi syarat untuk membuat Indonesia hancur. Ternyata masih selamat. Kami bangga dengan sikap Komisi XI DPR," ujarnya.
Tapi, melihat krisis di luar negeri yang terus mewabah seperti wereng, kita belum bisa aman. Yang harus dipikirkan sekarang bukan menurunkan harga BBM, tapi bagaimana menyiapkan skenario terjelek. Yakni menolong orang miskin dalam keadaan sulit nanti. Dana yang sangat besar diperlukan agar bisa mendistribusikan uang ke lapisan paling bawah rakyat kita. Bukan sebulan dua bulan, tapi selama dua tahun.
Yang penting harus transparan. Yang perlu disiapkan bukan saja dana, tapi juga cara penyalurannya. Mumpung masih ada waktu memikirkannya. Yang penting jangan lewat departemen pemerintah. Bisa dalam bentuk bantuan yang bisa langsung sampai ke orang di bawah atau untuk penjaminan kredit usaha mikro dalam jumlah yang besarnya belum pernah terjadi dalam sejarah kita. Menurunkan harga BBM memang perlu, tapi sewajarnya saja. Menyiapkan skenario krisis terburuk harus jadi perhatian utama. (*)
[ Senin, 27 Oktober 2008 ] jawapos.co.id
Tuesday, September 2, 2008
Mensurabayakan Surabaya

Saturday, 24 November 2007
Bangbang Wetan | Emha Ainun Nadjib
Calon kelas menengah Indonesia, anak-anak muda intelektual dari berbagai kampus Surabaya, angkatan muda bernacam segmen 'swasta' yang dimotori oleh Jam'iyah Maiyah, juga sejumlah stake-holders, aktivis birokrasi dan aktivisme sosial, sedang melakukan pendadaran diri melalui wadah Bangbang Wetan, untuk pada saatnya benar-benar siap menjadi "kelas perubah sejarah" Indonesia.
Tahap-tahap sangat penting sedang mereka tempuh.
Pertama memastikan mengukuhkan kepribadian dan
kediriannya sebagai manusia, sebagai pengolah metoda
Agama dan ilmu-ilmu mutakhir, sebagai rakyat
Indonesia. Rakyat berasal dari kata ro'iyah =
kepemimpinan. Rakyat bukan kawula atau abdi. Rakyat
adalah pemegang rohani kepemimpinan yang dipatuhi oleh
Pemerintah dalam konteks dan skala Negara.
Pemerintah adalah abdi atau kawula, yang dilantik
oleh otoritas kepemimpinan rakyat, dikasih tempat
bekerja memenuhi amanat rakyat, diberi upah, fasilitas
dan berbagai akses untuk mempermudah pekerjaan
kerakyatan.
Kalau pinjam filosofi "Gundhul Pacul":
pemerintah meletakkan "bakul" kesejahteraan rakyat di
atas kepalanya. Derajat Pemerintah ada di bawah maqam
ro'iyah. Tugas mereka mengolah modal kekayaan Negara
untuk diantarkan kepada rakyat berupa kesejahteraan
lahir batin. Demokrasi adalah salah satu jenis
kendaraan untuk mengantarkan kesejahteraan itu.
Pemerintah dilarang "gembelengan": main-main, sok
kuasa, lupa hakikat demokrasi dan ro'iyah, merasa diri
di atas rakyat dan lupa bahwa rakyat bisa hidup tanpa
Pemerintah sementara Pemerintah tak bisa ada tanpa
rakyat.
Kalau Pemerintah "gembelengan" maka "wakul
ngglimpang segane dadi sak-latar". Kekayaan negara
tercecer-cecer mubazir, dikuasai maling dan kaum
serakah yang derajatnya sama dengan ayam yang
nothol-nothol nasi berceceran.
Jangan lupa juga, seorang pejabat, dari Presiden
sampai Gubernur Bupati Walikota, yang gembelengan:
dalam teori ekogenetik -- akan menyusahkan anak
cucunya, yang menanggung "walat" adalah seluruh bagian
dari ekosistem dan kekeluargaannya.
Lihatlah apa yang kurang pada putra putri Pak Harto: harta benda,
kekayaan apa saja, kecantikan kebagusan -- tapi apa
yang mereka alami dari hari ke hari.
Orang biasa menyebut hal semacam itu dengan kata
'kuwalat', atau & 'hukum karma'.
Secara ilmiah itu bisa dianalisis, meskipun tidak
tepat betul, sebagai fenomena ekogenetik, dengan
variable sebut saja eko-sistemik pada suatu
skala, atau eko-sosiologis. Rute waktunya bisa
harian, mingguan, bulanan, tahunan, dasawarsa, abad,
millennium dst. Kuwalat itu pasti
terjadi, kalau dalam idiomatik Islam: karena ada
sunnatullah yang namanya tawazzun: penyeimbangan yang
konsisten dan terus-menerus.
Kenapa Surabaya yang budayanya egaliter, cukup jauh
dari feodalisme Jawa, demokratis, bahkan punya
gen sebagai pelahir manusia-manusia Kota
Pahlawan: sekarang misalnya -- Persebaya-nya
terpuruk dan cara penanganan pasca dibakarnya Pasar
Turi justru mencerminkan karakter yang sama sekali
bertentangan dengan semangat demokrasi, watak
egaliter, budaya breh, opo anane dan
sangat memalukan jika dilihat dari identitasnya
sebagai Kota Pahlawan?
Kata wong cilik: hidup ibarat roda, kadang di atas,
kadang di bawah. Itu bukan sekedar suratan nasib di
mana manusia hanya menjadi obyek.
Seringkali justru
terjadi manusia menginisiatifi penindasan, penzaliman
atau pemiskinan. Orang yang secara obyektif menurut
pandangan nasib bias berada di atas, malah terpuruk di
bawah karena kekuasaan politik dan birokrasi atau
berbagai jenis kekuasaan lain dari manusia atas
manusia.
Suatu kelompok masyarakat merasa sedang unggul,
sedang memegang jabatan dan kekuasaan, kemudian mereka
sangat mantap dan meyakini keunggulannya atas kelompok
lain dalam sebuah masyarakat dan Negara.
Nanti pasti
tiba saatnya tawazzun Allah akan tiba
dan para penguasa zalim akan mengalami, dengan semua
kerabatnya yang makan butir nasi dan tetes air dari
hasil penindasan: akan merasakan semacam
balasan yang mungkin lebih parah tingkat
kesengsaraannya dibanding yang dulu mereka tindas.
Generasi Emas kesebelasan Inggris,
demikian Adam Crozier pimpinan FA menjuluki
kesebelasan serba bintang dari negeri asal sepakbola.
Kalah 3-2 dari Kroasia meruntuhkan seluruh harga diri
rakyat Ratu Elisabeth. Air mata menghujani dan
membanjiri negeri yang sudah dikepung lautan itu. Lord
Mawhinney, Ketua Liga Sepakbola Inggris dengan sangat
pilu mengakui bahwa yang emas itu ternyata loyang.
Para ahli wirid meminjam kata-kata Allah 'min
haitsu la yahtasib' mereka akan menjumpai
kenyataan jauh di luar yang mereka perhitungkan.
Berbagai rekayasa tidak jujur, hati yang tidak adil
dan pikiran yang tidak obyektif yang menimpa rakyat
Indonesia di tengah himpitan dan timbunan
masalah-masalah: lambat atau cepat akan mengalami
produk dari 'min haitsu la yahtasib'.
Allah lebih lanjut meladeni tantangan: 'Innahum
yakiduna kaida wa akidu kaida'. Mereka
melakukan tipu daya, dari lokal sampai internasional,
dan mereka akan 'kejagul' karena Allah
adalah Maha Penipu Daya. Tinggal rakyat yang ditipu
daya itu mempercepat dengan tangis
mereka kepada Allah atau membiarkan irama Allah
berlangsung apa adanya.
Maka kaum muda Bangbang Wetan di Balai Pemuda
Surabaya, yang bulan ini berlangsung lusa 27 November
2007: menghimpun hati yang adil, pikiran yang
obyektif, mental yang tenteram, pendataan yang
lengkap, analisis setepat mungkin, menabung
infrastruktur mental kelas menengah perubah nasib
bangsa karena Indonesia hari ini sungguh tak
punya Kelas Menengah Pemikir yang sungguh-sungguh
mateg aji merancang perubahan: yang di atas hidup
sangat enak dan pasti tidak mau berubah, yang di bawah
kelelahan mikir sebutir nasi sehingga tidak mungkin
dituntut memikirkan perubahan.
Padahal tidak ada toleransi lagi bahwa Indonesia wajib berubah
'sak oyot-oyote'. Makanya sekarang belajar rendah hatilah kita semua:
kita sisihkan dulu kata-kata gagah untuk menyebut diri
sendiri: emas, mutiara, super, mega, raja, ratu,
pejuang 'Surabayakanlah Surabaya!' *
Wednesday, August 20, 2008
PERGERAKAN MAHASISWA INDONESIA DULU DAN SEKARANG (ANALISA PERGERAKAN TAHUN 1966, 1998, DAN 2008)
A. Pendahuluan
Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Sejarah mencatat bahwa mahasiswa merupakan elemen yang tak terpisahkan dari perjalanan peradaban sebuah bangsa baik terkait dengan idealisme, kepeloporan, pemikiran kritis, konsistensi semangat perubahan, dan pergerakannya.
Tidak terkecuali Indonesia. Kemerdekaan bangsa Indonesia atas kolonialisme yang telah berlangsung hampir 4 abad lamanya, merupakan buah dari kerja keras para tokoh muda yang lahir dari komunitas kampus. Bung Karno, Bung Hatta, HOS Cokroaminoto, dll, adalah motor penggerak rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya.
Gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Dalam perjalanannya dari masa ke masa, bangsa ini telah mengenal beberapa dekade perjuangan mahasiswa.
B. Pergerakan tahun 1966
Pergerakan mahasiswa ditandai dengan pembentukan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, yakni HMI,PMII,Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI). Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan. Munculnya KAMI diikuti berbagai aksi lainnya, seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan lain-lain.
Pada tahun ini, pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan "Orde Baru" . Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan '66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu adalah mereka yang kemudian berada pada lingkar kekuasaan Orde Baru, di antaranya Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi, dll. Angkatan '66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI(Partai Komunis Indonesia). Setelah Orde Lama berakhir, aktivis Angkatan '66 pun mendapat hadiah yaitu dengan banyak yang duduk di kursi DPR/MPR serta diangkat dalam kabibet pemerintahan Orde Baru. Di masa ini ada salah satu tokoh yang sangat idealis, yang sampai sekarang menjadi panutan bagi mahasiswa-mahasiswa yang idealis setelah masanya,dia adalah seorang aktivis yang tidak peduli mau dimusuhi atau didekati yang penting pandangan idealisnya tercurahkan untuk bangsa ini,dia adealah Soe Hok Gie.
C. Pergerakan tahun 1998
Gerakan 1998 menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998, lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini di antaranya: Peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi_Trisakti, Tragedi Semanggi I, Tragedi Lampung. Gerakan ini terus berlanjut hingga pemilu 1999.
Gerakan mahasiswa Indonesia 1998 adalah puncak gerakan mahasiswa tahun sembilan puluhan yang ditandai tumbangnya Orde Baru dengan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, pada tanggal 21 Mei 1998. Berbagai kesatuan aksi diberbagai daerah muncul untuk menentang rezim Suharto.
Di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Bali, Malang, Surabaya, Medan, Aceh, dan lain-lain lahir puluhan kesatuan aksi yang konsisten menentang kebijakan dan keberadaan rezim Suharto. Gerakan yang menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998 ini, harus berhadapan dengan berbagai tindakan represif yang menewaskan 4 aktivis mahasiswa Trisakti. Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung adalah bukti lainnya upaya represif Suharto untuk meredam gerakan ini.
Setelah bergulirnya reformasi pada tahun 1998, pergerakan mahasiswa dihadapkan pada pluralitas gerakan yang sangat tinggi. Mahasiswa pada saat ini memiliki garis perjuangan dan agenda yang berbeda dengan mahasiswa lainnya.
D. Pergerakan tahun 2008
Pergerakan mahasiswa di tahun 2008 ditandai dengan dinamika yang jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Masa ini ditandai dengan tantangan yang kompleks, baik dari sisi internal maupun eksternal. Selain itu, munculnya berbagai macam kepentingan mahasiswa ikut mewarnai dinamika sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia.
Periode 10 tahun pasca reformasi 1998 ternyata kondisi bangsa Indonesia masih saja stagnan rakyat miskin masih ada dimana-mana, harga bahan pokok semakin melambung naik, kesehatan semakin tidak diperhatikan dengan banyaknya pemilik askeskin yang tidak diterima oleh rumah sakit, penyakit bermacam-macam muncul, kualitas pendidikan nasional semakin menurun padahal biaya pendidikan semakin mahal, dan masih banyak hal lain yang jika disebutkan dalam tulisan ini tidak akan muat. Mahasiswa yang notabenenya adalah agen perubah sudah sepatutnya melakukan perubahan untuk kemajuan bangsa dengan hal yang konstruktif dan solutif untuk mengatasi semua permasalahan bangsa tersebut.
Menyikapi hal tersebut BEM Seluruh Indonesia ( BEM SI ) mengadakan Konfrensi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) yang telah dilaksanakan pada 21-23 Maret 2008 di Depok. Masalah yang dibahas oleh BEM SI adalah masalah yang terfokus pada permasalahan mendasar, mendesak untuk segera diselesaikan sebagai wujud penyelesain masalah bangsa. Reformasi ternyata masih belum selesai, kondisi bangsa ini belum berubah atau mungkin malah semakin terpuruk. Untuk itu BEM SI atas nama rakyat Indonesia manyampaikan Tujuh Gugatan Rakyat (TUGU RAKYAT) agar dengan segera dipenuhi oleh pemerintah :
Nasionalisai aset-aset strategis bangsaWujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau, dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia. Tuntaskan kasus BLBI dan korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya, sebagai perwujudan kepastian hukum di Indonesia. Kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi, dan energi. Jamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat. Tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan. Selamatkan lingkungan Indonesia dan tuntut Lapindo Brantas untuk mengganti rugi seluruh dampak dari lumpur Lapindo.
E. Penutup
Peran dan fungsi mahasiswa harus kembali dipertegas. Sejarah pergerakan mahasiswa yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia harus terus mampu mengawasi dan mengontrol reformasi secara utuh dalam segala bentuknya sesuai dengan zaman yang berlaku saat itu, yakni saat 1966, 1998 atau 2008. Mahasiswa harus tetap memiliki idealisme untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia, setidaknya di daerahnya. Mahasiswa tetap dikenal masyarakat sebagai agent of change. Hal ini memberikan konsekuensi logis kepada mahasiswa untuk bertindak dan berbuat terus-menerus sesuai dengan gelar yang melekat pada dirinya. Mahasiswa harus tetap memiliki sikap kritis, serta mengambil peran untuk melakukan banyak perubahan yang terbaik untuk menyuarakan masalah-masalah pendidikan, pengangguran, ekonomi, kesenjangan sosial, moralitas dan korupsi.
F. Referensi
http://rhisy.blogsome.com/2006/08/22/periodesasi-gerakan-mahasiswa/
http://rhisy.blogsome.com/2006/08/22/periodesasi-gerakan-mahasiswa/
http://bem.fmipa.ugm.ac.id/?p=25
Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Sejarah mencatat bahwa mahasiswa merupakan elemen yang tak terpisahkan dari perjalanan peradaban sebuah bangsa baik terkait dengan idealisme, kepeloporan, pemikiran kritis, konsistensi semangat perubahan, dan pergerakannya.
Tidak terkecuali Indonesia. Kemerdekaan bangsa Indonesia atas kolonialisme yang telah berlangsung hampir 4 abad lamanya, merupakan buah dari kerja keras para tokoh muda yang lahir dari komunitas kampus. Bung Karno, Bung Hatta, HOS Cokroaminoto, dll, adalah motor penggerak rakyat Indonesia dalam mencapai kemerdekaannya.
Gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Dalam perjalanannya dari masa ke masa, bangsa ini telah mengenal beberapa dekade perjuangan mahasiswa.
B. Pergerakan tahun 1966
Pergerakan mahasiswa ditandai dengan pembentukan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) tanggal 25 Oktober 1966 yang merupakan hasil kesepakatan sejumlah organisasi yang berhasil dipertemukan oleh Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pendidikan (PTIP) Mayjen dr. Syarief Thayeb, yakni HMI,PMII,Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Sekretariat Bersama Organisasi-organisasi Lokal (SOMAL), Mahasiswa Pancasila (Mapancas), dan Ikatan Pers Mahasiswa (IPMI). Tujuan pendiriannya, terutama agar para aktivis mahasiswa dalam melancarkan perlawanan terhadap PKI menjadi lebih terkoordinasi dan memiliki kepemimpinan. Munculnya KAMI diikuti berbagai aksi lainnya, seperti Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan lain-lain.
Pada tahun ini, pemuda dan mahasiswa Indonesia banyak terlibat dalam perjuangan yang ikut mendirikan "Orde Baru" . Gerakan ini dikenal dengan istilah Angkatan '66, yang menjadi awal kebangkitan gerakan mahasiswa secara nasional, sementara sebelumnya gerakan-gerakan mahasiswa masih bersifat kedaerahan. Tokoh-tokoh mahasiswa saat itu adalah mereka yang kemudian berada pada lingkar kekuasaan Orde Baru, di antaranya Akbar Tanjung, Cosmas Batubara, Sofyan Wanandi, Yusuf Wanandi, dll. Angkatan '66 mengangkat isu Komunis sebagai bahaya laten negara. Gerakan ini berhasil membangun kepercayaan masyarakat untuk mendukung mahasiswa menentang Komunis yang ditukangi oleh PKI(Partai Komunis Indonesia). Setelah Orde Lama berakhir, aktivis Angkatan '66 pun mendapat hadiah yaitu dengan banyak yang duduk di kursi DPR/MPR serta diangkat dalam kabibet pemerintahan Orde Baru. Di masa ini ada salah satu tokoh yang sangat idealis, yang sampai sekarang menjadi panutan bagi mahasiswa-mahasiswa yang idealis setelah masanya,dia adalah seorang aktivis yang tidak peduli mau dimusuhi atau didekati yang penting pandangan idealisnya tercurahkan untuk bangsa ini,dia adealah Soe Hok Gie.
C. Pergerakan tahun 1998
Gerakan 1998 menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998, lewat pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa, akhirnya memaksa Presiden Soeharto melepaskan jabatannya. Berbagai tindakan represif yang menewaskan aktivis mahasiswa dilakukan pemerintah untuk meredam gerakan ini di antaranya: Peristiwa Cimanggis, Peristiwa Gejayan, Tragedi_Trisakti, Tragedi Semanggi I, Tragedi Lampung. Gerakan ini terus berlanjut hingga pemilu 1999.
Gerakan mahasiswa Indonesia 1998 adalah puncak gerakan mahasiswa tahun sembilan puluhan yang ditandai tumbangnya Orde Baru dengan lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan, pada tanggal 21 Mei 1998. Berbagai kesatuan aksi diberbagai daerah muncul untuk menentang rezim Suharto.
Di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Bali, Malang, Surabaya, Medan, Aceh, dan lain-lain lahir puluhan kesatuan aksi yang konsisten menentang kebijakan dan keberadaan rezim Suharto. Gerakan yang menuntut reformasi dan dihapuskannya "KKN" (korupsi, kolusi dan nepotisme) pada 1997-1998 ini, harus berhadapan dengan berbagai tindakan represif yang menewaskan 4 aktivis mahasiswa Trisakti. Peristiwa Gejayan, Tragedi Trisakti, Tragedi Semanggi I dan II , Tragedi Lampung adalah bukti lainnya upaya represif Suharto untuk meredam gerakan ini.
Setelah bergulirnya reformasi pada tahun 1998, pergerakan mahasiswa dihadapkan pada pluralitas gerakan yang sangat tinggi. Mahasiswa pada saat ini memiliki garis perjuangan dan agenda yang berbeda dengan mahasiswa lainnya.
D. Pergerakan tahun 2008
Pergerakan mahasiswa di tahun 2008 ditandai dengan dinamika yang jauh berbeda dengan masa-masa sebelumnya. Masa ini ditandai dengan tantangan yang kompleks, baik dari sisi internal maupun eksternal. Selain itu, munculnya berbagai macam kepentingan mahasiswa ikut mewarnai dinamika sejarah pergerakan mahasiswa di Indonesia.
Periode 10 tahun pasca reformasi 1998 ternyata kondisi bangsa Indonesia masih saja stagnan rakyat miskin masih ada dimana-mana, harga bahan pokok semakin melambung naik, kesehatan semakin tidak diperhatikan dengan banyaknya pemilik askeskin yang tidak diterima oleh rumah sakit, penyakit bermacam-macam muncul, kualitas pendidikan nasional semakin menurun padahal biaya pendidikan semakin mahal, dan masih banyak hal lain yang jika disebutkan dalam tulisan ini tidak akan muat. Mahasiswa yang notabenenya adalah agen perubah sudah sepatutnya melakukan perubahan untuk kemajuan bangsa dengan hal yang konstruktif dan solutif untuk mengatasi semua permasalahan bangsa tersebut.
Menyikapi hal tersebut BEM Seluruh Indonesia ( BEM SI ) mengadakan Konfrensi BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) yang telah dilaksanakan pada 21-23 Maret 2008 di Depok. Masalah yang dibahas oleh BEM SI adalah masalah yang terfokus pada permasalahan mendasar, mendesak untuk segera diselesaikan sebagai wujud penyelesain masalah bangsa. Reformasi ternyata masih belum selesai, kondisi bangsa ini belum berubah atau mungkin malah semakin terpuruk. Untuk itu BEM SI atas nama rakyat Indonesia manyampaikan Tujuh Gugatan Rakyat (TUGU RAKYAT) agar dengan segera dipenuhi oleh pemerintah :
E. Penutup
Peran dan fungsi mahasiswa harus kembali dipertegas. Sejarah pergerakan mahasiswa yang mewarnai perjalanan bangsa Indonesia harus terus mampu mengawasi dan mengontrol reformasi secara utuh dalam segala bentuknya sesuai dengan zaman yang berlaku saat itu, yakni saat 1966, 1998 atau 2008. Mahasiswa harus tetap memiliki idealisme untuk memperjuangkan nasib rakyat Indonesia, setidaknya di daerahnya. Mahasiswa tetap dikenal masyarakat sebagai agent of change. Hal ini memberikan konsekuensi logis kepada mahasiswa untuk bertindak dan berbuat terus-menerus sesuai dengan gelar yang melekat pada dirinya. Mahasiswa harus tetap memiliki sikap kritis, serta mengambil peran untuk melakukan banyak perubahan yang terbaik untuk menyuarakan masalah-masalah pendidikan, pengangguran, ekonomi, kesenjangan sosial, moralitas dan korupsi.
F. Referensi
http://rhisy.blogsome.com/2006/08/22/periodesasi-gerakan-mahasiswa/
http://rhisy.blogsome.com/2006/08/22/periodesasi-gerakan-mahasiswa/
http://bem.fmipa.ugm.ac.id/?p=25
Berbagai peran mahasiswa
A. Pendahuluan
Sebagai sebagian dari masyarakat, mahasiswa mempunyai posisi yang unik. Mahasiswa merupakan kelompok masyarakat yang beruntung karena mempunyai kesempatan yang berharga untuk menimba ilmu dalam suatu wadah perguruan tinggi, dimana untuk negara seperti Indonesia hal tersebut merupakan hal yang sangat terbatas dan sulit bagi kebanyakan rakyat biasa. Mahasiswa juga sepatutnya berbahagia karena dirinya mampu menjadi bagian dari himpunan kecil cendikiawan yang dapat mendapatkan informasi yang berharga, pendidikan dan pelatihan untuk membaca fenomena-fenomena yang terjadi. Selain itu semua, sebagaimana disampaikan di muka bahwa mahasiswa mempunyai posisi yang unik, terkait dengan independensinya dari pengaruh-pengaruh kelompok/golongan yang ingin mengambil keuntungannya sendiri tanpa memikirkan kepentingan masyarakat secara umum (opportunist).
Idealisme merupakan nyawa bagi seorang mahasiswa yang akan senantiasa dijaga dan dipertahankan, apapun taruhannya. Mereka tidak segan untuk menghadapi segala tantangan serta pihak-pihak yang berkuasa (status quo), yang dianggap tidak sesuai dengan idealisme mereka yang mengutamakan kepentingan masyarakat secara umum dan menjunjung tinggi azas keadilan. Didukung oleh semangat muda, bersihnya hati/pikiran dari segala intrik kelompok/golongan seringkali perjuangan para mahasiswa mampu merobohkan rejim yang tiran. Sejarah di Indonesia telah mencatat peran mahasiswa tersebut dalam membawa perubahan sejarah ke arah yang lebih baik. Peristiwa Malari tahun 1974, pergerakan reformasi tahun 1998, dan sebagainya, merupakan bukti nyata peran mahasiswa. Di bidang lainnya seperti akademis/riset, pengabdian terhadap masyarakat serta agen perubahan juga mengiringi perjalanan peran mahasiswa di Indonesia.
Dalam tulisan ini akan diuraikan sekelumit peran mahasiswa dalam berbagai bidang terkait dengan posisinya sebagai kaum cendikia muda. Peran mahasiswa yang akan dibahas antara lain terkait dengan:
1. Tri dharma perguruan tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
2. Iron stock yakni sebagai calon pemimpin di masa depan.
3. Agent of change yakni sebagai kelompok-kelompok pembawa perubahan.
4. Moral force yakni sebagai kelompok yang menegakkan nilai-nilai moral/acuan di dalam masyarakat.
B. Peran Mahasiswa
1. Peran dalam tri dharma perguruan tinggi
Sebelum membahas mengenai peran mahasiswa dalam tri dharma perguruan tinggi, sebelumnya akan dibahas mengenai apa itu hakekat perguruan tinggi. Perguruan Tinggi merupakan suatu lembaga pendidikan jenjang terakhir dari hirarki pendidikan formal. Sebagai suatu lembaga pendidikan, perguruan tinggi mempunyai tiga misi yang diemban yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, yang seringkali dikenal dengan istilah ”Tri Dharma Perguruan Tinggi”.
Misi pendidikan di Perguruan Tinggi merupakan proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya, agar dengan demikian proses alih generasi juga diikuti dengan proses alih ilmu pengetahuan dalam arti luas.
Kemudian untuk menghindari stagnasi ilmu pengetahuan yang berorientasi pada tuntutan zaman, maka dalam proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan membutuhkan pengembangan konsep atau teori ke arah konsep atau teori yang lebih baik. Usaha pengembangan teori atau konsep dilaksanakan secara sistematis dan melalui prosedur ilmiah, kegiatan ini disebut penelitian.
Usaha pewarisan dan pengembangan ilmu pengetahuan oleh perguruan tinggi harus senantiasa memiliki pijakan dan relevansi dengan kondisi masyarakat. Usaha memformulasikan peran Perguruan Tinggi dalam dinamika masyarakat inilah yang lebih dikenal dengan nama pengabdian masyarakat.
Untuk itu, proses belajar mengajar di Perguruan Tinggi perlu dikembangkan kultur kebebasan mimbar (academic freedom culture). Pengembangan kultur kebebasan mimbar tersebut diupayakan untuk meningkatkan kepekaan mahasiswa.Upaya mendasar agar aplikasi pemanfaatan mimbar ilmiah itu bisa terselenggara maka harus tercipta kultur kebebasan mimbar (academic freedom culture) yang didukung oleh semua komponen Perguruan Tinggi. Kultur kebebasan mimbar bisa terwujud jika didukung adanya kebebasan belajar (freedom to learn) dan kebebasan berkomunikasi (freedom to communication). Kedua kebebasan ini merupakan sisi dari kebebasan mimbar dan merupakan upaya yang tepat dalam meningkatkan kepekaan mahasiswa.
2. Mahasiswa sebagai iron stock
Mahasiswa dapat menjadi Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Sehingga dapat dikatakan bahwa dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang berharga. Untuk itulah mahasiswa dituntut untuk dapat menimba pengetahuan, baik dari sisi keprofesian maupun kemasyarakatan.
3. Mahasiswa sebagai agent of change
Mahasiswa sebagai agent of change berarti mahasiswa dituntut perannya untuk mampu menjadi faktor-faktor pendorong perubahan di dalam masyarakat untuk menuju ke kondisi yang lebih baik.
Perubahan akan selalu ada karena dinamika di dalam masyarakat akan selalu menuntut adanya perubahan. Baik perubahan itu secara perlahan-lahan karena dinamika yang harmonis (seringkali disebut sebagai evolusi) ataupun perubahan yang terjadi begitu gegap gempita dan dalam waktu yang relatif cepat terkait dengan adanya dorongan sosial yang begitu besar (disebut revolusi)
Sebagai golongan yang “eksklusif”—karena hanya 5% dari pemuda yang bisa menyandang status mahasiswa—harus mampu menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan. Merka seharusnya tidak lepas tangan begitu sajadan membiarkan bangsa ini melakukan perubahan ke arah yang salah.
Perubahan itu tersebut tidak hanya terkait dengan perubahan ideologi, tapi juga dapat bersifat materialistik. Perubahan ideologi merupakan perubahan yang terkait dengan hal-hal seperti kondisi politik dan sosial budaya. Sedangkan perubahan materialistik, misalnya terkait dengan teknologi, misalnya kincir angin, mesin industri, internet, dan lain sebagainya.
4. Mahasiswa sebagai moral force
Mahasiswa sebagai moral force berarti mahasiswa berperan sebagai penjaga sistem nilai yang luhur di masyarakat. Nilai-nilai luhur tersebut harus dikaitkan dengan posisi mahasiswa sebagai insan akademis yang selalu berpikir ilmiah dalam mencari kebenaran. Nilai luhur tersebut adalah sesuatu yang bersifat benar mutlak, dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya dan bukan sesuatu yang berasal dari pragmatisme.
Selain nilai yang di atas, masih ada satu nilai lagi yang memenuhi kriteria sebagai nilai yang wajib dijaga oleh mahasiswa, nilai tersebut adalah nilai-nilai dari kebenaran ilmiah. Walaupun memang kebenaran ilmiah tersebut merupakan representasi dari kebesaran dan keeksisan Allah, sebagai dzat yang Maha Mengetahui. Kita sebagai mahasiswa harus mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang bersumber dari ilmu-ilmu yang kita dapatkan dan selanjutnya harus kita terapkan dan jaga di masyarakat.
C. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita disimpulkan bahwa peran mahasiswa sangat vital sebagai seorang intelektual muda. Dirinya diharapkan mampu menjadi seorang intelektual muda yang mumpuni, baik dari sisi keilmuan serta moral dan lebih penting berdaya untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Referensi
http://dakwah.uin-suka.ac.id/file_ilmiah/AFIF-PERANMAHASISWA.rtf http://geowana.wordpress.com/2008/08/10/peran-fungsi-posisi-mahasiswa/
Sebagai sebagian dari masyarakat, mahasiswa mempunyai posisi yang unik. Mahasiswa merupakan kelompok masyarakat yang beruntung karena mempunyai kesempatan yang berharga untuk menimba ilmu dalam suatu wadah perguruan tinggi, dimana untuk negara seperti Indonesia hal tersebut merupakan hal yang sangat terbatas dan sulit bagi kebanyakan rakyat biasa. Mahasiswa juga sepatutnya berbahagia karena dirinya mampu menjadi bagian dari himpunan kecil cendikiawan yang dapat mendapatkan informasi yang berharga, pendidikan dan pelatihan untuk membaca fenomena-fenomena yang terjadi. Selain itu semua, sebagaimana disampaikan di muka bahwa mahasiswa mempunyai posisi yang unik, terkait dengan independensinya dari pengaruh-pengaruh kelompok/golongan yang ingin mengambil keuntungannya sendiri tanpa memikirkan kepentingan masyarakat secara umum (opportunist).
Idealisme merupakan nyawa bagi seorang mahasiswa yang akan senantiasa dijaga dan dipertahankan, apapun taruhannya. Mereka tidak segan untuk menghadapi segala tantangan serta pihak-pihak yang berkuasa (status quo), yang dianggap tidak sesuai dengan idealisme mereka yang mengutamakan kepentingan masyarakat secara umum dan menjunjung tinggi azas keadilan. Didukung oleh semangat muda, bersihnya hati/pikiran dari segala intrik kelompok/golongan seringkali perjuangan para mahasiswa mampu merobohkan rejim yang tiran. Sejarah di Indonesia telah mencatat peran mahasiswa tersebut dalam membawa perubahan sejarah ke arah yang lebih baik. Peristiwa Malari tahun 1974, pergerakan reformasi tahun 1998, dan sebagainya, merupakan bukti nyata peran mahasiswa. Di bidang lainnya seperti akademis/riset, pengabdian terhadap masyarakat serta agen perubahan juga mengiringi perjalanan peran mahasiswa di Indonesia.
Dalam tulisan ini akan diuraikan sekelumit peran mahasiswa dalam berbagai bidang terkait dengan posisinya sebagai kaum cendikia muda. Peran mahasiswa yang akan dibahas antara lain terkait dengan:
1. Tri dharma perguruan tinggi, yang meliputi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
2. Iron stock yakni sebagai calon pemimpin di masa depan.
3. Agent of change yakni sebagai kelompok-kelompok pembawa perubahan.
4. Moral force yakni sebagai kelompok yang menegakkan nilai-nilai moral/acuan di dalam masyarakat.
B. Peran Mahasiswa
1. Peran dalam tri dharma perguruan tinggi
Sebelum membahas mengenai peran mahasiswa dalam tri dharma perguruan tinggi, sebelumnya akan dibahas mengenai apa itu hakekat perguruan tinggi. Perguruan Tinggi merupakan suatu lembaga pendidikan jenjang terakhir dari hirarki pendidikan formal. Sebagai suatu lembaga pendidikan, perguruan tinggi mempunyai tiga misi yang diemban yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, yang seringkali dikenal dengan istilah ”Tri Dharma Perguruan Tinggi”.
Misi pendidikan di Perguruan Tinggi merupakan proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan dari satu generasi ke generasi berikutnya, agar dengan demikian proses alih generasi juga diikuti dengan proses alih ilmu pengetahuan dalam arti luas.
Kemudian untuk menghindari stagnasi ilmu pengetahuan yang berorientasi pada tuntutan zaman, maka dalam proses berlangsungnya pewarisan ilmu pengetahuan membutuhkan pengembangan konsep atau teori ke arah konsep atau teori yang lebih baik. Usaha pengembangan teori atau konsep dilaksanakan secara sistematis dan melalui prosedur ilmiah, kegiatan ini disebut penelitian.
Usaha pewarisan dan pengembangan ilmu pengetahuan oleh perguruan tinggi harus senantiasa memiliki pijakan dan relevansi dengan kondisi masyarakat. Usaha memformulasikan peran Perguruan Tinggi dalam dinamika masyarakat inilah yang lebih dikenal dengan nama pengabdian masyarakat.
Untuk itu, proses belajar mengajar di Perguruan Tinggi perlu dikembangkan kultur kebebasan mimbar (academic freedom culture). Pengembangan kultur kebebasan mimbar tersebut diupayakan untuk meningkatkan kepekaan mahasiswa.Upaya mendasar agar aplikasi pemanfaatan mimbar ilmiah itu bisa terselenggara maka harus tercipta kultur kebebasan mimbar (academic freedom culture) yang didukung oleh semua komponen Perguruan Tinggi. Kultur kebebasan mimbar bisa terwujud jika didukung adanya kebebasan belajar (freedom to learn) dan kebebasan berkomunikasi (freedom to communication). Kedua kebebasan ini merupakan sisi dari kebebasan mimbar dan merupakan upaya yang tepat dalam meningkatkan kepekaan mahasiswa.
2. Mahasiswa sebagai iron stock
Mahasiswa dapat menjadi Iron Stock, yaitu mahasiswa diharapkan menjadi manusia-manusia tangguh yang memiliki kemampuan dan akhlak mulia yang nantinya dapat menggantikan generasi-generasi sebelumnya. Intinya mahasiswa itu merupakan aset, cadangan, harapan bangsa untuk masa depan. Tak dapat dipungkiri bahwa seluruh organisasi yang ada akan bersifat mengalir, yaitu ditandai dengan pergantian kekuasaan dari golongan tua ke golongan muda, oleh karena itu kaderisasi harus dilakukan terus-menerus. Sehingga dapat dikatakan bahwa dunia kampus dan kemahasiswaannya merupakan momentum kaderisasi yang berharga. Untuk itulah mahasiswa dituntut untuk dapat menimba pengetahuan, baik dari sisi keprofesian maupun kemasyarakatan.
3. Mahasiswa sebagai agent of change
Mahasiswa sebagai agent of change berarti mahasiswa dituntut perannya untuk mampu menjadi faktor-faktor pendorong perubahan di dalam masyarakat untuk menuju ke kondisi yang lebih baik.
Perubahan akan selalu ada karena dinamika di dalam masyarakat akan selalu menuntut adanya perubahan. Baik perubahan itu secara perlahan-lahan karena dinamika yang harmonis (seringkali disebut sebagai evolusi) ataupun perubahan yang terjadi begitu gegap gempita dan dalam waktu yang relatif cepat terkait dengan adanya dorongan sosial yang begitu besar (disebut revolusi)
Sebagai golongan yang “eksklusif”—karena hanya 5% dari pemuda yang bisa menyandang status mahasiswa—harus mampu menjadi garda terdepan dalam melakukan perubahan. Merka seharusnya tidak lepas tangan begitu sajadan membiarkan bangsa ini melakukan perubahan ke arah yang salah.
Perubahan itu tersebut tidak hanya terkait dengan perubahan ideologi, tapi juga dapat bersifat materialistik. Perubahan ideologi merupakan perubahan yang terkait dengan hal-hal seperti kondisi politik dan sosial budaya. Sedangkan perubahan materialistik, misalnya terkait dengan teknologi, misalnya kincir angin, mesin industri, internet, dan lain sebagainya.
4. Mahasiswa sebagai moral force
Mahasiswa sebagai moral force berarti mahasiswa berperan sebagai penjaga sistem nilai yang luhur di masyarakat. Nilai-nilai luhur tersebut harus dikaitkan dengan posisi mahasiswa sebagai insan akademis yang selalu berpikir ilmiah dalam mencari kebenaran. Nilai luhur tersebut adalah sesuatu yang bersifat benar mutlak, dan tidak ada keraguan lagi di dalamnya dan bukan sesuatu yang berasal dari pragmatisme.
Selain nilai yang di atas, masih ada satu nilai lagi yang memenuhi kriteria sebagai nilai yang wajib dijaga oleh mahasiswa, nilai tersebut adalah nilai-nilai dari kebenaran ilmiah. Walaupun memang kebenaran ilmiah tersebut merupakan representasi dari kebesaran dan keeksisan Allah, sebagai dzat yang Maha Mengetahui. Kita sebagai mahasiswa harus mampu mencari berbagai kebenaran berlandaskan watak ilmiah yang bersumber dari ilmu-ilmu yang kita dapatkan dan selanjutnya harus kita terapkan dan jaga di masyarakat.
C. Penutup
Berdasarkan uraian di atas, dapat kita disimpulkan bahwa peran mahasiswa sangat vital sebagai seorang intelektual muda. Dirinya diharapkan mampu menjadi seorang intelektual muda yang mumpuni, baik dari sisi keilmuan serta moral dan lebih penting berdaya untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Referensi
http://dakwah.uin-suka.ac.id/file_ilmiah/AFIF-PERANMAHASISWA.rtf http://geowana.wordpress.com/2008/08/10/peran-fungsi-posisi-mahasiswa/
Wednesday, July 2, 2008
Jakarta, 5th September 2007

I often wonder how beautiful life if we can contribute our best to our family, workplace, and society. How worth our life if many people come to us to ask answer for their problem, becoming advicer for them. How exciting life if we can walk through the day with passion, motivation, know exactly where we wanna go and what we wanna achieve. How fun if we can mastery such knowledge and skills for the shake of ourself, family, and others. Is it called success? May be.
Feeling pleasure if we can relieve other's problem.
How can we become an expert or good advicer? Gaining the success.
Socrates said that the secret of success is when we want it badly than we'll get it, just like the air we wanted most when we ducked into the water.
Well, that's all. So do you have something you want badly? If not, than you still far from success.
Feeling pleasure if we can relieve other's problem.
How can we become an expert or good advicer? Gaining the success.
Socrates said that the secret of success is when we want it badly than we'll get it, just like the air we wanted most when we ducked into the water.
Well, that's all. So do you have something you want badly? If not, than you still far from success.
Menunda itu

Seringkali akan melakukan suatu pekerjaan--termasuk belajar--yang kurang menyenangkan, kita mencari-cari alasan untuk menundanya sembari menyelingi dengan pekerjaan yang tidak relevan. Entah itu dengan alasan pemanasan dahulu atau mendatangkan mood dulu. Misalnya baca koran dulu untuk meng-update informasi, menonton breaking news TV, ngobrol sebentar karena seharian sudah bekerja, lihat-lihat pekerjaan lainnya yang bisa disambi. Dan tanpa sadar, waktu yang digunakan untuk pekerjaan-pekerjaan yang tidak relevan dengan pekerjaan utama begitu besar dan jika itu sudah malam, sudah terlanjur larut malam dimana kantuk sudah menyerang.
Akhirnya, baru saja mulai beberapa baris atau alinea, mata sudah riyep-riyep mengantuk dan konsentrasi sudah benar-benar buyar. Selanjutnya cari udara dulu, entah nonton TV sebentar, ngopi atau makan indomie di warung seberang kos. Tidak terasa sejam lebih dan ternyata pekerjaan utama masih juga belum disentuh. Sementara jam malam mulai beranjak ke 1/3 malam terakhir, jam setengah empat.
Baru dijam ini, mulai datang mood untuk tenggelam dalam pekerjaan. Namun, pikiran dibayang-bayangi waktu yang semakin sempit. Hanya sekitar dua setengah jam dari deadline jam enam. Belum lagi dipotong subuhan, mandi, persiapan, dan sarapan. Makin meningkat rasa panik itu.
Akhirnya, jam enam datang. Kamar berantakan, buku berserakan, tayangan belum rapi dan tidak ada waktu untuk check dan re-check. Rasanya mau minta satu hari saja untuk menyelesaikan pekerjaan itu, tapi no-way man, your chance has been given. Berangkatlah ke tujuan, dengan hasil kerja semalaman yang benar-benar berantakan.
Ternyata, beruntung sekali. Presentasi ditunda hingga besok. Lega sekali, ada waktu satu hari satu malam untuk menyelesaikan pekerjaan membuat bahan presentasi yang mengesankan dan sempurna.
Berhubung tadi malam sudah begadang, istirahat sebentar dulu ah setelah pulang dari kampus. Nonton TV, baca koran, ngecek internet dulu ah, updating informasi. Ah, sudah ngantuk, tidur sebentar nanti jam dua malam bangun buat ngerjain. Lumaya empat jam rasanya sudah cukup.
Bangunlah jam dua malam, setelah alarm hp berbunyi. Tapi, mata sulit sekali dibuka seperti lengket. Padahal hati sudah menyuruh bangun...bangun....bangun, selesaikan tuh kerjaan. Lima menit lagi ah, capek banget nih. Tidur lagi, setengah jam bangun lagi. Ah masih jam setengah tiga, bentar lagi ah.
Tiba-tiba sudah jam enam pagi. Waduh gimana nih... benar-benar panik. Ya udah ah, emang gimana lagi, ngatuk banget, daripada dipaksain terus sakit.
Sampai di kantor presentasi di depan kelas. Banyak komentar, namun dalam hati sayang sekali seandainya dulu dipaksa mengerjakan ini dan tidak menunda-nunda dengan melakukan sesuatu untuk istirahat kayak nonton TV, ngobrol, baca koran, baca lainnya, telpon, dll pasti hasilnya akan jauh lebih sempurna.
Memang menunda itu........ maling waktu. Sudah kemalingan banyak nih, rugi aku.
Jakarta, Mid 2008
Akhirnya, baru saja mulai beberapa baris atau alinea, mata sudah riyep-riyep mengantuk dan konsentrasi sudah benar-benar buyar. Selanjutnya cari udara dulu, entah nonton TV sebentar, ngopi atau makan indomie di warung seberang kos. Tidak terasa sejam lebih dan ternyata pekerjaan utama masih juga belum disentuh. Sementara jam malam mulai beranjak ke 1/3 malam terakhir, jam setengah empat.
Baru dijam ini, mulai datang mood untuk tenggelam dalam pekerjaan. Namun, pikiran dibayang-bayangi waktu yang semakin sempit. Hanya sekitar dua setengah jam dari deadline jam enam. Belum lagi dipotong subuhan, mandi, persiapan, dan sarapan. Makin meningkat rasa panik itu.
Akhirnya, jam enam datang. Kamar berantakan, buku berserakan, tayangan belum rapi dan tidak ada waktu untuk check dan re-check. Rasanya mau minta satu hari saja untuk menyelesaikan pekerjaan itu, tapi no-way man, your chance has been given. Berangkatlah ke tujuan, dengan hasil kerja semalaman yang benar-benar berantakan.
Ternyata, beruntung sekali. Presentasi ditunda hingga besok. Lega sekali, ada waktu satu hari satu malam untuk menyelesaikan pekerjaan membuat bahan presentasi yang mengesankan dan sempurna.
Berhubung tadi malam sudah begadang, istirahat sebentar dulu ah setelah pulang dari kampus. Nonton TV, baca koran, ngecek internet dulu ah, updating informasi. Ah, sudah ngantuk, tidur sebentar nanti jam dua malam bangun buat ngerjain. Lumaya empat jam rasanya sudah cukup.
Bangunlah jam dua malam, setelah alarm hp berbunyi. Tapi, mata sulit sekali dibuka seperti lengket. Padahal hati sudah menyuruh bangun...bangun....bangun, selesaikan tuh kerjaan. Lima menit lagi ah, capek banget nih. Tidur lagi, setengah jam bangun lagi. Ah masih jam setengah tiga, bentar lagi ah.
Tiba-tiba sudah jam enam pagi. Waduh gimana nih... benar-benar panik. Ya udah ah, emang gimana lagi, ngatuk banget, daripada dipaksain terus sakit.
Sampai di kantor presentasi di depan kelas. Banyak komentar, namun dalam hati sayang sekali seandainya dulu dipaksa mengerjakan ini dan tidak menunda-nunda dengan melakukan sesuatu untuk istirahat kayak nonton TV, ngobrol, baca koran, baca lainnya, telpon, dll pasti hasilnya akan jauh lebih sempurna.
Memang menunda itu........ maling waktu. Sudah kemalingan banyak nih, rugi aku.
Jakarta, Mid 2008
Mengapa kita seperti ini?

Tadi dalam khutbah Jum'ah di salah satu masjid yang megah di Jakarta, seorang khotib mampu menghentak kesadaran akan hakekat kebangkitan (nasional). Biasanya dalam khutbah Jum'at perasaan mengantuk selalu menghinggap. Tadi, dalam sholat Jum'at, memang mengantuk tapi mampu terbendung oleh ceramah sang khotib yang sangat menggugah.
Khotib menyebutkan tiga istilah: etos kerja, etos ilmu, dan etos dagang. Ketiga etos tersebutlah yang telah membuat Islam jaya ketika abad kedelapan. Namun sekarang, mengapa kita jumlah umat Islam di Indonesia terbesar di dunia, jumlah masjid sangat banyak hingga ke dalam-dalam gang, serta jumlah jama'ah haji terbesar di dunia ??? tetapi angka korupsi sangat besar, prostitusi dan pornografi seperti hal biasa dan dengan mudah ditemui di sekeliling kita. Mengapa lingkungan kita sangat kotor, banjir penuh sampah, lihat kamar mandi/toilet umum begitu jorok bahkan sampai ke dalam masjid dan kampus. Padahal Islam mengajarkan kebersihan, bekerja keras merubah nasib, belajar.
Menurut sang khotib jawabannya adalah bahwa kita, umat Islam di Indonesia terlalu sibuk dengan ritual-ritual ibadah, hanya sholat. Tidak melihat aspek-aspek lain, baik dalam berkehidupan, bermasyarakat, dan berkeluarga. Akibatnya kita terjebak dalam simbol-simbol agamis tanpa memahami hakekat yang sangat mendasar dari Islam, yakni sekarang lebih baik dari kemarin dan besok akan lebih baik dari sekarang, dalam segala aspek kehidupan. Sebagai pemberi kebaikan bagi semesta alam. Wallahu'alam.
Jakarta, 23 Mei 2008
Khotib menyebutkan tiga istilah: etos kerja, etos ilmu, dan etos dagang. Ketiga etos tersebutlah yang telah membuat Islam jaya ketika abad kedelapan. Namun sekarang, mengapa kita jumlah umat Islam di Indonesia terbesar di dunia, jumlah masjid sangat banyak hingga ke dalam-dalam gang, serta jumlah jama'ah haji terbesar di dunia ??? tetapi angka korupsi sangat besar, prostitusi dan pornografi seperti hal biasa dan dengan mudah ditemui di sekeliling kita. Mengapa lingkungan kita sangat kotor, banjir penuh sampah, lihat kamar mandi/toilet umum begitu jorok bahkan sampai ke dalam masjid dan kampus. Padahal Islam mengajarkan kebersihan, bekerja keras merubah nasib, belajar.
Menurut sang khotib jawabannya adalah bahwa kita, umat Islam di Indonesia terlalu sibuk dengan ritual-ritual ibadah, hanya sholat. Tidak melihat aspek-aspek lain, baik dalam berkehidupan, bermasyarakat, dan berkeluarga. Akibatnya kita terjebak dalam simbol-simbol agamis tanpa memahami hakekat yang sangat mendasar dari Islam, yakni sekarang lebih baik dari kemarin dan besok akan lebih baik dari sekarang, dalam segala aspek kehidupan. Sebagai pemberi kebaikan bagi semesta alam. Wallahu'alam.
Jakarta, 23 Mei 2008
Monday, May 12, 2008
Ujian telah usai

Wuihh, selesai juga ujian 2008.1 selama 2 minggu kemarin. Lumayan juga sih, full ambil 8 mata kuliah. Feeling ku lumayan deh, sepertinya bisa lulus semua. Tapi entah nilainya.
Waktu minggu pertama, ujian dapat di SMPN 216 (benar gak ya namanya), pokoknya dekat SMU Kompleks Salemba. Tempatnya enak, bersih, AC, bangkunya besar dan ada kantinnya di tiap lantai. Mengerjakan soal-soal ujian, benar-benar bisa fokus meskipun soalnya sulit banget dan itungannya banyak banget, tapi waktunya pendek banget.
Beda banget sama minggu II yang di FIS UNJ. Wuih kamar mandinya jorok banget, tidak pernah dibersihkan, bau pesing gak nahan deh. Belum lagi gelap, banyak coret-coretan yang gak mutu. Heran banget deh, padahal kampus gitu lhoo. Terus kelasnya, udah gelap, lampu gak terang alias surem, kipas angin gak nyala, terus gitu, pengawasnya ngrekok. Nih orang yang disuruh jaga siapa sih, kok modelnya seperti itu. Apa gak diseleksi yang sama UT, gimana attitude seharusnya. Parah abis deh. Belum lagi yang jaga, ngeselin banget.
Sayang banget nih, kampus strategis di Jakarta, tapi dalemnya seperti itu. Kasihan mahasiswa dan dosen-dosennya yang baik-baik. Semoga tetap bisa menghasilkan orang-orang yang berkualitas, meskipun kondisi sarana belajarnya seperti itu. Bisa gak ya?
Terus gimana dengan UT sendiri? nanti deh diterusin lagi...
Waktu minggu pertama, ujian dapat di SMPN 216 (benar gak ya namanya), pokoknya dekat SMU Kompleks Salemba. Tempatnya enak, bersih, AC, bangkunya besar dan ada kantinnya di tiap lantai. Mengerjakan soal-soal ujian, benar-benar bisa fokus meskipun soalnya sulit banget dan itungannya banyak banget, tapi waktunya pendek banget.
Beda banget sama minggu II yang di FIS UNJ. Wuih kamar mandinya jorok banget, tidak pernah dibersihkan, bau pesing gak nahan deh. Belum lagi gelap, banyak coret-coretan yang gak mutu. Heran banget deh, padahal kampus gitu lhoo. Terus kelasnya, udah gelap, lampu gak terang alias surem, kipas angin gak nyala, terus gitu, pengawasnya ngrekok. Nih orang yang disuruh jaga siapa sih, kok modelnya seperti itu. Apa gak diseleksi yang sama UT, gimana attitude seharusnya. Parah abis deh. Belum lagi yang jaga, ngeselin banget.
Sayang banget nih, kampus strategis di Jakarta, tapi dalemnya seperti itu. Kasihan mahasiswa dan dosen-dosennya yang baik-baik. Semoga tetap bisa menghasilkan orang-orang yang berkualitas, meskipun kondisi sarana belajarnya seperti itu. Bisa gak ya?
Terus gimana dengan UT sendiri? nanti deh diterusin lagi...
Foto dari http://garrigus.edublogs.org/
Subscribe to:
Posts (Atom)
