Dua hari yang lalu ketika aku mau ke toilet, kebetulan papasan dengan OB (office boy) yang bertugas di kantorku lantai 19. Ia (mas) sedang menelepon seseorang, sepertinya sedang bicara dengan istrinya, sambil menghadap ke arah jendela yang menghadap ke jalan utama di Jakarta. Tidak sengaja aku mendengar sekilas mas itu ngomong sesuatu, tidak jelas sih. Tapi yang aku tidak bisa lupa adalah intonasinya yang bergetar seperti sedang menahan tangis.... Dia bilang ke orang yang dia telpon "sabar ya, aku sedang usahakan". Aku yang masih belum tahu apa yang terjadi dan merasa tidak enak, tidak menanyakan ke mas tersebut.
Sekilas saja aku mendengar suara mas itu, tapi momen yang sekilas tersebut tidak dapat aku lupakan. Suara itu terngiang-ngiang dalam kepalaku. Suara seorang laki-laki yang bergetar, yang menahan tangis. Pastilah, menurutku, dia mengalami suatu cobaan hidup yang berat. Entah apa itu, tetapi pastilah sesuatu yang benar-benar menyesakkan dada.
Hingga keesokan harinya, aku sudah tidak melihatnya lagi. Sudah ada penggantinya.
Showing posts with label Uneg-Uneg. Show all posts
Showing posts with label Uneg-Uneg. Show all posts
Friday, May 11, 2012
Saturday, October 2, 2010
Serenity in my heart (revisited ketika huja)
Saat-saat ketika hujan sedang turun senantiasa membawa kedamaian dalam hatiku. Sejak dulu, ketika awal-awal jam hidupku di mulai. Bahkan aku masih bisa mengingat dengan jelas saat-saat ketika hujan pada waktu aku masih balita yang ketika itu aku bahkan harus menaiki pintu kecil model dua buka itu melihat keluar.
Benar-benar damai hati ini saat mendengar curah hujan yang mengguyur tanah, jalan, hujan, genteng, dan atap rumah, tanpa putus-putus. Sungguh membuat nyaman. Suara geluduk, jarang-jarang terdengar dan tidak menggelegar dengan buas. Hujan selalu membawa fantasi tersediri bagiku.
Dahulu ketika masih balita dan awal-awal TK, aku biasa membuat kapal-kapalan dari kertas untuk kuhanyutkan di genangan air yang mengalir persis depan rumahku. Waktu itu masih belum ada got di depan rumah di Comal. Senang sekali kalau melihat kapal itu bergerak mengikuti alur air, meski kadang-kadang berhenti karena tersangkut batu atau ranting-ranting. Ketika menginjak SD/SMP, main-main hujan menjadi acara favorit, sambil berendam dalam got yang airnya penuh. Terus dilanjutkan main perosotan di ubin rumah kosong yang dibasahi sama air.
Menginjak SMA, saat hujan adalah saat untuk mencari tambahan uang saku dengan menjadi ojek payung di RS Darmo. Lumayan bisa dapat sepuluh ribu-an kalau beruntung. Bisa untuk makan bakso telur puyuh sore-sore yang enak dan hangat. Bahkan untuk yang ini aku masih bisa mengingat dengan jelas si mas jualan baksonya yang rambutnya agak keriting. Senang sekali kalau pas masih ada gajihnya.
Saat kuliah, waktu hujan masih sama memberikan rasa nyaman di hati yang lelah dan badan yang capai karena banyak hal dan keinginan-keinginan yang macam-macam yang pada waktu itu rasanya sangat jauh untuk digapai. Tapi meskipun demikian, hujan mampu menenangkan dan memberikan rasa menerima apapun yang sudah ada. Aku ingin itu, tapi aku (mencoba) sangat bersyukur atas apa yang ada saat itu.
Hingga kinipun, di tempat yang berbeda, yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya bahwa aku akan di sini, masih saja hujan membawa kedamaian dan rasa menerima apa yang sudah ada, meski banyak kemauan yang seringkali berlompatan di dalam otak ini. Rasanya lelah untuk mengejar kemauan yang kadang sukar untuk dimengerti polanya dan manfaatnya secara hakiki bagiku. Cukuplah sudah. Biar badan ini ringkih, fragile, tapi inilah yang kupunya. Aku akan pergunakan. Aku semakin lelah, capai terombang ambing dalam kemauan-kemauan yang tampaknya enak. Aku semakin tua, langkahku sudah tidak selebar dahulu. Aku ingin mempergunakan yang sudah ada, berjalan di jalan yang ada di peta, dan melakukan yang menjadi kewajiban utama. Sekuler memang sepertinya menyenangkan, tapi sepertinya tidak akan habis. Seperti makan camilan ceker ayam surabaya. Enak, bikin haus dan nambah lagi, tapi ga bisa berhenti.
Benar-benar damai hati ini saat mendengar curah hujan yang mengguyur tanah, jalan, hujan, genteng, dan atap rumah, tanpa putus-putus. Sungguh membuat nyaman. Suara geluduk, jarang-jarang terdengar dan tidak menggelegar dengan buas. Hujan selalu membawa fantasi tersediri bagiku.
Dahulu ketika masih balita dan awal-awal TK, aku biasa membuat kapal-kapalan dari kertas untuk kuhanyutkan di genangan air yang mengalir persis depan rumahku. Waktu itu masih belum ada got di depan rumah di Comal. Senang sekali kalau melihat kapal itu bergerak mengikuti alur air, meski kadang-kadang berhenti karena tersangkut batu atau ranting-ranting. Ketika menginjak SD/SMP, main-main hujan menjadi acara favorit, sambil berendam dalam got yang airnya penuh. Terus dilanjutkan main perosotan di ubin rumah kosong yang dibasahi sama air.
Menginjak SMA, saat hujan adalah saat untuk mencari tambahan uang saku dengan menjadi ojek payung di RS Darmo. Lumayan bisa dapat sepuluh ribu-an kalau beruntung. Bisa untuk makan bakso telur puyuh sore-sore yang enak dan hangat. Bahkan untuk yang ini aku masih bisa mengingat dengan jelas si mas jualan baksonya yang rambutnya agak keriting. Senang sekali kalau pas masih ada gajihnya.
Saat kuliah, waktu hujan masih sama memberikan rasa nyaman di hati yang lelah dan badan yang capai karena banyak hal dan keinginan-keinginan yang macam-macam yang pada waktu itu rasanya sangat jauh untuk digapai. Tapi meskipun demikian, hujan mampu menenangkan dan memberikan rasa menerima apapun yang sudah ada. Aku ingin itu, tapi aku (mencoba) sangat bersyukur atas apa yang ada saat itu.
Hingga kinipun, di tempat yang berbeda, yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya bahwa aku akan di sini, masih saja hujan membawa kedamaian dan rasa menerima apa yang sudah ada, meski banyak kemauan yang seringkali berlompatan di dalam otak ini. Rasanya lelah untuk mengejar kemauan yang kadang sukar untuk dimengerti polanya dan manfaatnya secara hakiki bagiku. Cukuplah sudah. Biar badan ini ringkih, fragile, tapi inilah yang kupunya. Aku akan pergunakan. Aku semakin lelah, capai terombang ambing dalam kemauan-kemauan yang tampaknya enak. Aku semakin tua, langkahku sudah tidak selebar dahulu. Aku ingin mempergunakan yang sudah ada, berjalan di jalan yang ada di peta, dan melakukan yang menjadi kewajiban utama. Sekuler memang sepertinya menyenangkan, tapi sepertinya tidak akan habis. Seperti makan camilan ceker ayam surabaya. Enak, bikin haus dan nambah lagi, tapi ga bisa berhenti.
Thursday, September 9, 2010
Jalan panjang
Gundah hatiku membayangkan apakah aku dapat menggapai cita-citaku? Rasanya aku takut, tidak percaya diri. Sepertinya cita-cita itu jauh sekali, nyaris tidak kelihatan.
Tapi mengapa hati ini begitu bergelora, menggebu-gebu ingin merasakan bagaimana nikmatnya mencapai cita-cita itu. Hmm, puasnya.. seandainya aku bisa sampai di sana, memegangnya, menciuminya.
Bagaimana ya jalan menuju ke sana, enak dilalui atau terjal dan penuh onak dan duri, penuh suka cita atau penuh tangis, peluh? Apa aku bisa melaluinya ya, kalau jalan ke sana itu penuh dengan halang rintang yang harus dibayar dengan keringat dan pengorbanan?
Aku ga tahu... dan aku ga peduli... Aku cuma ingin ke sana, mengikuti kata hatiku. Aku sudah terbiasa, dahulu kala, ketika masih muda sekali, melalui sebagian dari jalan-jalan itu ketika meraih cita-citaku ketika itu. Dan aku ga merasa berkorban apa-apa meskipun kalau dilihat dari titik sekarang aku bertanya "kok bisa ya?"
Jadi, ga ada ruginya aku lalui lagi jalanan yang serupa itu untuk meraih cita-citaku sekarang.
Sekali lagi, aku ga peduli akan nyampai di sana atau enggak. Walaupun dalam hati aku, jujur, takut kalau tidak sampai. Yang pasti, aku akan sangat menyesal kalau aku bahkan tidak berani untuk mencoba melaluinya.
Hal yang perlu aku lakukan hanyalah fokus menjalaninya, membayangkannya setiap saat, sehingga aku dapat menggunakan seluruh sumber dayaku, waktuku, perhatianku, energiku untuk pergi ke sana. Lainnya... ga ada yang penting...
Tapi mengapa hati ini begitu bergelora, menggebu-gebu ingin merasakan bagaimana nikmatnya mencapai cita-cita itu. Hmm, puasnya.. seandainya aku bisa sampai di sana, memegangnya, menciuminya.
Bagaimana ya jalan menuju ke sana, enak dilalui atau terjal dan penuh onak dan duri, penuh suka cita atau penuh tangis, peluh? Apa aku bisa melaluinya ya, kalau jalan ke sana itu penuh dengan halang rintang yang harus dibayar dengan keringat dan pengorbanan?
Aku ga tahu... dan aku ga peduli... Aku cuma ingin ke sana, mengikuti kata hatiku. Aku sudah terbiasa, dahulu kala, ketika masih muda sekali, melalui sebagian dari jalan-jalan itu ketika meraih cita-citaku ketika itu. Dan aku ga merasa berkorban apa-apa meskipun kalau dilihat dari titik sekarang aku bertanya "kok bisa ya?"
Jadi, ga ada ruginya aku lalui lagi jalanan yang serupa itu untuk meraih cita-citaku sekarang.
Sekali lagi, aku ga peduli akan nyampai di sana atau enggak. Walaupun dalam hati aku, jujur, takut kalau tidak sampai. Yang pasti, aku akan sangat menyesal kalau aku bahkan tidak berani untuk mencoba melaluinya.
Hal yang perlu aku lakukan hanyalah fokus menjalaninya, membayangkannya setiap saat, sehingga aku dapat menggunakan seluruh sumber dayaku, waktuku, perhatianku, energiku untuk pergi ke sana. Lainnya... ga ada yang penting...
Quo Vadis Ramadhan 2010
Di penghujung puasa Ramadhan tahun 2010 ini, hujan cukup besar ikut mengiringi penutupan puasa tahun ini. Semoga ini membawa kejernihan dengan membasuh amalan-amalan selama berpuasa yang kurang sempurna. Pembersih, penyuci, dan penyejuk bagi jiwa dan hati orang-orang yang mencoba mencari makna dari puasa.
Berharap juga, pengalaman berpuasa kali ini mampu membawa perbaikan dalam hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan pasca Ramadhan ini berakhir. Quo vadis Ramadhan 2010.
Besok, insya allah, datang hari raya Idul Fitri. Kita batalkan puasa, kita datangi lapangan dan masjid-masjid untuk melaksanakan sholat Id. Selanjutnya bersalam-salaman seraya saling mendoakan semoga amalan kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah Swt serta saling bermaaf-maafan dengan keluarga, saudara, teman dan para tetangga.
Selamat datang Idul Fitri 1 syawal 1431 hijriah, selamat datang Lebaran 10 September 2010. Senang rasanya menantikan saat-saat bersama keluarga besar kembali.
Berharap juga, pengalaman berpuasa kali ini mampu membawa perbaikan dalam hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan pasca Ramadhan ini berakhir. Quo vadis Ramadhan 2010.
Besok, insya allah, datang hari raya Idul Fitri. Kita batalkan puasa, kita datangi lapangan dan masjid-masjid untuk melaksanakan sholat Id. Selanjutnya bersalam-salaman seraya saling mendoakan semoga amalan kita selama bulan Ramadhan diterima oleh Allah Swt serta saling bermaaf-maafan dengan keluarga, saudara, teman dan para tetangga.
Selamat datang Idul Fitri 1 syawal 1431 hijriah, selamat datang Lebaran 10 September 2010. Senang rasanya menantikan saat-saat bersama keluarga besar kembali.
Saturday, August 28, 2010
Setrika kosku rusak
Aduh, setrikaan kos rusak. Kabelnya keluar percikan api dan bau terbakar kalau ditancepkan ke listrik. Bisa dibetulin ga ya? Beli baru sayang, abis masih lumayan baru, 3 tahunan...
Subscribe to:
Posts (Atom)