Tuesday, December 7, 2010
Monday, December 6, 2010
Andai aku jadi seorang tukang bangunan
1. Aku akan perbaiki sendiri bocor di rumah
2. Aku akan perbaiki bagian-bagian rumah yang rusak
3. Aku akan bangun sendiri rumah
2. Aku akan perbaiki bagian-bagian rumah yang rusak
3. Aku akan bangun sendiri rumah
Andai aku punya internet
1. Aku tidak akan nonton film bokep
2. Aku akan nulis yang berguna di blog
3. Aku akan download dan upload sesuatu yang berguna
2. Aku akan nulis yang berguna di blog
3. Aku akan download dan upload sesuatu yang berguna
Wednesday, December 1, 2010
Andai aku jadi seorang suami
Andainya aku jadi seorang suami, maka aku akan menghabiskan waktu lebih banyak dengan istri dan anak-anakku. Bercengkerama, bercanda, bermain, dan belajar bersama.
Aku tidak ingin tiba-tiba waktuku dengan istri dan anak-anakku habis.
Tiba-tiba saja mereka sudah beranjak dewasa, siap menikah dan hidup bersama keluarganya. Sementara itu, istriku semakin tua atau sibuk dengan cucunya. Sedangkan diriku berkutat dengan pekerjaan, pekerjaan, sampai menunggu waktu pensiun. Dan ketika itu, semuanya sudah tidak ada lagi. Yaitu waktu-waktu membesarkan seorang bayi, anak-anak, remaja. Hanya seorang yang beranjak dewasa yang siap pergi dari rumah. Selain itu, masa-masa istriku yang masih muda, cantik, dan menarik, telah berganti dengan seorang wanita yang sudah memasuki masa tua.
Alangkah ruginya aku, karena kalau masa-masa itu sudah lewat, tidaklah mungkin akan terulang kembali.
Jadi aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak-anak dan istriku.
Aku tidak ingin tiba-tiba waktuku dengan istri dan anak-anakku habis.
Tiba-tiba saja mereka sudah beranjak dewasa, siap menikah dan hidup bersama keluarganya. Sementara itu, istriku semakin tua atau sibuk dengan cucunya. Sedangkan diriku berkutat dengan pekerjaan, pekerjaan, sampai menunggu waktu pensiun. Dan ketika itu, semuanya sudah tidak ada lagi. Yaitu waktu-waktu membesarkan seorang bayi, anak-anak, remaja. Hanya seorang yang beranjak dewasa yang siap pergi dari rumah. Selain itu, masa-masa istriku yang masih muda, cantik, dan menarik, telah berganti dengan seorang wanita yang sudah memasuki masa tua.
Alangkah ruginya aku, karena kalau masa-masa itu sudah lewat, tidaklah mungkin akan terulang kembali.
Jadi aku ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan anak-anak dan istriku.
Tuesday, November 30, 2010
Andai aku jadi pengendara mobil dan motor
Kalau misalnya aku jadi seorang pengendara mobil, maka aku:
1. Akan memberikan jalan kepada pejalan kaki yang akan menyeberang
2. Akan berbagi jalan dan memberikan kesempatan kepada pe-sepeda
3. Tidak akan menyetir terlalu ke kiri sehingga menghalangi jalur sepeda motor
4. Tidak akan membunyikan klakson, cukup sinyal lampu dim
5. Tidak akan memasang lampu yang menyilaukan
6. Akan menyetir pelan-pelan apabila ada genangan air
7. Tidak akan parkir di pinggir bahkan di tengah jalan
Dan kalau aku jadi pengendara sepeda motor, maka aku:
1. Akan memberikan kesempatan jalan bagi pejalan kaki dan pesepeda
2. Tidak akan memotong di depan jalan mobil
3. Tidak akan meng-klakson, cukup sinyal lampu dim
4. Tidak akan menyalakan lampu dim terus-terus
5. Tidak akan menggunakan jalur pejalan kaki atau trotoar
6. Tidak akan melawan arah jalan
7. Tidak akan berhenti melewati lampu merah
8. Tidak akan menerabas lampu merah
9. Tidak akan pake knalpot bising
1. Akan memberikan jalan kepada pejalan kaki yang akan menyeberang
2. Akan berbagi jalan dan memberikan kesempatan kepada pe-sepeda
3. Tidak akan menyetir terlalu ke kiri sehingga menghalangi jalur sepeda motor
4. Tidak akan membunyikan klakson, cukup sinyal lampu dim
5. Tidak akan memasang lampu yang menyilaukan
6. Akan menyetir pelan-pelan apabila ada genangan air
7. Tidak akan parkir di pinggir bahkan di tengah jalan
Dan kalau aku jadi pengendara sepeda motor, maka aku:
1. Akan memberikan kesempatan jalan bagi pejalan kaki dan pesepeda
2. Tidak akan memotong di depan jalan mobil
3. Tidak akan meng-klakson, cukup sinyal lampu dim
4. Tidak akan menyalakan lampu dim terus-terus
5. Tidak akan menggunakan jalur pejalan kaki atau trotoar
6. Tidak akan melawan arah jalan
7. Tidak akan berhenti melewati lampu merah
8. Tidak akan menerabas lampu merah
9. Tidak akan pake knalpot bising
Sunday, November 28, 2010
Andai aku jadi direktur bank
Kalau aku jadi presdir bank umum aku akan membuat pelayanan nasabah menjadi gampang.
Kalau ada nasabah yang tidak punya kartu ATM mau ambil uang di kantor cabang yang berbeda dengan dimana ia mendaftar, maka akan aku instruksikan teller2 untuk melayaninya dengan full service.
Kalau si-teller, menolak atau membatasi service-nya dengan alasan tidak punya kartu ATM dan bertransaksi di kantor yang berbeda dengan dimana ia mendaftar, maka akan aku beri sanksi berat, karena telah mengecewakan nasabah. Betapapun ia hanya seorang nasabah, tetap ia adalah prime person bagi bagi.
Kalau ada nasabah yang tidak punya kartu ATM mau ambil uang di kantor cabang yang berbeda dengan dimana ia mendaftar, maka akan aku instruksikan teller2 untuk melayaninya dengan full service.
Kalau si-teller, menolak atau membatasi service-nya dengan alasan tidak punya kartu ATM dan bertransaksi di kantor yang berbeda dengan dimana ia mendaftar, maka akan aku beri sanksi berat, karena telah mengecewakan nasabah. Betapapun ia hanya seorang nasabah, tetap ia adalah prime person bagi bagi.
Saturday, October 2, 2010
Serenity in my heart (revisited ketika huja)
Saat-saat ketika hujan sedang turun senantiasa membawa kedamaian dalam hatiku. Sejak dulu, ketika awal-awal jam hidupku di mulai. Bahkan aku masih bisa mengingat dengan jelas saat-saat ketika hujan pada waktu aku masih balita yang ketika itu aku bahkan harus menaiki pintu kecil model dua buka itu melihat keluar.
Benar-benar damai hati ini saat mendengar curah hujan yang mengguyur tanah, jalan, hujan, genteng, dan atap rumah, tanpa putus-putus. Sungguh membuat nyaman. Suara geluduk, jarang-jarang terdengar dan tidak menggelegar dengan buas. Hujan selalu membawa fantasi tersediri bagiku.
Dahulu ketika masih balita dan awal-awal TK, aku biasa membuat kapal-kapalan dari kertas untuk kuhanyutkan di genangan air yang mengalir persis depan rumahku. Waktu itu masih belum ada got di depan rumah di Comal. Senang sekali kalau melihat kapal itu bergerak mengikuti alur air, meski kadang-kadang berhenti karena tersangkut batu atau ranting-ranting. Ketika menginjak SD/SMP, main-main hujan menjadi acara favorit, sambil berendam dalam got yang airnya penuh. Terus dilanjutkan main perosotan di ubin rumah kosong yang dibasahi sama air.
Menginjak SMA, saat hujan adalah saat untuk mencari tambahan uang saku dengan menjadi ojek payung di RS Darmo. Lumayan bisa dapat sepuluh ribu-an kalau beruntung. Bisa untuk makan bakso telur puyuh sore-sore yang enak dan hangat. Bahkan untuk yang ini aku masih bisa mengingat dengan jelas si mas jualan baksonya yang rambutnya agak keriting. Senang sekali kalau pas masih ada gajihnya.
Saat kuliah, waktu hujan masih sama memberikan rasa nyaman di hati yang lelah dan badan yang capai karena banyak hal dan keinginan-keinginan yang macam-macam yang pada waktu itu rasanya sangat jauh untuk digapai. Tapi meskipun demikian, hujan mampu menenangkan dan memberikan rasa menerima apapun yang sudah ada. Aku ingin itu, tapi aku (mencoba) sangat bersyukur atas apa yang ada saat itu.
Hingga kinipun, di tempat yang berbeda, yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya bahwa aku akan di sini, masih saja hujan membawa kedamaian dan rasa menerima apa yang sudah ada, meski banyak kemauan yang seringkali berlompatan di dalam otak ini. Rasanya lelah untuk mengejar kemauan yang kadang sukar untuk dimengerti polanya dan manfaatnya secara hakiki bagiku. Cukuplah sudah. Biar badan ini ringkih, fragile, tapi inilah yang kupunya. Aku akan pergunakan. Aku semakin lelah, capai terombang ambing dalam kemauan-kemauan yang tampaknya enak. Aku semakin tua, langkahku sudah tidak selebar dahulu. Aku ingin mempergunakan yang sudah ada, berjalan di jalan yang ada di peta, dan melakukan yang menjadi kewajiban utama. Sekuler memang sepertinya menyenangkan, tapi sepertinya tidak akan habis. Seperti makan camilan ceker ayam surabaya. Enak, bikin haus dan nambah lagi, tapi ga bisa berhenti.
Benar-benar damai hati ini saat mendengar curah hujan yang mengguyur tanah, jalan, hujan, genteng, dan atap rumah, tanpa putus-putus. Sungguh membuat nyaman. Suara geluduk, jarang-jarang terdengar dan tidak menggelegar dengan buas. Hujan selalu membawa fantasi tersediri bagiku.
Dahulu ketika masih balita dan awal-awal TK, aku biasa membuat kapal-kapalan dari kertas untuk kuhanyutkan di genangan air yang mengalir persis depan rumahku. Waktu itu masih belum ada got di depan rumah di Comal. Senang sekali kalau melihat kapal itu bergerak mengikuti alur air, meski kadang-kadang berhenti karena tersangkut batu atau ranting-ranting. Ketika menginjak SD/SMP, main-main hujan menjadi acara favorit, sambil berendam dalam got yang airnya penuh. Terus dilanjutkan main perosotan di ubin rumah kosong yang dibasahi sama air.
Menginjak SMA, saat hujan adalah saat untuk mencari tambahan uang saku dengan menjadi ojek payung di RS Darmo. Lumayan bisa dapat sepuluh ribu-an kalau beruntung. Bisa untuk makan bakso telur puyuh sore-sore yang enak dan hangat. Bahkan untuk yang ini aku masih bisa mengingat dengan jelas si mas jualan baksonya yang rambutnya agak keriting. Senang sekali kalau pas masih ada gajihnya.
Saat kuliah, waktu hujan masih sama memberikan rasa nyaman di hati yang lelah dan badan yang capai karena banyak hal dan keinginan-keinginan yang macam-macam yang pada waktu itu rasanya sangat jauh untuk digapai. Tapi meskipun demikian, hujan mampu menenangkan dan memberikan rasa menerima apapun yang sudah ada. Aku ingin itu, tapi aku (mencoba) sangat bersyukur atas apa yang ada saat itu.
Hingga kinipun, di tempat yang berbeda, yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya bahwa aku akan di sini, masih saja hujan membawa kedamaian dan rasa menerima apa yang sudah ada, meski banyak kemauan yang seringkali berlompatan di dalam otak ini. Rasanya lelah untuk mengejar kemauan yang kadang sukar untuk dimengerti polanya dan manfaatnya secara hakiki bagiku. Cukuplah sudah. Biar badan ini ringkih, fragile, tapi inilah yang kupunya. Aku akan pergunakan. Aku semakin lelah, capai terombang ambing dalam kemauan-kemauan yang tampaknya enak. Aku semakin tua, langkahku sudah tidak selebar dahulu. Aku ingin mempergunakan yang sudah ada, berjalan di jalan yang ada di peta, dan melakukan yang menjadi kewajiban utama. Sekuler memang sepertinya menyenangkan, tapi sepertinya tidak akan habis. Seperti makan camilan ceker ayam surabaya. Enak, bikin haus dan nambah lagi, tapi ga bisa berhenti.
Subscribe to:
Posts (Atom)