Thursday, September 25, 2008

Memenangkan wawancara, sulitkah?


“Ibu, sampai saat ini saya tidak tahu di mana kekurangan saya. Saya telah beberapa kali melamar pekerjaan, dan setiap kali saya lolos untuk wawancara pertama dan kedua, namun pada saat wawancara terakhir saya gugur dan gugur lagi. Rasanya saya telah mengerahkan segala daya dan usaha saya untuk itu. Aduh, sulit sekali rasanya mendapatkan pekerjaan saat ini, padahal saya sangat memerlukan pekerjaan itu karena ayah saya sudah pensiun dan adik saya masih memerlukan biaya untuk kelanjutan studinya. Saya harus membantu orang tua.” Demikian K (25), lulusan S-1 salah satu perguruan tinggi negeri favorit, dengan lesu.

Mencari pekerjaan saat ini sangat sulit karena keadaan ekonomi negeri yang sangat carut-marut. Namun, di sisi lain masih banyak perusahaan yang dapat tetap bertahan dan tetap melaksanakan penerimaan karyawan. Mengapa pula K kurang baik nasibnya? Padahal K adalah salah satu lulusan PTN favorit dengan IPK 3,10. cukup memadai, namun kenyataannya beberapa kali kalah dalam wawancara.

Dari contoh kasus K kita dapat menyimak bahwa ternyata aspek intelektual dan aspek latar belakang pendidikan bukan merupakan jaminan utama dapat lolos dalam wawancara seleksi karyawan. Adakah kiat spesifik yang dapat menunjang keberhasilan seseorang dalam melalui proses seleksi karyawan dengan sukses? bila ada, aspek apa sajakah itu?

Untuk terpanggil dalam wawancara pertama, rupanya persyaratan administratif seperti perolehan besaran IPK dan asal perguruan tinggi memenuhi persyaratan, dan biasanya wawancara pertama hanya dimaksudkan untuk mengecek dan menggali informasi lebih lanjut tentang masalah akademik. Wawancara kedua, K terpanggil dan lolos pula karena dalam wawancara kedua biasanya ekslorasi yang dilakukan sudah menyangkut aspek tingkat penguasaan materi akademis yang telah dilalui serta kadar kesungguhan minat kerja. Namun, pada wawancara ketiga, biasanya penyertaan aspek kualifikasi personal, sikap mental, orientasi masa depan serta wawasan intelektual menjadi teruji dan dijadikan butir-butir penilaian akhir yang menentukan keberhasilan seseorang lolos seleksi dan memenangkan persaingan di antara calon karyawan lain. Hal ini menjadi penting karena cara dan bagaimana calon karyawan bereaksi verbal dan nonverbal dalam sesi wawancara merupakan representasi dari semua penyertaan fungsi butir-butir aspek tersebut di atas.

Timbul pertanyaan, butir-butir pokok apa sajakah itu?
Pertama, tentang kualifikasi mental, antara lain keyakinan diri yang terungkap dari penghargaan diri terhadap penguasaan salah satu bidang ilmu yang telah ditekuni. Melaui keyakinan penguasaan bidang ilmu tersebut, maka pewawancara akan memberikan penilaian positif terhadap terarahnya pusat perhatian calon karyawan dan keseriusan sikap akademisnya. Jadi, belajar untuk sekadar perolehan nilai tidak ada gunanya, karena hal ini akan membuat seseorang puas akan nilai, namun bukan puas akan kebutuhan memperoleh pengetahuan yang kemudian akan dapat diterapkan di masyarakat.
Kedua, berpikir positif yang dapat dideteksi melalui ungkapan verbal dan nonverbal pada saat wawancara berlangsung, keberadaan pola pikir positif pada seseorang sangat penting peranannya bagi modal awal kerja seseorang. Kembali pada kasus K, ia cenderung lebih mengutamakan ungkapan kebutuhan biaya untuk membantu orangtua dan saudara daripada gairah menerapkan perolehan pengetahuan dari PT di masyarakat, sehingga terkesan lebih meminta belas kasihan lingkungan akan kondisi keluarga daripada menunjukkan kesediaan bekerja dengan sungguh-sungguh. Tentu saja nilai butir ini langsung menurun drastis.
Ketiga, orientasi masa depan (OMD) calon karyawan akan dideteksi melalui jawaban terhadap pertanyaan akan harapan calon karyawan. OMD, bukanlah suatu yang sederhana. OMD yang positif merupakan hasil kumulatif yang diperoleh dari pola asuh, disiplin diri, terlatih dalam perencanaan dan kemampuan mengantisipasi diri terhadap masa mendatang secara aktif, serta sikap kerja yang positif. Kecenderungan yang tampak adalah bahwa mayoritas remaja menunjukkan sikap mental yang jauh dari upaya memantapkan OMD, karena sementara remaja melalui hari-hari hanya sebagai sosok yang terbawa arus keseharian tanpa kerangka OMD jelas.
Sebenarnya K telah melaui masa perkuliahannya dengan hasil indeks prestasi kumulatif cukup baik, namun sikap belajarnya tampak hanya untuk perolehan IPK tanpa disertai OMD yang mantap sehingga motivasi mencari kerja lebih didukung hanya untuk dapat menopang kebutuhan keuangan keluarga. Dalam hal OMD, peran orangtua tidak dapat diabaikan karena melalui diskusi, kesempatan anak merasa didengar pendapatnya, dan contoh konkret perilaku orang tua yang terencana, anak menjadi terlatih dan merasa diri membutuhkan acuan OMD yang jelas dalam menjalani hidupnya.
Keempat, kemampuan mengungkapkan ide baik secara lisan ataupun tulisan dengan cara yang sistematis dan runtut dengan menggunakan bahasa yang baik, merupakan representasi dari pola pikir yang logis, lugas, dan sistematik. Keterampilan ini merupakan salah satu produk dari kebiasaan banyak membaca dan berdiskusi baik di rumah maupun di sekolah.
Kelima, daya juang. Dalam wawancara pun hal ini akan terungkap melalui sikap pantang menyerah dan berupaya keras memecahkan masalah yang diutarakan dalam sesi wawancara. Tentu saja, hal daya juang ini tidak dapat diperoleh secara instan menjelang wawancara, namun merupakan hasil tempaan sejak dini melaui pola asuh dan proses pendidikan di sekolah. Sikap sangat melindungi anak dan memanjakan anak dengan dalih agar anak konsentrasi belajar, bukanlah cara yang tepat karena wacana dan wawasan anak akan sangat terbatas, sementara itu aspek mental lain yang memerlukan tempaan menjadi kurang terperhatikan. Anak memerlukan pengalaman lebih dari hanya melulu pengalaman pendidikan formal. Peluang dan kebiasaan diskusi dengan menggunakan bahasa yang runtut dan sistematik, merencanakan dan menyusun jadwal kegiatan, serta tugas rumah yang sesuai dengan tahapan usia anak, tempaan disiplin diri serta rasa tanggung jawab pribadi dan sosial, kesempatan mendapat apresiasi yang wajar, merupakan pengalaman yang akan menghasilkan sikap mental positif dan kepercayaan diri serta daya juang.
Kasus K merupakan contoh konkret bahwa perolehan nilai tinggi di sekolah dan asal sekolah, walaupun dapat berperan sebagai salah satu sarana, rupanya bukan jaminan seseorang dapat meraih sukses sosial di kemudian hari.

Menyimak begitu banyak persyaratan bagi keberhasilan seseorang untuk dapat lolos dalam wawancara seleksi karyawan dan sukses dalam hidupnya kelak, kita bersama akhirnya menyadari bahwa biaya sekolah dan kesempatan sekolah yang kita berikan bagi anak-anak kita bukanlah segalanya. Begitu banyak pembekalan aspek lain yang perlu diberikan kepada anak-anak demi keberhasilan hidup mereka kelak kemudian hari. Jadi di samping kematangan intelektual, dibutuhkan pula kematangan mental dan sosial.

Sumber:
Sawitri supardi-sadarjoen, psikolog
Kompas, 18 November 2001
Gambar dari: language123.blogspot.com

No comments:

Post a Comment