Tuesday, September 2, 2008

Mensurabayakan Surabaya


Saturday, 24 November 2007
Bangbang Wetan | Emha Ainun Nadjib

Calon kelas menengah Indonesia, anak-anak muda intelektual dari berbagai kampus Surabaya, angkatan muda bernacam segmen 'swasta' yang dimotori oleh Jam'iyah Maiyah, juga sejumlah stake-holders, aktivis birokrasi dan aktivisme sosial, sedang melakukan pendadaran diri melalui wadah Bangbang Wetan, untuk pada saatnya benar-benar siap menjadi "kelas perubah sejarah" Indonesia.

Tahap-tahap sangat penting sedang mereka tempuh.
Pertama memastikan mengukuhkan kepribadian dan
kediriannya sebagai manusia, sebagai pengolah metoda
Agama dan ilmu-ilmu mutakhir, sebagai rakyat
Indonesia. Rakyat berasal dari kata ro'iyah =
kepemimpinan. Rakyat bukan kawula atau abdi. Rakyat
adalah pemegang rohani kepemimpinan yang dipatuhi oleh
Pemerintah dalam konteks dan skala Negara.
Pemerintah adalah abdi atau kawula, yang dilantik
oleh otoritas kepemimpinan rakyat, dikasih tempat
bekerja memenuhi amanat rakyat, diberi upah, fasilitas
dan berbagai akses untuk mempermudah pekerjaan
kerakyatan.

Kalau pinjam filosofi "Gundhul Pacul":
pemerintah meletakkan "bakul" kesejahteraan rakyat di
atas kepalanya. Derajat Pemerintah ada di bawah maqam
ro'iyah. Tugas mereka mengolah modal kekayaan Negara
untuk diantarkan kepada rakyat berupa kesejahteraan
lahir batin. Demokrasi adalah salah satu jenis
kendaraan untuk mengantarkan kesejahteraan itu.

Pemerintah dilarang "gembelengan": main-main, sok
kuasa, lupa hakikat demokrasi dan ro'iyah, merasa diri
di atas rakyat dan lupa bahwa rakyat bisa hidup tanpa
Pemerintah sementara Pemerintah tak bisa ada tanpa
rakyat.
Kalau Pemerintah "gembelengan" maka "wakul
ngglimpang segane dadi sak-latar". Kekayaan negara
tercecer-cecer mubazir, dikuasai maling dan kaum
serakah yang derajatnya sama dengan ayam yang
nothol-nothol nasi berceceran.

Jangan lupa juga, seorang pejabat, dari Presiden
sampai Gubernur Bupati Walikota, yang gembelengan:
dalam teori ekogenetik -- akan menyusahkan anak
cucunya, yang menanggung "walat" adalah seluruh bagian
dari ekosistem dan kekeluargaannya.

Lihatlah apa yang kurang pada putra putri Pak Harto: harta benda,
kekayaan apa saja, kecantikan kebagusan -- tapi apa
yang mereka alami dari hari ke hari.
Orang biasa menyebut hal semacam itu dengan kata
'kuwalat', atau & 'hukum karma'.
Secara ilmiah itu bisa dianalisis, meskipun tidak
tepat betul, sebagai fenomena ekogenetik, dengan
variable sebut saja eko-sistemik pada suatu
skala, atau eko-sosiologis. Rute waktunya bisa
harian, mingguan, bulanan, tahunan, dasawarsa, abad,
millennium dst. Kuwalat itu pasti
terjadi, kalau dalam idiomatik Islam: karena ada
sunnatullah yang namanya tawazzun: penyeimbangan yang
konsisten dan terus-menerus.

Kenapa Surabaya yang budayanya egaliter, cukup jauh
dari feodalisme Jawa, demokratis, bahkan punya
gen sebagai pelahir manusia-manusia Kota
Pahlawan: sekarang misalnya -- Persebaya-nya
terpuruk dan cara penanganan pasca dibakarnya Pasar
Turi justru mencerminkan karakter yang sama sekali
bertentangan dengan semangat demokrasi, watak
egaliter, budaya breh, opo anane dan
sangat memalukan jika dilihat dari identitasnya
sebagai Kota Pahlawan?

Kata wong cilik: hidup ibarat roda, kadang di atas,
kadang di bawah. Itu bukan sekedar suratan nasib di
mana manusia hanya menjadi obyek.
Seringkali justru
terjadi manusia menginisiatifi penindasan, penzaliman
atau pemiskinan. Orang yang secara obyektif menurut
pandangan nasib bias berada di atas, malah terpuruk di
bawah karena kekuasaan politik dan birokrasi atau
berbagai jenis kekuasaan lain dari manusia atas
manusia.

Suatu kelompok masyarakat merasa sedang unggul,
sedang memegang jabatan dan kekuasaan, kemudian mereka
sangat mantap dan meyakini keunggulannya atas kelompok
lain dalam sebuah masyarakat dan Negara.

Nanti pasti
tiba saatnya tawazzun Allah akan tiba
dan para penguasa zalim akan mengalami, dengan semua
kerabatnya yang makan butir nasi dan tetes air dari
hasil penindasan: akan merasakan semacam
balasan yang mungkin lebih parah tingkat
kesengsaraannya dibanding yang dulu mereka tindas.
Generasi Emas kesebelasan Inggris,
demikian Adam Crozier pimpinan FA menjuluki
kesebelasan serba bintang dari negeri asal sepakbola.

Kalah 3-2 dari Kroasia meruntuhkan seluruh harga diri
rakyat Ratu Elisabeth. Air mata menghujani dan
membanjiri negeri yang sudah dikepung lautan itu. Lord
Mawhinney, Ketua Liga Sepakbola Inggris dengan sangat
pilu mengakui bahwa yang emas itu ternyata loyang.
Para ahli wirid meminjam kata-kata Allah 'min
haitsu la yahtasib' mereka akan menjumpai
kenyataan jauh di luar yang mereka perhitungkan.
Berbagai rekayasa tidak jujur, hati yang tidak adil
dan pikiran yang tidak obyektif yang menimpa rakyat
Indonesia di tengah himpitan dan timbunan
masalah-masalah: lambat atau cepat akan mengalami
produk dari 'min haitsu la yahtasib'.

Allah lebih lanjut meladeni tantangan: 'Innahum
yakiduna kaida wa akidu kaida'. Mereka
melakukan tipu daya, dari lokal sampai internasional,
dan mereka akan 'kejagul' karena Allah
adalah Maha Penipu Daya. Tinggal rakyat yang ditipu
daya itu mempercepat dengan tangis
mereka kepada Allah atau membiarkan irama Allah
berlangsung apa adanya.

Maka kaum muda Bangbang Wetan di Balai Pemuda
Surabaya, yang bulan ini berlangsung lusa 27 November
2007: menghimpun hati yang adil, pikiran yang
obyektif, mental yang tenteram, pendataan yang
lengkap, analisis setepat mungkin, menabung
infrastruktur mental kelas menengah perubah nasib
bangsa karena Indonesia hari ini sungguh tak
punya Kelas Menengah Pemikir yang sungguh-sungguh
mateg aji merancang perubahan: yang di atas hidup
sangat enak dan pasti tidak mau berubah, yang di bawah
kelelahan mikir sebutir nasi sehingga tidak mungkin
dituntut memikirkan perubahan.

Padahal tidak ada toleransi lagi bahwa Indonesia wajib berubah
'sak oyot-oyote'. Makanya sekarang belajar rendah hatilah kita semua:
kita sisihkan dulu kata-kata gagah untuk menyebut diri
sendiri: emas, mutiara, super, mega, raja, ratu,
pejuang 'Surabayakanlah Surabaya!' *

No comments:

Post a Comment