Friday, October 17, 2008

Asuransi Pendidikan: Sedia Payung Sebelum Hujan

Rabu, 24 September 2008 | 11:36 WIB
Dulu, peribahasa “Gantungkan cita-citamu setinggi langit” menyemangati Anda untuk belajar. Kini, ungkapan “Persiapkan dana pendidikan anak sedini mungkin!” yang akan memacu Anda menyisihkan penghasilan demi pendidikan si buah hati.

Memang, untuk bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas, perlu dana tak sedikit. Apalagi pendidikan saat ini boleh dibilang “barang mewah” atau sesuatu yang berbiaya tinggi. Untuk menyekolahkan anak sampai ke perguruan tinggi dibutuhkan dana puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

Karena itu, sebaiknya Anda merencanakannya jauh-jauh hari. Banyak pakar keuangan menganjurkan dana pendidikan disiapkan sedini mungkin atau sejak si kecil dalam kandungan. Salah satu cara merencanakan dana pendidikan adalah lewat program asuransi pendidikan. Produk ini memberikan jaminan tertanggulanginya dana pendidikan anak. Artinya, saat anak masuk sekolah, Anda sebagai orang tua tak perlu khawatir karena dananya sudah tersedia.

Caranya mudah saja. Anda tinggal menghubungi pihak asuransi yang Anda percaya untuk mengelola dana pendidikan tersebut. Lalu, berdasarkan rencana Anda, pihak asuransi akan menghitung berapa dana yang diperlukan untuk masing-masing jenjang pendidikan. Dari situ, bisa disimpulkan berapa besar premi yang harus dibayarkan setiap bulan. Pihak asuransi juga akan membantu menghitung berapa dana yang terkumpul dengan premi yang sudah ditentukan.

Sebagai contoh: Anda ingin mengikutkan anak yang masih dalam kandungan dalam asuransi pendidikan hingga anak mencapai perguruan tinggi. Jika saat ini pendapatan Anda sekitar Rp 2-2,5 juta per bulan, asumsikan 10 %-nya untuk biaya asuransi pendidikan anak, yaitu sebesar Rp 200-250 ribu per bulan. Atau sekitar Rp 2,4-3 juta per tahun.

Namun, jika Anda baru mengikuti asuransi pendidikan ketika anak sudah duduk di TK atau SD, maka premi yang harus dibayar otomatis lebih tinggi dibandingkan asuransi yang direncanakan sejak anak usia 0 tahun. Pasalnya, usia anak dengan batas maksimal 12 tahun dan usia orang tua menjadi faktor penentu besarnya premi.

Jadi, semakin dini anak ikut asuransi, preminya akan lebih murah. Jika pembayaran premi dianggap memberatkan, pihak asuransi dapat mengubah cara pembayaran yaitu lewat cicilan setiap bulan, triwulan (3 bulanan) atau semester (6 bulanan).

Manfaat Asuransi
Memang masih banyak orang alergi mendengar kata asuransi. Pasalnya, uang yang sudah diasuransikan tak bisa dicairkan sewaktu-waktu layaknya tabungan. Anda harus menunggu sampai jatuh tempo atau sesuai jadwal sekolah anak. Namun, jika Anda ingin disiplin menyimpan uang untuk pendidikan anak tanpa takut diutak-atik, asuransilah jawabannya.

Manfaat lain yang bisa didapat adalah jika Anda sebagai orang tua meninggal dunia selama masa pembayaran premi, maka polis menjadi bebas premi. Tak ada lagi kewajiban melakukan pembayaran dan dana pendidikan tetap diberikan sesuai jadwal. Dengan begitu, pendidikan anak tetap terjamin sampai jangka waktu yang Anda tentukan. Sebaliknya, jika selama polis berjalan anak (tertanggung) meninggal dunia, dana pendidikan tetap diberikan sesuai jadwal dan bisa digunakan untuk keperluan lain.

Namun, saat ini sudah ada asuransi pendidikan yang dananya bisa diambil sewaktu-waktu tanpa dikenakan penalti. Biasanya dana ini dikelola oleh lembaga asuransi atau perbankan syariah. Selain itu, ada pula asuransi pendidikan plus. Jadi, selain dana disimpan untuk pendidikan, sebagian juga disisihkan untuk asuransi kesehatan anak. Jika sewaktu-waktu anak sakit, Anda tinggal ajukan klaim dan pihak asuransi akan menanggung biaya perawatannya. Nah, Anda siap merencanakan pendidikan buah hati sekarang?


Erma Dwi Kusumastuti

(Kompas.com)

No comments:

Post a Comment